Ariel kembali menerangkan. "Tapi sampai sekarang, nggak ada yang tahu bagaimana cara kerja dan batasan kemampuan Fais."
"Kupikir, sesama Armour tidak boleh menyimpan rahasia mengenai kemampuannya," kata Ai meminta koreksi. "Kenapa kalian semua bisa tahu kekurangan satu sama lain tapi tidak dengan Fais?"
"Semua informasi ini Fais yang memberitahu." Ariel duduk di kursi yang ada di meja kerja sambil lalu menopang dagunya pada sandaran.
"Memangnya kamu pikir masing-masing Armour mau menceritakan cara kerja dan batasan kemampuannya? Mana ada yang mau," sambungnya kemudian. "Fais mendapat informasi ini dari Luen, mungkin Luen tahu semua ini juga dari SaO. Dan mereka juga sempat melakukan penelitian untuk memastikannya. Luen memberi tahu Fais dan Fais membeberkan semuanya pada kita agar bisa lebih berhati-hati menggunakan kemampuan. Tapi siapa yang bisa protes kalau Fais nggak mau memberitahu kita mengenai kemampuannya?"
"Tapi dia kan juga bagian dari Armour. Harusnya dia tidak boleh..."
"Fais itu istimewa," Niya menyela kalimat Ai, "dia yang pertama kali ditemukan, digembleng sejak kecil sampai menjadi produk sempurna seperti saat ini. Aku juga sempat mengalami latihan keras yang dibuat Luen. Hanya bertahan satu bulan, aku masuk rumah sakit dan hampir mati. Padahal Fais bertahun-tahun menjalaninya. Dulu, sebelum Luen tahu kalau ada tujuh Armour, waktu ia masih menganggap bahwa hanya Fais yang memiliki kemampuan, ia memperlakukan Fais bukan sebagai manusia."
Alis Ai berkerut menuntut penjelasan lebih lanjut, lalu Niya menatap Ariel sebelum kembali melanjutkan. "Aku sudah pernah memberitahumu, kan? Dia diperlakukan seperti hewan peliharaan. Hanya menerima dan menjalankan perintah. Tak diizinkan bersosialisasi, diberi latihan keras. Tinggal di suatu tempat yang dijaga ketat, hanya keluar untuk melaksanakan misi, lalu dikembalikan lagi setelah misi selesai. Tak ada yang peduli dengan perasaannya, tak ada yang ingin mendengar pemikirannya."
D.a.d.a Ai terasa seolah terhimpit sesuatu hingga kekurangan udara, mendadak ia merasa sesak ketika mengingat sosok ramah Fais yang diperlakukan tidak manusiawi itu muncul di benaknya.
"Tapi jangan salah," timpal Ariel tiba-tiba. "Fais menerima semua itu dengan senang hati. Karena dendamnya pada WoLf, dia rela diperlakukan seperti itu agar suatu saat ia bisa menghabisi seluruh anggota WoLf," terangnya sambil memutar-mutar kursi tempatnya duduk ke kiri dan ke kanan.
"Sebagai satu-satunya yang pernah berkomunikasi dengan Zoire dan menerima komando langsung dari Luen, ia tak bisa disamakan dengan kita. Kemampuannya sangat hebat, ia memiliki hak khusus," sambung Niya lagi. "Jika membeberkan informasi mengenai kemampuannya dianggap membahayakan, maka ia boleh tetap menjadikannya rahasia. Jadi, Fais itu sebenarnya satu level berada di atas kita."
Pintu kamar bergeser terbuka tepat saat Niya mengakhiri ucapannya. Sosok tubuh proporsional yang baru saja menjadi bahan perbincangan mereka itu muncul di mulut pintu, lelaki dengan senyum sempurna dan wajah yang sebening porselin. Bahkan ketika ia melangkah, udara di sekitarnya seolah berubah menjadi udara musim semi.
"Bagaimana? Kamu suka ruangan ini?" tanyanya ramah.
Ai mengangguk dengan tatapan yang tak bisa lepas dari makhluk sempurna yang ada di hadapannya itu. Niya sampai harus menyikut lengannya agar ia berhenti menatap Fais.
"Kalian sudah selesai ngobrol? Aku mau mengajak Ai submit identitasnya, supaya besok dia sudah mulai bisa akses semua yang ada di Quarter." Bahkan suara Fais pun tak mengkhianati penampilannya.
Ai beranjak dengan kikuk. "Oh... oke, kemana kita harus pergi?" tanyanya sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
Awalnya, kesan Fais di mata Ai cuma sebatas lelaki tampan yang misterius. Tapi setelah ia mendengar semua cerita Niya, Ai jadi merasa tak bisa bersikap biasa di depan Fais. Lelaki sempurna itu istimewa, tapi dia juga ternyata sangat tidak beruntung.
"Ke ruanganku," jawab Fais sambil mulai berbalik kembali ke pintu. "Ariel, Niya, aku pinjam Ai, ya. Setelah semua urusan selesai, kalian bisa mengobrol lagi," katanya sambil berlalu.
Ai melambai singkat pada dua orang di belakangnya kemudian mengikuti langkah Fais keluar dari ruangan itu. Saat berjalan di koridor, Ai mempercepat langkahnya agar ia bisa berjalan di sebelah Fais. Ia berusaha menatap mata lelaki itu, menunggu kesempatan tatapan mereka bisa bertemu jika sewaktu-waktu Fais menoleh, agar Ai bisa menggunakan kemampuannya untuk mendengar isi hati Fais.
"Kamu mau coba gunakan kemampuanmu padaku, ya?" tanya Fais sambil menahan tawa. Ai refleks menunduk dengan wajah memerah saat niatnya itu tertangkap basah oleh Fais.
"Apa kamu pernah menggunakan kemampuanmu kepada salah satu Armour?" tanya Ai tepat saat mereka sudah tiba di depan pintu ruangan Fais.
Authority Command adalah kemampuan yang sangat luar biasa, sebuah perintah mutlak yang tak bisa ditolak. Fais bisa menyuruh orang melakukan apa saja yang ia mau. Bukankah itu sangat berbahaya? Berdiri di sebelahnya saja sudah membuat Ai merinding.
Fais tertawa kecil sebelum menanggapi. "Untuk apa? Kalau tidak terlalu mendesak, aku tak akan menggunakan kemampuanku," balasnya kemudian menempelkan tangannya pada panel untuk membuka pintu. "Kamu tidak perlu cemas, Authority Command bukanlah kemampuan yang bisa digunakan kapanpun aku mau. Karena tidak seperti kamu dan Ariel, Armour yang lain, termasuk aku, punya konsekuensi yang cukup berat kalau kami sembarangan menggunakan kemampuan."
Fais bicara dengan ringannya sambil berjalan melewati pintu dan memasuki ruangannya. Ai memutuskan untuk diam dan mengikuti. Memang tak ada yang tahu, apakah Fais sudah menggunakan kemampuannya pada salah satu Armour, bagaimana cara kerja kemampuannya, dan apa konsekuensinya. Rasa penasaran Ai tak bisa membuatnya bersikap seperti semula.
Lelaki yang ada di hadapannya ini selalu memancarkan aura yang sangat menghipnotis. Seolah ia mampu membujuk semua orang dan meyakinkan siapa saja. Ia merasakan itu sejak awal melihat Fais, wajah dan senyum ramah itu memang sangat menghanyutkan. Dan namanya itu, Faisal Fandika, rasanya Ai pernah mendengar nama itu, tapi ia lupa entah di mana.
Fais sudah duduk di meja kerjanya. Karena Ai masih berdiri di dekat pintu, ia menggerak-gerakkan tangannya untuk mengisyaratkan agar Ai mendekat.
Ai pun melangkah ke arahnya sambil menatap sekeliling. Ruangan itu tak jauh berbeda dengan ruangan yang akan menjadi milik Ai tadi. Hanya saja, di kamar ini sudah ada banyak barang-barang milik Fais, tapi semuanya tetap tersusun dengan sangat rapi. Di meja kerjanya ada tiga monitor lebar, komputernya lebih rumit dan banyak panel yang tidak dimengerti Ai.
"Tempelkan tanganmu di sini, lalu lihat kemari, dan rekam suaramu di sini," katanya sambil menunjuk satu persatu peralatan komputer yang ada di situ.
Ai menuruti semua perkataan Fais tanpa rasa ragu, memang siapapun yang berhadapan dengan Fais, tak bisa memendam kecurigaan yang bertahan lama. Hanya dengan satu senyuman dan suara yang lembut itu, segala keraguan akan sosok seorang Fais akan sirna dengan sendirinya.
Fais menekan beberapa tombol di hadapannya. "Oke, mulai sekarang kamu sudah resmi menjadi bagian dari Armour," kata Fais setelah Ai selesai melakukan semua yang diminta Fais tadi.
Fais lalu memutar kursinya sampai ia benar-benar berhadapan dengan Ai yang sedang berdiri di sampingnya. "Jadi, apapun yang dikatakan Niya padamu tadi, semuanya memang benar."
Tiba-tiba saja ia mengatakan itu pada Ai. Tentu saja Ai tak sempat menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya.
"Niya memang suka mengungkit masa lalu setiap kali ada Armour yang meragukanku." Lelaki itu tertawa ringan memamerkan senyum hangatnya. "Tapi kamu tak perlu memberi rasa simpati berlebihan, Niya menceritakan itu bukan untuk membuat orang menjadi kasihan padaku. Ia melakukan itu cuma agar Armour yang lain tahu, bahwa aku juga merasakan hal yang sama dengan kalian. Kita, para Armour, memiliki kemampuan dan kisah kita masing-masing. Karena itu..." Fais mengambil jeda sejenak. Ia lalu berdiri tanpa melepas tatapan dari Ai.
"Ayo kita bekerja sama. Menyelesaikan semua misi untuk keberlangsungan Avalon yang kita cintai. Saling membantu, saling melengkapi, bekerja sebagai partner sekaligus keluarga," katanya sambil lalu mengulurkan tangannya.
Akhirnya Ai dapat menatap mata jernih itu secara langsung, tapi tak ada yang dapat didengarnya. Tidak seperti saat Ai menatap mata orang lain, lelaki yang ada di hadapannya itu seolah tak menyimpan maksud apa-apa. Entah karena Fais mampu memblokir pikirannya dari Ai, atau memang ia tak menyembunyikan apapun. Dia sangat tenang, lelaki itu sangat tenang seperti permukaan laut yang dalam.
Ai akhirnya mendengus tersenyum, ia mengaku kalah dari lelaki ini, ia tak akan bisa menang menghadapinya. "Sama-sama," katanya sambil membalas uluran tangan Fais.
Fais mengeratkan jabatan tangannya. "Selamat datang di Armour." Ia bicara tegas dengan senyum yang merekah di wajahnya, puas sekaligus penuh harapan.
***
Ibunda Ai berwajah muram saat Ai menyampaikan keinginanya untuk menetap di asrama kampus. Alasan Ai adalah supaya ia bisa lebih fokus pada tugas akhir. Meskipun sebenarnya Wulan ingin menolak keinginan Ai untuk meninggalkan rumah, tapi dalam hati wanita itu, ia sadar bahwa ia tak pantas menahan Ai. Ia jarang berada di rumah, Nova sudah bertahun-tahun tidak pulang. Sedangkan ayahnya, mereka sama-sama tahu kalau lelaki itu sudah dianggap mati di rumah itu.
Karena sistem 4 in 1 yang diterapkan di Avalon, ketika sepasang suami istri bercerai, mereka memiliki waktu dua tahun untuk mencari pasangan agar jumlah anggota keluarga tetap lengkap empat orang, maka Wulan menikah dengan seorang "joki suami 4 in 1" bernama Titan Chandra. Lelaki itu hanya akan muncul satu atau dua kali dalam setahun, ia adalah seorang petualang, tidak suka berkeluarga, tapi dia bukanlah lelaki yang jahat.
"Ai akan pulang setiap akhir pekan, kita bisa pergi kemanapun kita mau."
Ai berusaha menghibur wanita bertubuh ramping di hadapannya itu. Ia sebenarnya tak ingin meninggalkan ibunya, tapi Armour adalah top secret, Ai bahkan tidak diperbolehkan menyebut nama itu di depan ibunya sendiri.
Tersenyum sambil lalu mengecup kening Ai, Wulan kemudian menatap wajah anak bungsunya itu. "Maaf, ya," ia mengelus rambut Ai sambil bergumam, "Bunda bahkan tidak pandai membahagiakan anak Bunda sendiri." Suaranya terdengar sangat pelan ketika ia menyentuh lembut pipi Ai.
Ai meletakkan tangannya di atas punggung tangan ibunya, ia menatap mata wanita itu dan yang terdengar selanjutnya adalah suara ratapan, memanggil-manggil nama Kiriyan.
"Kiriyan... bidadari kecil kita sudah dewasa. Pulanglah... aku merindukanmu... Kiriyan..."
Seolah tersengat sesuatu, kubangan air pun mendadak muncul di mata Ai tanpa bisa ia cegah. Ai terisak seketika, ia menangis sambil mendekap tangan ibunya, hingga tangan kurus itu basah terkena air matanya. Rasa kesal menyeruak muncul dari dalam hatinya, rasa kesal pada lelaki yang selama ini selalu dipanggilnya Ayah. Dia adalah penyebab utama Ai dan ibunya harus merasakan penderitaan seperti ini. Kalau saja mereka tak mencintai lelaki itu, rasa sakitnya tidak akan separah ini.
"Kamu membaca pikiran Bunda lagi, ya," ujar Wulan bernada protes. "Bunda kan sudah bilang, Bunda tidak suka kalau kamu lakukan itu." Ia mencubit pelan hidung Ai.
"Bukan salah Ai, suara Bunda yang terlalu keras memanggil Ayah." Ai tersedak di akhir kalimatnya.
Wulan pun langsung menarik tubuh Ai masuk dalam dekapannya. Kali ini ia tak mampu berlagak tegar lagi. "Anak nakal," bisiknya disela isakan tangis, "bakat sejak lahirmu ini benar-benar merepotkan. Bunda jadi tidak bisa menangis sendirian," sambungnya lagi.
Ai tak menjawab, dan tak ada lagi yang bicara setelahnya. Ibu dan anak itu hanya saling berpelukan sambil menangis. Ai tak tahu apa yang dipikirkan ibunya karena wanita itu memeluknya erat dan tak memberikannya kesempatan untuk bertatapan mata. Tapi Ai bisa menebak, saat ini pun wanita itu pasti masih memanggil nama Kiriyan. Ai tahu, ia mencintai ayahnya, tapi mungkin rasa cintanya tak pernah sebesar rasa cinta ibunya. Wanita itu, sampai sekarang pun, masih saja menunggu kekasihnya pulang.
Diam-diam, dalam hati Ai mulai muncul tekad yang menguat. Ia akan menemukan lelaki itu dan menyeretnya pulang. Ai sudah mendapatkan alasannya bertahan di Armour. Kalau Fais bisa semakin kuat demi membalas dendam pada WoLf, dan Ariel bisa menekan rasa bencinya pada Avalon demi mendapatkan pengakuan untuk tanah kelahirannya, maka Ai pun akan bekerja bersama mereka demi membawa pulang ayahnya.
Ya, jika berita terakhir yang ia dengar adalah terlibatnya lelaki itu di dalam WoLf, maka ia pun akan melakukan apa saja untuk memburu WoLf.
- End of Chapter I -