Satu tahun kemudian.
Dante masuk ke dalam ruang kerja Elena di Vila. "Elena, kita punya masalah. Aku kehilangan kunci gudang senjata di pangkalan bawah tanah."
Elena tidak mendongak dari monitornya. "Aku sudah menggantinya dengan sistem pemindai retina, Dante. Kunci manual itu tidak efisien dan mudah diduplikasi."
"Lalu bagaimana aku bisa masuk?"
"Kau harus meminta izin pada administrator sistem."
"Dan siapa administratornya?"
Seorang bayi perempuan berusia delapan bulan yang duduk di lantai di samping kursi Elena mengeluarkan suara babbling sambil memegang sebuah tablet mainan yang sebenarnya adalah terminal kontrol keamanan asli.
Dante melongo. "Elena... kau memberikan akses keamanan klan pada putri kita yang bahkan belum bisa mengucap kata 'Papa'?"
Elena tersenyum bangga sambil menggendong bayinya. "Dia sudah bisa meretas kode sandi ponselmu dalam tiga detik, Dante. Dia adalah aset masa depan Valenti yang paling berharga. Aku menyebutnya: Project Aria."
Dante hanya bisa menghela napas, duduk di samping mereka, dan menyadari bahwa dalam keluarga ini, dia mungkin adalah satu-satunya orang yang tidak punya akses admin. Tapi saat melihat istri dan putrinya, ia tahu bahwa ia adalah pria paling kaya di dunia—bahkan tanpa perlu diaudit. Dua tahun telah berlalu sejak "The Core" tenggelam ke dasar laut, dan dunia telah belajar untuk hidup dengan transparansi yang dipaksakan oleh Project Omega. Bagi dunia, Elena Vane adalah pahlawan anonim. Bagi klan Valenti, dia adalah "Donna Digital" yang berhasil mengubah organisasi kriminal kuno menjadi konglomerat intelijen paling bersih sekaligus paling ditakuti.
Namun, di dalam Vila Valenti yang damai di Sisilia, sebuah anomali muncul.
Elena duduk di meja kerjanya yang menghadap ke kebun jeruk, jemarinya bergerak gelisah. Bukan karena serangan siber, tapi karena sebuah pesan yang muncul di layar monitor pribadinya. Pesan itu tidak memiliki alamat pengirim, tidak memiliki metadata, dan yang paling mengerikan: menggunakan sandi pribadi yang hanya diketahui olehnya dan ayahnya.
"Elena, tidak semua hutang bisa dihapus. Periksa laci rahasia di meja kerja lamamu di Jakarta. Ada aset yang belum ter-audit."
"Siapa kau?" bisik Elena pada layar yang kini kembali hitam.
Dante masuk ke ruangan sambil menggendong Aria yang sedang berusaha memakan antena dari walkie-talkie milik ayahnya. Dante segera menyadari perubahan atmosfer di ruangan itu. Bahu Elena kaku, dan ritme napasnya berubah—sebuah tanda bahwa ada variabel yang tidak beres.
"Elena? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu di dalam servermu," ucap Dante sambil mendudukkan Aria di karpet.
Elena memutar kursinya. "Dante, aku baru saja menerima pesan. Menggunakan kode ayahku. Dia bilang ada sesuatu yang tertinggal di Jakarta. Sesuatu yang 'belum ter-audit'."
Dante mengerutkan kening. "Mustahil. Kita sudah membersihkan semua aset Vane Corp. Aku sendiri yang memastikan kantor itu dikosongkan."
"Itulah masalahnya, Dante," Elena berdiri, berjalan mondar-mandir. "Jika ayahku meninggalkan sesuatu yang tidak terlacak oleh sistemku, berarti itu adalah sesuatu yang analog. Sesuatu yang fisik. Dan jika pesan ini benar, berarti ada pihak lain yang juga mengetahuinya."
"Kita harus kembali ke Jakarta," ucap Elena tegas.
"Ke Jakarta? Sekarang?" Dante menghela napas. "Elena, kita sedang di tengah musim panen zaitun, dan ibuku baru saja memesan katering untuk ulang tahun Aria. Jika kita pergi sekarang, Donna Sofia akan melakukan audit pada kepalaku dengan panci pasta-nya."
"Ini darurat, Dante! Kita sebut saja ini 'perjalanan dinas strategis'," Elena mulai memasukkan beberapa gawai ke dalam tasnya. "Dan tolong, jangan bawa pasukan kecilmu. Kita harus bergerak secara low profile."
"Bergerak low profile dengan suamimu yang punya tato mafia di sekujur lengan dan anak yang bisa meretas gerbang bandara?" Dante tertawa pahit. "Baiklah. Aku akan menyiapkan jet. Tapi aku punya satu syarat."
"Apa?"
"Kau harus menjelaskan pada ibuku kenapa kita melewatkan pesta ulang tahun cucunya. Aku tidak mau mati konyol karena urusan administrasi keluarga."
Elena berhenti sejenak, wajahnya memucat. "Oke, itu variabel yang paling sulit. Mungkin aku bisa meretas kalender di ponselnya agar dia mengira ulang tahun Aria baru bulan depan?"
"Jangan berani-berani, Elena. Ibuku punya kalender fisik di otaknya yang tidak bisa kau hack."
Kembali ke Jakarta: Debu dan Kenangan
Dua puluh jam kemudian, mereka mendarat di Jakarta. Kota itu masih sama: panas, macet, dan berisik. Namun bagi Elena, setiap sudut jalanan membawa kenangan tentang pelariannya dua tahun lalu.
Mereka menyewa sebuah apartemen murah di daerah pusat kota agar tidak terdeteksi. Dante mengenakan kaos oblong dan topi baseball, mencoba terlihat seperti turis biasa, sementara Elena mengenakan wig hitam pendek dan kacamata besar.
"Kenapa kita harus menginap di tempat yang plafonnya ada bekas bocor begini?" keluh Dante sambil memeriksa kasur untuk memastikan tidak ada kutu busuk. "Ini adalah penurunan standar kualitas hidup yang signifikan, Elena."
"Ini disebut penyamaran, Dante. Musuh kita mengharapkan kita di hotel bintang lima, bukan di apartemen yang liftnya berbunyi kriet-kriet setiap kali bergerak," Elena sedang sibuk dengan alat pemindai frekuensi di tangannya.
"Aria menyukai liftnya," sahut Dante sambil melihat putrinya yang sedang asyik menekan semua tombol di remote TV yang rusak. "Dia bilang suaranya mirip dengan alarm keamanan di markas kita."
Malam harinya, mereka menyelinap ke gedung Vane Corp yang sekarang sudah dimiliki oleh perusahaan lain. Menggunakan akses pintu belakang yang masih berfungsi (terima kasih pada celah keamanan yang sengaja Elena tinggalkan), mereka sampai di lantai 42.
Kantor itu gelap dan berdebu. Elena berjalan menuju meja kerja lamanya yang kini sudah kosong. Ia meraba bagian bawah laci ketiga, mencari mekanisme pegas yang pernah ayahnya ceritakan dalam sebuah dongeng sebelum tidur.
Klik.
Sebuah panel kecil terbuka. Di dalamnya bukan flash drive, bukan dokumen, melainkan sebuah kunci fisik kuno dengan gantungan kunci berbentuk koordinat geografis.
"Koordinat?" Dante mengintip dari balik bahu Elena. "Ini mengarah ke sebuah pulau kecil di Kepulauan Seribu."
"Bukan sekadar pulau," Elena menatap koordinat itu dengan ngeri. "Ini adalah lokasi laboratorium bawah tanah pertama yang dibangun ayahku sebelum Vane Corp berdiri. Tempat di mana prototipe Omega yang asli disimpan."
Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang.
"Aku sudah menunggu kalian, Nona Vane. Don Valenti," sebuah suara yang sangat dikenal terdengar dari balik pintu.
Sesosok pria dengan setelan jas abu-abu yang sempurna muncul. Itu adalah Marco, mantan kepala keamanan Elena yang seharusnya sudah tewas saat ledakan dua tahun lalu. Dia membawa sebuah tablet, dan di layarnya, terlihat kamera pengawas yang mengarah ke apartemen tempat Aria berada.
"Kau punya sesuatu yang aku inginkan, Elena. Dan aku punya sesuatu yang sangat kau sayangi di ujung jariku," ucap Marco dengan senyum dingin.
Dante langsung bergerak maju, tangannya sudah memegang pisau tersembunyi, namun ia berhenti ketika Marco menunjukkan tombol 'Detonate' di layarnya.
"Jangan coba-coba, Dante. Aku tidak membawa senjata api, aku membawa algoritma penghancur. Satu sentuhan, dan apartemen itu akan menjadi sejarah."
Elena merasakan dunianya berputar. Logikanya yang biasanya tajam kini tumpul oleh rasa takut yang luar biasa sebagai seorang ibu. "Apa yang kau inginkan, Marco? Omega sudah aktif, kau tidak bisa menghentikannya."
"Aku tidak ingin menghentikannya, Elena," Marco tertawa. "Aku ingin Project Alpha. Kode mentah yang bisa memutarbalikkan Omega. Dan kunci yang kau pegang itu... adalah satu-satunya cara untuk masuk ke sana."
Elena menatap kunci di tangannya, lalu menatap Dante.