Setelah puas menjelajah spot-spot turis dan mampir ke butik pakaian, Loli akhirnya merasa risetnya cukup. Mood board? Centang . Puas? Lumayan. Dengan hati riang, ia dan sang papa pun melangkah ke restoran, tempat mama sudah menanti untuk makan siang keluarga. Tapi begitu pintu restoran terbuka, senyum Loli mendadak beku. Tatapannya langsung tertuju pada sosok Ivan, sedang duduk manis, ngobrol santai sama mamanya, seolah-olah dunia ini milik mereka berdua. Refleks, Loli hampir putar badan, siap pasang jurus kabur ala ninja Hatori. Sayang, tangannya keburu dicekal papanya yang super sigap. “Papa…” bisik Loli, matanya berbinar memohon, nada suaranya dibuat selembut mungkin, setengah serius, setengah drama. “Hmm.” Cedric tetap berjalan tenang. “Gimana kalau kita postpone aja sampai besok?

