"Ya...?" Suara Fais terdengar malas saat ia menjawab panggilan dari Perdana Menteri Avalon itu.
"Kami menunggumu di gerbang, kenapa lama sekali?" tanya Luen terdengar cukup kesal.
"Saya ada kegiatan klub, jadi akan pulang terlambat. Maaf, saya tidak tahu Anda akan datang."
"Klub? Klub apa? Kamu tak punya waktu untuk itu, Fais."
"Astronomi. Mereka memaksa saya ikut. Saya tak bisa menolak, saya harus bersosialisasi, kan?"
"Terserah. Kamu harus muncul di gerbang secepatnya. Aku tak mau menunggu lagi."
"Saya mengerti," balas Fais hampir bersamaan dengan diputusnya pembicaraan oleh Luen. Fais mengeluh malas dan beranjak meninggalkan makanan di piringnya yang hanya dimakan setengah. Saat matanya bertemu dengan tatapan Zidan, ia tersenyum usil.
"Menguping pembicaraan orang lain itu tidak sopan loh."
"Aku tidak menguping, suaramu yang masuk ruang dengarku." Zidan membela diri. Tapi ia tak bisa menahan diri untuk tak bertanya lagi. "Itu tadi Perdana Menteri Luendy Herman, kan? Kamu bekerja dengannya?" Pertanyaan itu keluar akibat rasa penasaran yang tak bisa dicegahnya.
"Menurutmu?" Fais menatap lelaki di hadapannya dengan penuh minat.
"Mana aku tahu, kenapa kamu malah balik nanya?"
"Biasanya orang akan mengira hubunganku dan Luen hanya sebatas ayah dan anak angkat, tapi tadi kamu bilang 'bekerja dengannya'. Jangan-jangan kamu memang bisa baca pikiran orang, ya?"
"Bukan. Aku tidak..."
"Aku ingin sekali bicara lebih banyak denganmu," sela Fais sambil agak tergesa-gesa pergi. "Tapi aku harus segera pergi. Oia..."
Ia berhenti mendadak saat jaraknya belum cukup jauh. "Suatu saat orang akan mengganti sebutan 'aneh' itu dengan kata 'istimewa'. Jadi kamu tidak perlu bersedih." Ia pun melambai singkat sebelum akhirnya berbalik dan hilang di antara kerumunan orang di pintu masuk kantin.
Zidan tak begitu mengerti maksudnya. Dia merasa bahwa ia tak akan pernah cocok berteman dengan Fais yang sekarang, anak itu memiliki terlalu banyak rahasia. Hubungan mereka tak akan lebih dekat dari itu, tak akan pernah kembali akrab seperti dulu lagi.
Setidaknya itulah yang ada di pikiran Zidan. Sampai beberapa bulan setelahnya, di sebuah restauran, terjadi suatu hal yang merubah segalanya...
.
Home, satu-satunya restauran di pusat kota South City yang menggunakan jasa manusia sebagai pelayan. Mereka menyeleksi beberapa orang Eyja di West City untuk menggantikan peran robot di tempat ini. Meskipun karenanya mereka harus membayar pajak lebih mahal, tapi Home selalu ramai didatangi p*elanggan, dan memang harganya juga lebih mahal dibandingkan restauran lainnya.
"Kenapa sepi sekali? Tutup?" tanya Zidan pada salah seorang pelayan saat ia baru saja melewati pintu restauran dan menemukan tempat itu kosong tanpa p*elanggan, tak seperti biasanya.
"Maaf, Tuan. Saat ini kami tutup karena tempat ini sudah di-booking," jawab si pelayan dengan sopan.
"Perdana Menteri Luendy Herman?" pertanyaan Zidan kali ini dijawab dengan anggukan sopan, meski kemudian si pelayan terheran ketika menyadari bahwa ia tak pernah memberi tahu Zidan mengenai identitas orang yang mem-booking. Pelayan itu tidak tahu, psychometri Zidan lah yang telah membuatnya tanpa sengaja melihat gambaran sekilas ketika menyentuh handle pintu restauran saat masuk tadi.
"Orang penting seperti itu ada di sini? Apa dia sedang membawa keluarganya makan malam." Ia begumam tanpa bermaksud untuk meminta jawaban dari si pelayan.
Tapi karena gumaman itu terdengar oleh si gadis pelayan, ia pun menjawab. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu," jelasnya agak tergagap.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak mau tahu kok," sahut Zidan tak acuh. Jika kali ini ia tak bisa makan malam di sini, ia terpaksa mencari tempat yang lain. Dan saat ia baru saja bermaksud untuk pergi, ia teringat sesuatu.
"Oia, seminggu yang lalu aku makan di sini. Kurasa aku meninggalkan bukuku di meja itu," katanya sambil menunjuk salah satu meja di sisi kanan ruangan utama. "Apa kalian melihatnya?"
"Ah... Jadi Tuan adalah Mr. Zidan, maaf saya tidak mengenali Tuan. Saya orang baru di sini." Lagi-lagi gadis pelayan itu menunduk dengan sopan. "Manajer saya sudah menitipkan pesan untuk memberikan buku itu kepada Tuan kalau Tuan kembali. Kami menyimpannya. Mohon tunggu sebentar." Ia pun membungkuk sebelum berlalu.
Zidan tidak heran jika ia cukup dikenali di tempat ini, siapa lagi yang rutin – nyaris seminggu sekali – datang ke sebuah restauran mahal hanya untuk makan sambil membaca buku sendirian di meja paling sudut?
Saat menunggu, Zidan memutuskan untuk pergi sebentar ke kamar kecil yang berada di seberang pintu masuk. Ia berjalan melewati ruangan utama yang penuh dengan meja makan kosong sambil sesekali mencuri pandang ke pintu masuk ruang VIP yang dijaga dua orang berpakaian hitam dengan posisi siaga. Dalam hati ia berpikir, betapa repotnya menjadi Perdana Menteri, hingga harus mem-booking satu restauran hanya untuk makan malam.
"Hei."
Suara riang itu lagi. Zidan mengenalinya dengan cepat. Ia langsung menoleh dan menemukan Fais di pintu masuk toilet.
"Sedang apa kamu di sini?"
Pertanyaan itu sama-sama keluar dari mulut Fais dan Zidan.
Fais tertawa ringan sebelum menjawab, "Aku sedang kerja, kamu?"
"Aku mau mengambil buku yang tertinggal di sini," jawab Zidan tanpa bisa mencegah dirinya untuk menatap Fais dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Penampilannya sangat rapi, mengenakan stelan jas berwarna kelabu, dan ada seorang pria berpakaian hitam yang mengikutinya, pria itu adalah salah satu dari pengawal yang dilihatnya di depan pintu masuk VIP tadi.
"Kamu kerja apa?" tanya Zidan lagi.
"Aku pengawal Perdana Menteri," jawabnya sambil lalu masuk ke salah satu bilik toilet.
Fais bersenandung dengan gumaman dan tak lama setelahnya terdengar suara flush, detik berikutnya ia keluar dari dalam bilik kemudian mencuci tangan di wastafel. Zidan berani taruhan, barusan Fais tidak melakukan apa-apa di dalam sana, ia hanya masuk dan menekan flush.
"Kamu pengawal Perdana Menteri?" Zidan jelas tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.
"Iya."
"Aku serius. Sedang apa kamu di sini?"
"Sedang b.u.a.n.g air. Ini kan toilet, masa' kamu masih harus nanya?"
Tak satu pun jawaban Fais yang memuaskan bagi Zidan. Ia bukan pengawal Perdana Menteri dan dia jelas tidak ke toilet untuk b.u.a.n.g air. "Lupakan. Aku tak akan bertanya lagi padamu," gerutu Zidan.
Fais tertawa kecil melihat ekspresi kejengkelan orang di hadapannya itu. "Aku sedang bekerja, membantu Perdana Menteri. Tapi obrolan mereka sangat membosankan, makanya aku cari alasan untuk keluar, satu-satunya tempat yang bisa kudatangi ya cuma toilet," jawabnya akhirnya.
"Mr. Faisal, sebaiknya Anda cepat kembali," kata pria berbaju hitam yang mengikuti Fais tadi.
"Aku mengerti, kamu tidak perlu mendesakku begitu, tunggu saja di luar," sahut Fais ramah tanpa nada kesal di suaranya. Ia lalu kembali bicara kepada Zidan. "Sampai jumpa di kampus."
Zidan mengangguk dengan senyum kaku. "Bukan mengawal, tapi dialah yang sedang dikawal," batin Zidan kemudian.
Fais baru saja akan melewati mulut pintu saat tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar. Pengawalnya langsung mendorongnya masuk kembali sambil lalu mengeluarkan pistol dari balik jas-nya. Ia mengarahkan pistol itu ke ruang utama di depan, ke arah di mana suara tembakan tadi berasal.
"Ada apa?" tanya Zidan panik.
"Entahlah, sepertinya ada yang menyerang tempat ini." Fais tak terlihat lebih panik dari Zidan. Ia malah menjulurkan lehernya untuk mengintip keributan di restauran.
Pengawal berbaju hitam itu pun kembali mendorongnya masuk. "Tetap di sini. Saya akan memeriksa keadaan di luar," katanya sambil berjalan perlahan meninggalkan pintu dengan waspada.
Suara tembakan terdengar bersahut-sahutan, sesekali ada suara teriakan, kemudian benda-benda pecah dan hancur. Jelas sedang ada perang di luar sana.
"Sebenarnya pekerjaan seperti apa yang kamu lakukan untuk Perdana Menteri?" Akhirnya Zidan tak bisa menahan pertanyaannya lagi.
"Dijelaskan juga kamu tak akan mengerti."
"Jelaskan saja! Kau mulai membuatku kesal, tahu?!"
Fais menghempas napas sebelum menjawab. "Baiklah. Begini, hari ini tugasku mendampingi Luen menemui tamunya. Ada sedikit negosiasi yang harus dilakukan, rahasia negara, aku tak bisa memberitahumu. Aku pernah bilang bahwa keanehan itu suatu saat akan diakui sebagai keistimewaan, ingat? Nah... saat itulah mereka akan memanfaatkan kita habis-habisan."
"Maksudnya?"
"Maksudnya aku sama sepertimu. Kita punya kemampuan yang tak dimiliki orang biasa, dan Luen tahu itu. Makanya aku membantu pekerjaannya menggunakan kemampuan istimewa yang kupunya."
"Kemampuan apa?"
"Rahasia." Fais tersenyum lebar sambil lalu kembali mengintip ke arah pengawalnya menghilang tadi. Suasana sudah mulai hening, walau sesekali masih terdengar suara tembakan. Sepertinya hanya sedikit orang yang tersisa, dan mereka masih berusaha saling menembak sambil bersembunyi.
"Hei, kamu tetap di sini. Aku ingin melihat keadaan di luar," kata Fais lagi.
"Kurasa sebaiknya kita tetap di sini," dan Zidan berusaha mencegah.
"Aku tidak suka menunggu sesuatu yang tidak jelas. Paling tidak, aku harus memastikan pihak mana yang sedang unggul. Mungkin kita bisa memanfaatkan keadaan untuk kabur." Fais tak mempedulikan kecemasan Zidan dan tetap beringsut perlahan keluar dari persembunyian.
Zidan tak tahu kenapa ia malah mengikuti Fais, tapi teman lamanya itu terlihat sangat terbiasa dengan keadaan ini, Zidan jadi merasa kalau pilihan yang ia punya hanyalah mengikuti Fais.
Mereka melangkah dengan sangat hati-hati sambil berusaha tetap menempel di tembok. Di ruangan utama restauran itu tampak dua orang berpenutup wajah sedang bersembunyi di balik meja kasir sambil menunggu kesempatan yang tepat untuk menembak sekelompok pengawal di seberang ruangan. Fais tak tahu siapa orang-orang itu, tapi mereka tak mungkin berani menyerang pengawalan Perdana Menteri jika jumlah mereka tak cukup banyak. Pasti teman-temannya sedang bersembunyi di sudut ruangan yang lain.
Di saat Fais sibuk dengan pikirannya, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang muncul dari belakang Zidan dan langsung menangkapnya. Zidan menarik lengan baju Fais, membuatnya menoleh.
Fais kaget saat ia menemukan seseorang mengenakan masker hitam sudah menempelkan mulut pistol ke pelipis kanan Zidan. "Lepaskan dia!" teriaknya lantang. Ia spontan menggunakan command tanpa banyak pertimbangan. Tangan pria itu pun melemah dan ia segera melepaskan Zidan. Tapi hanya butuh beberapa detik baginya untuk kembali menemukan kesadaran setelah lepas dari command Fais. Lelaki itu langsung mengangkat kembali pistol di tangannya, tapi Fais lebih cepat melayangkan tendangan ke tangan orang itu dan membuat senjatanya terlempar.
Zidan hanya terpaku di tempatnya berdiri tanpa tahu apa yang harus dilakukan, ia bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi. Fais kembali mengayunkan kakinya dan menghantam kepala orang itu. Ini bukan perkelahian yang tak seimbang, Fais dan orang itu memiliki level beladiri yang nyaris sama.
Tak mau kejadian malam itu terulang lagi, Zidan memutar pandangannya untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata membantu Fais. Ia bertekad bahwa kali ini ia tak akan membiarkan Fais bertarung sendirian lagi.
"Pergi!"
Suara teriakan Fais membuat seluruh gerakan Zidan menjadi kaku. Tapi itu bukan command. "Cepat lari dari sini!" teriak Fais lagi sambil masih menangkis dan mencoba membalas pukulan orang itu. "Kalau tetap di sini, kau akan mati!"
Meski Fais mengerahkan seluruh tenaganya untuk bicara sambil berkelahi, percuma saja, Zidan tak bisa menemukan akal sehatnya. Ia bingung dan panik. Yang jelas, ia tak mungkin kabur sendiri dan meninggalkan Fais.
Tapi kemudian seorang berpenutup wajah lainnya datang dari ujung koridor belakang dan mengarahkan pistol pada Zidan yang masih berdiri kaku.