Pukul tujuh pagi. Elena Vane tidak bisa tidur di ranjang king-size berkanopi yang terasa seperti museum itu. Baginya, keheningan tanpa suara notifikasi ponsel adalah siksaan.
Dengan mengenakan kemeja putih Dante yang ia temukan di lemari (karena gaun pestanya sudah robek dan kotor), Elena melangkah keluar kamar. Dia berjalan menyusuri lorong panjang dengan langkah tegas, mengabaikan tatapan bingung para pria berjas hitam yang berjaga di setiap sudut.
Dia berhenti di depan sebuah pintu besar yang dijaga oleh dua orang bertubuh raksasa.
"Minggir. Aku butuh kopi dan ruang kerja," perintah Elena.
"Nona, Don Valenti melarang Anda—"
"Don Valenti-mu butuh bantuan untuk menyelamatkan uangnya agar tidak disita negara," potong Elena cepat.
"Namamu siapa? Jono?"
"Nama saya Franco, Nona..."
"Bagus, Jono. Sekarang, tunjukkan di mana pusat komando rumah ini. Aku melihat antena satelit di atap tadi malam, artinya ada ruang server di sini."
"Tapi Nona...." Para pengawal itu ragu ragu untuk menjawab, mereka tau apa akibat nya jika melanggar aturan yang sudah di tetapkan oleh Dante. Tapi di hadapannya sekarang ada seorang wanita yang tidak takut sedikitpun kepada Dante, jika normal nya wanita lain akan terpesona dengan paras bos nya itu, itu sangat kontras dengan wanita yang ada di hadapan nya ini.
"Sudah, ikuti saja kataku!"
Setengah jam kemudian, Dante Valenti masuk ke ruang kerjanya dan menemukan pemandangan yang membuatnya nyaris tersedak kopi hitamnya sendiri.
Cahaya lampu neon di ruang tengah bunker The Vault memantul di permukaan meja jati tua yang terlihat kontras dengan deretan monitor LCD di sekelilingnya. Elena Vane duduk tegak, rambutnya yang kecokelatan kini diikat ekor kuda yang rapi, memberikan kesan profesional yang sangat kontradiktif dengan situasi "pelarian" mereka. Di depannya, setumpuk buku besar manual dan tumpukan tablet berisi data keuangan klan Valenti berserakan.
"Apa yang kau lakukan di kursiku, Elena?" suara Dante bergetar menahan amarah.
"Mengaudit sistemmu yang menyedihkan ini," sahut Elena tanpa menoleh dari layar. "Dante, kau mempekerjakan tiga puluh orang untuk berpatroli di taman belakang, tapi kau membiarkan firewall jaringanmu terbuka seperti pintu minimarket. Seorang peretas amatir bisa tahu merk pakaian dalammu hanya dalam lima menit."
Dante melangkah maju, mematikan salah satu monitor dengan kasar. "Aku tidak butuh firewall. Aku punya dinding beton tiga meter dan kawat berduri."
"Itu cara berpikir abad pertengahan!" Elena berdiri, melangkah mendekati Dante hingga mereka beradu pandang. "Dunia sudah berubah. Musuhmu tidak akan datang mengetuk gerbang depanmu dengan tank. Mereka akan menguras rekening bankmu, membekukan asetmu, dan membuat pelurumu tidak berguna karena kau tidak punya uang untuk membelinya. Organisasimu adalah mimpi buruk bagi setiap akuntan publik di planet ini."
Dante mengerutkan kening, melangkah mendekat. "Mimpi buruk? Kami adalah salah satu klan paling makmur di Asia Tenggara."
"Makmur bukan berarti efisien," Elena akhirnya mendongak, menatap Dante dengan pandangan mengadili.
"Aku baru saja menemukan bahwa pengawalmu, Franco, menghabiskan anggaran sebesar sepuluh ribu dolar bulan lalu hanya untuk 'keperluan taktis'. Setelah kuperiksa struknya, sebagian besar adalah pesanan kopi latte premium dan keanggotaan gym kelas atas. Bagaimana kau bisa menjalankan perang jika prajuritmu lebih peduli pada asupan protein daripada akurasi tembakan?"
Dante menyipitkan mata. "Dan kau pikir kau bisa memperbaikinya?"
"Aku sudah melakukannya," Elena tersenyum miring, senyum yang biasanya membuat lawan bisnisnya gemetar. "Aku baru saja merestrukturisasi protokol keamanan digitalmu. Dan sebagai bonus, aku sudah mengatur jadwal shift pengawalmu agar lebih efisien. Franco—maksudku Jono—sekarang adalah Kepala Logistik karena dia punya bakat terpendam dalam manajemen inventaris."
Pintu besi ruangan terbuka, dan Franco masuk dengan wajah yang tampak lelah. Dia membawa nampan berisi dua cangkir kopi espresso. "Bos, tim di lapangan melapor bahwa—"
"Berhenti di sana, Franco," Elena memotong dengan nada bicara seorang CEO yang sedang memimpin rapat pemegang saham. "Berdasarkan analisis postur tubuhmu kemarin, pusat gravitasimu tidak stabil. Kau terlalu banyak menggunakan otot bisep dan kurang melatih core. Ini mempengaruhi kecepatan reaksimu saat menarik pelatuk sebesar 0,8 detik."
Franco berkedip bingung, menatap Dante seolah meminta perlindungan. "Bos, apa yang dia bicarakan?"
"Dia sedang melakukan audit pada nyawamu, Franco," Dante menyeringai, mulai merasa terhibur dengan kegilaan Elena.
"Mulai besok jam lima pagi," Elena melanjutkan tanpa memedulikan tatapan aneh mereka, "seluruh pengawal di bunker ini harus mengikuti sesi latihan fungsional yang sudah kurancang. Aku menyebutnya 'Tactical Movement Optimization'. Secara teknis, ini mirip dengan Zumba, tapi dengan fokus pada pemindahan berat badan untuk efisiensi menembak. Dan tidak ada lagi latte. Dari sudut pandang nutrisi, kafein berlebih akan membuat tangan kalian gemetar saat membidik."
"Zumba?" Franco menjatuhkan sendok kopinya. "Nona, saya adalah seorang pembunuh bayaran, bukan instruktur aerobik di mall."
"Jika kau ingin tetap menjadi pembunuh bayaran yang hidup, kau akan mengikuti jadwal ini," Elena mendorong sebuah tablet ke arah Franco. "Aku sudah mengunggah jadwalnya ke perangkat kalian semua. Abaikan, dan aku akan membekukan akses kalian ke rekening bonus bulanan."
Dante memijat pangkal hidungnya. "Kau mengubah organisasi mafiaku menjadi startup teknologi?"
"Aku membuatnya menjadi mesin yang menghasilkan profit, Dante. Bukan sekadar perkumpulan pria pemarah dengan jas hitam." Elena kembali duduk, mengetikkan sesuatu di keyboard. "Oh, dan satu lagi. Aku sudah memesankan mesin kopi espresso otomatis yang baru. Kopi buatan anak buahmu rasanya seperti air aki."
Dante menarik kursi Elena, memutar wanita itu agar menghadapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Dante bisa melihat pantulan dirinya di mata biru Elena yang tajam.
"Kau sangat berani, Elena. Kau lupa bahwa kau di sini karena aku menjamin nyawamu."
"Dan aku memberikanmu otakku sebagai imbalannya. Itu namanya merger yang saling menguntungkan," Elena tidak mundur sedikit pun. "Sekarang, jika kau tidak keberatan, Don Valenti... aku punya beberapa kebijakan baru yang harus diterapkan. Mulai besok, tidak ada lagi yang merokok di dalam ruangan. Itu merusak sistem pendingin serverku."
Dante menatap Elena lama, mencoba mencari ketakutan di wajah itu, namun yang ia temukan hanyalah tekad baja. Perlahan, seringai tipis muncul di sudut bibir Dante.
"Baiklah, Elena. Lakukan sesukamu pada sistem ini. Tapi ingat satu hal..." Dante mengulurkan tangan, menyelipkan sehelai rambut Elena ke belakang telinganya dengan gerakan yang sangat pelan dan intim. "...dalam Blood Pact ini, aku tetaplah pemegang saham mayoritas. Jika kau melampaui batas, aku sendiri yang akan melakukan 'likuidasi' padamu."
Elena merasakan sengatan listrik dari sentuhan itu, tapi dia hanya tersenyum dingin. "Kita lihat saja siapa yang akan melikuidasi siapa, Dante." Elena melenggang pergi meningalkan Dante.
Sedangkan Dante tersenyum miring mendengar jawaban Elena. "Gadis yang menarik." Gumam nya.
Sedangkan Elena kini sedang terbaring di kamar nya dengan perasaan yang aneh, ada sesuatu yang dia rasakan saat Dante menyelipkan rambutnya tadi. Tapi rasa ini berbeda dengan yang kemarin ia rasakan saat Dante memeluk nya terjun dari lantai 40.
"Ada apa denganku?" Tanya nya pada diri sendiri.