CHAPTER I.4

1546 Words
"Honey, tolong bawakan minuman untuk semuanya." Fais bicara pada robot-maid yang sejak tadi seliweran membersihkan ruangan itu. Kemudian ia langsung kembali memfokuskan matanya pada Ai. "Pertanyaan yang pasti ditanyakan oleh semua Armour yang datang kemari." Ia tersenyum lagi, memamerkan deretan gigi putih yang berbaris rapi di balik bibir merona itu. "Armour adalah Divisi ke-7 Pertahanan Avalon," jawab Fais ringan dan singkat. Tapi itu adalah informasi umum, jelas saja Ai tidak puas dengan jawaban tersebut. "Aku tahu, Divisi terakhir yang penuh kontroversi karena banyak yang menganggapnya tidak penting," cetus Ai agak sinis. "Divisi yang terdiri dari ahli Strategi dan para Peneliti, bukankah sebenarnya 6 Divisi saja sudah cukup untuk pertahanan Avalon? Sebenarnya apa yang dikerjakan Divisi-7?" "Ah... yah... masyarakat umum hanya diberitahu bahwa Ilmu Pengetahuan dan Strategi juga termasuk pertahanan negara, itu sebabnya Divisi-7 juga penting dan harus ada. Tapi sebenarnya, Armour dibentuk hanya untuk menangani kasus-kasus penting yang bersifat rahasia, urgen, dan membutuhkan kemampuan khusus, terutama kasus yang mengancam kekuasaan Zoire. Anggota kita berjumlah tujuh orang, sekarang setelah kamu bergabung." Akhirnya Fais mulai menerangkan. Ai mengerling Kevin dan kembali mendapatkan senyum simpul dari anak itu. "Para Armour dipilih berdasarkan apa?" tanya Ai lagi. Pertanyaan ini muncul karena ia melihat usia masing-masing Armour yang cukup bervariasi. "Soal ini di luar wewenang kami. Kita tak pernah tahu bagaimana caranya mengumpulkan para Armour. Tapi Luen pernah menjelaskan bahwa Armour ini adalah hasil penglihatan Sacred Oracle (SaO) – seorang peramal yang sangat hebat. Menurutnya, akan ada tujuh orang berkemampuan khusus yang berperan penting dalam mendukung pemerintahan Zoire. Ketujuh orang itu sama pentingnya, jika kurang satu, maka keseimbangan akan terganggu." Alis Ai berkerut bingung mendengar penjelasan Fais, kata-katanya malah menimbulkan pertanyaan baru di kepala Ai. Tapi Fais segera menyadari ekspresi Ai dan langsung menimpali. "Aku akan menjelaskan satu per satu mengenai para Armour. Pertama, aku, Faisal 'First' Fandika. Mereka menemukan bakat khususku saat usiaku masih 12 tahun, command authority, dan langsung memanfaatkan kemampuanku untuk berbagai hal. Mereka mengira cuma aku yang punya kemampuan seperti ini. Tapi sekitar 8 tahun lalu, Kurniya 'Second' Hayati muncul. Ia bergabung saat berusia 19 tahun." Fais mengaktifkan wifi alltech-nya, lalu meletakkan benda bulat pipih di atas meja. Saat Fais mengaktifkan icon proyektor dari layar alltech, sebuah gambar hologram terproyeksi dari benda bulat pipih yang ternyata merupakan proyektor itu. Hologram 3D itu menampilkan seorang wanita kantoran dengan rambut ikal sebahu sedang mengirimkan flying kiss kepada Fais. "Guru Biologi di Dien School. 27 tahun. Memiliki kemampuan khusus menyembuhkan," Fais jeda untuk berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "...ya, kemampuan menyembuhkan," seolah membenarkan dirinya. Ia lalu mengetukkan telunjuk di layar alltech miliknya dan hologram 3D di atas meja berganti menjadi seorang lelaki jangkung yang tidak asing. Ariel. "Ariel 'Third' Winata, 21 tahun. Bergabung dengan Armour tepat setahun setelah Niya ditemukan. Kemampuannya precognition." Fais mengerling Ariel yang sedang menikmati teh hangatnya sambil bersandar nyaman di kursi. "Berikutnya, Zidan 'Fourth' Raikan." Bersamaan saat Fais menyebut nama itu, hologram berubah menjadi sosok seorang lelaki tinggi besar dengan wajah tanpa senyum. "Bergabung 5 tahun lalu. Seorang pegawai sipil di kantor gubernur South City, 26 tahun. Kemampuan khususnya psychometry." Kemudian sosok kaku Zidan digantikan hologram Kevin, Ai refleks menoleh pada si kecil yang duduk di seberang meja itu. Dia terlihat lemah dan agak pemalu, Ai jadi penasaran apa kemampuannya. "Kevin 'Fifth' Taylor," kata Fais mulai mengenalkan, "18 tahun. Bakat khususnya yang sangat luar biasa ditemukan 4 tahun yang lalu. Saat ini berada di tahun terakhir Sion Secondary School. Jangan tertipu dengan penampilannya." Fais tersenyum pada Kevin sebelum melanjutkan. "Time bender," lanjutan Fais membuat mata Ai melebar tak percaya. "Mengendalikan waktu? Bagaimana cara anak ini melakukannya?" pikir Ai. "Time bender itu berlebihan. Aku tidak punya kecepatan cahaya," Kevin langsung gelisah di tempat duduknya. "Bukan menghentikan waktu, tapi cuma..." "Iya, iya, aku sengaja bilang time bender untuk mempersingkat penjelasan," sela Fais sambil tertawa pelan. "Begitulah Ai, jadi pada dasarnya setiap kemampuan yang dimiliki para Armour memiliki batasan dan cara kerjanya masing-masing. Untuk kasus Kevin ini, rekor terbaiknya adalah 2 menit. Ia bisa bergerak sangat cepat seolah menghentikan waktu dalam jangka waktu tersebut. Sayangnya kesehatannya lemah, padahal dia sangat hebat." "Biasanya dia suka sesak napas setelah menggunakan kemampuannya itu," timpal Ariel. "Ariel... jangan langsung..." Fais melanjutkan kalimatnya dengan hempasan napas. Pintu di belakangnya baru saja dihempas tertutup cukup keras. "Kan... dia kabur," keluhnya kemudian. Kursi di samping Ariel sudah kosong. Padahal baru saja Kevin masih ada di sana. Ternyata yang barusan meninggalkan ruangan melalui pintu di belakang Fais adalah Kevin. "Kamu tahu dia itu pemalu, jadi jangan bicarakan soal asma-nya blak-blakan begitu. Waktu Nda muncul kamu juga begini," omel Fais pada Ariel. "Sorry, sorry, habisnya si Kevin itu terlalu mudah jadi objek bully." Ariel cuma tertawa santai. "Dia barusan hilang?" Masih terheran-heran, Ai memutuskan untuk bertanya saja. Fais mengangguk dengan senyum kecut. "Bukan menghilang sih, bukan teleport juga. Sebenarnya dia hanya bergerak sangat cepat sehingga jadi tak terlihat, seolah menghilang dan muncul tiba-tiba di tempat lain. Aku selalu iri dengan kemampuannya. Kemungkinan, ia bisa menyamai kecepatan suara, jadi seperti menghentikan waktu. Sayangnya, tubuhnya tidak terlalu kuat menangani kemampuan khususnya itu." Pintu masuk tiba-tiba bergeser terbuka, sesosok laki-laki bertubuh tinggi besar dan berwajah serius muncul dari baliknya. "Selamat siang," sapanya datar. Seorang gadis mungil dengan seragam Sion School mengikuti langkah lelaki itu keluar dari lift dan langsung duduk di salah satu kursi. "Tumben Kevin belum datang?" Suaranya nyaring khas remaja berusia belasan tahun. "Di-bully Ariel, sepertinya dia kabur ke ruangannya," sahut Fais sambil tertawa ringan. "Astaga Ariel, hobimu itu j*elek sekali." Gadis itu menggeleng-geleng meniru gaya orang dewasa. "Ya sudah. Biarkan saja dia istirahat. Bagus, kalian sudah datang." Fais meninggikan intonasi suara untuk berbicara pada semua yang ada di ruangan itu. "Zidan, Nda, ini Aisyah 'Seventh' Chandra." Lalu ia mulai mengenalkan Ai pada lelaki dan siswi berseragam yang baru datang tadi. "Ai, ini Zidan. Dan ini Yuanda 'Sixth' Sari, 17 tahun, baru bergabung tahun lalu. Kemampuannya memory manipulation." Siswi berseragam yang dipanggil Nda itu mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V sambil tersenyum ke arah Ai. "Berarti sekarang kita masih minus kak Niya, ya?" katanya pada semua orang yang ada di situ. Setelah diperhatikan, formasi kursi yang mengelilingi meja itu adalah tiga di kiri dan tiga di kanan, ditambah masing-masing satu pada kedua ujung meja. Fais duduk di salah satu ujung meja yang menghadap ke pintu masuk. Ariel, Zidan, dan Kevin (tadi) duduk di sisi kanan, sementara Ai dan Nda duduk di sisi kiri. Satu kursi lagi di samping Nda masih kosong. Dan kursi pada ujung meja yang membelakangi pintu masuk juga dibiarkan kosong. "Selamat siang." Pintu lift bergeser terbuka kembali bersamaan dengan munculnya si Second, Niya. Ai mengenali style kantoran itu. "Kak Niya, lama sekali." Nda berlagak kesal. "Sudah kubilang jangan panggil 'kak'. Kita kan sudah sepakat, tidak ada senioritas di Armour. Kamu sengaja karena ada orang baru ya, supaya ketahuan kalau aku yang paling tua... Honey, aku minta lemon tea dingin ya." Niya mengecup lengkungan yang menutupi bagian atas tubuh Honey – bisa dikatakan bagian itu adalah kepala si robot. "Panggil semua nama Armour tanpa embel-embel senioritas. Anggap saja kita semua sebaya. Sebagai First Armour, usia Fais bukan yang paling tua, begitu juga dengan yang lainnya. Jadi tidak ada urutan di Armour. Nda, sudah berapa kali aku bilang?" Niya melanjutkan omelannya sambil duduk di samping Nda. Nda hanya menyeringai sambil kembali menunjukkan kedua jari tangannya. "Aku lupa. Maaf ya Niya..." katanya sambil menepuk-nepuk lengan Niya untuk menenangkan. "Jadi, ini Armour terakhir? Halo Seventh, aku Niya." Ia menjulurkan tangannya di atas meja sambil memperkenalkan diri pada Ai. Dengan kikuk Ai membalas uluran tangan Niya. Fais tiba-tiba menepukkan kedua telapak tangannya untuk meminta perhatian. "OK, semua sudah kumpul, minus Kevin, tidak apa-apa. Semuanya, ini Aisyah 'Seventh' Chandra. Biasa dipanggil Ai. Kemampuan khususnya membaca pikiran..." "Hampir sama dengan psychometry[7] Zidan dong," sela Nda. "Iya, tapi Ai harus menatap langsung mata orang yang ingin ia ketahui pikirannya, sementara Zidan hanya perlu menyentuh benda untuk..." "Bukankah lebih praktis kemampuan Zidan? Kenapa kita perlu pembaca pikiran?" Nda menyela lagi. "Karena dia adalah Seventh, Nda." Kelihatannya Fais mulai kesal karena kalimatnya selalu dipotong. "Bukan aku yang menentukan siapa anggota Armour. Semuanya Luen dan SaO yang memutuskan. Jadi, terlepas dari praktis atau double fungsi dan sebagainya, tujuh orang yang ada di sini adalah Armour yang sudah ditetapkan." "Aku bukannya bermaksud untuk meragukan..." Nda bergumam dengan ekspresi merasa bersalah. "Lalu kalau aku memutuskan untuk tidak bergabung?" Tiba-tiba Ai mengambil inisiatif untuk menyela, sebelum ia semakin merasa tidak diundang di sini. "Orang-orang yang kamu sayangi akan menerima akibatnya," sambar Ariel. "Dengan kata lain, pemerintah menyandra keluargamu, pacarmu, sahabatmu, guru kesayanganmu, pokoknya siapapun yang penting bagimu. Kalau kamu menolak, kamu akan menyusahkan mereka." "Menyusahkan mereka...?" Ai menuntut penjelasan lebih lanjut. "Kalau nggak dibunuh, ya dibuang ke Eyja," sahut Ariel lagi. "Oia, aku belum bilang ya? Aku berasal dari Eyja," lanjutan kalimatnya cukup untuk membuat Ai kaget sampai matanya melebar tak percaya. Dan Ariel tersenyum sinis melihat reaksi Ai. "Sebenarnya aku nggak mau menyebut pulau itu sebagai tempat pembuangan, sih. Kalian, orang-orang Avalon, nggak akan pernah tahu kalau sebenarnya pulau itu lebih indah dibandingkan tempat ini." Ruangan pun mendadak hening. Honey baru saja mengisi ulang lemon tea ke gelas yang sudah kosong di hadapan Niya. Air muka mereka tampak berubah muram. . _______________ [7] Kemampuan membaca memori seseorang atau benda yang telah digunakan manusia dengan cara menyentuhnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD