Bab 9: Gerhana di Palermo

1154 Words
Kegelapan yang menyelimuti Vila Valenti bukanlah kegelapan biasa. Itu adalah kegelapan yang dirancang secara sistematis. Dari balkon lantai dua, Elena Vane bisa melihat lampu-lampu kota Palermo di kejauhan padam satu per satu, seperti lilin yang ditiup oleh raksasa yang tak terlihat. The Board tidak hanya memutus aliran listrik; mereka telah melakukan pembajakan pada protokol grid energi Sisilia untuk mengisolasi wilayah perbukitan ini. ​"Elena, masuk ke dalam bunker dapur!" perintah Dante. Suaranya dingin, setajam pisau bedah. Ia sudah mengenakan rompi taktis di atas kemeja hitamnya, menggenggam senapan serbu HK416 dengan kemudahan yang menakutkan. ​"Aku tidak bisa bekerja dari bunker bawah tanah, Dante! Betonnya terlalu tebal, aku butuh garis pandang ke langit untuk menangkap sinyal satelit cadangan!" Elena berteriak sambil mencoba menyeimbangkan laptopnya di atas pagar marmer. "Jika aku tidak masuk ke jaringan mereka sekarang, mereka akan menjatuhkan rudal presisi ke koordinat ini sebelum kita sempat keluar dari pintu depan!" ​Dante berhenti sejenak, menatap Elena di tengah temaram cahaya bulan. Ia bisa melihat ketakutan di mata wanita itu, namun ia juga melihat tekad yang keras kepala. "Tetap di belakang pilar beton itu. Jangan bergerak satu inci pun kecuali aku yang menyuruhmu." ​Dante memberikan isyarat kepada Franco dan timnya yang kini menyebar di taman zaitun. "Jangan gunakan laser! Mereka punya sensor termal generasi terbaru. Gunakan penglihatan malam pasif. Habisi mereka sebelum mereka menginjak teras!" ​Elena merosot ke lantai balkon, menyandarkan punggungnya pada pilar batu yang dingin. Jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang melampaui batas kemampuannya sebelumnya. Di layar monitornya, sebuah peta orbit satelit muncul dalam bentuk diagram 3D. ​"Ayo, kau b******n sombong..." gumam Elena. Ia sedang mencoba melakukan signal hijacking pada salah satu satelit komunikasi milik The Board yang sedang melintas tepat di atas kepala mereka. Satelit itu adalah mata mereka, pemberi koordinat bagi helikopter tempur yang suaranya kini mulai menggetarkan kaca-kaca jendela vila. ​Ia masuk ke dalam lapisan keamanan The Board. Ia melihat ribuan baris kode yang dirancang untuk membunuh. Elena tidak mencoba menghancurkannya—itu butuh waktu berjam-jam. Sebaliknya, ia menyisipkan sebuah "hantu" kecil; sebuah loop data yang akan memberikan koordinat palsu pada sistem navigasi musuh. Di mata musuh, vila itu akan bergeser lima puluh meter ke arah tebing curam. ​TANG! TANG! TANG! ​Suara tembakan pecah di lantai bawah. Tim elit The Board telah tiba. Suara pecahan kaca dan teriakan dalam bahasa Italia memenuhi udara. Elena memejamkan mata sesaat, mencoba memblokir suara kekerasan itu dari otaknya. Ia harus fokus pada angka. Hanya angka yang bisa menyelamatkan mereka. ​Di lantai bawah, Dante Valenti telah berubah menjadi mesin pembunuh yang efisien. Ia bergerak dalam kegelapan layaknya hantu yang haus darah. Setiap tembakannya adalah sebuah titik akhir; setiap gerakannya adalah hasil dari latihan bertahun-tahun di medan perang paling hitam di dunia. ​Ia melihat seorang penyerang mencoba menaiki tangga menuju lantai dua, tempat Elena berada. Dante meluncur dari balik bayangan, menghujamkan pisau komandonya ke celah baju zirah musuh dengan presisi yang mengerikan. Ia tidak merasakan keraguan. Baginya, setiap pria berbaju putih itu adalah ancaman bagi variabel paling berharga dalam hidupnya. ​"Satu lagi jatuh," bisik Dante melalui radio. "Elena, bagaimana status di atas?" ​"Hampir... sedikit lagi... aku sedang melakukan enkripsi ulang pada sinyal mereka!" Elena berteriak, suaranya bergetar saat sebuah ledakan granat mengguncang bagian depan vila. "Dante! Helikopternya! Mereka sudah mengunci target!" ​Di langit, sebuah helikopter stealth berwarna hitam pekat muncul dari balik awan. Moncong meriam otomatisnya mulai berputar, siap memuntahkan ribuan peluru per menit ke arah kamar tidur utama. ​Dalam detik-detik yang menentukan itu, Elena merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Biasanya, ia adalah pengamat. Ia adalah orang yang duduk di belakang layar, mengirimkan perintah dan melihat hasilnya dalam bentuk grafik. Namun sekarang, ia merasakan berat dari setiap nyawa yang bergantung pada jemarinya. ​Jika aku gagal, Dante mati. Donna Sofia mati. Dan Project Omega akan terkubur bersamaku, pikirnya. ​Ia teringat kata-kata Donna Sofia tentang "jiwa" dalam pasta. Ia menyadari bahwa kode bukan sekadar logika; kode adalah keinginan. Ia memasukkan baris perintah terakhir dengan sentakan emosi yang murni. Ia tidak lagi hanya mengetik; ia sedang memaksakan kehendaknya pada mesin di luar angkasa itu. ​"Target dialihkan," bisik Elena saat ia menekan tombol Enter. ​Di langit, helikopter itu tiba-tiba memutar arah. Navigasinya menunjukkan bahwa target mereka berada di area hutan kosong di samping vila. Suara dentuman meriam otomatis terdengar, namun peluru-pelurunya hanya menghancurkan pepohonan dan tanah kosong, jauh dari bangunan utama. ​Melihat helikopter mereka menyerang target yang salah, pasukan darat The Board mulai panik. Dante memanfaatkan kekacauan itu untuk melakukan serangan balik yang brutal. Bersama Franco, mereka menyapu sisa-sisa penyerang hingga ke tepi kebun zaitun. ​Ketika keheningan akhirnya kembali, aroma mesiu dan asap memenuhi udara malam Sisilia yang seharusnya damai. Dante menaiki tangga dengan langkah berat, pakaiannya penuh dengan noda darah dan debu semen. Ia menemukan Elena masih terduduk di lantai balkon, laptopnya masih menyala di pangkuannya, namun tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya. ​Dante menjatuhkan senjatanya dan berlutut di depan Elena. Ia memegang wajah Elena, mengangkat dagunya agar mata mereka bertemu. ​"Kau berhasil, Elena," bisik Dante, suaranya pecah karena kelelahan. "Kau membelokkan helikopter itu." ​Elena menatap Dante, air mata akhirnya mengalir di pipinya yang kotor karena debu. "Aku... aku baru saja menghancurkan hutan itu. Aku bisa saja membunuh orang, Dante." ​"Kau menyelamatkan keluarga ini," Dante menarik Elena ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah takut wanita itu akan menghilang. "Kau bukan lagi sekadar kuncinya, Elena. Kau adalah bagian dari klan ini sekarang." ​Donna Sofia muncul di pintu balkon, memegang sebuah pistol tua namun dengan postur yang tetap tegak. Ia melihat pemandangan itu—putranya yang bersimbah darah mendekap wanita digital yang baru saja ia ajari membuat pasta. Ia memberikan anggukan kecil, sebuah pengakuan tertinggi dari seorang matriark Sisilia. ​Langkah Selanjutnya: Serangan Balik ​"Mereka tidak akan berhenti," Elena bicara dari balik d**a Dante, suaranya kini terdengar dingin dan bertekad. "Serangan ini membuktikan bahwa mereka putus asa. Mereka takut pada apa yang bisa kulakukan dengan Omega." ​"Lalu apa langkah kita selanjutnya, Nona CEO?" tanya Dante, melepaskan pelukannya namun tetap memegang tangan Elena. ​Elena berdiri, menyeka air matanya, dan menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. "Kita tidak bisa terus bertahan di sini. Mereka punya satelit, mereka punya uang, mereka punya tentara. Tapi mereka tidak punya apa yang kita miliki." ​"Apa itu?" ​"Kita punya rahasia Lazarus," Elena menatap tajam ke arah Dante. "Aku baru saja menyadari bahwa data Lazarus bukan hanya daftar kematian. Itu adalah koordinat lokasi server pusat The Board yang tersembunyi di bawah laut Mediterania. Jika kita bisa sampai di sana, aku tidak hanya akan menekan tombol reset. Aku akan menghapus mereka dari sejarah." ​Dante menyeringai, sebuah seringai predator yang kini dibalas dengan tatapan yang sama tajamnya oleh Elena. "Sepertinya kita butuh kapal selam, bukan jet pribadi." ​"Siapkan armadamu, Dante," sahut Elena. "Waktu audit sudah selesai. Sekarang saatnya untuk akuisisi paksa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD