Daerah Jambangan Surabaya terik tiada tara. Tak hanya cuaca, namun juga aura yang tercipta. Empat mata saling beradu. Difa menatap heran pada tiga manusia dewasa di sekitarnya. Novi, dengan hidung kembang kempis menahan geram menatap lawan di hadapannya. Eka yang merasa pembawa sumber masalah hanya menatap bergantian penuh waspada. Terlebih pada gadis di sampingnya. Mita sendiri, membalas tatapan amarah Novi dengan datar.
"Silahkan masuk, Mas, Mbak. Ayo, Dif!"
Akhirnya ... ketegangan pun sedikit reda dengan suara manja Fadilah. Teman Difa sekaligus pemilik rumah tersebut segera mempersilakan masuk tamu-tamunya, yang tak lain keluarga Difa.
"Eh, iya. Ayo kamon lah. Kita masuk aja biar adem. Gerah nggak sih, Mbak, Mas di sini." Difa tak tinggal diam. Gadis yang masih bingung jalinan apa yang membelit manusia mengaku menyambangi dirinya, hingga menciptakan aura gerah ingin lepas jaket saja. Tapi sayang, jaket Difa baru tukar-menukar dengan milik Dafin. Kedodoran sih, tapi lumayan buat lepas rindu.
Begitu masuk rumah, Difa segera ngeloyor ke dapur. Di sana, ada Mbok Jem yang tengah mengeluarkan balok es batu dari lemari es. "Mau bikin minum, Mbok? Biar aku. Mbok lanjut ngulek sambel pakek goyang dua jari aja."
Difa dan Mbok Jem sudah seperti dua sohib beda generasi. Sejak ia dekat dan akhirnya tinggal di rumah Fadilah, Difa sudah dianggap jadi bagian keluarga. Tapi, ia tak begitu suka dilayani. Lebih baik membantu Mbok Jem saja. Karena di rumah, ia biasa melakukan pekerjaan sendiri. Bisa digerus Mama Emil kalau kelihatan ongkang-ongkang kaki.
***
"Jadi, Mas dateng ke sini sama pelakor ini? Kenapa sih, harus sama dia?"
Jelas, Novi kesal bukan main. Niat hati tadi datang ke rumah teman Difa untuk pedekate dengan cadipar, malah berakhir ketemu dengan upil di pojokan bangku anak SD. Manusia nggak penting, mengganggu dan bikin emosi. Datang berdua dengan Eka pula. Bergandengan tangan, dengan tas selempang kusam yang melingkar indah di pundak Eka. Tas Mita dibawakan Eka? Tas KW Novi saja belum sampai dipegang Eka, selama kenal dan tinggal bersama.
"Pelakor apaan sih, Nov. Mentang-mentang lagi tren aja, lo bawa-bawa juga. Sekarang musim s**u kental manis ternyata rasa pisang goreng."
"Mas Eka belain ae arek iku. Mesti ngunu. Aku ra tau dianggep!"
"Gue nggak bela siapa-siapa kali, Nov. Lo kalo ada masalah sama Mita, nggak gini juga. Ngomong berdua baik-baik, sambil makan kripik Ena-Ena, minum es cokelat gue. Kan ... enak gitu. Ya nggak, Beb?" Eka melirik sambil berkedip gemas ke arah Mita.
"Mas Eka bisa bilang gitu karena nggak tahu muka aslinya dia aja. Mas nggak tahu kehidupan dia sebelum ini. Kalau udah tahu, aku nggak yakin Mas mau kenal sama dia. Jang—"
"Helo epribadih sekalian. Mbak sama Mas kesayangan, yuk diminum dulu."
Untung saja Difa datang tepat waktu. Eka lega, pun dengan Mita. Tapi tidak dengan Novi. Ingin sekali ia membeberkan kebusukan Mita, yang dulu merebut mantan pacarnya, yang melayani mantan pacar teman-temannya secara bergantian atau bergerombol, yang punya ibu perebut suami orang hingga bapak Mita meninggal, dan yang merebut perhatian Eka darinya saat ini.
Difa menyajikan minuman segar warna hijau. Ditambah camilan pilus dalam stoples, gorengan dari warung sebelah, dan stoples wafer. Sadar diri karena numpang, Difa pun membuat minuman sendiri dan membeli camilan sendiri. Padahal Fadilah sudah menawari ingin memasakkan makan siang juga. Bahkan tamu-tamu Difa saja ia dudukkan di teras. Meski Fadilah bersikeras mempersilakan di ruang tamu.
Dari belakang Difa, rupanya Fadilah menyusul. "Sepurane loh, Mbak, Mas. Kaleh Difa diken lenggah mriki niku yok nopo. Nopo mboten panas ta? Mlebet ngonten mboten nopo-nopo loh. Piyambakan mawon kulo niki kaleh Difa."
"Nggeh, mboten nopo-nopo. Pun, teng mriki mawon isis," balas Mita dengan keramahan yang sama.
Berkenalan singkat, Fadilah pun undur diri. Sebagai tuan rumah, ia sudah menyapa. Karena tak ingin mengganggu temu keluarga, ia masuk dan melihat TV. Meninggalkan Difa dan keluarganya bercengkerama.
***
"Lo kali, Dek. Gue udah ganteng dari lahir."
Difa tak terima. "Masih bayi, mukanya sama aja kali, Mas. Ganteng apa jelek belom kelihatan."
Novi sudah pulang sejam yang lalu. Disusul kemudian pertengkaran dua orang di hadapannya, membuat Mita tersenyum. Ia ingin sekali merasakan punya saudara. Meski bertengkar, sebenarnya rasa sayangnya melebihi yang ditampakkan. Sayang, Mita anak tunggal. Seorang yatim. Punya ibu, tapi tak sudi dengannya lagi.
"Kok malah melamun sih, Beb. Kenapa? Capek banget? Mau bobok?" Mita menggeleng dan tersenyum.
"Nggak. Di bis udah tidur tadi."
"Kalau ngantuk bilang, ntar gue singgahin ke kamar Difa. Nggak usah sewa hotel, mahal."
"Astoge, Mas. Lo tetep aja pelit ya. Tumben juga lo bisa manis gulali begini. Duileh ... bikin ngiri aja. Coba Dafin begini, ya ampun. Bahagia gue," harap Difa sembari mengejek kakaknya.
Difa menepuk paha Mita yang duduk selonjoran. "Mbak, kok mau sih sama dia? Mulutnya bikin senewen loh. Kok Mbak tahan. Resepnya apa?"
"Udah kebal, tiap hari dia memang begini. Rada aneh, narsis, nggak jelas juga kadang. Tapi asyik kok dia, nyenengin banget."
Eka langsung mengepalkan tangan dan teriak yes dalam hati.
Difa manggut-manggut mengerti. "Tahu nggak, Mbak. Mbak Mita cewek satu-satunya yang muji dia apa adanya. Makanya Mas Eka kok ngebet banget sama Mbak Mita. Kemarin di rumah aja, Mas Eka sampek sungkem ke Mama dan Papa. Minta restu biar hati Mbak Mita kebuka."
Mita tampak terkejut. "Hah? Maksudnya?"
"Yah, intinya ... Mbak Mita nggak peka ya. Semoga bisa tabah juga menerima cobaan ini. Kalau udah mantap jiwa, mari kita temuin Mama Emil dan Papa Dika. Mau kan?”
Mita gelagapan. Bingung. Difa menatap penuh harap, sementara Eka tersenyum penuh permohonan.
"Eh, tapi ... kamu salah sangka, Dif. Aku sama masmu nggak sejauh itu kok. Nggak mungkin juga sampai ke situ."
Jawaban Mita barusan seolah mematahkan balon harapan Difa yang ingin segera punya kakak ipar. Sementara Eka, senyumnya luntur. Tatapannya memelas. Hatinya kacau. Sudah sejauh ini, rupanya usaha Eka tak ada titik terang juga. Apa lebih baik ia menyerah saja?
___________