Kubah kaca "The Core" mengeluarkan suara retakan yang mengerikan, mirip dengan suara kerupuk raksasa yang sedang diremukkan oleh tangan tak kasat mata. Air laut Mediterania yang sedingin es mulai menyemprot masuk melalui celah-celah kecil, menciptakan kabut uap di dalam ruangan yang tadinya steril.
"Dante! Larinya jangan terlalu cepat! Hak sepatuku tersangkut di kabel serat optik!" teriak Elena sambil melompat-lompat dengan satu kaki di koridor yang mulai tergenang air setinggi mata kaki.
Dante Valenti berhenti mendadak, berbalik, dan mendesah frustrasi. Di tangan kirinya, ia masih memegang senapan serbu, dan di tangan kanannya, ia memegang tas laptop merah muda milik Elena yang stiker kucingnya mulai terkelupas karena terkena air.
"Elena, kita sedang berada di dasar laut dalam gedung yang akan segera menjadi akuarium raksasa, dan kau mengkhawatirkan hak sepatumu?" Dante menyambar pinggang Elena, mengangkatnya ke bahu seperti memanggul karung beras, dan kembali berlari.
"Turunkan aku! Ini sangat merusak martabatku sebagai CEO!" protes Elena, meskipun tangannya memegang erat sabuk taktis Dante. "Dan hati-hati dengan tas itu! Ada data cadangan di sana yang nilainya lebih mahal dari seluruh koleksi mobil sportmu!"
"Jika kita mati, data itu hanya akan menjadi sejarah bagi para ubur-ubur, Elena!" balas Dante sambil menembak engsel pintu baja di depan mereka agar terbuka.
Mereka sampai di dermaga kapsul evakuasi tepat saat air mulai naik setinggi lutut. Di sana, Franco sudah menunggu di dalam sebuah kapsul bulat sempit yang tampak seperti mesin cuci futuristik.
"Bos! Nona! Cepat masuk! Tekanan air di sektor luar sudah mencapai batas kritis!" teriak Franco dengan wajah panik.
Dante melemparkan Elena ke dalam kapsul yang sempit itu, lalu ia melompat masuk ke sampingnya. Ruangan di dalam kapsul itu sebenarnya hanya didesain untuk dua orang bertubuh rata-rata, tapi dengan adanya Franco yang bertubuh raksasa dan Dante yang atletis, Elena merasa seperti terjepit di antara dua dinding daging yang berotot.
"Franco, geser bokongmu! Kau menindih kabel enkripsiku!" teriak Elena yang terjepit di pojok.
"Maaf, Nona! Tapi kapsul ini tidak didesain untuk ukuran mafia Sisilia yang suka makan pasta!" jawab Franco sambil sibuk menekan tombol peluncuran.
Kapsul itu meluncur keluar dari markas The Board tepat saat seluruh kubah utama runtuh akibat tekanan air. Dari jendela kecil kapsul, mereka melihat ledakan cahaya biru dari server-server yang mengalami arus pendek, menciptakan kembang api bawah laut yang spektakuler.
"Selamat tinggal, The Board," gumam Elena. "Audit kalian resmi ditutup tanpa opsi banding."
Saat kapsul mereka perlahan naik ke permukaan, Elena segera membuka laptopnya, mengabaikan fakta bahwa ia sedang duduk di atas pangkuan Dante karena keterbatasan ruang.
"Apa yang kau lakukan sekarang?" tanya Dante, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.
"Aku sedang memantau efek domino dari Project Omega," mata Elena bergerak cepat mengikuti angka-angka yang berkedip di layar. "Lihat ini... dalam sepuluh detik sejak kunci enkripsi disebarkan ke publik, tiga puluh bank bayangan di Panama runtuh. Hutang nasional negara-negara dunia ketiga dihapus secara otomatis oleh algoritma. Dan... oh, ini bagian favoritku."
Elena memutar laptopnya agar Dante bisa melihat. "Aku baru saja mengirimkan seluruh riwayat penyuapan The Board ke setiap kantor berita di dunia. Sekarang, para diktator dan politisi korup itu sedang sibuk mencari tiket sekali jalan ke Mars."
Dante menatap layar itu, lalu menatap Elena. "Kau benar-benar melakukannya. Kau mengubah dunia hanya dengan duduk di dalam kapsul yang bau keringat ini."
"Tentu saja," Elena menyisir rambutnya yang basah dengan jari. "Tapi ada masalah besar."
"Apa lagi? Musuh baru?" Dante langsung waspada.
"Bukan. Sinyal di dalam kapsul ini benar-benar sampah! Aku tidak bisa melihat reaksi netizen di Twitter terhadap kejatuhan The Board. Bagaimana aku bisa merayakan kemenangan jika aku tidak tahu berapa banyak orang yang membuat meme tentang kegagalan mereka?"
Dante hanya bisa menggelengkan kepala. "Prioritasmu benar-benar unik, Elena."
Di tengah kegelapan laut yang kini mulai ditembus oleh cahaya matahari pagi dari permukaan, Elena merasakan kehangatan yang merambat di dadanya. Bukan karena keberhasilan misinya, tapi karena tangan Dante yang melingkar di pinggangnya, menjaganya agar tetap stabil di tengah guncangan kapsul.
Aku adalah wanita yang menyukai struktur, rencana, dan hasil yang dapat diprediksi, pikir Elena. Tapi dalam pelukan seorang mafia yang tidak logis ini, aku menemukan bahwa variabel yang paling acak seringkali adalah variabel yang memberikan kebahagiaan paling besar.
Ia melihat Dante. Wajahnya penuh luka gores, bajunya robek, dan ia terlihat sangat lelah. Namun, matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah Elena lihat sebelumnya. Mereka bukan lagi sekadar pelindung dan aset. Mereka adalah dua bagian dari sebuah kode yang akhirnya menemukan kecocokannya.
Permukaan: Fajar Baru yang Berisik
PLOP!
Kapsul itu muncul ke permukaan laut Mediterania seperti gabus yang terlepas dari botol sampanye. Cahaya matahari pagi yang keemasan menyambar wajah mereka saat Franco membuka pintu palka. Di kejauhan, kapal selam Valenti sudah menunggu, dikelilingi oleh kapal-kapal cepat klan yang mengibarkan bendera kemenangan.
"Kita selamat," desah Franco, melompat keluar ke air yang tenang untuk ditarik oleh tim penyelamat.
Dante membantu Elena berdiri. Sebelum keluar, ia menahan tangan Elena sejenak.
"Jadi, Nona CEO," ucap Dante dengan suara rendah dan menggoda. "Sekarang setelah dunia sudah 'ter-reset', apa rencana bisnismu selanjutnya? Aku ragu kau bisa kembali duduk di kantor membosankan di Jakarta setelah semua ini."
Elena pura-pura berpikir, mengetuk dagunya dengan jari. "Hmm, menurut analisis pasarku, klan Valenti memiliki potensi pertumbuhan yang besar, tapi manajemennya masih berantakan. Aku berencana untuk melakukan akuisisi permanen terhadap Don-nya."
"Oh ya?" Dante menarik Elena mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Dan apa harga penawarannya?"
"Satu sumpah darah baru, jaminan keamanan seumur hidup untuk laptopku, dan kau harus belajar cara menggunakan perangkat lunak akuntansi dengan benar," jawab Elena dengan senyum licik.
Dante tertawa, sebuah suara yang lepas dan bebas. "Aku akan menandatangani kontrak itu dengan darahku, Elena."
Ia mencium Elena di bawah sinar matahari Sisilia yang cerah, sementara di latar belakang, Franco berteriak bahwa ia menemukan sisa pasta Donna Sofia di dapur kapal selam.
Dunia mungkin sudah berubah, sistem keuangan mungkin sudah runtuh, dan rahasia-rahasia gelap sudah terbongkar. Namun bagi Elena Vane dan Dante Valenti, merger maut ini hanyalah awal dari babak baru yang jauh lebih menarik—dan pastinya, jauh lebih tidak efisien secara logis.