Deg..deg..deg..
Jantung si gadis muda masih berdebar tidak karuan. Ia memejamkan mata dan memberanikan diri berbalik menghadap pria yang sudah menangkapnya mengintip.
“Aku bertanya apa yang kaulakukan di sini, Samantha?” Tanya si pria sambil menyipitkan matanya menyelidik.
Gadis muda itu membuka matanya perlahan dan melihat pria di hadapannya membuat ia bisa bernapas sedikit lega. “Ah, tuan... tuan Carlos.”
“Kau mengintip ke paviliun? Huh, kau cukup berani ya? Kau tidak takut Damian mengetahuinya?” Tanya Carlos tidak percaya.
Samantha menelan salivanya. “Eh, itu. Maaf bukan begitu. Aku.. Aku hanya kebetulan lewat. Kalau begitu aku permisi.” Samantha yang gugup langsung berlari meninggalkan Carlos yang masih mengernyit.
Carlos menatap punggung gadis muda itu yang mulai menjauh, lalu seketika penasaran, apa yang sedang dilakukan Damian sampai membuat Samantha begitu gelisah mengintipnya?
Carlos melongokkan kepalanya dan mengintip ke arah kolam renang. Tidak ada siapa-siapa di kolam renang. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah dan pandangannya sampai kepada Sonia, wanita seksi dengan tubuh polosnya yang menggiurkan.
Wanita itu masih tertidur di kursi malas tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Pasti Damian baru saja memakainya dan meninggalkannya begitu saja setelah pria itu puas. Carlos menganga, pemandangan menggairahkan itu membuat Carlos kesusahan menelan salivanya.
Carlos masih memandangi tubuh polos itu dengan lapar saat sebuah benda dingin menyentuh kepala belakangnya, dan Carlos tau benda apa itu.
Carlos membalikkan tubuhnya perlahan dan melihat Edgard sedang menodongkan pistol tepat di kepalanya.
Tidak lama kemudian, sosok bengis itu muncul. Damian berjalan dengan gagah sambil memasukkan kedua tangan di kantong celananya dan melangkah mendekati Carlos.
“Apa yang kau lakukan di sini, Carlos? Pantas saja aku selalu merasa ada yang sedang mengawasiku.” Suara berat Damian dan sorotan matanya membuat lutut Carlos seketika terasa lemas.
Carlos membelalak. “Eh Damian, bukan begitu, aku bukan..aku… gadis itu…..” Carlos yang gugup kesulitan untuk menjelaskan.
“Kalau kau melakukannya lagi. Aku pastikan akan meledakkan kepalamu, Carlos.” Ancam Damian.
Carlos hanya mengangguk cepat sambil memejamkan matanya.
Damian memberi kode pada Edgard untuk melepaskan Carlos, dan mereka pun pergi menjauh meninggalkan Carlos.
Carlos mendesah lega sambil memegangi dadanya, lalu mengumpat dengan keras, “Dasar pelayan sialan.”
**
Samantha masih berlari dengan kencang di halaman yang luas itu. Jarak antara paviliun dan rumah pelayan cukup jauh. Ia berlari sekencang-kencangnya agar tidak ada yang melihatnya.
Heh heh heh. Napasnya tersengal, Samantha menghentikan langkahnya sejenak dan mencoba mengambil napas panjang. Ah, begini rasanya tertangkap basah sedang mengintip. Jantungnya berdebar sangat kencang. Samantha butuh pasokan oksigen yang sangat banyak, ia kesulitan bernapas karena baru saja berlari sejauh dan secepat itu.
Ia membungkuk dan menopang kedua tangan di lututnya sambil menenangkan napasnya. Ia menoleh ke belakang dan terlihat sepi. Sepertinya aman, tidak ada yang mengikuti ataupun mengejarnya.
Samantha yang merasa sudah aman memilih untuk berjalan cepat dan pulang ke rumahnya.
Ia berjalan melewati halaman yang penuh dengan rumput itu. Ah, jalan yang sangat indah. Sam, begitulah ia dipanggil. Sosok gadis periang dan pemberani. Sam sangat mencintai alam, mencintai pepohonan dan mencintai rerumputan. Sam sangat senang tinggal di sini. Setiap pagi ia bisa menghirup udara pagi yang menyegarkan. Ia bermain dengan kupu-kupu atau burung, menari bersama mereka.
Kalau ia bosan bermain ia akan berlari ke perkebunan dan ia mempunyai banyak teman di sana. Ah, Sam sangat mencintai hidupnya. Bukankah hidup ini indah? Walaupun kata mereka, tempat ini tidak indah. Tapi bagi Sam, rumahnya adalah miliknya yang paling nyaman. Dan tentunya dapat menatap mata hazel itu dari kejauhan membuatnya merasa lebih nyaman. Sssttt tapi itu rahasia. Hahaha.
Sam melangkah sambil menari kecil mengarungi kegelapan malam. Pikirannya kembali ke kolam renang, saat pria pujaannya mempertontonkan tubuh indahnya yang membuat Sam menahan napasnya. Ah, mengapa ada pria yang begitu indah. Andai saja ada satu dari pekerja di perkebunan yang mempunyai tubuh seindah itu pasti Sam akan langsung jatuh cinta. Tapi mengapa harus Damian? Pria yang tidak mampu digapai.
Sam menatap langit sambil mengangkat tangannya dan bergaya seolah mengambil bintang di langit. “Hai bintang yang berkilauan. Karena aku tidak mungkin menggapaimu, maka aku harus berpuas diri dengan menatapmu dari kejauhan.”
Sam terkikik. Mengapa hal seperti ini bisa membuat jantungnya berdebar. Perbuatan yang sangat berani mengintip Damian seperti itu. Jantungnya hampir lepas saat mengetahui ia tertangkap. Untung saja itu hanya Carlos. Hahaha. Hati Sam sangat gembira. Sepertinya malam ini ia akan gelisah membayangkan tubuh indah Damian.
Sam meloncat kecil saat tiba di rumah kecil yang indah itu. Rumah yang terbuat dari kayu kokoh dengan banyak hiasan bunga hidup. Rumah kecil itu masih terang. Semua lampu masih menyala berarti bibi belum tidur. Ia pasti sedang menunggu Sam dengan cemas. Sam pun segera berlari ke dalam rumah.
Constantine tersentak saat melihat seseorang memasuki rumahnya. “Sam, sampai kapan kau akan membuatku cemas. Lihat jam berapa ini. Dari mana saja kau?” Constantine mengomel dengan wajah cemas, seketika membuat Sam merasa bersalah.
“Ah, Bibi, maafkan aku, jangan marah ya. Aku hanya berjalan-jalan mencari udara segar.” Kata Sam mengarang alasan.
“Udara segar? Lihatlah di sini begitu terbuka, kalau ingin mencari udara, kau berdiri saja di luar. Untuk apa pergi begitu jauh? Jantungku ini rasanya hampir meloncat keluar saat menemukanmu tidak ada di rumah.” Constantine kembali mengomel dengan cepat.
“Ah, iya, iya. Bibi, maafkan aku.” Sam memgangguk-angguk cepat lalu memeluk Constantine.
“Berjanjilah jangan melakukannya lagi, Sam. Bibi sangat mencemaskanmu.” Suara Constantine mulai melembut, Constantine menangkup pipi Sam lalu memeluknya lagi.
“Ah baik, baik, Bibi. Maafkan aku ya.” Sam memeluk Constantine erat.
“Dan ingatlah selalu pesan Bibi. Jangan….” Constantine belum menyelesaikan kata-katanya tapi Sam sudah memotongnya dengan lantang.
“Jangan ke rumah utama, jangan ke paviliun, jangan menunjukkan diriku di depan Damian. Aku sudah menghafalnya, bik. Aku sudah tau. Jangan mencemaskan aku.” Kata Sam sambil meletakkan tangan di dadanya.
“Tuan Damian, Samantha. Kau tidak boleh memanggil namanya.” Seru Constantine tegas.
“Ah, baik baik. Aku mengerti. Tuan Damian.” Kata Sam sambil tersenyum kecut. “Tapi Bibi apa kau tidak keterlaluan, bagaimana mungkin aku bisa tidak menunjukkan diriku di depannya, sedangkan setiap hari aku pasti melihatnya di sekitar sini atau di perkebunan. Apakah mungkin dia bisa tidak melihatku?“ Sam menghela napas tidak percaya.
“Karena itu kusuruh kau yang menjauh. Menjauhlah darinya Sam. Kalau perlu bersembunyilah darinya.” Ancam Constantine lagi.
“Ah, baiklah, aku mengerti. Kau tidak harus mengulanginya berkali-kali.” Sam mulai gerah dengan peringatan dari Constantine yang selalu diulanginya setiap hari.
Sam sangat menyayangi Constantine seperti ibu kandungnya sendiri. Sam juga selalu mengatakan iya pada Constantine. Apapun itu, Sam tidak pernah membantahnya, namun terkadang ia juga butuh alasan.
“Bibi, apa sekarang kau sudah mau memberitahuku?” Tanya Sam penasaran.
“Apa itu, Sam?” Tanya Constantine sambil menuangkan minuman ke gelas Sam.
“Apakah tuan Damian sangat membenciku sampai aku tidak boleh menunjukkan diriku di hadapannya? Mengapa tuan Damian sangat membenciku?” Sam mengerucutkan bibirnya lalu menatap Constantine.
Constantine seketika menegang dan tanpa sengaja menyenggol gelas di meja.
Pyarr!!
Constantine kaget dan panik. Sam yang melihat itu juga langsung berdiri dan menghampiri Constantine.
“Bibi,kau tidak apa?” Tanya Sam cemas sambil berjongkok membersihkan pecahan kaca di lantai.
Sam menuntun Constantine duduk di kursi lalu mengambil gelas yang baru, mengisinya dengan air dan memberikan pada Constantine.
Constantine memegang gelas itu dengan gemetar dan tatapannya terlihat takut. Sam melihatnya sambil meringis.
“Ah baiklah, tidak tanya, tidak tanya lagi.” Sam berdecak menganggukan kepalanya lagi dengan cepat lalu memeluk Constantine lagi. Hmm, seperti biasa ia tidak akan mendapat jawaban dari pertanyaan itu.