“Kenapa sih si Bos laknat ini mood nya kayak playlist shuffle? Tadi galak kayak dosen killer, sekarang nyeleneh kayak stand-up komedian, terus tiba-tiba gaya CEO yang sok cool, eh... lima menit kemudian ngasih senyum manis kayak pemeran utama drama Korea. Ini dia yang absurd atau gue yang mulai halu? Bingung, sumpah.” batin Loli sambil menatap layar komputer yang udah lama nggak disentuh. “Loli…” Nggak ada respons. Loli masih tenggelam dalam dunia paralel, duduk di kubikelnya sambil mengetuk-ngetuk pulpen ke meja kerja. Tatapannya kosong, kayak lagi nyari jawaban hidup di langit-langit kantor. Kalau ada yang bisa baca pikiran, mungkin udah ikut nyasar ke benua lain bareng dia. “Lolita!” BRAK! Pulpen jatuh ke lantai marmer, dan Loli langsung tersentak kayak baru dibangunin dari mimpi

