Suasana di kantor lantai 42 mencekam. Dante berdiri tegang seperti pegas yang siap meluncur, sementara Elena menatap Marco dengan kebencian yang terukur. Di layar tablet Marco, terlihat pemandangan apartemen kumuh mereka. Aria tampak sedang duduk tenang di lantai, memainkan tablet mainannya yang sudah dimodifikasi Elena.
"Berikan kuncinya, Elena. Atau aku tekan tombol ini dan kita semua berakhir di sini," ancam Marco.
Elena melirik Dante. Melalui kontak mata yang hanya dipahami oleh pasangan yang sudah melalui audit maut, Dante menangkap sinyal: Tunda dia. Aku butuh akses.
"Kau ingin Alpha, Marco?" Elena mulai bicara dengan nada CEO yang sedang bernegosiasi. "Tapi kau tahu Alpha bukan sekadar kode. Itu adalah sistem yang membutuhkan validasi biometrik ganda. Tanpaku, kunci itu hanya sepotong logam sampah. Mari kita bicarakan dividen-mu jika kau membiarkan kami pergi."
"Aku tidak butuh dividen! Aku butuh kontrol!" bentak Marco.
Sementara itu, di Apartemen...
Aria Valenti, balita berusia delapan bulan, sedang mengalami masalah serius. Bukan karena bom yang dipasang Marco di bawah meja, tapi karena baterai tabletnya tinggal 2 persen.
"Ba... ba..." gumam Aria. Matanya yang jernih melihat sebuah kotak hitam kecil dengan lampu merah berkedip di bawah meja. Bagi Aria, itu bukan bom; itu adalah perangkat keras yang tidak terotorisasi.
Dengan gerakan merangkak yang sangat efisien (hasil latihan fisik dari Dante), Aria mendekati kotak tersebut. Ia menarik kabel USB cadangan dari tas kecilnya—yang selalu disiapkan Elena—dan menghubungkan tabletnya ke modul bom Marco.
System Detected: Unknown Device.
Aria’s Tablet: Overriding...
Aria menekan ikon gambar kucing di layarnya. Secara tidak sengaja, ia mengeksekusi perintah 'Format Disk' pada sistem pemicu bom tersebut.
Kembali ke Kantor Lantai 42
"Kenapa kau tersenyum, Elena?" Marco curiga.
"Aku tidak tersenyum, aku hanya sedang melakukan audit jarak jauh pada sistemmu," Elena mengangkat jam tangannya. "Dante, sekarang!"
Dante tidak membuang waktu. Ia melakukan gerakan Zumba-Taktis tingkat lanjut—sebuah putaran cepat yang diakhiri dengan lemparan pisau keramik ke arah tangan Marco yang memegang tablet.
SLASH!
Tablet itu terlempar dari tangan Marco. Dante melesat seperti macan tutul, menghantam d**a Marco dengan bahunya. Suara tulang rusuk yang berderak terdengar memuaskan di tengah keheningan malam. Elena bergiding ngeri mendengarnya.
"Kau berani mengancam putriku?" Dante mencengkeram kerah baju Marco, mengangkatnya hingga kaki pria itu menggantung. "Kau melakukan kesalahan manajemen paling fatal dalam sejarah, Marco. Kau lupa bahwa di keluarga ini, bayinya pun punya akses administrator."
Elena segera menyambar tablet Marco yang terjatuh untuk menonaktifkan bom. Namun, ia tertegun melihat layarnya.
"Dante... tunggu," Elena memanggil.
"Apa? Apa bomnya masih aktif?" Dante bersiap membanting Marco keluar jendela.
"Tidak... tapi... Aria baru saja mengganti firmware bom itu menjadi... pemutar musik?"
Tiba-tiba, dari speaker tablet Marco, terdengar lagu anak-anak 'Baby Shark' dengan volume maksimal. Itu adalah tanda bahwa sistem pertahanan Aria telah menangani ancaman tersebut.
"Ba... ba... doo doo doo..." suara Aria terdengar melalui jalur komunikasi terbuka, ia tertawa senang karena berhasil mengisi daya tabletnya dari energi baterai bom Marco.
Dante menatap Marco yang sudah babak belur. "Dengar itu? Bahkan putriku menganggap rencanamu membosankan."
Elena menghela napas lega, kakinya terasa lemas. Dia benar-benar anakku, pikir Elena. Ada rasa bangga yang tidak logis menyusup di antara rasa takutnya. Ia baru saja menyaksikan bagaimana genetikanya (kecerdasan siber) dan genetika Dante (ketenangan di bawah tekanan) bersatu dalam diri seorang bayi yang belum bisa memakai sepatu sendiri.
The Board mungkin sudah runtuh, tapi Marco benar tentang satu hal, pikir Elena sambil menggenggam kunci Alpha. Ada sesuatu yang lebih besar dari Omega. Dan sekarang, aku harus memastikan Alpha tidak jatuh ke tangan yang salah, demi masa depan Aria.
Pembersihan Akhir
"Franco, jemput Aria di apartemen," perintah Dante melalui radio. "Dan bawa tim pembersih. Kita punya satu sampah korporat yang harus dibuang ke laut Jakarta."
"Siap, Bos! Tapi... apa saya boleh mematikan lagu Baby Shark ini? Ini sudah putaran ke-50 dan para tetangga mulai protes," suara Franco terdengar putus asa.
Elena berjalan mendekati Marco yang terkapar. Ia meletakkan kunci Alpha di depan wajah pria itu, hanya untuk menariknya kembali dengan cepat.
"Kau ingin Alpha? Aku akan memberikannya padamu," ucap Elena dingin. "Tapi dalam bentuk virus yang akan menghapus seluruh jejak digitalmu dari dunia ini. Mulai besok, kau tidak punya rekening bank, tidak punya identitas, bahkan namamu tidak akan muncul di mesin pencari manapun. Kau adalah 404 Not Found, Marco."
Dante merangkul bahu Elena. "Audit yang sangat kejam, Sayang. Aku suka."
"Ini bukan kejam, Dante. Ini adalah 'Penghapusan Aset Tak Berwujud'," Elena tersenyum miring, lalu bersandar pada suaminya. "Sekarang, bisakah kita pulang? Aku ingin memeluk asisten audit kecilku dan memberinya s**u formula premium sebagai bonus kinerjanya."
"Tentu," Dante mencium kening Elena. "Tapi setelah ini, kita benar-benar harus merayakan ulang tahunnya di Sisilia. Aku tidak mau mengambil risiko ibuku meretas kepalaku karena perjalanan ini."
Elena dan Dante pergi dari gedung itu, sementara para anak buah Dante yang ia bawa dari sisilia datang untuk melakukan pembersihan.
Rahasia di Balik Alpha
Saat mereka berjalan keluar gedung, Elena melihat ke arah kunci kuno di tangannya. Ia menyadari bahwa koordinat di Kepulauan Seribu itu bukan hanya laboratorium. Itu adalah pesan terakhir ayahnya tentang siapa sebenarnya penguasa asli di balik The Board.
"Dante," panggil Elena pelan.
"Ya?"
"Kunci ini... polanya mirip dengan lambang keluarga Valenti yang ada di vila ibumu. Apa kau yakin ayahmu dan ayahku hanya 'berteman'?"
Dante terhenti. Ia menatap kunci itu, lalu menatap kegelapan laut Jakarta di kejauhan. "Sepertinya audit kita baru saja memasuki babak yang jauh lebih gelap, Elena."
"Kau benar Dante, mungkin ini akan sedikit melelahkan untuk Kita, atau mungkin ini bisa jadi pengalaman pertama untuk Aria mengaudit sistem."
"Dia masih kecil Elena, jangan terlalu terburu - buru." Dante sedikit kurang setuju dengan Elena.
"Tapi tadi kau lihat sendiri kan sayang, Aria bisa menonaktifkan BOM itu."
Dante terdiam mendengar perkataan Elena, dan Elena memang benar, gen Elena mengalir deras di darah Aria.
Mobil terus melaju kembali ke apartment yang mereka sewa. Sesampainya di Sana Aria menyambut mereka dengan tawa khas bayi yang baru mulai belajar merangkak. Sungguh kontras sekali jika mengingat beberapa saat yang lalu bayi itu bisa menonaktifkan sebuah BOM.