Sam membuka matanya pagi itu. Ia segera duduk di ranjangnya dan merentangkan tangannya. Sam memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya, menggeser tubuhnya sedikit agar langsung terkena cahaya matahari yang menerobos melalui jendela kamarnya.
Setiap pagi Sam akan selalu melakukannya, mencari sinar matahari pagi yang sangat menyenangkan untuk kulitnya. Sinar matahari pagi bisa membuat kulitnya sehat dan bercahaya. Sam masih tersenyum sambil menikmati hangatnya sinar matahari itu.
Sam menepuk-nepuk kedua pipinya dan menghela napas panjang. Ah, benar-benar menyegarkan. Sekali lagi Sam merentangkan kedua tangannya lebar-lebar lalu melakukan senam kecil sebelum ia mandi dan menemui Constantine.
Sam melihat Constantine sedang duduk di meja makan, ditemani seorang pria yang sangat Sam sayangi juga, paman Drew.
Drew bukan suami Constantine, tapi menurut Sam, Drew sangat menyukai Constantine. Seperti cinta lama yang bertepuk sebelah tangan, karena Constantine tidak pernah membalas cinta Drew, bahkan selalu ketus pada pria itu. Haha, paman Drew yang malang.
Setiap pagi, Drew akan selalu mengunjungi wanita pujaannya itu, dan Sam selalu memberikan waktu untuk mereka berdua menyatukan cinta mereka, yang entah kapan akan terealisasikan.
“Selamat pagi, bibik Constantine.” Sapa Sam sambil tersenyum manis. “Dan selamat pagi pamanku yang paling tampan.” Sam mengangkat sedikit ujung roknya dan menekuk satu kakinya, menirukan gaya para bangsawan memberi salam. Sam mengedipkan sebelah matanya pada Drew.
Drew terkekeh. Sam akan selalu menghindar saat Drew datang, agar pria itu punya banyak waktu bersama Constantine.
Sam adalah gadis yang sangat menyenangkan. Drew bahkan sudah menyayangi Sam seperti anak kandungnya sendiri. Tapi ini bukan soal menebus kesalahan. Sam tidak tau bahwa Drew ikut andil dalam kematian ibunya, dan Drew bermaksud menyembunyikan itu selamanya. Biarkan mereka hidup bahagia seperti sekarang. Ini sangat menyenangkan.
Sam nampak sudah berlari ke halaman luar, menghirup udara segar, mengejar kupu-kupu dan menyapa setiap orang yang ditemuinya. Sam sangat periang, ia tidak pernah berhenti tersenyum.
Drew masih terpesona menatap Sam. “Bukankah semakin hari gadis itu semakin mirip Melia? Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik.”
“Jangan menyebut nama itu lagi, Drew. Aku tidak ingin Sam mendengarnya dan mencecarku dengan begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat kujawab.” Ancam Constantine dengan galaknya.
“Hmm baiklah aku tidak menyebutnya lagi. Tidak terasa 20 tahun telah berlalu. Huh, begitu cepat. Kita semua menua benarkan.” Drew menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Constantine menyipitkan mata menatap Drew. “Pergilah Drew, jangan menggangguku lagi.”
Drew tersenyum tipis. “Ayolah Constantine. Bagaimana caranya agar kau bisa memaafkan aku? Kejadiannya sudah berlalu 20 tahun, aku juga hanya melakukan tugasku saat itu. Aku tau kau sangat menyayangi Melia, tapi aku juga sangat menyayangi Tuan Hugo. Itu disebut pengabdian. Tapi hubungan kita itu adalah hal yang lain. Kau tidak bisa memusuhiku hanya karena itu."
Constantine melotot marah. "Hanya karena itu kaubilang? Kau sudah membunuh Melia!"
"Aku tidak membunuhnya, bahkan tidak ada peluruku yang kulepaskan." Jawab Drew cepat.
"Tapi perintahmu yang sudah membuat mereka membunuh Melia. Itu tidak ada bedanya." Constantine mendesis marah.
"Baiklah, maafkan aku, Constantine." Seru Drew dengan tulus.
"Minta maaflah pada Melia saat kau bertemu dengannya nanti." Constantine mengabaikan Drew dan berkutat pada pekerjaan rumahnya yang lain.
Drew terus menatap wanita pujaannya yang sudah terlihat menua itu. Bagi Drew, Constantine masih cantik dan akan selalu cantik. Dulu mereka saling mencintai, tapi tugas dan tanggung jawab membuat Constantine membencinya.
Drew tidak bisa menyalahkan wanita itu. Tidak ada yang menyangka kejadiannya akan seperti ini. Tapi Drew tidak akan berhenti meyakinkan Constantine akan cintanya. Dan Drew juga akan menjaga Sam untuknya, walaupun dengan sisa tenaganya yang sudah mulai berkurang seiring umurnya yang bertambah tua.
**
Sementara itu, Sam masih tidak berhenti tersenyum menyapa semua pekerja perkebunan. Baik pria maupun wanita, semua mengenal Sam dengan baik. Pembawaan Sam yang supel, ceria, dan ramah, membuatnya disukai semua orang di perkebunan.
Walaupun begitu, tetap saja ada segelintir orang yang hanya bisa mencari masalah. Sam menatap tajam pada beberapa pria bertubuh besar yang sangat suka menggoda Sam dengan kelewatan. Sam berdecak kesal, suatu hari nanti ia akan memberi mereka pelajaran. Sam tertawa dalam hatinya.
Ah, lupakan soal pria-pria b******k itu, karena sekarang pandangan Sam tertuju pada seorang wanita seksi yang sedang mengobrol dengan salah satu pria bertubuh besar itu. Pria itu bernama Howie, salah satu dari pria yang suka mengganggu Sam. Oh, ternyata mereka suka mengganggu semua wanita ya. Sam menyipitkan matanya dan berusaha mengenali wanita itu.
“Eh, wanita itu terlihat familiar. Bukankah itu wanita yang kemarin malam. Apa yang dia lakukan bersama Howie?” Sam berbicara sendiri.
Sam mengamati wanita itu dari kejauhan. Wanita itu bernama Sonia. Yang Sam tau wanita itu adalah wanita yang sudah beberapa waktu ini bersama Damian. Wanita yang menemani pujaan hatinya melewatkan malam-malam panas. Ah, Sam cemburu. Apa wanita itu selalu ditatap begitu hangat oleh mata hazel itu?
Ah, tapi bukankah Damian tidak pernah menatap orang dengan hangat. Bahkan lihatlah pria itu meninggalkan Sonia begitu saja kemarin malam. Bahkan ia tidak peduli kalau tubuh polos wanita itu masih terekspose. Haha, Sam mendadak tertawa senang dalam hatinya.
Sam masih mengamati Sonia dari kejauhan. Wanita itu sangat tinggi dan ramping. Tinggi wanita itu sangat serasi dengan Damian. Wajahnya putih dan tirus. Rambutnya panjang bergelombang dan berwarna hitam pekat yang indah. Tubuhnya benar-benar ramping bagai model.
Dan dadanya. Hekh. Sam menahan napas melihat d**a yang membusung itu. Sam masih bisa mengingat dengan jelas waktu wanita itu telanjang, dadanya memang sangat besar dan ranum. Seketika Sam mulai mencermatinya dan berkomentar menilai bentuk tubuh Sonia secara keseluruhan.
Bukankah dadanya agak terlalu besar untuk tubuh ramping itu? Bahkan dengan pakaian terbuka, d**a itu seperti terlalu sesak dan ingin dibebaskan dari pakaiannya. Huh, pasti itu implant. Sam tidak percaya itu asli.
Sam terkekeh, ia tidak sudi bersaing dengan d**a implant. Haha, lagipula Sam juga punya d**a yang seksi. Sam melirik dadanya lalu mengerjapkan matanya. Sam sedikit membusungkan dadanya ke depan. Ah, mengapa ia sama sekali tidak bisa melihat tonjolannya. Sam terus melirik dadanya dengan frustasi. Lalu mendadak Sam tersadar dan melirik kanan kirinya lalu dengan cepat menekuk bahunya ke depan. Haha ia sangat malu kalau ada yang melihatnya. Bahkan dadanya tidak ada setengahnya dari d**a Sonia.
Baiklah, baiklah anggap saja Sam masih kecil sehingga dadanya juga belum sebesar itu. Lagipula apakah dadanya masih bisa tumbuh lagi di umurnya yang hampir 21 tahun?
Ah, Sam terkekeh lagi. Kemudian Sam kembali menatap dari kejauhan dan tatapannya menuju kaki jenjang Sonia. Kakinya sangat ramping dan panjang, dan wanita itupun selalu berpose seolah sengaja memamerkan kaki jenjangnya. Ah, Sonia benar-benar wanita yang seksi.
Tidak heran Damian suka menghabiskan waktu bersama wanita itu. Hmm, sekilas kekecewaan tampak di wajah Sam. Sepertinya ia tidak akan menang bersaing dengan wanita seperti itu.
Sam menghela napas panjang dan mendadak kaget saat Sonia tiba-tiba sudah melintas di hadapannya dan meliriknya sekilas.
“Apa yang kau lihat? Dasar pelayan rendahan.” Seru Sonia sambil melirik Sam. Lalu iapun pergi dengan menggoyangkan pinggulnya.
Sam sangat kaget dengan sapaan tidak ramah dari Sonia. Sam masih membelalak dan pandangannya mengikuti Sonia. Huh, apa aku tidak salah dengar? Aku hanya melihatnya, tidak mengganggunya. Mengapa wanita itu harus begitu ketus. Seru Sam dalam hati.
Oh, hati Sam terbakar. Wanita seperti itu, apa bagusnya? Hanya bagus dipandang, bahkan mulutnya sangat pedas. Ingin rasanya Sam masuk ke dapur dan mengambil cabai untuk menutup mulut wanita itu.
Sam masih memandang Sonia yang sudah mulai berjalan menjauh. Wanita itu terlihat berhenti dan menyapa Carlos.
**
“Hai cantik.” Sapa Carlos sambil menyeringai dan bersiul kecil sambil menyusuri tubuh Sonia dengan tatapannya.
“Mau apa kau?” Tanya Sonia ketus, nampak tidak nyaman dengan keberadaan Carlos. Wanita itu melipat kedua lengan di dadanya dan mendongakkan kepalanya dengan angkuh.
“Ah, mengapa kau sangat ketus? Aku hanya menyapa saja.” Carlos tersenyum lalu mendekati Sonia dan berbisik. “Ngomong-ngomong, aku tidak bisa tidur semalam. Kau tau melihat tubuh polosmu membuat gairahku bangkit.” Carlos mulai terkekeh dan menggoda Sonia.
Sonia membelalak lalu mulutnya berdecak dengan mengejek. “Aku tidak mengerti maksudmu. Jangan bermimpi melihat tubuh polosku.”
Carlos tertawa senang. “Aku sudah melihatnya, sayang. Waktu Damian meninggalkanmu sendiri dengan tubuh yang masih polos itu. d**a yang ranum dan tubuh yang benar-benar menggiurkan. Kapan kau memberiku kesempatan untuk mencicipinya juga, Sonia sayang?”
Sonia membelalak. “Huh, kau benar-benar b******k, Carlos. Kau mengintipku? Huh, jangan pernah bermimpi. Aku tidak akan pernah tidur denganmu.” Seru Sonia dengan ketus dan tegas.
Carlos mengangkat alisnya lalu tertawa lagi. “Ah, aku tau, kau pasti takut pada Damian ya? Haha, tenang saja, sayang. Kalau kita melakukannya secara diam-diam, tidak akan ada yang tau, Sonia.”
Sonia mundur dan menatap jijik pada Carlos. “Huh, bahkan diam-diam pun aku tidak akan sudi. Dengan perilaku burukmu yang sudah terkenal itu, aku ragu akan ada wanita yang mau bercinta denganmu. Kau bercinta seperti binatang.” Cuih, Sonia membuang ludahnya tepat di samping Carlos.
Alih-alih marah, Carlos hanya membelalak sambil berseru kecil. “Haha, kau belum pernah mencobanya, bagaimana kau tau? Setidaknya cobalah sekali saja denganku. Aku bisa memuaskanmu lebih baik daripada Damian.”
Sonia tertawa sinis. “Huh, sudah kukatakan jangan pernah bermimpi, Carlos. Kalau Damian tau kau mengatakan ini padaku aku jamin dia akan langsung menembak kepalamu.”
Carlos lagi-lagi bersiul. “Oh, jadi kau merasa di atas angin, huh? Kau merasa sudah menjadi wanitanya Damian sekarang? Haha, kau bermimpi, sayang. Kau hanya kesenangan sesaat. Dia akan mendepakmu saat dia bosan. Tunggu saja kau akan jatuh ke pelukanku juga nanti. Aku akan setia menunggumu, sayang.” Carlos tertawa lepas sekarang.
Sementara Sonia tidak henti-hentinya menatap jijik pada Carlos. “Huh, kau benar-benar pria menjijikkan, Carlos.”
Sonia segera melangkah pergi meninggalkan Carlos dan pria itu hanya tersenyum menyeringai sambil tatapannya tidak berhenti mengagumi keindahan tubuh bagian belakang Sonia.