Lobi Aureole cabang Paris sudah ramai sejak pagi. Orang-orang berlalu-lalang dengan kopi di tangan, derap sepatu di lantai marmer bergema lembut, sementara aroma croissant segar dari kafe kecil di pojok lobby menyapa setiap pengunjung. Lampu besar di langit-langit memantulkan cahaya alami dari jendela kaca tinggi, membuat suasana terasa hangat tapi tetap profesional. Loli menapaki lantai marmer dengan langkah ringan, coat pastel panjangnya melayang mengikuti irama langkahnya. Di depan lift, ia menoleh sebentar ke arah Ivan, yang sibuk dengan teleponnya dan tampak tenggelam dalam daftar jadwal rapat hari itu. Mereka saling melempar senyum singkat, lalu tanpa kata, masing-masing mengambil jalannya sendiri. Ivan hilang ke arah koridor sebelah kiri, sementara Loli menekan tombol lift, bersiap

