CEO - 15

1164 Words
"Dia siapa?" Eka kepo, tapi tahu diri. Kalau Mita memilih diam saja, ia tak ingin mendesak lagi. "Mas, es." Beruntungnya ada pembeli. Seketika suasana mencekam dapat teratasi. Mita hendak melayani, namun dicegah. Eka ingin ia saja yang ambil alih. Selesai dengan pembeli, Eka membuatkan satu minuman untuk Mita. "Buat lo. Minum dulu, Beb. Cokelat bagus buat ngatasin stres. Tapi, nggak berlaku buat ngatasin kehadiran gue di hati lo sih." Seulas senyum akhirnya lahir dari bibir Mita. Selalu, dan selalu. Eka mampu merubah suasana. Kalau begini, semakin lama Mita merasa masa lalunya akan ditelanjangi Eka dengan sendirinya. Apa Eka masih bertahan menghibur dan berada di sisinya karena peduli? Atau mungkin karena kasihan? *** Udara Surabaya terasa terik. Pelataran kampus terlihat ramai. Novi yang mengipasi lehernya dengan telapak tangan, seketika berhenti. Ditolehnya tatapan ke arah gadis manis yang beberapa bulan lalu ia kenal. "Eh, dateng juga, Dek." Novi mempersilakan Difa duduk. Kemarin Novi memang sengaja mengirimi mantan partner satu kontrakannya itu pesan, mengajak bertemu. Sejak Difa, adik Eka itu pindah ke rumah temannya, Novi jadi jarang bertemu dan wawancara eksklusif'l lagi. "Kan udah janji, Kak. Ada apa nih?" Difa pun ikut duduk di sebelah Novi. Beberapa bulan lalu Novi adalah temak kontrakan yang dipilih Eka. Bekas kontrakan Eka dan Ryan awalnya untuk tinggal Difa dan Novi. Tapi Difa memilih undur diri, karena teman sekelas mengajak tinggal bersama di rumahnya yang kosong. Maunya menolak ajakan tersebut karena takut pada titah Eka. Tapi, nasib temannya itu mirip dengan sahabat SMA dulu. Tinggal sendiri di rumah mewah, sementara orang tuanya jarang pulang. Dengan segala pertimbangan, Difa setuju dan Eka pun luluh lantak tak berdaya dengan bujukan; Difa janji akan menjawab panggilan sang Kakak meski tengah pup di WC, Difa akan memberi laporan ke mana saja ia akan pergi berkelana, Difa akan menurut jika disuruh pulang ke Kediri untuk menjenguk kakaknya. "Nggak apa-apa. Lama nggak ketemu aja sama kamu. Gimana tempet barunya? Asyik?" Difa mengangguk dengan wajah semringah. "Iya dong." "Trus, kapan kamu mau ke Kediri?" Difa tampak berpikir. Sebenarnya Eka belum memintanya ke Kediri. Karena sang Kakak sendiri hendak ke Surabaya. Setelah pertemuan keduanya di Jakarta sebulan lalu, Difa kembali ke Surabaya dan Eka kembali ke Kediri, tanpa bertemu lagi. "Belum tahu. Mas Eka belum bilang aku ke Kediri kapan. Kak Novi mau bareng?" Novi menggeleng. "Enggak kok. Tapi kalau kamu butuh temen ke Kediri, nanti bilang aja." Difa mengangguk. "Boleh deh. Aku juga belum pernah ke Kediri sama sekali." Hening sejenak. Novi bingung sendiri hendak memulai obrolan. Menghela napas sejenak, gadis itu melakukannya. "Oh ya, ngomong-ngomong Mas Eka pas ke Jakarta kemarin ada perlu apa kalau boleh tahu?" Difa mengetukkan jemari ke pipi, tampak mengingat sesuatu. "Kalau nggak salah sih ... ketemu temennya." "Temen apa temen? Cewek?" "Seingetku sih, cewek. Emang kenapa? Temen Mas Eka ternyata temen Kak Novi gitu? Kek judul sinetron TV ikan terbang. Temanku Kenal Dengan Temanku Yang Temenan Sama Teman Lain Lagi." Kemudian Difa terkikik geli, sementara Novi meringis. "Kamu bisa aja. Sama-sama lucu kayak masmu. Kalian cocok banget," puji Novi. "Cocok jadi Kakak-Adik kan? Bukan cocok jadi Majikan-Pembokat. Kalau yang itu, jelas kita nggak cocok. Karena muka kita sama-sama turunan majikan." Novi pun mau tak mau ikut tertawa. "Kan ... beneran. Kalian sama-sama nggak pernah kehabisan bahan becandaan. Udah. Balik lagi ke topik tadi. Jadi, masmu nemuin cewek ya di Jakarta? Itu siapanya? Ceweknya? Mas Eka kira-kira punya cewek nggak di Jakarta? Siapa tahu mereka lagi LDR-an gitu." Kekepoan Novi membuat Difa mengernyit heran. Bau-baunya terendus aroma interogasi, kepo, penasaran, dan mengandung ketertarikan. Difa langsung ber-ulala yeye dalam hati. Ia gembira, akhirnya ada juga cewek yang merasa kepo dengan kakaknya. Padahal dari cerita Eka sendiri, ia dan keluarga Novi sudah kenal dekat. Sudah pasti cewek di hadapan Difa itu tahu jejak kasus mulut unfaedah Eka. Berarti, Difa bisa menyimpulkan jika Novi ada ketertarikan di tengah kekurangan Eka yang yah ... memang seperti itu adanya. "Ih, Kakak kepo deh. Santai, Kak. Mas Eka nggak punya cewek kok di Jakarta. Tapi dia pun—" "Dif, ayo!" Teriakan Fadilah, teman Difa memotong kalimat yang malah semakin membuat Novi penasaran akut. Segera saja Difa pamit pada Novi, karena harus segera masuk. *** Mita sangsi dengan ajakan Eka. Takut malah mengganggu pertemuan laki-laki itu dengan adiknya. Gadis itu sebenarnya enggan ikut ke Surabaya. Jadwal jaga es memang libur, sehingga keduanya bisa istirahat sejenak. Mita dan Eka sepakat menjadi partner. Jadwal jaga pun diserahkan bergantian. "Kon sido mampir neng Sidoarjo ora, Ka?" (Kamu jadi mampir ke Sidoarjo nggak, Ka?) Ryan tengah mengantar Mita dan Eka ke terminal, meski harus balik dua kali. Tak mengapa, asal teman senang. "Lihat ntar aja. Kalau Difa bisa akur sama Mita, gue bisa tenang ninggalin ciwi-ciwi itu pergi ke Sidoarjo." "Yo wes. Sekarepmu ae lah. Lek selo yo mamper. Lek ora yo ndang muleh ae. Pesenan mben wes akeh neh. Aku butuh Mita, ra butuh kon." Pukulan di kepala Ryan membuat sahabat Eka itu meringis. (Ya sudah. Terserah kamu saja. Kalau senggang ya mampir, kalau enggak ya buruan pulang. Ada pesanan banyak lagi. Aku butuh Mita, nggak butuh kamu) "Ada Mamah emesh di sono, ngapain gebetan gue yang diperluin. Biarin dia istirahat bentar. Hanimunan sama gue. Lo sirik amat lihat gue bahagia sih. Heran gue. Kasihanilah yang jomlo ganteng gini, Yan." Ryan tergelak. Bus jurusan Surabaya sudah datang. Ryan pun pamit pulang. Lekas Eka dan Mita naik. Tangan Eka tak sedetik pun lepas dari tautan. Ia tak ingin Mita hilang, tersesat, ketinggalan, atau parahnya malah duduk dengan cowok lain saat di bus. Meski berlebihan dan kurang nyaman, Mita berusaha tidak protes. "Ini pertama kali perjalanan kita berdua ya, Beb. Berasa penganten baru nggak sih kalau begini. Duh ... nggak sabar buat mesra-mesraan nih." Eka terkikik geli membayangkan. Mita malah tertawa dengan tingkah malu-malu Eka. Bus berjalan meninggalkan terminal Kediri. Dalam hati, Mita berharap ia bisa menikmati perjalanan senormal mungkin. Semoga jantungnya tidak nakal, hanya karena Eka duduk menempel di dekatnya. Sesekali menoleh sembari tersenyum. Tak lupa, berbagai tawaran ingin membeli apa dari penjaja asongan yang lewat, serta perhatian kecil yang Mita terima dari Eka yang manis. "Beb, nanti kita ketemu sama Difa. Adik yang gue ceritain kemarin. Kalian yang akur ya, sebelum jadi ipar. Dia jinak kok, Beb. Jangan bayangin adik tiri di sinetron Karma." "Hem." "Jangan tegang dong, Beb. Baru juga gue ngajak ketemu Difa. Belum Mama Emil." "Ih, apaan. Aku nggak tegang. Cuma ... heran aja, kenapa ngotot ngajak aku buat jenguk adikmu? Padahal kamu tahu sendiri di sana bakal ada adiknya Ryan. Kamu juga tahu gimana hubunganku sama dia. Kalau aku malah bikin malu di depan adikmu gimana? Aku juga nggak mau dia—" "Sssttt. Ada gue, Beb. Tenang aja, Novi nggak bakal aku temuin sama kamu. Apa aja yang dia bilang soal lo, gue nggak percaya. Lo bukan yang Novi bilang. Oke. Santai aja deh, Beb. Sini, sandaran di pundak gue. Coba dirasain, udah sandar-able belum?" Kerisauan Mita pun sedikit lenyap. Ia tak menurut untuk bersandar. Pandangannya menatap jalanan yang dilewati. Deret bangun Gudang Garam menjadi perhatiannya kali ini. ______________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD