Bab. 4 - Pergi Jauh

1072 Words
Di kamar hotel yang mewah milik Samuel, Meisya baru saja membuka matanya. Gadis belia itu meringis ketika hendak bangun dan merasakan jika seluruh tubuhnya terasa nyeri dan area intinya begitu sakit. Kepalanya pun berdenyut hebat. "Di mana ini?" Meisya memindai seisi ruangan yang asing baginya. "I-ini seperti kamar hotel?" Meisya membuka selimut yang masih membungkus tubuh dan betapa terkejut dia, kala mendapati tubuhnya yang polos tanpa busana. Gadis belia itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, lalu dia pun menangis ketika sepenggal ingatannya kembali. Meisya ingat, kalau ada seseorang yang membawanya ke mobil. Setelah itu, Meisya hanya teringat samar-samar ketika dia digendong di pundak, kemudian di banting ke tempat tidur yang empuk, lalu gadis itu tak bisa mengingat apa-apa lagi. "Apa dia memerkosaku atau aku yang menggodanya?" Meisya bertanya pada diri sendiri, sembari memukuli kepalanya karena tidak dapat mengingat dengan baik apa yang telah terjadi. "Ini pasti karena minuman sialan yang diberikan oleh Sherly! Kurang ajar! Dia harus bertanggung jawab!" Meisya pun segera beranjak. Tertatih, dia mengayun langkah menuju kamar mandi. Meisya harus segera membersihkan diri, lalu pulang untuk menjelaskan semua pada sang papa. Tak butuh waktu lama, Meisya telah memakai seragam sekolahnya kembali. Untuk menutupi seragamnya yang kusut dan demi menghindari hal yang tidak diinginkan karena dia berada di hotel di pagi buta seperti ini, Meisya memungut jas pria asing yang semalam bersamanya lalu memakai jas tesebut. Rasa hangat seketika menyelimuti tubuhnya. "Syukurlah ada jas ini. Setidaknya, aku tidak menggigil karena kedinginan." Meisya bergumam sambil memeluk diri sendiri untuk menyalurkan rasa hangat ke seluruh tubuhnya. Ya, dia merasakan kedinginan setelah mandi barusan. Padahal, Meisya mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Sepertinya, Meisya mengalami demam, tetapi dia tidak menghiraukan karena harus segera pulang. Meisya yang merasa nyaman mengenakan jas tersebut, mencium aroma wangi dari parfum mahal sang pria yang menempel di sana. Perasaannya pun menjadi sedikit lebih tenang kini. Entahlah, dia merasa sangat dekat dengan pria asing tersebut hanya dengan mencium aroma parfumnya. "Sudah hampir jam lima pagi, aku harus segera pulang. Papa pasti mencari-cariku semalam." Meisya bergumam setelah melihat jam di ponselnya. Ada banyak panggilan masuk dari sang papa, ada juga pesan dari mama sambungnya. Semua Meisya abaikan karena baterai ponselnya pun tinggal sedikit dan sudah berwarna merah. Meisya mencoba berjalan dengan cepat sambil menundukkan kepala, keluar dari hotel. Dia biarkan rambut yang masih basah tergerai dan menutupi sebagian wajah cantiknya. Meisya terus berjalan dan mengabaikan rasa sakit di area inti tubuhnya. Setibanya di luar Meisya segera menghadang taksi di pinggir jalan untuk membawa dia pulang. Setelah duduk dengan nyaman di bangku belakang, Meisya segera menyebutkan tempat tujuan. Sopir taksi yang duduk di bangku pengemudi, mengangguk. Lalu, segera melajukan mobilnya untuk mengantar sang penumpang. Di sinilah Meisya saat ini berada. Tepat di depan pintu gerbang rumah megah yang sama sekali tidak dibuka untuknya. Ya, begitu melihat kedatangan Meisya barusan, satpam yang berjaga di rumahnya itu bukannya membukakan pintu, tetapi malah masuk ke dalam rumah. Ternyata, satpam yang berjaga memanggil sang papa. Mungkin, pria yang selama ini bersikap baik pada Meisya itu telah mendapatkan amanat demikian sebelumnya dari sang mama sambung. Wanita asing yang kemudian mengambil alih kuasa secara penuh atas rumah ini, setelah diperistri oleh papanya. "Bagus sekali, ya, kelakuan kamu! Sudah seperti jalang murahan yang menjual tubuh hanya demi recehan!" Pria paruh baya yang baru saja datang itu, mengeluarkan sumpah serapahnya dengan kasar, seraya menatap tajam pada sang putri sebelum Meisya sempet memberikan penjelasan. "Berapa pria yang kamu layani semalam, sampai matahari sudah meninggi baru ingat pulang?" lanjutnya bertanya dengan tatapan sinis. "A-apa maksud Papa?" tanya Meisya dengan air mata yang tiba-tiba saja berderai. Sakit rasanya mendengar tuduhan yang begitu kejam dari sang ayah kandung. Perasaan Meisya benar-benar tidak enak kini. Pastilah ada yang sudah menghasut sang papa dengan meracuni pikiran pria paruh baya yang selama ini menjadi satu-satunya sandaran Meisya, setelah sang mama kembali ke syurga. Sherly. Ya, siapa lagi kalau bukan saudara tirinya itu? "Pa, Icha bisa jelaskan pada Papa apa yang sebenarnya terjadi, Pa." Meisya yang teringat jika sewaktu berada di dalam mobil Sherly sempat merekam dirinya yang mulai diliputi gairah, hendak menjelaskan. "Aku tidak butuh penjelasanmu! Pergi kamu dari sini! Aku tidak memiliki anak yang kelakuannya macam jalang sepertimu!" Sang papa terlihat sangat marah, sambil menunjuk jauh ke jalanan mengusir sang putri kandung. "Pa ...." "Pergi!" Pria paruh baya itu berseru sangat keras hingga membuat Meisya berjingkat, kaget. "Tolong, Pa. Beri Icha kesempatan untuk menjelaskan semua," pinta Meisya dengan tatapan memohon. Namun, sang papa yang sudah dikuasai oleh amarah, sama sekali tak mau memberikan kesempatan. Papanya malah berlalu begitu saja, meninggalkan Meisya yang kemudian berlutut di depan pintu gerbang. Cukup lama Meisya berada di sana. Setelah kakinya terasa pegal, gadis itu pun beranjak. Meisya mendongak, melihat ke lantai atas rumah di mana kamarnya dan kamar Sherly berada. Di balkon, dia melihat sang saudari tiri tertawa penuh kemenangan. Meisya mengepalkan kedua tangan dengan kuat. Lalu, dia segera meninggalkan tempat tersebut. Meisya meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan manis saat masih ada mamanya. Sekaligus, rumah yang penuh kenangan pahit setelah wanita jalanan dan putrinya dipungut sang papa, lalu dibawa pulang ke istana mereka. "Kupastikan, papa akan sangat menyesal karena telah mengusir Icha, Pa." Meisya bergumam sambil mengusap kasar air mata dengan ibu jarinya. Lunglai, gadis belia itu berjalan semakin menjauh dari komplek perumahan elite tersebut. Dia terus berjalan, tak tentu arah. Tak dia hiraukan sekujur tubuh yang masih terasa sakit, serta area intinya yang semakin terasa nyeri. Meisya juga tak menghiraukan denyutan di kepalanya. Dia terus melangkah menyusuri jalan raya yang mulai ramai lalu lalang kendaraan. Setelah sangat jauh berjalan dan dia merasa tak kuat lagi untuk melangkah, Meisya berhenti di halte bus kota. Dia usap peluh yang mulai bercucuran dengan ujung lengan jas yang kepanjangan dia kenakan. Meisya lalu menyandarkan punggung pada sandaran bangku yang terbuat dari besi tersebut. "Apa sebaiknya, aku kembali lagi ke hotel tadi, ya? Siapa tahu, pria yang semalam bersamaku adalah pria baik, dan dia mau mempertanggung jawabkan perbuatannya?" Gadis belia itu nampak menimbang-nimbang. "Tapi, bagaimana jika pria itu adalah orang jahat yang justru akan memanfaatkan aku? Bagaimana kalau nanti dia malah menjualku pada para p****************g? Tidak-tidak! Aku tidak boleh kembali ke sana. Aku harus segera pergi jauh dari kota ini. Tidak mungkin dia orang baik. Jika dia adalah orang yang baik, dia pasti tidak akan memanfaatkan ketidakberdayaanku semalam." Meisya segera beranjak. Baru saja Meisya hendak melanjutkan langkah, dia dikejutkan dengan datangnya seorang pria yang tiba-tiba saja sudah menghadang di hadapan. bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD