Tanpa berani menolak titah sang atasan, Tom menggendong tubuh ramping Meisya, dan membawa gadis belia itu ke mobil tuan mudanya.
"Kamu tetap di sini, Tom! Awasi terus pergerakannya dan laporkan padaku apa pun yang dia lakukan!"
"Maaf. Apa Tuan Muda Samuel akan membawa gadis itu ke ...."
"Bukan urusanmu, Tom! Kerjakan saja perintahku!" sergah Samuel, terdengar begitu arogan.
Tom membungkuk hormat. "Siap, Tuan Muda. Maaf jika saya lancang."
Pria berusia sekitar dua puluh tujuh tahun itu segera duduk di bangku pengemudi, lalu melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi.
"Tolong, Om. Aku butuh air. Tubuhku rasanya sangat panas."
Pria bernama Samuel itu berdecak kesal, mendengar permintaan gadis belia yang duduk di sampingnya. "Tidak ada air di mobilku!" jawabnya ketus.
"AC, Om. Nyalakan AC-nya," pinta Meisya lagi, sambil mengibaskan tangan di depan dadanya yang terbuka.
Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mobil mewah yang dia kendarai sudah sangat dingin karena memiliki pendingin udara terbaik di kelasnya. Terpaksa, Samuel menambah volume AC agar gadis yang duduk di samping itu tidak semakin berulah dengan membuka lebih lebar bajunya.
Akan tetapi, Meisya masih saja merasakan kepanasan. Pergerakan gadis itu semakin tak terkendali. Bibirnya juga masih terus menggumam. Terkadang terdengar jelas, kadang juga tidak karena saking pelannya.
Pria yang membawa Meisya itu, menatap sinis pada gadis belia tersebut. "Masih bocah, tapi sudah murahan! Apa semua wanita memang seperti itu? Mengumbar tubuh untuk dinikmati sembarang pria?"
Pria itu mengeraskan rahang. Amarah terlihat semakin jelas menguasainya. Samuel menambah laju kendaraan agar segera sampai ke tempat tujuan. Dia merasa sudah tidak tahan melihat ulah gadis belia yang duduk di sampingnya itu, yang menggoda iman.
Gerakan tubuh Meisya yang sensual serta tubuh bagian atasnya yang terekspos karena kancing baju sudah terbuka semua, membuat pria dewasa itu menelan ludah. Jakunnya terlihat naik turun melihat ulah Meisya yang seperti w*************a. Apalagi ketika melihat gadis belia itu meremas sendiri dadanya yang cukup besar sambil mendesah manja, Samuel semakin tergoda.
"Jangan salahkan aku jika aku menikmati tubuhmu malam ini, Jalang Kecil! Kamu sendiri yang menggodaku." Pria itu semakin mempercepat laju kendaraan karena sudah tidak sabar ingin menikmati, sekaligus melampiaskan kemarahannya pada gadis belia yang sedari tadi menggeliat manja, seperti cacing kepanasan.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai pria yang mengenakan stelan jas resmi itu, memasuki basemen sebuah bangunan bertingkat tinggi yang mewah. Dia segera memarkirkan mobil lalu menggendong tubuh Meisya di bahunya, seperti menggendong karung beras masuk ke dalam lift khusus untuk dibawa ke kamarnya.
"Aku beri kamu satu kesempatan, Girl. Apa maumu? Mau aku puaskan atau aku antar pulang?" tanya Samuel, setelah membaringkan tubuh Meisya ke atas pembaringan empuk miliknya.
Meisya yang saat ini sudah benar-benar berada dibawah kendali obat, meracau tidak jelas. Satu tangannya mencoba menggapai pria itu, sementara tangan yang lain sibuk memainkan pangkal pahanya. "Om, Icha pengin."
Mendengar permintaan Meisya, Samuel segera melepaskan jas dan melempar benda mahal itu dengan asal. Pria dewasa tersebut juga melepaskan kancing kemejanya dengan cepat, seperti tidak sabar untuk segera menerkam mangsa di depan mata. "Ini maumu sendiri, Jalang Kecil!"
Pria yang memiliki rahang tegas, hidung mancung, dan alis tebal yang membingkai mata tajamnya itu, menggigit kecil telinga Meisya. Gadis belia itu mendesah manja dan membuat Samuel semakin b*******h mendengarnya. Gairah yang terlihat diliputi oleh amarah. Entah memiliki masalah apa pria tersebut dan celakanya, Meisya menjadi pelampiasan dari amarah Samuel.
Kamar hotel mewah itu, kini terasa begitu panas akibat percumbuan dua anak manusia yang tak saling mengenal. Keduanya terlihat sama-sama menikmati. Meisya karena pengaruh obat yang dia minum, sementara sang pria karena kelegaan dapat melampiaskan amarahnya.
Jeritan kecil dari bibir Meisya ketika benda tumpul berukuran besar menerobos masuk ke dalam miliknya, membuat Samuel terkejut, dan seketika menghentikan aksinya. Pria yang saat ini berada di puncak gairah itu, melihat ke arah bawah di mana miliknya terasa dialiri cairan hangat.
"Da-darah?" Samuel bergumam.
Pria itu kembali menatap Meisya. "Jadi ... jadi kamu masih perawan? Lalu, apa yang terjadi padamu?"
Akan tetapi, pertanyaan pria itu berlalu begitu saja seperti debu tertiup angin karena pergerakan tubuh Meisya yang kemudian menuntut lebih. Ya, setelah area bawahnya merasa sedikit nyaman dengan benda asing yang baru saja masuk, Meisya yang sudah berada di bawah kendali obat, menuntut perlakuan lebih dari pria yang saat ini menindih tubuhnya. Pergerakan sensual Meisya, membuat gairah Samuel kembali naik ke ubun-ubun.
Pria yang memiliki bentuk tubuh nyaris sempurna itu, kini tak lagi peduli apakah dia bersalah karena telah merusak kehormatan anak gadis orang atau tidak. Satu tujuannya kini, yakni melampiaskan hasrat karena kemarahan yang terpendam di dalam d**a. Samuel pun memimpin permainan untuk memuaskan diri, juga memuaskan gadis belia yang baru malam ini dia temui.
Suara desahan masih saja terdengar bersahut-sahutan, memenuhi seisi ruangan yang kedap suara tersebut. Samuel nampak masih bersemangat meski beberapa kali dia sudah mengalami pelepasan. Sementara Meisya nampak sudah kepayahan dan matanya mulai terpejam.
"Hai, bangun!" Pria itu menepuk-nepuk pipi Meisya, setelah mendapatkan pelepasan terakhir. Akan tetapi, sama sekali tidak ada respon dari gadis belia itu.
"Icha, bangun, Cha. Namamu Icha, kan? Tadi, kamu sempat menyebutkan namamu." Samuel masih mencoba membangunkan Meisya.
"Apa jangan-jangan dia pingsan?" Samuel mengerutkan dahi lalu menggoyang-goyang tubuh polos gadis itu, tetap berusaha untuk membangunkan Meisya. Sayangnya, setelah cukup lama mencoba, sama sekali tak ada respon dari Meisya hingga membuat Samuel kemudian menyerah.
Sepertinya, dia benar-benar pingsan." Pria itu menghela napas panjang lalu menyelimuti tubuh polos Meisya dengan selimut tebal.
Samuel segera beranjak menuju kamar mandi yang ada di sudut ruangan. Pria yang memiliki body sixpack itu segera mengguyur tubuh di bawah air hangat yang mengucur dari shower. Senyuman lebar terus saja menghiasi wajah tampan Samuel, sepanjang dia membersihkan diri.
Bayangan permainan panasnya dengan sang gadis berputar kembali dan seperti terpampang jelas di pelupuk mata. "Gadis yang nakal. Aku suka dengan gayanya."
Setelah membersihkan diri, Samuel membalut bagian bawah tubuhnya dengan handuk, lalu berjalan keluar. Sebelum berganti pakaian, dia sempatkan mengambil ponsel yang masih berada di kantong celananya. Dahi pria bermata kebiruan itu berkerut, kala mendapati banyak panggilan masuk dari pengawal pribadinya.
"Satu jam yang lalu, Tom menghubungiku sebanyak ini?" Pria itu bergumam sendiri. Rupanya, saking asyiknya bergumul dengan gadis belia itu tadi, membuat pria berahang tegas tersebut tak mendengar ketika ada panggilan masuk di ponselnya.
Dia kembali tersenyum, seraya melirik sang gadis yang masih memejamkan mata. Samuel kembali membayangkan penyatuan panasnya bersama sang gadis. Panggilan yang kembali masuk dari anak buahnya kemudian, menyeret Samuel dari lamunan.
"Iya, Tom. Ada apa?" tanya Samuel, setelah menggeser gambar telepon berwarna hijau.
"Tuan Muda. Nona Rachel meninggalkan klub sejam yang lalu bersama pria yang tadi dan mereka menuju unit apartemen milik Tuan Muda," lapor Tom di ujung telepon.
"s**t! Wanita sialan! Berani-beraninya membawa laki-laki lain ke tempatku!" Samuel merutuk lalu membanting ponsel mahal miliknya ke lantai dengan keras untuk melampiaskan amarah.
bersambung ...