Chapter VII.7

1603 Words
Tapi kemudian seorang berpenutup wajah lainnya datang dari ujung koridor belakang dan mengarahkan pistol pada Zidan yang masih berdiri kaku. Detik berikutnya sebuah peluru berdesing di sebelah Zidan, tepat mengenai d.a.d.a lelaki yang muncul dari belakangnya tadi, peluru itu berasal dari pistol di tangan Fais. Namun, sepersekian detik waktu yang digunakan Fais untuk menembak itu dimanfaatkan lelaki yang sejak tadi menjadi lawannya, dengan cepat sebuah tinju keras mendarat di wajah Fais dan membuatnya terjengkang ke belakang. Orang itu menginjak perut Fais lalu dengan sigap merebut pistolnya dan mengarahkan benda itu pada Zidan, tapi Fais kembali menendang tangannya, sayangnya tendangan itu tak membuat pistol terlepas. Lelaki itu tampak kesal dan tanpa basa-basi langsung menembak kaki Fais. Melihat Fais meringkuk kesakitan sambil memegangi kakinya, Zidan pun kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang ia berteriak dan menerjang lelaki bersenjata itu. Tindakan itu jelas berbahaya karena lelaki itu bisa menembaknya kapan saja. DOR! Zidan kembali tersentak saat untuk kesekian kalinya mendengar suara tembakan di dekatnya. Tapi tembakan itu tidak menyarangkan peluru di tubuh Zidan, melainkan di kepala si penyerang tadi. Saat tubuh lelaki yang sedang diduduki Zidan itu telah kaku tak bernyawa, Zidan memberanikan diri untuk menoleh ke belakang dan menemukan bahwa peluru yang barusan tadi lagi-lagi ditembakkan oleh Fais. Ia berhasil meraih pistol yang tergeletak di lantai, kemudian tanpa ragu menembak kepala orang itu. Zidan sangat shock, ia pun langsung merangkak mundur dengan panik. Lalu sepasang tangan mencengkram bajunya dan menariknya berdiri, mendadak wajah Fais sudah berada di hadapannya. "BODOH! Kau mau mati, ha?! Kenapa nekat menyerang orang bersenjata?!" teriak Fais murka, "jangan pernah lakukan itu lagi! Ini bukan main-main!" Ia melepas cengkraman di baju Zidan dan membiarkannya terhempas ke dinding. Fais kemudian menukar kembali pistolnya yang tadi sempat digunakan si penjahat, lalu berjalan terpincang menuju ruangan depan. Kakinya tertembak, wajahnya penuh luka memar, dan hidungnya berdarah. Pakaian rapinya pun sudah sangat kacau, ia lumayan babak belur. Saat mereka tiba di ruangan utama restauran, bantuan sudah datang dan keadaan sudah terkendali. Pasukan dari Divisi-6 menyerbu masuk dan meringkus kelompok bersenjata itu. Tak banyak yang tersisa, sebagian besar orang-orang yang menyerang mereka tadi sudah mati tertembak. Luen yang diikuti seorang pengawalnya baru saja akan menyebrangi ruangan menuju pintu keluar, tapi ketika melihat Fais, dia berbelok untuk menghampirinya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Luen datar. Wajahnya tidak tampak cemas. Dia hanya bertanya untuk basa-basi karena tanpa menunggu jawaban, Luen langsung bertanya lagi. "Siapa dia?" Sambil melempar tatapannya pada Zidan yang berada di belakang Fais. "Teman saya," jawab Fais tak kalah datar. "Teman? Apa yang dilakukan temanmu di sini?" "Dia kebetulan berada di restauran ini." "Bukankah tempat ini sudah di-booking?" "Dia bekerja di sini." Fais berbohong. "Lagipula, bukankah saya sudah mengingatkan Anda untuk mencari restauran yang normal? Pelayan restauran ini bukan robot, makanya lebih berisiko." "Diam. Jangan mengguruiku!" gerutu Luen kesal. "Fais, kamu tahu, kamu tidak boleh sembarang...." "Dia baru saja menyelamatkan nyawa saya," Fais menyela kalimat Luen dengan tegas, "ini hanya kebetulan. Dia tidak tahu apa-apa. Saya jamin," tambahnya lagi. Luen akhirnya hanya menghela napas sambil memegangi keningnya, diam-diam ia memberikan kode pada pengawal di belakangnya, dia jelas tak ingin mengambil risiko dan membiarkan Zidan hidup. "Baiklah," kata Luen kemudian, "cepat rawat lukamu. Ada mobil ambulans di luar," sambungnya lagi. Fais menyerahkan pistol yang ia pegang ke tangan Luen. "Dua peluru," katanya sambil lalu berjalan menuju pintu keluar. "Ayo," ajaknya kemudian pada Zidan. "Pergi saja duluan. Aku ingin bicara dengannya," cegah Luen membuat Fais berbalik dan bertemu mata dengan Luen. Mereka saling menatap selama beberapa saat seolah sedang bicara dengan bahasa yang tak didengar orang lain. Luen kemudian tersenyum dan menjelaskan. "Aku tak akan melakukan apa-apa padanya. Apa yang kamu khawatirkan, Fais?" Saat Fais baru saja membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, Zidan buru-buru menyela. "Kamu harus cepat merawat lukamu. Sampai ketemu di kampus," ujarnya berusaha bersikap tenang. Meski dalam hati Zidan bisa merasakan bahaya sedang mengintainya, tapi dia ingin menenangkan Fais. Fais lalu mengalihkkan tatapannya kembali kepada Luen. "Dia tidak tahu apa-apa, Mr.Luen," tegasnya sekali lagi, namun kali ini ia terdengar nyaris memelas. "Saya tidak..." "Aku tahu, aku tahu," sela Luen cepat. "Kamu akan melihatnya lagi besok, sekarang pergilah." Dengan wajah yang tampak cemas, Fais masih sempat melempar pandangan pada Zidan sebelum akhirnya berlalu, menyeret kakinya yang terluka menuju pintu keluar. Luen tertawa ringan setelah kepergiannya. "Anak itu kadang berpikir terlalu jauh. Memang kita akan sangat sulit memahami pemikiran seorang jenius, iya kan?" Kali ini ia bicara pada Zidan. "Apa kamu benar-benar telah menyelamatkan nyawanya," tanya Luen kemudian. Sepertinya mereka sudah tiba pada inti pembicaraan yang dimaksudkan Luen saat menyuruh Fais meninggalkan mereka. "Tidak. Dialah yang telah menyelamatkan nyawa saya," jawab Zidan. Masih ada senyum penuh makna yang merekah di wajah Luen saat ia memeriksa peluru yang tersisa pada pistol milik Fais di tangannya. "Jika sekarang aku menembak Fais, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya lagi sambil mengarahkan senjata itu pada Fais yang hampir melewati pintu keluar. "Dia anak yang berguna, tapi kadang cukup menjengkelkan. Lagipula, dia sudah tahu terlalu banyak." Luen mulai membidik sosok yang masih berjalan terpincang dan semakin menjauh itu. Dengan gerakan cepat, Zidan langsung mengambil langkah dan berdiri tepat di depan mulut pistol. Menghalangi pandangannya dari Fais yang baru saja menghilang di balik pintu utama restauran. "Jika Anda ingin menembaknya, peluru itu harus melewati saya lebih dulu," tegasnya penuh tekad. "Wah, berani sekali. Apa yang membuatmu rela berkorban seperti itu?" "Anda tidak akan pernah mengerti, seberapa besar hutang saya padanya," jawab Zidan lagi. Ya, benar sekali. Bukan hanya hari ini, tapi sejak dulu, berkali-kali, ia selalu diselamatkan oleh Fais. Dan bukan hanya nyawanya, bukan hanya jiwa dan raganya, tapi juga hati, pikiran dan semangat Zidan. Semuanya masih ada sampai hari ini, karena Fais. Dan saat ini, Zidan masih bisa berdiri di sini juga karena Fais yang sekali lagi telah menyelamatkannya. "Satu hari tidak akan cukup untuk menceritakan apa saja yang sudah dia berikan untuk mengubah hidup saya. Lagipula, dia orang pertama yang menyebut saya sebagai teman," sambung Zidan lagi. Kalimat jawaban Zidan disambut tawa Luen. Ia tertawa cukup keras hingga menyita perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. "Benarkah begitu?" tanyanya saat tawanya mereda. "Kamu tahu, ini juga pertama kalinya aku mendengar anak itu menyebut seseorang sebagai temannya," sambung Luen lagi. Ia lalu tersenyum dan menepuk pelan pundak Zidan. "Terima kasih. Aku harap, apapun yang terjadi, kamu akan tetap berada di sampingnya." Saat Luen mengucapkan kalimat terakhir itu, wajahnya benar-benar terlihat seperti seorang ayah yang merasa lega karena menyadari bahwa anaknya memiliki seorang pelindung yang cukup loyal. Saat itu Zidan membalas dengan keteguhan hati dan tanpa ragu. "Tidak perlu diberitahu, saya memang berniat untuk terus melindunginya." Itu adalah pertama dan terakhir kalinya Zidan melihat sosok seorang ayah dari dalam diri Luen. Setelah itu, dia selalu bersikap dingin dan bicara tanpa ekspresi. Bahkan mungkin jika Zidan menceritakan pembicaraannya dengan Luen waktu itu, Fais tak akan percaya. Ditambah lagi, sepertinya Luen berhenti memanggil nama Fais sejak munculnya Niya. Panggilan 'First' itu semakin melebarkan jarak antara Fais dan Luen. Belakangan diberitakan bahwa p*nyerangan di restauran itu adalah ulah kelompok pemberontak, lagi-lagi nama WoLf disangkutpautkan. Tapi sekarang Zidan mulai berpikir kalau mungkin saja yang menyerang mereka dulu adalah WoLf palsu yang diciptakan Sanctuary. Mungkin itu adalah langkah awal Sanctuary untuk mengambil alih. Sepertinya mereka menyadari keberadaan Fais dan perannya sebagai kunci keberhasilan Luen beberapa tahun terakhir. Itulah sebabnya dua orang penyerang waktu itu berkali-kali ingin menghabisi Zidan yang dianggap mengganggu, tapi tak sedikitpun bermaksud untuk membunuh Fais. Avalon memang terkesan damai dan tentram, tapi sebenarnya ada banyak gejolak di dalamnya. Selain Sanctuary, ada juga kelompok-kelompok yang anti pemerintahan. Hanya saja, mereka tak berani melakukan perlawanan secara terang-terangan, jika satu kata saja mereka berani bersuara lantang, mereka akan hilang keesokan harinya. Tapi sebenarnya hanya butuh dorongan kecil, gerakan perlawanan bisa meledak kapan saja. ……......... Senyum tipis muncul di wajah Zidan ketika mengingat kembali masa-masa kebersamaannya dengan Fais dulu. Tak lama setelah kejadian di restauran itu, Fais menyelesaikan pendidikan sarjananya. Ia pun langsung melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Mereka semakin jarang bertemu di kantin seperti biasa. Sejak awal mereka memang tak banyak mengobrol, bahkan Fais tak pernah memanggil nama Zidan. Ia selalu memanggilnya dengan sapaan: 'Hei'. "Temanku." Tapi satu kata yang diucapkan Fais waktu itu terasa sangat berharga bagi Zidan. Walaupun mungkin Fais telah melupakan pertemanan mereka di masa lalu, tapi ia tetap menyebut Zidan temannya. Ya, Faisal Fandika. Anak jenius yang selalu merasa terasing di manapun ia berada, yang selalu diperlakukan berbeda dan tak pernah melalui masa remaja yang normal. Dulu dan sekarang, ia tetap menjadi orang pertama dan satu-satunya yang mengulurkan tangan kepada Zidan. Berkali-kali, dengan senyum yang tak pernah berubah. Zidan juga tak pernah merasa diterima di manapun ia berada, namun setelah bertemu dengan Fais, ia seolah menemukan secercah cahaya di langitnya yang sudah lama gelap. Bersinar begitu menyilaukan, seperti matahari yang memberi kehidupan. Untuk itu Zidan berjanji kepada dirinya sendiri, tak ada awan mendung yang boleh menutupi matahari itu, dan ia bersedia melakukan apa saja demi mempertahankan sinarnya. Karena bagi Zidan, setiap kali Fais menyapa dan tersenyum padanya adalah saat dimana Zidan disadarkan, bahwa bumi ini juga berputar untuknya, untuk seorang Zidan Raikan yang telah lama terlupakan. Namun sekarang keadaan sudah berubah, lelaki itu sudah lama berhenti menjadi matahari. Fais sudah lama tak mampu lagi memancarkan sinarnya sendiri. Perlahan ia meredup seperti benda langit yang mati. Itu sebabnya Zidan merasa sudah tiba saatnya bagi Zidan untuk bertukar peran dan membalas apa yang sudah dilakukan Fais dulu. Mengulurkan tangan dan meyakinkan Fais, bahwa alam semesta ini juga terus bergerak untuknya, matahari juga bersinar untuknya, dan langit luas yang membentang di atas sana juga ada untuk menaunginya. . - End of Chapter VII -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD