CHAPTER II - Langkah Baru

1861 Words
"Kamu pindah ke asrama kampus?" Wajah bingung Hagi langsung menyambut Ai pagi ini, ketika ia baru saja memasuki ruangan kelas kuliah pertama. "Iya," jawab Ai sambil tersenyum meringis, "teori-ku sudah hampir selesai. Jadi harus segera fokus ke skripsi." Ia berusaha bicara tanpa menatap mata Hagi. Ai punya kebiasaan ini, karena ia mampu mendengar isi hati orang melalui tatapan mata, dengan sendirinya ia pun tak pernah bisa berbohong sambil menatap mata lawan bicaranya. Itu membuat Ai menjadi pembohong yang buruk. "Kamu bertengkar dengan Tante Wulan?" tanya Hagi lagi sambil merendengi langkah Ai menuju kursi di dekat jendela. Ia memang mengenal ibunda Ai dengan cukup baik. "Tidak, aku pulang setiap akhir pekan kok. Kami tidak bertengkar, hanya saja..." "Hanya saja?" Ai tak melanjutkan ucapannya, ia menatap Hagi dan segera saja suara-suara panik lelaki itu memenuhi kepalanya. Ia pun akhirnya menghela napas. Hagi mencemaskannya, mengira telah terjadi sesuatu sehingga Ai ingin menyendiri. "Aku baru saja bergabung di salah satu klub kampus, dan..." "Klub apa?" sambar Hagi tidak sabar. "Cuma komunitas para pecinta sejarah, kebanyakan anggotanya tinggal di asrama. Kami sering mengadakan pertemuan dan kegiatan setelah pulang kuliah. Makanya kupikir akan lebih nyaman kalau aku juga tinggal di asrama." Akhirnya Ai mengarang cerita. "Kalau begitu aku juga..." "Ini cuma khusus perempuan," sela Ai cepat. Ia sudah menduga Hagi akan meminta untuk bergabung. "Lagipula..." Ai merasa harus menambahkan alasan lain, karena sepertinya Hagi belum cukup diyakinkan. Cowok itu masih bertanya-tanya apakah memang benar hanya karena itu. "Bunda suka lembur, dan aku agak kesepian." Ai dengan sangat terpaksa menggunakan alasan itu. Padahal sebenarnya ia sangat tidak ingin kalau ada yang menganggap ibunya tidak becus merawatnya. Pundak Hagi perlahan mulai turun, ia menghempas napas dengan alis yang berkerut prihatin. "Masih belum ada kabar dari ayahmu?" tanyanya kemudian. Ai balas menggeleng. "Sudahlah, tidak usah bahas tentang dia." "Kak Nova?" "Dia ada di West City, dia sudah bilang dia tidak berniat untuk pulang," jawab Ai lagi. Kakaknya yang lebih tua setahun darinya itu sudah meninggalkan rumah sejak tiga tahun yang lalu. Wulan mencari kemana-mana dan menemukannya di West City, bekerja di sebuah bar. Meskipun ia bersikeras bahwa ia tidak melakukan hal yang hina, tapi saat Ai bicara padanya, ia tahu Nova berbohong. Tidak menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, pergi dari rumah dan bekerja di sebuah bar, di West City. Tanpa kemampuan Ai pun, semua orang sudah bisa menebak pekerjaan seperti apa yang dilakukan Nova. Wulan membujuknya pulang, tapi ia menolak. Katanya ia ingin hidup mandiri. Ai sudah lama tahu, Nova tak pernah merasa nyaman berada di rumah. Keluarga mereka memang bisa dikatakan jauh dari kata sempurna. Ayah yang sudah lama pergi dan dikabarkan terlibat WoLf, ibu yang selalu sibuk bekerja dari pagi hingga malam, lalu adik yang memiliki kemampuan aneh. Siapa yang tahan? Nova tak pernah suka dengan Ai, itu juga bukan hal yang mengagetkan bagi Ai. Memang Nova tak pernah bicara atau berlaku kasar padanya, tapi ia juga tak pernah mau berada di dekat Ai, ia selalu menghindar. Bagi orang lain, mungkin Ai cuma terlihat seperti anak pintar yang pandai memahami sifat atau membaca kepribadian seseorang. Tapi tidak bagi ibu, ayah, dan kakaknya. Hanya mereka bertiga yang tahu soal kemampuan aneh Ai. Bungsu di keluarga itu bukan cuma sekedar menebak-nebak, tapi memang ia mampu membaca pikiran orang lain. "Ai," suara Hagi terdengar lembut memanggil namanya. Lelaki itu lalu memegang pundak Ai dan menatap matanya lekat-lekat. "Apapun yang terjadi, kamu harus tahu, aku..." "Hei, kalian sedang apa?" Tiara datang – tidak – pada saat yang tepat. Ia cuma memberikan tatapan polos pada Ai dan Hagi sebelum kembali bicara tanpa menunggu jawaban. "Ai, sudah lihat portal? Ada survey mahasiswa berprestasi loh, aku ada di peringkat pertama. Tapi namamu ada di peringkat ketiga, ada apa? Biasanya kamu selalu ada di peringkat kedua." Ia langsung mengoceh dan membuat Hagi melepaskan pegangannya pada pundak Ai sambil menghempas napas rada jengkel. Ai juga tak begitu tahu bagaimana cara menghadapi si Tiara ini. Ia bicara seolah urusannya adalah yang paling penting. Lalu tanpa memikirkan dampaknya, membeberkan kehebatan diri sendiri dan menyampaikan kelemahan atau kekalahan orang lain dengan santainya. Tapi yang membuat Ai tak bisa meninggalkan Tiara adalah karena memang cewek itu sangat tidak peka. Saking terlalu ambisius untuk memenangkan kompetisi, dan terlalu bersemangat untuk membeberkan kemenangan. Ia lupa kalau seharusnya ia sedikit bersimpati dan prihatin saat ia berhasil mengungguli Ai sebagai teman sekaligus rivalnya. Ia tak pandai berbasa-basi, apalagi menghargai perasaan orang lain. "Akhir-akhir ini aku bosan jadi runner-up," Ai asal menjawab. "Kalau bosan jadi runner-up, harusnya kamu lebih berusaha lagi dong supaya bisa jadi nomor satu." "Memangnya kamu mau kalau aku jadi nomor satu dan mengunggulimu?" "Yah...," Tiara mulai menatap ke berbagai arah untuk menghindari Ai, "bukan begitu juga sih... oh iya, tebak tadi aku ketemu siapa?" Ia mengalihkan pembicaraan di akhir kalimatnya. Lalu dengan mata berbinar Tiara mendekatkan wajahnya ke hadapan Ai. "Vice Rector I!" serunya kemudian. Ah... Ya. Ai baru menyadarinya kemarin, ternyata VR1 di kampus ini adalah Fais. Pantas saja Ai merasa nama Faisal Fandika itu sangat tidak asing. "Kudengar memang sedang ada rapat di kantor Dekan, rapat bidang akademis. Wajar saja kalo VR1 terlibat. Dari dulu orang suka heboh kalau bicara soal VR1. Apa hebatnya sih dia?" ketus Hagi. "Ya ampun, Hagi. VR1 itu perfect prodigy. Dia masih 24 tahun tapi sudah menduduki beberapa posisi penting negara. Dia jenius, keren, wajahnya cakep, dia sempurna, siapa yang tidak..." "Ya... ya... aku tahu," sela Hagi sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat untuk menyuruh Tiara diam. "Kamu juga terpesona sama dia, Ai?" kali ini ia bertanya pada Ai. "Wanita waras mana yang tidak terpesona melihat Fais?" Ai hanya bisa membatin dalam hati. "Tidak, biasa saja," jawab Ai sambil mengedikkan bahunya. Ia lalu menatap Hagi yang tampak lega mendengar jawabannya. Lelaki itu begitu menyukainya, tapi tetap saja betah menjadi temannya. Ai sebenarnya mulai merasa tidak sabar, tapi ia juga tidak mau menjadi pihak yang bergerak lebih dulu. *** Pukul 17.00 di Armour Quarter, Ai sedang berkonsentrasi keras untuk menembakkan pelurunya melewati lingkaran yang paling kecil di tengah papan target yang berjarak 17 meter di hadapannya. Latihan yang harus ia lalui terasa sangat sulit bukan hanya karena ia tak terbiasa memegang senjata dan belajar beladiri, tapi juga karena Armour yang lain terlihat sangat menikmati latihan ini. "Aku menang! Aku menang!" teriak Nda sambil melompat-lompat di sebelah Ai. Ia menggunakan papan target yang berada di sebelah kanan Ai, tapi letaknya 3 meter lebih jauh dari papan target Ai di depan sana. Sejak tadi ia sudah bertanding dengan Niya untuk menembakkan lima peluru kaliber 4.5mm dari pistol di tangan mereka, tepat di lingkaran kecil yang berada di tengah papan target. "Tunggu. Jangan senang dulu," Niya melepas penutup telinga sambil lalu menekan tombol yang ada di sebelahnya. Lalu hologram berbentuk papan target muncul di hadapan Niya dan menunjukkan hasil tembakannya barusan. Sebuah suara robotic seorang wanita terdengar pada detik berikutnya. "Kurniya 'Second' Hayati, 5 shots in 18 seconds at 20 m. Score 560." "Aku yang menang, kan? Aku unggul 2 poin! Tepati janjimu dan belikan aku es krim besok siang," Nda meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil tertawa penuh kemenangan. Itu salah satu hal yang membuat Ai semakin merasa tidak nyaman dengan latihannya. Kemampuan mereka sudah jauh di atas Ai. 560 masih kalah? Padahal sudah hampir dua minggu ia bergabung, tapi skor terbaiknya bahkan belum sampai poin 400. "Masih belum menembak satu peluru pun?" sapa sebuah suara dari belakang Ai. Ketika ia menoleh, senyuman imut itu langsung menyambutnya. Kevin. Muncul entah dari mana. "Kamu barusan menggunakan kemampuanmu?" tanya Ai. Matanya bergerak mengikuti sosok Kevin yang mulai melangkah perlahan ke sebelahnya. "Tidak apa-apa?" tanya Ai lagi. "Akhir-akhir ini aku sudah semakin baik," jawab Kevin. Perlahan tangannya bergerak mengambil pistol yang ada di tangan Ai. "Aku mau jadi semakin kuat, makanya harus melatih kemampuanku sampai aku terbiasa. Supaya efek sampingnya tak terlalu mempengaruhiku lagi. Aku ingin menjadi seperti Ariel dan Ai." Ia tersenyum tanpa menatap Ai dan mulai memfokuskan senjata di tangannya kepada sasaran yang ada di hadapannya. Sebelum menembak, ia memberi nasehat pada Ai. "Perhatikan," katanya, "pastikan pistolnya sudah siap untuk menembak. Pegang seperti ini, perhatikan letak jarimu baik-baik, jangan sampai menghalangi seperti ini, nanti bisa terluka. Sejajarkan ibu jari untuk akurasi, kendalikan napasmu. Ingat, tangan yang tidak dominan tidak ikut menggenggam senjata, hanya bantu menopang saja supaya lebih stabil, sedikit dekatkan dengan badanmu seperti ini. Jangan gugup. Santai saja. Berdiri dengan kuda-kuda stabil. Perhatikan baik-baik sasaranmu, lalu..." Dor! Ada lubang kecil tepat di tengah lingkaran target di depan sana. Kevin tersenyum sambil menurunkan pistol di tangannya. "Mudah, 'kan?" suara lembut Kevin yang ramah mulai terdengar menggemaskan di telinga Ai. Waktu awal ketemu, dia benar-benar pemalu. Kalau Ai mengajaknya bicara, wajahnya langsung memerah dan terlihat sangat manis. Tapi setelah seminggu lebih berlalu, mereka jadi semakin sering ngobrol. Sekarang Ai bahkan punya hobi baru, mencubit pipi Kevin. "Ayo coba lagi." Kevin menyerahkan kembali pistol itu ke tangan Ai. Melihat Ai masih bengong, Kevin mencoba memberinya semangat. "Waktu pertama kali menjalankan misi, Nda bahkan hampir melubangi kepala Fais. Entah bagaimana caranya menembak, peluru itu malah menuju ke arah Fais. Untung saja waktu itu aku cepat bergerak dan menarik Fais menghindari peluru," katanya. Ai ternganga takjub, si Kevin ini ternyata juga tak kalah luar biasanya dengan Fais. Ai tak pernah menyangka akan berada di tengah kumpulan orang-orang hebat ini. "Hei, kalian sudah selesai?" Ariel muncul di mulut pintu dan bertanya kepada semua orang yang ada di ruangan. "Fais dan Zidan sudah menunggu di ruang rapat," sambungnya lagi. Ai segera meletakkan pistol di tangannya kembali ke tempat yang telah disediakan di ruangan itu. Dalam kondisi apapun saat menjalankan misi nanti, Ai berharap ia tak perlu menggunakan benda itu. "Hari ini Fais cengengesan terus," gerutu Ariel saat ia berjalan di samping Ai menyusuri koridor menuju ruang rapat yang berada di paling depan. "Tadi aku jadi pasangan sparring-nya, dia terlalu bersemangat. Aku sampai dibanting berkali-kali, dan dia masih bisa nyengir sambil bilang; 'Lagi?'." Terdengar tawa dari Niya dan Nda yang berjalan di belakangnya. "Dia sudah tidak sabar untuk membasmi WoLf. Aku juga sudah bosan terus menerus menangani kasus korupsi para pejabat, kurasa misi kali ini akan sangat menyenangkan." Nda juga ternyata cukup bersemangat. Saat pintu di ujung koridor bergeser terbuka, yang tampak di ruang rapat adalah Fais di kursinya dan Zidan di sebelah kirinya, lalu ada dua porsi pizza besar di atas meja. "Wuah... wanginya enak banget," Ariel langsung berlari menuju meja dan menghirup dalam-dalam aroma di atas pizza itu. "Baru kali ini kita rapat sambil makan pizza," serunya girang. "Silakan nikmati sepuasnya, tapi kalian harus tetap menyimak apa yang akan aku katakan," ujar Fais sambil menatap Ai dan yang lainnya. Setelah semuanya mengambil posisi duduk di sekitar meja, Fais menarik napas panjang dan menghempasnya. "Akhir-akhir ini, Divisi 4 merasa ada pergerakan yang mencurigakan di Eyja. Sepertinya WoLf bergerak secara geriliya dan merencanakan sesuatu," ia mengambil jeda dengan mata yang berkilat penuh ambisi. "Kita tak tahu apa tujuan mereka, tapi tidak diragukan lagi bahwa mereka akan membuat kekacauan. Luen menyerahkan masalah ini kepada Armour. Jadi, kita akan lebih fokus untuk menemukan WoLf yang bersembunyi di sana." Senyuman di wajah lelaki itu mulai berubah menjadi seringai yang menyeramkan. Ekspresi wajahnya seolah memancarkan aura seorang pemburu yang haus darah. "Rasanya senang sekali, mulai sekarang kita akan berburu serigala."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD