CHAPTER I.5

2219 Words
Ai tidak tahu, mana yang lebih mengagetkan. Ariel berasal dari Eyja atau nasibnya yang kini berada dalam genggaman rezim Zoire. Memang benar, pemerintah bisa melakukan apa saja terhadap orang-orang terdekatnya. Dan ia sudah berada di sini sekarang, mereka sudah terlanjur menemukan dan menobatkannya sebagai Seventh. Ai merasa ia tak punya pilihan lain. Lagipula, tidak ada salahnya, mungkin saja ini malah akan menjadi pengalaman yang menarik bagi Ai.  Jika Kevin dan Nda, mereka yang lebih muda saja selama ini bisa bergabung dengan Armour. Kenapa Ai harus ragu?  "Ah... suasana selalu jadi seperti ini kalau Ariel sudah membahas Eyja. Kenapa kamu mengungkit hal itu lagi?" Niya memberi tendangan pelan ke kaki Ariel di bawah meja.  "Aku cuma nggak mau Ai manganggapku sengaja menyembunyikan asalku. Kalau dia sudah tahu, dia jadi bisa mengambil sikap, kan? Walaupun aku Armour, status orang Eyja nggak akan berubah. Kamu ingat pertama kali kamu tahu kalau aku orang Eyja? Kamu bahkan takut berdiri di dekatku, kamu takut aku tiba-tiba jadi liar, terus ngamuk dan membunuhmu, iya kan?"  "Kamu masih saja mengingat itu, aku kan sudah minta maaf," Niya memelas. "Dulu aku masih belum begitu tahu soal Eyja, yang aku dengar hanya cerita tentang betapa benci orang Eyja terhadap orang Avalon di pulau utama, kupikir kalian semua menyimpan dendam pada kami. Tapi kan sekarang..."  "Iya, aku ngerti, Niya," sela Ariel cepat. "Maksudku, tetap saja kalian sudah terbiasa memandang rendah kami, menganggap kami musuh yang brutal. Makanya, asal-usulku dirahasiakan. Karena ramalan SaO tentang tujuh Armour yang – katanya – nggak bisa dibantah. Mereka terpaksa mengangkat derajatku, memberiku nama dan identitas baru, memaksaku meninggalkan keluargaku, dan menganggap bahwa mereka sudah melakukan hal yang terpuji padaku."  Ariel tertawa getir sebelum melanjutkan kembali. "Aku nggak pernah minta dikeluarkan dari Eyja. Pulau itu adalah tanah kelahiranku. Aku nggak pernah merasa hina karena berasal dari sana. Tapi mana mungkin kalian mengerti. Bagi kalian yang seumur hidup memperlakukan orang Eyja sebagai alas kaki, nggak akan pernah tahu bahwa sebenarnya kami nggak berbeda dengan kalian."  Ai tak tahu harus menanggapi bagaimana. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia bertemu dan bicara langsung dengan salah satu orang Eyja. Meski selama ini ia tak pernah menganggap Eyja sebagai musuh karena ia tak percaya bahwa pulau itu diisi oleh teroris, tapi tetap saja Ai mengikuti mainstream – menganggap bahwa kedudukan orang Eyja lebih rendah dari penduduk Avalon di pulau utama.  Zidan masih tampak tak berekspresi, Niya tersenyum salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya, dan Nda tetap duduk santai menggoyang-goyangkan kakinya.  "Ariel, kami kan sudah bilang, kita semua adalah Armour. Kamu tak perlu ungkit lagi soal itu. Biar saja itu menjadi masa lalumu. Kita di sini semuanya sama." Fais kembali bersuara.  Ariel akhirnya melepas tawanya, tapi kali ini terdengar agak berbeda. "Aku nggak bakal membuang masa laluku, Fais," katanya.  "Sampai sekarang aku nggak pernah mau memakai nama baru yang diberikan Luen, karena memang aku mau tetap menjadi Ariel dari Eyja. Dan suatu saat, kalian semua akan berbondong-bondong berharap untuk bisa pindah ke pulau itu. Lihat saja," sambungnya sambil tersenyum penuh keyakinan. Ia seolah sedang memproklamirkan kekuatan tekadnya.  "Hati-hati dengan cara bicaramu, nanti kamu bisa dianggap pemberontak." Zidan memperingatkan.  "Silakan saja, kalau mereka mau mengirimku ke Eyja, aku senang sekali bisa kembali."  "OK, cukup." Fais berdiri sambil menepuk tangannya kembali untuk meminta perhatian. "Aku baru saja menerima pesan bahwa Luen memintaku untuk menghubunginya. Sepertinya kita akan mendapatkan misi baru. Kalau kalian masih ingin mengobrol silakan saja, tapi usahakan untuk menghindari topik yang sensitif, ya?"  Ia memberikan tepukan sekilas di pundak Ariel sambil lalu masuk ke pintu yang ada di belakangnya. Ai tak tahu pintu apa itu, dia cukup penasaran dan berpikir untuk sedikit melakukan eksplorasi setelah basa-basi perkenalan ini selesai.  Zidan langsung beranjak setelah Fais hilang dari pandangan. "Selamat datang, Seventh. Aku agak capek hari ini, jadi aku permisi lebih dulu." Ia mengatakan itu, tapi dia tidak kembali ke lift tempat Ai dan yang lainnya datang tadi, melainkan masuk ke pintu yang sama dengan Fais.  Nda yang duduk tepat di samping Ai sekarang sedang asyik main game dengan android-nya, ia duduk sambil menaikkan kaki ke atas meja. Tinggal Ariel yang tampak masih sibuk dengan pikirannya, sejak pertama bertemu, ini pertama kalinya Ai melihat Ariel tidak ceria.  Tiba-tiba, ada tepukan pelan di pundak Ai, ia menoleh dan menemukan Niya sudah berdiri di belakangnya sambil mengumbar senyum. "Mau melihat-lihat tempat ini? Ayo kuantar," tawarnya.  Ai bersyukur ada yang bersedia menjadi pemandunya, ia langsung tersenyum lebar dan mengangguk. "Kebetulan, ada banyak hal yang juga ingin kutanyakan. Ariel, ikut?" tanyanya kemudian pada Ariel yang ada di seberang meja.  Ariel tampak berpikir sejenak, ia menatap Nda yang sudah tak peduli pada sekitarnya lagi, kemudian menghela napas dan akhirnya beranjak.  "Ayo," jawabnya sambil melangkah lebih dulu ke pintu tempat Fais, Zidan, dan Kevin menghilang tadi. Niya menggandeng tangan Ai dan mengikuti langkah Ariel.  Apa yang ada di balik pintu itu cukup membuat Ai tercengang. Selama kurang lebih dua tahun ia berada di SSU, baru kali ini ia tahu bahwa ternyata ada ruangan bawah tanah seperti ini di sekitar gedung barat. Ada koridor dengan masing-masing lima pintu di kiri-kanannya.  Niya menyadari ekspresi kaget di wajah Ai, ia kemudian tersenyum. "Kamu boleh punya ruangan pribadimu di sini. Tapi karena kamu datang paling terakhir, kamu kebagian yang agak di ujung. Enam kamar yang paling dekat ini sudah ada yang punya," katanya sambil mulai melangkah menyusuri koridor.  Ai memperhatikan tiap pintu yang ia lewati sementara Niya terus menjelaskan di sebelahnya. Jarak tiap-tiap pintu cukup jauh, sepertinya ruangan di baliknya cukup luas. Dua pintu di depan tertera nama Fais dan Kevin. Sepasang pintu setelahnya milik Niya dan Ariel. Lalu pintu berikutnya cukup unik, pintu itu dicat warna pink dan papan nama yang tertera di sana seperti papan nama di kamar anak perempuan, penuh dengan hiasan. Nama Nda tertera di sana.  Di depan pintu Nda ada kamar milik Zidan. Sedangkan ruangan yang sudah disiapkan untuk Ai adalah yang bersebelahan dengan Nda. "Di depannya ini ruangan apa?" tanyanya sambil menunjuk pintu yang bersebelahan dengan kamar Zidan.  Saat Ai memperhatikan ke ujung koridor, sepertinya ada belokan ke kiri dan ke kanan di sana. Kalau tiap Armour mendapatkan masing-masing ruangan pribadi-nya, masih tersisa tiga kamar lagi yang kosong.  "Itu ruangan perpustakaan," jawab Niya sambil kembali melanjutkan langkahnya menuju ujung koridor. "Ariel, kamu jangan diam saja. Bantu aku menjelaskan pada Ai dong," protesnya akhirnya.  "Salahmu sendiri, menjelaskan satu per satu. Biar saja nanti Ai menjelajahi Quarter ini sendiri. Kita harusnya cuma menjelaskan secara garis besar saja," Ariel akhirnya bersuara kembali. "Jadi Ai, ini perpustakaan, itu Gym, lalu ruangan di ujung kiri itu adalah gudang tempat menyimpan berbagai barang. Gudang itu banyak tikusnya, memang sengaja nggak dibasmi semua, nanti kamu juga bakal tahu gunanya tikus-tikus itu. Dan yang di depan tadi adalah ruang rapat. Di sana kalau belok kanan ada pantry, belok kiri adalah ruangan training. Itu ruangan yang paling luas di sini, karena terbagi untuk latihan bela diri, latihan menembak dan sebagainya."  "Bela diri dan menembak?" Ai menatap Ariel dan Niya penuh tanda tanya.  "Ah iya... si Fais belum menjelaskan padamu ya." Ariel mengeluh sambil menggaruk-garuk kepalanya.  "Setiap hari kita wajib isi absen di Quarter ini. Ada kegiatan harian yang harus dilaksanakan, seperti latihan bela diri yang di dalamnya juga termasuk sparring. Lalu latihan menembak dan membaca buku di perpustakaan, buku-buku di sana semuanya tentang Avalon. Tujuan latihan fisik dan menembak ini supaya tiap Armour bisa melindungi diri jika terjadi perkelahian dalam melaksanakan misi, mempelajari semua hal tentang Avalon juga agar Armour semakin paham dan mencintai negeri ini." Ia memutar bola matanya dengan ekspresi muak di kalimat terakhirnya.  Ai tak bisa mencegah senyum meringis di wajahnya, si Ariel ini sepertinya sangat tidak menyukai Avalon, tapi tetap harus berkerja demi Avalon. Benar-benar ironi.  "Sebaiknya kamu mulai memikirkan alasan apa yang akan kamu gunakan untuk pulang malam setiap hari. Atau kalau bisa, kamu pindah saja ke sini," saran Niya kemudian.  "Kecuali Niya, Armour yang lain semuanya menginap di sini," kata Ariel lagi. "Kamu mungkin bisa menggunakan alasan yang sama dengan Nda dan Kevin, tinggal di asrama sekolah. Bilang saja kamu tinggal di asrama SSU. Fais yang akan mengatur semuanya."  Ai mengangguk-angguk paham. "Oia, boleh aku melihat-lihat ruangan yang akan jadi kamar pribadiku?" tanyanya kemudian.  "Boleh dong," Ariel pulih dan kembali tersenyum ceria seperti biasa. "Tapi karena datamu belum ada di sini, jadi kamu belum bisa mengakses fasilitas apapun."  Ia lalu menempelkan telapak tangannya di panel yang ada pada samping pintu. Pintu langsung terbuka otomatis.  "Nanti kamu bisa ubah kuncinya menjadi privasimu. Di sini, mulai dari suara, retina, sampai sidik jari akan berperan untuk mengakses berbagai fasilitas," terang Niya sambil melangkah masuk ke kamar yang luasnya bahkan lima kali luas kamar Ai di rumah. Ruangan itu seperti unit apartemen. Ada meja kerja di sisi kiri, lengkap dengan layar 32 inci yang terhubung wireless pada komputer. Satu set sofa berwarna merah maroon di sudut ruangan, satu set meja makan dengan televisi yang menempel di dinding sebelah kirinya, lalu mini bar di sudut kiri ruangan dekat kamar mandi. Dan terakhir, satu ruangan lain yang berfungsi sebagai kamar tidur.  "Alltech-mu akan dihubungkan dengan Honey, jadi kamu bisa memanggilnya kapan saja. Lalu ruangan ini juga, kontrol lampu, TV, AC dan sebagainya bisa dikontrol melalui alltech-mu," terangnya lagi.  Ai mengangguk-angguk sambil menatap berkeliling. Dia tak pernah membayangkan suatu hari akan tinggal di ruangan yang tanpa jendela dan penuh fasilitas canggih seperti ini. Ai lalu duduk menghempas di sofa empuk dalam ruangan yang akan jadi miliknya itu. "Jadi, siapa yang akan mengajarkan semua latihan di sini? Beladiri? Menembak? Aku tidak punya basic dalam hal seperti itu."  "Fais yang akan mengurus semuanya." Niya dan Ariel menjawab nyaris bersamaan. Mereka saling bertukar pandang lalu tertawa bersama-sama.  Ai jadi penasaran, siapa si Fais ini sebenarnya dan apa latar belakangnya. "Maksudnya Fais yang akan mencarikan pelatih untuk kita? Kupikir tak ada yang bisa masuk ke sini kecuali Armour."  "Tentu saja," sambar Niya cepat. "Selain kita bertujuh, tak ada yang bisa bebas keluar masuk dari sini. Itu sebabnya Fais yang melatih kita semua. Dia ahli dalam berbagai hal."  Bibir Ai merenggang nyaris tak percaya. "Si Fais ini, manusia macam apa dia?" pikirnya dalam hati.  "Percaya atau nggak, dia itu jago bela diri, jago menembak, mukanya cakep, jenius, dan penuh rahasia. Bikin kesal banget, kan?" Ariel setengah menggerutu dan dibalas dengan tawa Niya.  Namun keceriaan Niya tak bertahan lama, dalam hitungan detik wajahnya berangsur murung, seolah ia baru saja teringat akan kenangan lama yang menyedihkan.  "Tapi kalian tidak tahu apa yang harus ia lalui untuk mendapatkan semua itu," gumamnya kemudian. "Sebagai orang kedua yang direkrut Armour, aku sempat mengalami sebagian kecil dari kesulitan yang dialami Fais selama bertahun-tahun," sambung Niya lagi.  Ia menghela napas sebelum melanjutkan. "Fais ditemukan waktu ia baru lulus dari Primary School. Aku ingat sekali, waktu itu aku membaca beritanya. Keluarga Menteri Dalam Negeri diserang WoLf. Ayahnya seorang menteri dan ibunya adalah seorang hakim. Mereka dibunuh di rumahnya. Adik laki-lakinya yang baru berusia 10 tahun digantung dan meregang nyawa di depan matanya. Fais selamat dari kejadian itu, lima anggota WoLf yang menyerang rumah Fais waktu itu ditemukan mati tertembak. Seluruh peluru dari senjata mereka habis. Setelah di-autopsi, nyaris semua peluru itu bersarang di tubuh mereka sendiri. Setelahnya, aku tak begitu tahu. Tapi sepertinya Luen langsung menjemputnya."  Ruangan itu mendadak hening setelah penjelasan Niya. Ariel tak tampak kaget, sepertinya dia juga sudah tahu soal masa lalu Fais ini. Ai merasa semakin tertarik untuk mengetahui lebih jauh lagi.  "Berarti kemampuan Fais bisa membuat para WoLf itu saling menembak sampai peluru di senjata mereka habis?" tanyanya, berusaha menerima setiap kata yang ia ucapkan sendiri.  "Mengerikan, ya." Komentar singkat Ariel sangat mewakili pikiran Ai saat ini.  "Tapi bukankah semua kemampuan kita memiliki batasan dan cara kerjanya masing-masing? Bagaimana dengan Fais?" Ai tak bisa mencegah dirinya untuk terus bertanya mengenai Fais.  "Makanya tadi aku bilang dia itu penuh rahasia," balas Ariel. "Kamu cuma bisa membaca pikiran orang yang bertatapan mata denganmu. Kevin, selalu kelelahan dan sesak napas setiap beraksi – meskipun harus diakui bahwa Kevin-lah yang kemampuannya paling menakutkan setelah Fais. Nda akan kehilangan beberapa jam memori dalam kehidupannya setiap kali ia melakukan manipulasi memori, makanya dia sering dijuluki pelupa. Niya memang bisa menyembuhkan, tapi sebenarnya lebih pantas disebut kalau dia cuma memindahkan rasa sakit. Jadi saat tanganmu terluka, lukanya akan tetap ada, tapi tidak dengan sakitnya. Niya bisa memindahkan rasa sakit itu ke tubuh hewan atau orang lain."  Ai mengalihkan tatapannya pada Niya yang wajahnya semakin terlihat sedih, dan saat mata mereka bertemu, suaranya langsung terdengar. Bahwa sebenarnya Niya merasa sangat benci dengan kemampuannya, bahwa ia tak pantas dianggap memiliki kemampuan healing. Ia tak menyembuhkan siapapun, ia hanya memindahkan rasa sakit dan membuat makhluk lain menderita.  "Tapi kemampuan Zidan adalah yang konsekuensinya paling berbahaya," ujar Niya sambil tersenyum getir. "Sesekali duduklah di dekatnya, kamu pasti bisa melihat banyak rambut putih di kepalanya. Kadang, kalau rambut putihnya mulai kelihatan jelas, ia bahkan harus menyemir hitam rambutnya. Setiap kali melakukan psychometry umurnya akan berkurang, per detik, per menit, atau per jam, tak dapat dipastikan. Yang jelas, proses penuaannya semakin cepat. Makanya kalau bukan sesuatu yang mendesak, Fais tak ingin menggunakan kemampuannya. Ia akan selalu mengusahakan alternatif lain, sebelum meminta bantuan Zidan."  "Fais selalu bilang kalau kamu dan aku adalah Special Armour. Karena kemampuan kita terkesan alami, bisa dilakukan sehari-hari tanpa menyakiti diri sendiri atau pihak lain." Ariel kembali menerangkan. "Tapi sampai sekarang, nggak ada yang tahu bagaimana cara kerja dan batasan kemampuan Fais."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD