Bab. 3 - Jangan Usir Aku

1088 Words
Samuel mengambil ponselnya kembali yang tergeletak di lantai lalu mendial nomor sang pengawal pribadi. Sebab, ada hal yang terlupa untuk dia tanyakan karena emosi sesaat, begitu mendengar laporan orang kepercayaannya tadi. "Tom. Kamu mengikutinya, 'kan? Apa mereka masih di sana?" tanya Samuel begitu teleponnya diangkat oleh orang yang dihubungi. "Iya, saya mengikutinya, Tuan Muda. Mereka berdua masih di dalam unit Anda, Tuan." "Pantau terus, Tom! Pastikan jika jalang itu dan kekasih gelapnya, masih tetap berada di sana sampai aku datang!" "Siap, Tuan Muda." Bergegas, pria itu berganti dengan pakaian yang baru saja diambil dari lemari, setelah mengakhiri panggilan. Dia biarkan pakaiannya yang tadi, berserak di lantai kamar. Setelah mematut diri sebentar di depan cermin, pria yang disapa tuan muda itu lalu mendekati Meisya yang masih setia memejamkan mata. "Sorry, Girl, aku harus pergi. Jangan kemana-mana karena aku hanya pergi sebentar," bisik Samuel lalu melabuhkan ciuman di puncak kepala Meisya. Ciuman yang dalam dan cukup lama. Entahlah, naluri seperti menuntunnya untuk melakukan tindakan lembut pada gadis belia tersebut. Gadis belia yang telah memberikan kepuasan kepadanya. Bahkan jika tak ada urusan yang urgent, Samuel rasanya tak ingin meninggalkan sang gadis sendirian di sana. Setelah puas mencium puncak kepala Meisya, Samuel menatap wajah cantik gadis itu dengan intens. Dia amati setiap inci wajah sang gadis dan menyimpan bentuk pahatan sempurna itu di dalam memorinya. Seolah, ini adalah pertemuan pertama, sekaligus terakhir bagi mereka berdua. Puas memandangi Meisya, Samuel segera beranjak. Ada hal penting yang harus dia selesaikan, menyangkut masa depannya. Pria itu pun segera berlalu meninggalkan Meisya yang masih terpejam. Samuel memacu kuda besi miliknya dengan kecepatan penuh agar bisa segera sampai di apartemen. Tak butuh waktu lama bagi Samuel untuk sampai di sana karena memang jarak hotel tempat dia menginap dan apartemen di mana unitnya berada, tidak terlalu jauh. Kedatangan Samuel langsung disambut oleh sang pengawal di depan pintu unit miliknya. "Mereka berdua masih di dalam, Tuan Muda," kata Tom sambil membungkuk hormat. Tanpa kata, Samuel langsung masuk menggunakan access card miliknya. Pria bermata kebiruan itu melangkah pasti menuju sebuah kamar yang selama ini dihuni oleh Rachel. Samuel menghela napas panjang, sebelum membuka kamar Rachel yang tidak ditutup dengan benar. Begitu masuk, Samuel langsung melayangkan bogem mentah pada pria yang tengah menindih seorang wanita, yang tak lain adalah Rachel. Pria itu tak mau tinggal diam dan balas menyerang Samuel. Perkelahian antar dua pria itu pun tak terelakkan. "Kamu takkan bisa mengalahkan aku, Pecundang!" Samuel menjilati bibirnya sendiri yang terasa asin karena darah keluar dari bibirnya yang pecah. Rupanya, Leon tadi berhasil melabuhkan pukulan telak di wajah tampan Samuel, meski kondisinya jauh lebih parah. Bukan hanya bibir Leon yang robek, tetapi mata kekasih gelap Rachel itu pun bengkak. Samuel bahkan berhasil melumpuhkan Leon dengan menendang kaki pria itu, sangat keras. "Cepat keluar dari sini, sebelum kupatahkan batang lehermu!" Kekasih gelap Rachel yang sudah tidak berdaya itu pun segera meninggalkan kamar tersebut, setelah memunguti pakaiannya yang berserak di lantai. Meninggalkan Rachel yang masih bersembunyi di bawah selimut karena malu tubuhnya yang polos tanpa busana, akan terlihat oleh Samuel. "Kutunggu di ruang depan!" Tanpa menoleh ke arah Rachel, Samuel segera keluar lalu menutup pintu kamar dengan membanting pintu itu kasar. "Sam. A-aku, aku bisa menjelaskan semuanya padamu," kata Rachel yang baru saja keluar dari kamar, setelah beberapa saat Samuel menunggu di ruang keluarga. "Tidak perlu menjelaskan apa pun! Hubungan kita sudah berakhir!" Samuel segera beranjak dari tempatnya duduk, hendak keluar dari unit miliknya yang saat ini terasa panas. Wanita itu lalu mendekati Samuel dan memegang tangannya. "Jangan pergi, Sam. Tolong, dengar dulu penjelasanku." Samuel terlihat sangat marah melihat tangan kotor Rachel memegang tangannya. Dia empas dengan kasar, tangan wanita yang mencoba mencegahnya untuk pergi dari sana. "Jangan pergi, Sam, kumohon. Aku sangat mencintaimu. Aku enggak mau kita pisah. Lusa adalah hari pernikahan kita, Sam. Tolong, maafkan aku. Aku khilaf." Wanita bertubuh ramping itu terisak, sembari berlutut di kaki Samuel. Samuel tertawa hingga suara tawanya menggema memenuhi ruangan, mendengar perkataan konyol Rachel. Tak dia hiraukan rasa nyeri di sudut bibir yang berdarah akibat perkelahian tadi dengan Leon, ketika bibirnya tertarik saat Samuel tertawa. Yang jelas, dia merasa puas kini karena dapat menangkap basah perselingkuhan calon istrinya. "Apa katamu? Khilaf?" Samuel berdecih lalu meludah tepat di samping tubuh Rachel yang masih berlutut sambil memeluk kakinya. "Khilaf, tapi kamu mengulangnya lagi, dan lagi! Itu bukan khilaf, Rachel, tapi keenakan!" lanjutnya dengan rahang mengeras. "Leon yang memaksaku, Sam. Dia mengancam kalau aku tidak mau melayaninya, maka ...." "Diam! Aku sudah tahu semuanya! Kalian berdua berselingkuh di belakangmu lalu merencanakan untuk mencuri hartaku, bukan? Kamu juga pengaruhi mamaku agar mama membujukku untuk segera menikahimu. Dasar, wanita ular!" Samuel mengempas dengan kasar tubuh Rachel hingga wanita itu terjengkang ke lantai. Pria gagah itu tak peduli Ketika Rachel meringis dan meminta tolong padanya. "Sam, tolong aku." "Aku menyesal sudah pernah jatuh cinta padamu, Jalang! Kuakui, aku memang bodoh karena dengan mudah terperdaya oleh bujuk rayumu. Tapi sekarang aku harus bersyukur karena Tuhan telah menunjukkan padaku siapa kamu yang sebenarnya, sebelum pernikahan kita benar-benar terjadi." Samuel menyorot tajam wanita yang tengah berusaha untuk berdiri itu. "Bereskan barang-barangmu dan keluar dari sini sekarang juga!" Samuel mengusir Rachel dengan jari telunjuk yang terlihat bergetar, tertuju ke arah wanita yang masih berderai air mata tersebut. "Sam ... ka-kamu enggak serius ngusir aku, 'kan?" "Cepat keluar!" Samuel berseru dengan sangat keras. Urat-urat di lehernya yang berwarna kehijauan terlihat dengan jelas di lehernya yang putih bersih. Melihat kemarahan Samuel, Rachel sangat ketakutan. Wanita berambut kecoklatan itu segera masuk ke dalam kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Tak berapa lama kemudian, Rachel keluar dengan menyeret koper besar miliknya. "Pastikan, jika kamu tidak membawa barang-barang berharga milikku!" Samuel berbicara dengan penuh penekanan, tanpa melihat ke arah Rachel. Sepertinya, pria itu sangat jijik pada wanita yang hampir saja menjadi istrinya itu. Rachel membuka tas selempangnya, lalu mengambil sebuah kartu kredit dari dalam dompet. Helaan napas panjangnya terdengar ketika wanita itu menyimpan kartu tersebut di atas meja. Seperti ada ketidakrelaan di diri Rachel ketika dia harus mengembalikan benda yang selama ini selalu memanjakannya. Rachel tidak langsung keluar dari unit Samuel. Wanita itu masih berdiri di tempat semula dan berharap jika Samuel akan berubah pikiran, lalu memintanya untuk tetap tinggal. Akan tetapi, apa yang diinginkan Rachel tidak terwujud. Samuel bahkan kembali mengusirnya dengan tegas. "Apa setelah tak lagi memiliki urat malu, telingamu juga menjadi tuli?" Samuel menatap Rachel dengan memicingkan mata. Rachel menggeleng pelan. "Sam. Belas kasihani aku, Sam. Tolong, jangan usir aku. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Jika kamu mengusirku, ke mana aku harus pergi, Sam?" bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD