Ivan mendekat dengan langkah santai tapi aura dominan khas dirinya bikin Loli otomatis mundur setengah langkah. Kening pria itu terangkat sebelah, senyumnya tipis penuh godaan. “Kenapa, hmm? Saya terlalu tampan, ya?” suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi sukses bikin bulu kuduk Loli berdiri. Dan tiba-tiba— “Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Loli malah keselek napasnya sendiri. Panik, ia buru-buru memalingkan wajah ke samping sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. “Astaga… oksigen dunia nggak cukup apa sih buat gue?!” gerutunya dengan suara serak. Ivan menahan senyum, jelas terhibur. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya, tapi nada suaranya terdengar lebih seperti menahan tawa ketimbang khawatir. “Baik-baik saja dari Hong Kong!” Loli mendelik sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya, pipinya merona hab

