CEO - 18

1033 Words
Pagi menjelang siang setelah dari kampus, Mita segera menemui Eka di dapur produksi bolu mangga. Masih pukul sembilan pagi, masih ada waktu sebelum buka gerobak es cokelat. "Udah dateng lo, Beb." Eka menyambut Mita di dalam dapur. Laki-laki itu tengah membantu ibu-ibu menata kue bolu mini dalam kemasan mika. "Hem. Iya. Kok masih di sini? Buka jam berapa esnya?" "Agak siang, Beb. Jam sebelas aja tapi sampek Isya ntar. Lagi banyak pesenan, gue bantu di sini dulu." Mita mendekat ke arah Eka. "Oh." "Proposal lo gimana?" tanya Eka. Belum juga gadis itu duduk tenang, sudah ditanya hal yang membuat Mita tidur menjelang pagi tiga hari belakangan. Eka lantas menarik Mita untuk duduk di teras rumah Ryan. Tinggal jalan sedikit dari dapur produksi. Dengan tujuan agar obrolan keduanya tak mengganggu mamah-mamah setengah tua yang sibuk dengan pesanan kue bolu untuk acara pengajian akbar nanti malam. Kue-kue harus sudah diantar maksimal pukul tiga sore. "Gimana ... gimana, Beb. Udah selesai proposal lo?" ulang Eka begitu tiba dan duduk berhadapan di teras. "Udah. Minggu depan tinggal ujian aja. Habis ini tinggal praktik lapangan, skripsi, lulus, beres," bayang Mita penuh gairah. "Habis lulus kawin yuk, Beb. Mau kan?" PLAK! "Awh!" Mita terkekeh geli begitu tangannya berhasil mendarat gagah di pipi Eka. Laki-laki itu benar-benar tak punya malu. Padahal Mita sudah jelas menolak, tapi nyali pemuda yang mengusap pipinya itu masih saja tak patah arang. Setelah kejadian di pelataran hotel minggu lalu, Mita pun menceritakan kondisi keluarganya pada Eka. Ia berharap CEO narsis itu mundur. "Sakit, Beb. Gila! KDRT melulu lo. Sadis parah. Gue cipok baru tahu rasa lo. Untung gue sayang." "Cipok, kawin, ena-ena, emang nggak ada kosakata lebih terhormat gitu, Ka? Sampek bosen aku dengernya." Eka duduk di samping Mita. Rasa panas di pipi masih, tapi rasa sejuk di hati ketika melihat Mita datang lebih terasa. "Gue bukan lelaki terhormat, Beb. Gue kayak gini orangnya. Mau terhormat apa enggak, yang penting gue selalu hargain kehormatan lo ... udah cukup." Mita manggut-manggut. Selalu setuju saja filosofi ala Eka. "Iya deh, serah kamu aja." "Jadi, mau dong kalo jadi sayangnya gue, Beb?" Selalu itu. Bahkan tepat saat Mita menceritakan kisah keluarganya yang dianggap menjijikkan oleh mulut tetangga, Eka tak berkomentar apa-apa selain meminta Mita untuk menjalin hubungan. Menghela napas. "Tapi, Ka. Kamu udah tahu aku kayak gimana. Keluargaku juga gimana. Jangan becanda deh. Aku nggak butuh dikasihani, kalo perasaanmu setelah tahu keadaanku gini bikin kamu jadi kasihan." "No, Beb. No." Telunjuk Eka membungkam bibir ber-lipgloss merah samar. "No apanya? Aku ngerti kalo kamu emang cuma kasihan sama aku, Ka." Eka menggenggam kedua tangan Mita. Tatapan mengarah pada gadis di hadapannya. "Kalo gue cuma kasihan, nggak bakal gue deketin lo dari awal. Bahkan sebelum lo cerita soal ibu lo, bapak lo, gue udah demen duluan. Habisnya lo gemesin sih, Beb. Emang gue kelihatan nggak serius ya di mata lo?" "Emang kamu nggak malu, Ka? Soal yang dikatain Novi juga, kan kamu belum tahu. Aku rebut perhatian Pras, aku suka main sama cowok-cowok pas SMA, ak—" "Sstt. Bebeb, jadi bebeb gue ya. Jadi kesayangan gue. Nggak peduli lo dari keluarga gimana, lo ngapain aja, gimana masa lalu lo, pun sama keadaan lo. Gue nerima lo, Beb. Gue nggak butuh yang penuh jendolan kayak Kadarsiin, atau semulus ciwi Korea. Gue suka lo, karena itu lo sendiri. Mau ya? Gue pengen jadi sandaran buat lo, jadi temen, rekan, tempat sampah masalah lo juga. Gimana?" Gila! Tampang nista Eka biasanya selalu membuat Mita ingin menonjok sekaligus tertawa. Namun kali ini, sungguh ... Mita dibuat terpana. Laki-laki di hadapannya kelewat mematikan dengan tatapannya. Kelewat manis dengan ucapannya. Kelewat aneh bagi Mita pribadi. Mita tak bohong dengan perasaannya sendiri. Eka membuatnya jauh lebih berani. Laki-laki itu pun selalu menguatkannya saat mencoba berdiri tegar. Meski gayanya slengekan, ucapannya kadang nista, kelakuannya pun tak jarang terlihat konyol. Pun, Eka bukan anak konglomerat yang berdompet tebal. Tapi sesungguhnya, Mita kagum pada laki-laki mandiri nan jenaka sepertinya. Seolah masalah yang ia tanggung, tak pernah bocor pada siapa pun agar tak ada yang mengasihinya. "Beb? Kok malah ngelamun sih. Gue capek harus serius. Gue salah ngomong apa gimana sih? Gue bingung cara nembak cewek kek mana ini, Beb. Lo jangan diem aja." Eka melepaskan genggaman tangannya. Kemudian menggaruk tengkuknya karena malu dan grogi. Ia tak tahu apa seperti tadi cara menyatakan perasaannya pada perempuan. Ia tak berpengalaman. Mita jadi tertawa dengan tingkah Eka yang menurutnya selalu konyol dan apa adanya. Jauh dari sikap lelaki pada umumnya yang selalu menjaga wibawa. "Iya. Aku terima." Tanpa diduga, Eka langsung koprol di teras rumah Ryan. Disaksikan Mita yang terpingkal dibuatnya. *** Pukul sebelas tepat, Mita dan Eka membuka penutup gerobak es cokelatnya. Lima belas menit lalu keduanya sudah tiba dan menyiapkan bahan. "Aku beli es batu dulu," pamit Mita yang sudah memegangi tas untuk wadah es batu nantinya. "Hati-hati ya, Beb. Kesayangan gue nggak boleh lecet." Meski lebay, Mita tetap saja girang. Didorongnya pelan lengan Eka, hingga tubuh CEO yang tak lagi jomlo itu terhuyung ke samping. "Apaan sih." Keduanya hanya balas kikikan geli. "Mita, 'kan?" Mita langsung menoleh begitu ada suara yang memanggil namanya. Begitu bersemuka, mata Mita melebar. Lawan di hadapannya pun sama. "Gery?" "Kamu inget aku aja, Mit. Eh, gimana kabar kamu? Lama ya kita nggak ketemu." Mita mengulas senyum ramah. Gery adalah teman satu geng Pras. Salah satu lelaki yang dulu menjadi rekan bisnisnya saat remaja. "Inget dong. Aku baik aja. Kamu sendiri gimana?" tanggap Mita senang. Gery, salah satu teman yang tak menganggapnya jijik seperti lainnya. "Makin cantik deh kamu, Mit. Kapan-kapan kumpul lagi ke tempetku, kayak waktu itu. Seru gila. Aku jadi inget wajah puas Pras habis ngerjain kamu sama Imron." Kemudian Gery tertawa lepas. Mita juga sama. Sementara Eka meremas cup plastik yang hendak ia tumpuk. Hatinya berkobar panas. Udara sudah panas, ditambah kilat api mengelilingi tubuh. "Iya ih. Tega bener kalian ngerjain aku sama Imron. Lemes banget aku habis itu. Sampek berdiri, jalan aja susah. Kalian brutal!" Mita pura-pura kesal. Selanjutnya ia malah menepuk pundak Gery sambil tertawa lagi. "Bebeb!" Kedua orang yang lupa daratan karena reuni dadakan pun menoleh kompak. Gery mengerut bingung, sementara Mita menepuk jidat. Sepertinya Mita lupa kalau statusnya sudah tak lagi bebas. Ada Buto cakil yang menatapnya garang. __________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD