Sreet… Sreett… Suara lakban diseret-seret memenuhi ruangan apartemen. Ivan berdiri dengan ekspresi super serius, tangan lihai menempelkan garis batas layaknya arsitek yang lagi bikin denah perang. Beberapa menit kemudian, ia menepuk tangan puas. “Beres! Ingat, lakban abu-abu itu wilayah kamu, yang merah wilayah saya. Jangan over step. Mengerti?” nada Ivan tegas banget, udah mirip sekali sama kepala kos killer. Loli cuma duduk manis di sofa, angguk-angguk kayak boneka dashboard. “Oh…” jawabnya pendek. Ivan menghela napas lega, lalu duduk di kursi berseberangan. Tatapannya lurus ke arah Loli. “Teritori kelar. Berikutnya, perkara kedua.” Loli masih asyik ngemil chips, senyum manis tercetak di wajah polosnya, yang entah kenapa justru terlihat cantik banget. “Ayo, lanjut ke perkara kedu

