TRIIINGGG! Jam dinding di ruang tengah meraung seperti alarm kapal mau tenggelam. Loli langsung terlonjak dari sofa sambil teriak, “Tujuh?! Astaga, Tuhan! Aku belum mati tapi ini udah mirip kiamat!” Selimut masih melilit kaki, membuatnya jatuh tersungkur kayak karung beras yang dijatuhkan dari truk. Dari dalam kamar, terdengar suara lirih yang dibalut kepanikan.. “Loli.. Kenapa kamu nggak bangunin aku?! Aku meeting jam delapan!” “Lah? Kenapa aku yang disalahin?!” seru Loli dengan nada protes. “Harusnya parfum kamu semalam yang disalahin! Wanginya nyengat banget, satu RT juga bisa cium! Aku sampai mabuk aroma, terus tidur kebablasan. Ini aja kepala masih pusing!” Sambil jingkrak-jingkrak melepaskan selimut yang melilit kakinya, Loli tampak seperti pejuang pagi yang belum siap berdamai

