Loli masih memutar-mutar gelang mungil itu, bibirnya menggumam pelan seolah tak percaya bisa sampai jatuh. Namun sebelum sempat menyimpannya kembali, Hazel tiba-tiba bangkit dari kursinya. meraih Loli, menarik tubuhnya ke dalam pelukan erat. Loli langsung kaku di tempat, tablet hampir terlepas dari tangannya. “M—Mbak?!” suaranya meninggi, syok bercampur panik. “Astaga, gue masih normal loh mbak, tolong jangan begini, malu di lihat sama orang-orang.” Hazel tak menggubris. Bahunya bergetar halus, tangannya mencengkeram punggung Loli erat, seolah takut sosok itu menghilang begitu saja. Nafasnya berat, tersendat, hingga bulir bening akhirnya lolos, jatuh di bahu coat pastel Loli. Loli membeku, menoleh kanan-kiri memastikan nggak ada orang yang memperhatikan terlalu dekat. Untungnya, cafeta

