Esok hari nya.
Pukul enam pagi di kediaman Valenti biasanya diisi dengan suara kokangan senjata atau deru mesin mobil mewah yang berangkat untuk tugas rahasia. Namun, pagi ini, bunker beton itu bergetar oleh dentum bass dari musik elektronik bertempo 128 BPM yang diputar melalui sistem suara mutakhir.
Duk... duk... duk...
Suara musik techno-remix murahan bergema dari arah halaman belakang.
Dante Valenti yang baru saja selesai mandi mengernyitkan dahinya "suara berisik apa itu?" Gumam nya lirih. Dia melangkah ke balkon dan hampir saja menjatuhkan cangkir espresso-nya. Matanya terbelalak melihat pemandangan tak biasa di depan matanya. Di bawah sana, di atas rumput hijau yang dipotong rapi, berdiri dua puluh pria berotot dengan tato memenuhi lengan mereka. Namun, mereka tidak sedang latihan menembak. Mereka mengenakan kaos singlet putih seragam—hasil "audit" Elena kemarin—dan sedang melakukan gerakan jumping jacks dengan wajah paling menderita yang pernah Dante lihat.
Di depan mereka, Elena berdiri di atas meja taman dengan legging hitam dan rambut dikuncir kuda tinggi. Dia memegang megafon kecil.
"Kalian lambat!" teriak Elena, suaranya melengking mengatasi dentuman musik. "Jono! Geser kakimu sepuluh derajat ke kiri. Kau tidak sedang mengantre sembako, kau sedang menyiapkan sudut rotasi untuk tembakan perlindungan! Satu! Dua! Ayo, Jono! Angkat kakimu lebih tinggi! Kau mau jadi mafia atau mau jadi kura-kura?" teriak Elena lewat megafon.
"Nama saya Franco, Nona!" teriak salah satu pengawal sambil terengah-engah.
"Terserah! Franco, Jono, pokoknya angkat pantatmu! Lemak di perut kalian itu adalah beban saat kita harus lari dari kejaran polisi!"
Dante bersandar di pagar balkon, menyilangkan tangan di depan dadanya. Ia menyesap espresonya dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya menonton pemandangan absurd itu. Dia melihat Marco, algojo terbaiknya yang pernah menghabisi lima orang sendirian di gudang tua, kini sedang berusaha keras melakukan gerakan squat sambil menahan malu. Pemandangan yang paling tidak masuk akal yang pernah ia saksikan selama sepuluh tahun memimpin klan Valenti.
"Nona Elena," keluh Franco sambil terengah-engah, keringat mengucur di dahinya yang lebar. "Bisakah kita kembali ke metode angkat beban saja? Gerakan 'Mambo-Taktis' ini membuat selangkanganku lecet."
"Diam dan bergerak, Franco! Ini soal memori otot!" Elena membalas tajam. "Gerakan ini melatih koordinasi mata, tangan, dan kaki secara simultan. Jika kalian bisa mengikuti ritme ini tanpa kehilangan keseimbangan, kalian bisa menembak dua target di sudut 180 derajat tanpa perlu berpikir. Sekarang, satu... dua... putar dan bidik!"
"Elena Vane!" Dante berteriak dari balkon dengan jubah mandi sutra nya, matanya masih merah karena kurang tidur setelah semalam suntuk berdebat soal strategi pencucian uang dengan Elena.
Elena menoleh, sesaat dia terpaku melihat Dante dengan penampilan yang sangat menyilaukan, jubah mandi sutra berwarna maroon, rambut acak yang masih basah, dan segelas cangkir espresso di tangan nya. Sungguh pemandangan pagi yang sangat menyejukkan mata.
"Hentikan tatapan laparmu itu nona Elena." Dante berteriak lagi dari balkon kamar ya.
Elena tersentak membawa ya kembali ke alam nyata, dan mematikan musiknya sejenak. "Oh, selamat pagi, Tuan Pemilik Aset. Kau telat lima menit untuk sesi pemanasan. Bergabunglah, hormon endorfin bagus untuk mengurangi keinginanmu untuk membunuh orang secara akurat."
Dante melompat turun dari balkon—gerakan yang seharusnya terlihat keren jika dia tidak mendarat tepat di depan barisan anak buahnya yang kini menatapnya dengan penuh harap. 'Tolong bunuh kami sekarang saja, Bos,' begitu arti tatapan mereka.
"Apa-apaan ini, Elena?" Dante melangkah mendekati Elena, suaranya rendah dan mengancam.
"Ini disebut investasi kesehatan jangka panjang, Dante," Elena turun dari meja, mengusap keringat di dahinya dengan handuk kecil. "Anak buahmu punya kolesterol tinggi. Aku melihat sisa pizza dan ramen di tempat sampah mereka semalam. Jika mereka serangan jantung saat menjagamu, siapa yang akan melindungiku? Aku tidak mau mati hanya karena pengawalmu hobi makan gorengan."
Dante melihat ke arah anak buahnya. "Kembali ke pos kalian," perintahnya dingin.
Para pengawal itu hampir saja bersorak dan berlari pergi, tapi teriakan Elena menghentikan mereka.
"SIAPA YANG BERANI BERGERAK?" megafon Elena berbunyi nyaring. "Dante, kita sudah sepakat semalam. Aku adalah kepala operasional sekarang. Jika mereka pergi sebelum sesi pendinginan, aku akan menghapus enkripsi data pengiriman senjata yang baru saja kubuat pukul tiga pagi tadi."
Dante menegang. Dia menatap Elena, lalu menatap anak buahnya yang mematung. Sang Don Mafia, pria yang ditakuti di seluruh Italia, baru saja kalah telak oleh seorang wanita dengan megafon.
"Lanjutkan," geram Dante melalui gigi yang terkatup.
"Pilihan yang cerdas," Elena tersenyum lebar. Dia menyalakan kembali musiknya, kali ini lagu "I Will Survive". "Ayo semuanya! Gerakan pendinginan! Tarik napas... bayangkan kalian sedang menghirup uang... buang napas... bayangkan kalian membuang surat panggilan FBI!"
Dante terpaksa berdiri di samping Elena, memperhatikan tontonan itu dengan perasaan campur aduk. Namun, saat dia melihat Elena tertawa kecil melihat tingkah konyol para pengawalnya, sesuatu di d**a Dante bergetar. Bukan kemarahan, tapi rasa kagum yang berbahaya.
"Kau akan membayar ini, Elena," bisik Dante di tengah dentuman musik.
"Kirimkan saja tagihannya ke kantorku, Sayang," sahut Elena tanpa menoleh, terus memimpin sesi Zumba paling mematikan dalam sejarah mafia.
Setelah sesi Zumba yang melelahkan fisik (dan harga diri) para mafia, Elena tidak langsung beristirahat. Dia menyelinap kembali ke ruang server Dante, membawa segelas besar kopi hitam dan ambisi untuk membongkar apa yang sebenarnya disembunyikan ayahnya.
"Mari kita lihat apa sebenarnya yang di sembunyikan oleh tuan Vane di masa lalu, hinga membuat anak gadisnya yang sangat cantik ini harus menjadi sandera dari seorang mafia." Elena bergumam seraya jari - jarinya dengan lihai mengetik kode - kode di atas keyboard.
Dante menemukannya dua jam kemudian. Pria itu sudah rapi dengan jas hitamnya, namun ekspresinya berubah saat melihat Elena sedang melakukan coding dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Kau tidak tahu kapan harus berhenti, ya?" suara Dante menggema di ruangan dingin penuh kabel itu.
"Diamlah, Dante. Aku baru saja menemukan sesuatu yang akan membuatmu ingin memecat seluruh tim intelijenmu," Elena menunjuk layar monitor dengan jarinya yang ramping.
Di layar itu, sebuah folder terenkripsi dengan nama 'PROJECT OMEGA' muncul. Simbolnya sama dengan yang ada di koin emas kuno milik keluarga mereka.
"Ayahku bukan hanya seorang ahli strategi," bisik Elena, matanya terpaku pada barisan kode. "Dia mengembangkan sebuah backdoor universal. Kode ini bisa menembus sistem keamanan perbankan mana pun di dunia. Ini bukan sekadar pencucian uang, Dante. Ini adalah kunci untuk mematikan sistem ekonomi global."
Dante mendekat, wajahnya mengeras. "Jadi itu alasan mereka mengejarmu. Mereka bukan ingin membunuhmu. Mereka ingin kepalamu sebagai server hidup untuk menjalankan kode ini."
"Mungkin saja." Jawab Elena.
Tiba-tiba, lampu di ruang server berkedip merah. Suara alarm yang jauh lebih intens dari sebelumnya meraung di seluruh mansion.