Perjalanan pulang ke Kediri harus dilalui keduanya dengan rasa lelah luar biasa. Menjelang sore, Difa mengajak Eka dan Mita berkeliling sejenak. Kebetulan ada bazar di sekitar Siola. Hingga setelah magrib, barulah keduanya memesan Grab menuju Terminal Bungur Asih. Difa melepas kakaknya dengan lambaian tisu dan sekantong kerupuk tripang. Meski uang saku masih minta, setidaknya Difa masih punya tabungan dari hasil jualan online sabun kecantikan dan dropship baju.
Karena naik dari terminal langsung, Eka dan Mita dapat tempat duduk lebih dulu. Udara panas Surabaya berganti dinginnya AC dalam bus. Eka tak jadi melepas jaketnya yang bau asem keringat.
"Adem deh."
Nada lega kentara dari bibir Eka. Mita diam tak menanggapi. Sejak penolakan tegas soal hubungannya tadi, membuat Mita jadi tak enak sendiri. Sayangnya, Eka malah tampak biasa saja.
"Beb, sini tasnya. Berat, biar gue aja yang bawa."
Mita mau menolak, tapi Eka sudah merebut tas di atas pangkuan dan berpindah dalam dekapan. Lumayan ... nggak dapet orangnya, tapi dapat pelukan tas. Daripada mendekap angin yang hampa.
Bus mulai melaju begitu penumpang terlihat penuh. Karena lelah, tak berapa lama Mita mulai memejamkan mata. Kepala gadis itu bersender ke kaca jendela, sehingga sering jatuh dan terantuk. Eka yang melihatnya jadi tak tega. Perlahan ia rengkuh kepala Mita dan beralih menyenderkan ke pundaknya.
"Coba pas sadar, Beb. Mana mau lo senderan pundak gue yang kokoh ini. Untung lo lagi jinak pas bobok."
Diperhatikannya wajah Mita yang terlelap. Sudut bibir gadis itu rupanya menorehkan liur. Eka mendelik, namun lekas mengulum senyum. "Elah ... lo ileran juga kalo tidur, Beb. Untung gue sayang. Gue maklumin aja. Lo kentut apa ngupil juga gue nggak bakal ngeledek. Karena gue sadar, lo juga manusia. Padahl gue ngira lo bidadari yang dirindukan sama CEO macem gue," monolog Eka lirih.
Rasa kantuk juga menyerang Eka. Lamat-lamat ia pun memejamkan mata. Kepalanya ia tempelkan pada kepala Mita yang masih bersender di pundak. Jadilah keduanya mirip pasangan peserta apit balon. Saling menempelkan pelipis, genggam tangan, berdempetan, tapi tak menyatukan hati.
***
"Turun dulu, semua!"
Suara menggelegar kondektur, segera menyadarkan Eka dan Mita, pun beberapa penumpang lain yang tengah terlelap.
"Enek opo to jane ki?"
Seorang penumpang di belakang Eka berdiri dan bertanya bingung pada kondektur.
"Ban bocor, Buk. Sampeyan mudun ndi seh?"
"Ngadiluweh kono."
"Yowes, mengko numpak bis mari ngene. Tak operne ngko. Saiki mudun sek."
Eka dan Mita pun sama seperti penumpang lainnya. Semua turun sambil membawa barang bawaan masing-masing. Begitu turun, Eka memegangi Mita yang hendak turun karena berdesakan. Takut lecet, rusak, apalagi sampai terluka.
Deretan penumpang seperti antrean sembako yang berjejer. Sementara sopir dan kondektur memperbaiki, Eka menarik tangan Mita untuk menjauh dari kerumunan. Dilihatnya sekitar rupanya sudah masuk daerah Kediri, tepatnya di kawasan persimpangan pabrik Gudang Garam. Karena berada di persimpangan, tentu banyak pedagang asongan yang tengah menunggu bus datang. Sebuah pelataran hotel dekat bus yang berhenti, Eka mengajak Mita duduk.
"Lo tunggu sini bentar, Beb. Gue mau beli minum."
Mita mengangguk. Selama menunggu Eka, pandangan Mita menjelajah ke sekitar. Banyak penumpang terlantar seperti dirinya. Padahal tujuan tinggal sepuluh menit saja. Jika naik ojek pun juga sampai. Dalam pekat malam, Mita menangkap sosok yang tak asing baginya keluar dari hotel.
Sebelum orang itu sadar Mita berada di dekatnya, gadis itu lekas menunduk dalam duduk bersilanya pelataran hotel. Pikirannya kacau. Kecemasan melingkupi. Apalagi ia sedang berada di tempat umum. Olokan sekeji apa pun akan ia terima, tapi tidak jika di hadapan orang banyak. Ia sudah mengalaminya dulu. Ia sudah merasakannya malu dan sakit bertahun-tahun lalu. Jangan terulang lagi. Tidak di sini, tidak pula saat ini. Mita meremas gusar tali tasnya. Wajahnya menunduk dalam.
"Nih, tahu."
Suara Eka sontak membuat wajah Mita terangkat. Ia lega, Eka lah yang menegurnya. Tak sampai melirik sosok yang ia hindari tadi, sebuah tendangan ujung sandal di lutut membuat Mita menoleh.
"We yo neng kene to, Nduk. Jaremu ra duyan Semampir, tapi dolanmu neng hotel ngenekan. Karo cah lanang model ngeneki yo geleman bake kowe ki. Ra sumbut lek mu ngamplengi aku kae. Wedhus muni wedhus. Raimu ae ketoke ayu. Podho ae geleman koyok aku!"
Mita meringis karena dorongan telapak tangan wanita di keningnya. Tatapan wanita yang menggandeng seorang pria sebaya Eka itu mencemooh tak kira-kira. Wajah berpoles gincu dan bedak tebal merasa puas sudah menumpahkan isi hatinya. Seolah ia puas, bahwa anak yang dulu mengoloknya rupanya sama saja dengan dirinya. Bagaimana kemunafikan itu terbukti di hadapannya, meski kebenaran akan keadaan sebenarnya dianggap buta.
Eka melotot. Para penumpang yang tadi masih berdiri di tepi jalan, kini mulai mendekat dan menonton drama di pelataran hotel. Dengan cekatan Eka berjongkok dan membantu Mita yang duduk menunduk, menahan sekuat tenaga agar tangisnya tidak tumpah.
"Bangun, Beb. Sini aku bantuin."
Mita bergeming. Ia lepaskan cekalan tangan Eka pada pergelangan tangannya. Wanita menjulang hadapan keduanya melirik sinis pada Eka.
"Wong lanang koyok awakmu kok gelem karo bocak ngeneki. Ra godhak golek wedokan liyo po piye we ki?"
Sudut bibir wanita yang melahirkan Mita tersebut tertarik ke atas.
Eka sudah tak tahan. Andai ia lancar bahas Jawa paling kasar, sungguh ia ingin membalas wanita di hadapannya. Meski ia tak lancar, namun ia paham apa maksud dari ucapan hina barusan. Bersyukur juga Eka berteman dengan Ryan yang tak kenal unggah-ungguh. Eka hendak berdiri dan balas memaki. Tangannya dicekal Mita. Gadis bermata layaknya bendungan bocor itu menggeleng dan lirih berkata, "Udah, nggak usah. Ibuku emang begitu."
Wanita berambut setengah pirang dan setengah hitam itu berlalu sambil mengerat pada daun muda yang tampak bingung tapi diam saja. Toh, pemuda itu hanya butuh kepuasan. Bukan butuh penjelasan.
"Anda yakin pernah ngelahirin Mita?"
Langkah wanita tersebut terhenti. Kepalanya menoleh ke arah Eka yang masih berjongkok.
"Kalau Anda orang yang ngelahirin dia ... terima kasih. Karena Anda udah ngelahirin bidadari buat saya. Anda yang lahirin, tapi nggak mau menghargai dia. Sekarang, biar saya aja yang jagain dia. Lepas dia anak Anda atau bukan, yang jelas dia tetep bidadari di mata saya."
Ucapan ala roman picisan dari Eka, hanya ditanggapi kedikan bahu oleh ibu Mita. Wanita itu ngeloyor pergi. Sementara Eka membantu Mita duduk selonjoran biar tenang.
"Nggak usah dipikirin, Beb. Ada gue kok. Mau minum? Tahu Sumedang? Apa kacang rebus?" Mita menggeleng dengan semua tawaran Eka.
"Trus minta apa? Minta dikawinin?"
"Pulang. Kita naik bis lain aja."
Eka menghela napas dan mengangguk. "Bentar, tunggu sini. Kita pulang dijemput Ryan aja. Lama kalo nunggu bis lewat lagi. Udah malem, Beb."
Mita pun menurut. "Ka."
"Hem."
"Jangan suka sama aku. Yang diomongin wanita tadi bisa jadi bener. Buah bisa aja jatuh nggak jauh dari pohonnya. Aku ... nggak pantes buat kamu."
Mita menunduk dalam. Tangisnya pecah. Biasanya ia akan percaya diri mengatakan pada dunia bahwa ia berbeda. Tapi entah kenapa di hadapan Eka, seolah ia tak ingin laki-laki itu kecewa. Lebih baik membuat keputusan tegas di awal, sebelum terlanjur basah ke belakangnya.
"Beb," panggil Eka. Jari Eka mengapit dagu Mita, hingga wajah gadis itu menghadap padanya. "Urusan lo baik apa buruk, itu urusan Tuhan. Semua orang nggak berhak nilai lo kayak gimana. Termasuk ibu lo sendiri. Buah jatuh nggak selalu deket pohon, Beb. Lo kira kalo samping pohon ada sungai, buahnya jatuh kebawa arus ... bisa jadi tu buah juga bakal jauh nggak kejangkau. Buah bakal nemu jalan takdirnya sendiri. Sama kayak lo, yang jatuh kebawa arus sungai Brantas dan ketemu gue yang cakep begini."
"Tapi, Ka—"
"Tapi apa? Tapi gue nggak sanggup buat relain lo, kalo nggak sama gue."
_________________