Pintu kedap udara "The Core" terbuka dengan suara desis hidrolik yang halus, melepaskan uap disinfektan dingin yang beraroma seperti laboratorium medis. Elena Vane melangkah masuk dengan sepatu hak tingginya yang berdentang tegas di atas lantai kaca transparan. Di bawah kakinya, ia bisa melihat ribuan kabel serat optik yang bercahaya biru, berdenyut seperti pembuluh darah dari sebuah organisme digital raksasa.
Di belakangnya, Dante Valenti berjalan dengan bahu yang sedikit membungkuk, memegang tas laptop merah muda dengan ekspresi wajah yang tampak seperti pria yang sedang memikirkan cicilan rumah yang menunggak. Kacamata berbingkai hitamnya sering melorot, dan ia terus-menerus membetulkannya dengan gugup—sebuah akting yang luar biasa dari seorang pria yang biasanya bisa membunuh orang dengan tangan kosong dalam lima detik.
"Tunjukkan tanda pengenal kalian," suara dingin seorang penjaga keamanan menyapa mereka. Penjaga itu mengenakan zirah putih futuristik dan memegang senapan energi pulsa.
Elena tidak berhenti berjalan. Ia justru mengibaskan tangannya dengan gestur tidak sabar, tipikal seorang eksekutif yang waktunya sangat berharga. "Aku Nona Vane dari Divisi Audit Global Integrasi. Dan asistenku yang lamban ini adalah Junior Auditor Dante. Kami di sini untuk melakukan integrity check pasca-insiden kegagalan satelit di Sisilia semalam. Jika kau menahanku lebih dari tiga puluh detik, aku akan memastikan namamu ada di daftar teratas untuk pemutusan hubungan kerja dalam program efisiensi bulan depan."
Penjaga itu ragu-sejenak, memindai kartu identitas digital yang telah Elena palsukan dengan tingkat presisi mikroskopis. Begitu lampu hijau menyala, ia memberi jalan.
"Efisiensi adalah bahasa universal untuk ketakutan," bisik Elena saat mereka masuk ke lift gravitasi.
"Aku hampir mematahkan lehernya saat dia menyentuh tas laptopmu," gumam Dante pelan, matanya tetap menatap lantai. "Akting 'pria bodoh' ini sangat menguras energiku, Elena."
Ruang Dewan Direksi: Singgasana Para Dewa
Lift itu membawa mereka ke lantai teratas kubah, sebuah ruangan melingkar dengan pemandangan 360 derajat ke kedalaman samudra yang gelap. Di tengah ruangan, duduk lima sosok yang hanya terlihat sebagai siluet di balik layar hologram. Inilah The Board—para arsitek ekonomi dunia yang menganggap manusia hanya sebagai angka di neraca.
"Nona Vane," salah satu siluet berbicara, suaranya diubah secara digital menjadi bariton yang dalam. "Kami tidak mengharapkan kunjungan fisik. Apalagi setelah kegagalan tim lapangan kami untuk 'menjemput' Anda di Palermo."
Elena meletakkan tabletnya di atas meja meja kaca raksasa dengan suara brak yang disengaja. Ia berdiri dengan tangan di pinggang, menatap langsung ke arah hologram-hologram itu.
"Kegagalan di Palermo bukan karena ketidakmampuan tim lapangan," Elena memulai pidatonya dengan nada otoritas yang mematikan. "Itu adalah akibat dari glitch pada algoritma penargetan kalian. Aku sudah meninjau log datanya. Kalian menggunakan source code usang dari tahun 2022 untuk satelit termal. Itu adalah kelalaian yang memalukan bagi organisasi selevel ini."
Ia memberi isyarat pada Dante. "Asisten! Buka presentasi analisis kerugiannya."
Dante dengan canggung membuka laptop merah muda itu, pura-pura kesulitan menemukan tombol power. Ia menyisipkan sebuah flash drive yang sebenarnya adalah virus "Lazarus" yang telah dimodifikasi oleh Elena.
"Cepatlah, Dante! Kenapa kau lamban sekali?" bentak Elena, memberikan drama tambahan.
"Maaf, Nona Vane... koneksinya agak lemot," Dante menjawab dengan suara yang dibuat sedikit cempreng, membuat Franco (yang memantau lewat komunikasi radio di kapal selam) nyaris tersedak tawanya sendiri.
Sambil berbicara tentang 'analisis risiko' dan 'optimalisasi aset', otak Elena sedang melakukan perhitungan yang jauh lebih berbahaya. Di layar laptopnya, proses unggah virus Lazarus sedang berjalan: 35%... 40%...
Jika mereka sadar bahwa presentasi ini hanyalah sekumpulan jargon kosong untuk menutupi proses peretasan, kita tamat, pikir Elena. Jantungnya berdegup kencang, namun ia memastikan suaranya tetap stabil. Ia melihat ke arah Dante. Pria itu tampak tenang, namun Elena tahu bahwa Dante sedang memetakan posisi setiap penjaga di ruangan itu. Jika keadaan berubah buruk, Dante akan berubah menjadi badai kematian dalam sekejap.
Ada keindahan yang aneh dalam kerja sama ini. Elena menyerang pikiran mereka dengan kata-kata, sementara Dante bersiap melindungi tubuh mereka dengan nyawa. Mereka adalah simbiosis dari dua dunia yang seharusnya tidak pernah bertemu.
"Tunggu dulu," siluet di tengah menyela. "Nona Vane, kenapa protokol 'Lazarus' aktif di terminal pusat kami? Itu adalah protokol yang seharusnya sudah dihapus sepuluh tahun lalu."
Suasana di ruangan itu membeku.
Elena menarik napas panjang. Inilah saatnya. "Itu aktif karena aku yang mengaktifkannya. Dan itu bukan protokol penghapusan, itu adalah protokol pembongkaran."
Ia menekan satu tombol terakhir di tabletnya. Upload complete 100%.
"Dante, sekarang!" teriak Elena.
Dalam sekejap mata, Dante membuang kacamata hitamnya dan melempar tas laptop merah muda itu ke arah penjaga terdekat. Ia melakukan gerakan putaran dari latihan Zumba tempo hari, menarik pistol mini yang tersembunyi di balik sepatu hak tingginya—yang ternyata sudah dimodifikasi dengan tempat penyimpanan senjata—dan melepaskan tembakan presisi ke arah proyektor hologram.
"Identitas asisten juniorku baru saja berakhir!" teriak Dante, suaranya kembali menjadi bariton yang menggetarkan ruangan. Ia menyambar Elena dengan satu tangan dan melompat ke belakang meja meja kaca yang tebal saat peluru mulai beterbangan.
"Elena! Berapa lama sampai sistem ini runtuh?" tanya Dante sambil membalas tembakan musuh.
"Lima menit! Aku harus tetap berada dalam radius sepuluh meter dari server utama untuk memastikan enkripsi Omega tidak terputus!" Elena berteriak di tengah desing peluru yang memecahkan botol-botol minuman mahal di bar ruangan itu.
Audit Berdarah
Ruangan dewan direksi berubah menjadi zona perang. Alarm merah meraung-raung, dan suara sistem komputer yang mulai mengalami kegagalan fungsi terdengar di seluruh markas. Layar-layar besar di sekeliling mereka mulai menampilkan wajah-wajah orang yang pernah dikhianati oleh The Board—daftar Lazarus yang kini disiarkan ke seluruh dunia.
"Kau menghancurkan segalanya, Vane!" teriak salah satu anggota dewan yang kini muncul secara fisik dari balik pintu rahasia, memegang senjata.
"Bukan menghancurkan," Elena berteriak balik sambil terus mengetik di tengah hujan debu semen. "Aku sedang melakukan likuidasi paksa terhadap kekuasaanmu!"
Dante bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia menggunakan kursi direksi yang berat sebagai perisai, mendorongnya maju sambil terus menembak. Ia bukan lagi asisten yang bodoh; ia adalah Don Mafia yang sedang menagih hutang darah.
"Franco! Kapsul evakuasi di titik sektor tujuh! Siapkan sekarang!" Dante berteriak melalui radionya.
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar mengguncang kubah bawah laut itu. Air mulai merembes masuk dari retakan di kaca raksasa.
"Tekanan air meningkat! Kita harus pergi sekarang!" Dante menyambar tangan Elena.
"Tunggu! Satu detik lagi... Omega sedang mengirimkan kunci enkripsi terakhir ke publik!" Elena menolak untuk bergerak. Matanya terpaku pada bar pemuatan data. 98%... 99%...
DONE.
"Ayo pergi!" Elena menutup laptopnya. Namun, tepat saat mereka berbalik, pintu keluar terkunci secara otomatis. Di depan mereka, berdiri pemimpin tertinggi The Board, seorang pria tua kurus dengan tatapan mata yang dipenuhi kebencian murni.
"Jika aku tenggelam, kalian akan tenggelam bersamaku di dasar Mediterania ini," ucap pria tua itu sambil memegang detonator penghancur diri.
Elena menatap pria itu, lalu menatap Dante. Ia tersenyum tipis. "Dante, ingat apa yang kukatakan tentang efisiensi?"
"Ya?"
"Detonator itu menggunakan sistem transmisi nirkabel yang baru saja kubajak lima detik yang lalu." Elena menekan sebuah tombol di jam tangannya.
Detonator di tangan pria tua itu mengeluarkan suara bip pendek, lalu mati total.
"Audit selesai, Tuan Direktur," ucap Elena dingin. "Dan hasil penilaianmu adalah: Gagal total."
Dante tidak menunggu lama. Ia memberikan satu pukulan telak yang membuat pria tua itu pingsan, lalu ia mendobrak pintu darurat dengan bahunya yang kuat. Mereka berlari menembus koridor yang mulai tergenang air, menuju masa depan yang tidak lagi ditentukan oleh angka, melainkan oleh kebebasan.