CEO - 11

1120 Words
Selalu saja ada pesanan bolu mangga setiap harinya. Teknologi saat ini semakin menguntungkan, meski tak sedikit yang dimanfaatkan untuk hal negatif. Lebih baik ambil yang baik saja, seperti berdagang. Pesanan yang sudah direkap oleh Mita, segera dia kirimkan ke nomor Ryan dan Eka. Sementara waktu, ia belum ingin kembali ke tempat produksi. Tentu saja selama masih ada Novi yang belum kembali ke Surabaya. "Mit, proposalmu gimana?" Mita berhenti mengetikkan pesan pada gawainya, menoleh dan didapati Rinai sudah duduk di sebelahnya. "Lagi otewe nih. Kamu sendiri?" Rinai mengangkat bahu dan mendesah. "Belum ada gambaran. Judul aja bingung. Takut udah ada yang pakek, kan repot urusan kalau dikira ntar plagiat." "Semangat dong! Aku kemarin juga gitu, pas udah ketemu langsung cek di perpus. Alhamdulillah belum ada yang pakai. Variabelnya ada sih sama, tapi nggak mirip sama yang aku teliti." "Hem. Pusing aku tuh. Maunya pakek judul ini, itu, tapi udah pada dipakek. Mau cari yang lain, malah aku bingung tempat nelitinya di mana. Butuh penyemangat banget deh kayaknya aku tuh." Mita mengulas senyum. Dibukanya galeri ponsel untuk menampilkan gambar kue kuning nan menggoda miliknya. "Mau nyobain kue mangga? Siapa tahu stres kamu hilang." Rinai menganga. Sungguh tak diragukan lagi, seantero kampus mengenal Mita sebagai sales yang selalu menawarkan barang apa saja. Entah makanan, pulsa, jasa fotokopi, kue kering, bros jilbab, atau apa saja barang yang bisa Mita perjualbelikan. "Bisa aja deh, di mana-mana. Kapan pun, harus banget ya nyeles." Mita nyengir, dan Rinai pun akhirnya tertarik. Mita memang tak memiliki teman dekat yang biasa diajak jalan ke mana, nongkrong di mana, belanja apa. Namun, ia cukup terkenal sebagai sales di mata teman-temannya. Baguslah, setidaknya ia tak dikenal sebagai apa yang Novi sebutkan di kampus ini. Karena rata- rata lulusan SMA-nya memilih melanjutkan kuliah ke kota Malang, Surabaya, Jogja, dan Jember. Meski ada yang sama-sama bernaung di kampus dengan Mita ... hanya segelintir orang yang berbeda jurusan dengannya. Bahkan mungkin, tidak begitu mengenal wajah Mita dengan saksama. Kalau berita itu, sudah pasti satu sekolah mendengarnya. *** Eka ikut mengantarkan pesanan bolu bersama Ryan. Kurir yang biasanya, sedang diminta menjadi manggolo nikahan tetangga. Begitu selesai, Eka segera mandi. Sementara Ryan, menghampiri adiknya yang tengah bersiap-siap kembali ke Surabaya. "Wes mari lek nesu? Tak terne opo Eka?" "Mas Eka aja." Tak mau menyulut api, Ryan keluar dari kamar Novi. Baru tadi pagi adiknya bisa nyengir, karena dari kemarin negara api tengah menguasai diri sang adik. Ketika ke dapur, Ryan berpapasan dengan Eka. "Novi anterin ke halte depan, Ka." Eka mengangguk. Sambil bersenandung lagu Tiang Listrik, ia menghampiri kamar Novi. Mengintip sekilas dari celah pintu yang dibuka setengah. Merasa Novi sudah siap, giliran Eka yang ganti baju di kamarnya. "Ayo, Mas." Eka menoleh, begitu Novi ternyata sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Kamar milik Ryan sebenarnya, tahu sendiri Eka hanya numpang. "Lo tunggu di depan aja, Nov. Gue mau pakek pelembab dulu." Rupanya Novi tak menuruti perintah Eka. Ia malah mendekat dan duduk di tepi kasur. "Mas." "Hem." "Mas Eka kok bisa kenal sama pelakor itu sih?" Nada suara Novi kentara akan rasa kesal, dendam, dan amarah. Eka mengawasi raut Novi dari kaca. Pantulan adik sahabatnya itu memang terlihat buram, sarat aura negatif. "Pelakor mana? Lo kira ada Jedun juga di sini apa." "Mas Eka ih. Namanya pelakor itu, udah merajalela di mana-mana. Mita itu salah satunya." Eka memilih mengawasi krim pelembab yang ada di pipinya sudah rata sempurna atau belum, sebelum melirik pantulan sosok Novi di belakangnya. "Emang dia rebut Papa Haris juga?" "Nggak harus Papa Haris. Tapi, dia sama emaknya sama-sama pelakor. Suka rebut laki orang. Emaknya tuh, rebut suami orang, eh anaknya juga rebut pacar orang. Perempuan kayak gitu, perlu dimusnahin." Merasa dijelekkan, tangan Eka yang bebas krim mengepal. Ia tak terima Mita dianggap buruk. Meski ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Masa sih Mita begitu?" "Mas Eka jangan percaya sama dia. Dulu aja, nggak cuma pacarku yang direbut dia. Ada banyak pacar temen-temenku diembat sama dia. Pokoknya, jang—" "Kamon, Nov. Gue dah siap berangkat!" Eka sudah tak tahan mendapati Novi semakin menghina Mita. Lebih baik segera dialihkan. *** Mita tak mengira Eka duduk manis, selonjoran pula di teras masjid kampusnya. Saat ia tengah mengajukan proposal agar bisa ikut sidang akhir bulan, ada pesan masuk. Mengabarkan bahwa laki-laki doyan Ena-Ena itu sedang menunggu di teras, sambil memamerkan batagor pedas yang dinikmatinya. Begitu usai, Mita segera menemui Eka. Hampir seminggu berlalu keduanya tak bersemuka. Hanya saling berbalas pesan, kebanyakan karena masalah orderan. "Mana batagornya? Katanya mau kasih ke aku." Eka yang sibuk mengupil, terlonjak kaget. Segera ia usapkan sisa upil di telunjuk ke celananya. Gerakan refleks yang tak luput dari perhatian Mita. Laki-laki yang tak pernah malu dan repot menjaga gengsi. Diam-diam ia mengulum senyum. Eka meraih kantong keresek di sebelahnya duduk. Menyerahkan pada Mita yang masih berdiri menjulang di hadapannya. "Ini, gue beliin lo juga kok. Tenang aja. Kalau nggak habis, gue masih siap nampung." Kemudian terkekeh. Mita pun menerima, lanjut ikutan duduk selonjoran di samping Eka. Batagor dalam genggaman ia gigit dan tarik ujung plastiknya. Satu suapan segera ia kunyah. Rasa batagor yang selalu khas dengan bumbu kacang memenuhi mulutnya. "Itu sengaja lo beberin bumbunya, biar minta diusepin?" Mita menoleh. "Apanya?" "Bibir lo." Mita menggerakkan jarinya mengusap sudut bibir dekat pipi. Rupanya memang ada bumbu kacang yang bandel luber di sana. "Udah bisa sendiri.” "Buru-buru amat. Padahal gue mau sekali-sekali ngusep yang begituan. Kayak di cerita begono," desah kesal Eka sambil menunduk nestapa. Bahkan telunjuknya ia gerak-gerakkan abstrak di ubin putih masjid. Gila! Mita sampai heran dengan laki-laki penuh drama di sampingnya. Ada ya, yang seperti ini? Daripada melihat wajah nestapa tapi salah gender itu terlalu lama, Mita segera mengalihkan perhatian. "Betewe, kamu ngapain ke sini? Bukannya lagi banyak orderan ya?" "Kan udah ada mamah-mamah emes yang bikinin orderannya. Sebagian juga udah dikirim sama kurir. Ryan juga nganggur di rumah. Disambi ngipasin p****t aja udah beres sendiri." Mita mengangguk-anggukkan kepala. "Laris ya daganganmu sekarang. Besok ke Gumul lagi?" "Iya. Salah satu tujuan gue ke sini, mau ajakin lo buat ke Gumul besok. Bisa kan? Lagian nggak ada Novi juga. Lo kenapa seminggu ni nggak maen ke rumah?" Melihat raut Mita yang muram karena menyebut Novi, Eka langsung mengatupkan mulut. "Eh, eh, bukan maksud ngung—" Mita menepuk paha Eka yang berlapis celana Jeans hasil berburu di sekitar Jalan Dhoho beberapa bulan lalu. "Aku bisa. Kayak kemarin kan? Aku pasti dateng bantuin. Tenang aja, Ka." Seulas senyum dipaksanya. "Bagus deh kalau lo bisa. Lagian, gue kangen sama lo nih. Masa tiap lihat wajah mamah-mamah di dapur, kayak lihatin lo aja. Meski mereka rada layu, sementara lo seger." Mita memukul kepala Eka dengan tas di pangkuannya. Setidaknya, kekonyolan Eka bisa menjadi hiburannya. * Sudah selesai marahnya? Aku antar apa Eka saja?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD