Bab 17: Dansa, Data dan Bulan Madu

1012 Words
Acara resepsi berlangsung meriah. Namun, di tengah pesta, Elena dan Dante menghilang dari keramaian. Mereka ditemukan oleh Franco sedang duduk di pojok balkon yang sunyi, namun anehnya, mereka tidak sedang bermesraan. ​Elena sedang duduk di pangkuan Dante, dan mereka berdua sedang menatap layar laptop yang diletakkan di atas meja marmer. ​"Lihat ini, Dante," Elena menunjukkan sebuah grafik yang melonjak tajam. "Hadiah pernikahan dari para tamu. Jika kita menginvestasikan total uang tunai ini ke dalam startup teknologi hijau di Skandinavia, kita akan mendapatkan return sebesar 200 persen dalam tiga tahun." ​Dante memeluk pinggang istrinya, mencium lehernya dengan lembut. "Elena, ini malam pernikahan kita. Bisakah kau berhenti menjadi CEO selama lima menit saja?" ​Elena terdiam sejenak, lalu menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas. Ia berbalik dan melingkarkan lengannya di leher Dante. "Baiklah. Secara teknis, investasi terbaik malam ini adalah fokus pada hubungan interpersonal kita untuk meningkatkan stabilitas emosional jangka panjang." ​"Itu adalah bahasa tersulit untuk bilang 'aku mencintaimu' yang pernah kudengar," Dante menyeringai, lalu mencium Elena di bawah kembang api yang mulai meledak di langit Sisilia. Pagi itu di Villa Valenti, Sisilia, suara ledakan kecil terdengar dari arah taman belakang. Dante, yang sedang menikmati kopi espresonya sambil membaca laporan intelijen, terkaget mendengar ya. Tapi ia tau siapa dalang di balik inside itu. "Elena! Apa kau baru saja meledakkan pemanggang roti?" teriak Dante tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya. "Bukan meledakkan, Dante! Aku sedang melakukan overclocking pada sistem pemanasnya agar roti kita terpanggang dalam waktu 0,5 detik!" sahut Elena dari balik kepulan asap di dapur luar. Dia muncul dengan kemeja putih Dante yang longgar, kacamata pelindung, dan rambut yang sedikit berantakan. Dante meletakkan cangkirnya, berdiri, dan berjalan mendekati istrinya. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Elena, menariknya menjauh dari mesin pemanggang yang sekarang terlihat seperti bagian dari mesin jet NASA. "Sayang, kita punya koki pribadi. Kau tidak perlu menerapkan efisiensi korporat pada sarapan kita," bisik Dante di telinganya. "Koki pribadimu itu terlalu lambat, Dante. Dia menggunakan metode 'perasaan'. Perasaan tidak bisa diukur dengan metrik keberhasilan!" Dante hanya terkekeh kecil mendengar alasan dari istrinya itu. "Sudah lah, cepat bersiap, Kita akan segera pergi ke Maladewa." Elena pergi meninggalkan Dante untuk membersihkan diri dan menyiapkan apa saja yang perlu di bawa untuk Bulan Madu. Sementara Dante segera memangil anak buahnya untuk membersihkan kekacauan yang sudah Elena buat. Perjalanan ke Maladewa sungguh sangat melelahkan, Elena turun dari jet pribadi dengan Mata setengah terpejam. Di belakang ya Dante turun dengan aura mafia nya yang sangat kuat. Di iringi beberapa pengawal kepercayaan nya. Mereka menyewa vila di atas laut, dengan protokol keamanan yang harus sesuai dengan standart dari sang CEO. Matahari baru saja terbenam di ufuk Maladewa, menyisakan warna ungu dan emas yang memukau. Di dek vila, Dante Valenti sedang bersandar di sofa empuk, memegang segelas sampanye, dan menatap laut yang tenang. Ia hanya mengenakan kemeja putih yang tidak dikancingkan—akhirnya bebas dari dasi dan rompi anti-peluru. ​"Elena, kemarilah. Lihat bintang-bintang ini," panggil Dante. ​ Tidak ada jawaban. ​Dante menoleh ke dalam vila. Di sana, di atas tempat tidur mewah yang ditaburi kelopak mawar berbentuk hati, istrinya—sang Donna baru—sedang duduk bersila dengan laptop Alienware di pangkuannya. Cahaya biru dari layar monitor memantul di wajahnya yang masih mengenakan riasan pengantin yang tipis. ​"Satu menit lagi, Dante! Aku sedang memastikan bahwa transfer dana dari akun rahasia The Board ke yayasan panti asuhan di seluruh dunia tidak terhambat oleh protokol perbankan internasional!" jari Elena bergerak secepat kilat. ​Dante menghela napas, berjalan masuk, dan duduk di pinggir tempat tidur. "Elena, ini malam pertama kita. Kau baru saja melumpuhkan sebuah organisasi global di depan altar beberapa jam yang lalu. Bisakah kita membiarkan dunia mengurus dirinya sendiri selama beberapa jam?" ​"Analisis menunjukkan bahwa jika aku tidak menekan tombol 'Eksekusi' sekarang, sistem perbankan akan melakukan reboot otomatis dan kita akan kehilangan akses selamanya!" Elena tidak menoleh. "Dan lihat ini! Aku menemukan bahwa hotel ini menagih kita biaya tambahan untuk 'Aroma Terapi Premium'. Padahal aku sudah melakukan audit sensorik dan baunya sama saja dengan pewangi ruangan biasa. Aku sedang meretas sistem penagihan mereka untuk menghapus biaya itu." ​Dante tertawa, ia mengambil laptop itu dari tangan Elena dan menutupnya dengan paksa. ​"Dante! Aku belum menekan save!" ​"Biarkan saja," Dante meletakkan laptop itu di lantai, jauh dari jangkauan Elena. "Anggap saja itu sumbangan untuk hotel karena mereka harus berurusan dengan tamu sepertimu." Elena memajukan bibirnya tanda protest kepada Dante. Namun itu justru membuat Dante gemas, Dan dengan reflek mencium singkat bibir Elena. ​Dante menarik Elena mendekat. "Status laporan, Ny. Valenti?" ​Elena mendengus, namun ia melingkarkan lengannya di leher Dante. "Detak jantung subjek (Dante) stabil namun meningkat secara bertahap. Tingkat ketampanan berada pada level yang sangat mengganggu fokus kerja. Kesimpulan: Operasi 'Malam Pertama' harus segera dilaksanakan untuk mencegah degradasi moral." ​"Nah, itu baru laporan yang aku suka," Dante tersenyum miring. ​"Tapi Dante," Elena berbisik di telinganya. ​"Apa lagi?" ​"Aku sudah memasang sensor gerak di sekeliling pulau ini. Jika ada yang mendekat dalam radius dua mil, ponselmu akan bergetar dan lagu Baby Shark akan berbunyi di pengeras suara bawah air." ​Dante mematikan lampu kamar dengan satu sentuhan remote. "Kau benar-benar tidak bisa berhenti menjadi CEO, ya?" ​"Aku bukan lagi CEO Vane Corp, Dante. Aku adalah CEO dari masa depan kita. Dan sebagai pimpinan tertinggi, aku memutuskan bahwa rapat malam ini... bersifat tertutup dan sangat rahasia." Epilog Singkat: ​Satu bulan kemudian, di sebuah pulau pribadi yang tidak terdeteksi satelit mana pun. ​"Dante! Kenapa kau menghabiskan sepuluh ribu dolar untuk membeli kembang api digital di Meta-Verse?" teriak Elena dari balkon vila pinggir pantai. ​"Itu untuk merayakan hari jadi sebulan kita, Elena!" sahut Dante dari kolam renang. ​"Itu tidak efisien! Dengan uang segitu aku bisa membeli server baru!" ​Dante hanya tersenyum sambil menyesap minumannya. "Kirimkan saja keluhannya ke bagian layanan pelanggan, Nona CEO. Aku sedang sibuk tidak melakukan apa-apa." ​Elena mendengus, namun ia menutup laptopnya dan ikut melompat ke kolam renang. Karena terkadang, bahkan seorang auditor jenius pun butuh waktu istirahat dari angka-angka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD