Kerutan di dahi Alice meregang, lalu kepalanya perlahan memutar untuk kembali menatap lurus ke depan. “Mama pasti sedih banget waktu itu. Padahal, di depan aku dan Celine, Mama gak pernah sama sekali nunjukin air matanya. Sampai-sampai kadang hal itu ngebuat aku berfikir, sebenarnya Mama itu beneran sayang sama Papa atau enggak.” “Tante Prita memang hebat, dia selalu gak ingin liat kamu sama Celine sedih.” Alice mengangguk pelan, “Meskipun kamu tahu alasan aku ngejauh dan bersikap dingin ke kamu, apa kamu sama sekali gak pernah benar-benar marah sama aku?” Dafa tertawa kecil, “Itu gak akan pernah terjadi, Alice.” Alice kembali menatap Dafa, “Kenapa? Padahal dulu aku berfikir semua laki-laki akan berakhir kayak Papa, termasuk kamu.” “Karena aku suka sama kamu.” Sontak, Alice bangkit

