CEO - 12

1186 Words
"Kamu nggak jijik sama aku, Ka?" Eka menoleh. Didapatinya Mita tengah menunduk sambil bertopang dagu. Jualan mereka sudah habis, hari pun semakin terik. Namun masih malas untuk beberes dan pulang. Lagi pula, masih banyak orang yang lalu-lalang sekadar menikmati deretan pedagang di kawasan Gumul. "Lo panuan, borokan, kudis kurap, apa ingusan yang kuning kentel gitu?" herannya sembari meneliti wajah hingga kaki Mita. "Aku serius, Ka. Kamu kenapa suka melesetin sama hal yang nggak jelas sih." Jelas Mita kesal. Kapan laki-laki di sampingnya itu terlihat serius. Ia hanya ingin memastikan, bahwa memiliki teman—meski aneh—seperti Eka tak membuatnya kabur jika tahu stempel apa yang ia sandang. Bukan dirinya sendiri yang memasang itu, melainkan dari teman-teman perempuan masa putih abu-abu. Apa yang salah jika ia berteman dengan lelaki? Toh hubungan Mita dan beberapa teman lelaki semasa SMA bukanlah status kekasih, apalagi selingkuhan. Memang rata-rata teman Mita sudah memiliki pacar. Hubungan Mita dan beberapa lelaki sebatas rekan bisnis semata. Yah, bisnis. Namun membuat rasa cemburu menggila dari kekasih masing-masing. "Terus? Maksud lo apaan sih, Beb? Kenapa juga gue jijik sama lo yang bening mulus begini. Bukan jijik sih gue, malah pengen cipok." Kekehan nista berakhir injakan kaki Mita di jempol Eka. Mita salah pilih rekan ngobrol sepertinya. "Soal Novi kemarin. Gimana kalau ternyata aku memang seperti yang dia tuduhin?" Masih meringis, Eka memandang wajah muram Mita yang membuatnya ingin segera memeluk. Untung saja ia sayang nyawa. Belum saatnya. "Pelakor? Emang lo rebut pacar Novi?" Mita menggeleng. Ia tak pernah merebut pacar siapa pun. Pacar-pacar mereka saja yang mengejar Mita. Karena kepuasan yang mereka butuhkan, ada pada diri Mita. Jelas saja, teman-teman lelaki di sekolahnya banyak yang menjadi rekan bisnis Mita. "Aku nggak pernah rebut pacar Novi, atau temen lain. Tapi, ibuku yang begitu." Eka mendekat hendak merengkuh bahu Mita. Gerakannya terhenti karena Mita melirik tajam. "Nggak usah ambil kesempatan," peringat gadis itu. Eka mendesah kecewa. Padahal ia sudah berharap dijadikan sandaran. Masa ia sandaran di kursi saja. "Udah yuk, kita pulang aja. Panas banget ini." Eka pun menurut saja. Mungkin Mita belum ingin membuka masalahnya secara gamblang pada Eka. *** Ryan memarkirkan motornya di teras. Masih mengenakan jaket, ia berjalan cepat ke dapur produksi bolu mangga. Ada Eka yang tengah membantu mamah-mamah mengupas mangga. "Ka!" Yang dipanggil menoleh. Lekas ia melepas mangga dalam genggaman dan mendekat pada Ryan. "Kenapa? Udahan kencan lo?" Ryan tak ingin membahas soal pacar yang baru saja ia ajak makan bakso dan nonton bioskop. "Aku ada ide baru buat bisnis kita." Ryan terlihat antusias, Eka pun demikian. "Kita jual minuman serbuk." "Serbuk? Kayak Top Es gitu? Jualan di sekolah kalo kayak gitu." Ryan menggeleng. "Ora. Seng koyok coklat serbuk iko loh, Ka. Akeh to saiki seng dodol coklat aneka rasa. Teh ae wes macem-macem rasane. Awake jo gelem kalah. Gae pisan seng koyok ngunu. Aku wes weroh panggon gae kulakan serbuke. Kari golek panggon ae. Nyewo nang ngarep omahe wong iso. Penting enek gerobak. Piye jal ideku iki?" bangga Ryan dengan ide kinclongnya. Eka nampak berpikir. Minuman serbuk memang sedang latah saat ini. Selain teh Roci, Dua Maun dan banyak lainnya, peranan coklat serbuk juga tengah mewabah. Kalau dipikir-pikir, orang lebih cenderung beli minum daripada beli jajanan saat berhenti sekadar istirahat. "Lo keren juga." Ryan menepuk dadanya bangga. "Modal kawin, Ka." Keduanya pun terbahak. Dua minggu waktu yang diperlukan Ryan dan Eka untuk menyiapkan bisnis minuman serbuk aneka rasa. Gerobak yang mereka pesan pun juga sudah jadi. Sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan raya menjadi pilihan Eka, agar pembeli mudah melihat. Hari pertama buka, Eka menawarkan diri menjaganya. Ia sudah berlatih meracik di rumah. Semoga rasanya sedap di lidah dan di hati. Tidak ada acara khusus untuk meresmikan pembukaan bisnis keduanya. Hanya promo potongan harga yang Eka tulis besar-besar di bagian depan gerobaknya. Sekadar ucapan basmallah keduanya ucapkan saat membuka penutup gerobak. Mita datang atas undangan Eka. Ryan tak ikut menjaga, karena ia tengah bagi tugas di dapur produksi. Pesanan bolu Ena-Ena pun semakin bertambah tiap harinya. Beberapa kali juga mereka menerima pesanan untuk acara ulang tahun, pernikahan dan pengajian. "Bebeb dah dateng? Sini duduk dulu." Eka menyilakan Mita duduk sementara ia sibuk meracik pesanan es. Banyak anak-anak pulang sekolah yang datang membeli. Terang saja, harga diskon memang selalu menyilaukan. Terlebih kantong anak sekolahan. Melihat Eka kewalahan, Mita berinisiatif membantu. Meski tak tahu racikannya, Mita pun hanya menyiapkan gelas cup dan membantu memecah es batu. Tangannya sampai mati rasa karena rasa dingin yang teramat, tapi tak mengapa. Ia senang melihat Eka tersenyum padanya. Senyum Eka terlihat manis, karena biasanya terlihat m***m. "Makasih udah bantuin." Mita mengulas senyum sembari menyeruput es cokelat rasa stroberi racikan Eka. Es serbuk yang juga dilabeli Ena-Ena. Gadis itu mengangguk kemudian. "Coba kita bisa kerja sama kayak tadi terus. Seumur hidup juga gue rela sama lo." "He?" "Yah ... sekarang kita rekan bisnis Ena-Ena. Siapa tahu ke depannya kita kerja sama ena-ena di atas kasur. Biar golnya lancar, bisa nambah ronde, kalau bisa ... cepet hasilin investasi jangka panjang berupa anak-anak yang lucu. Gimana menurut lo?" "Uhuk!" Saking kagetnya, Mita tersedak. Bukannya simpati, Eka malah terkekeh. "Lo grogi banget sih. Baru juga gue punya wacana. Jangan-jangan lo dah bayangin ke mana-mana." Mita mendengkus kesal. Enak saja ia grogi. Ia hanya risi tiap Eka selalu kumat nistanya. Badannya merinding, bahkan cuma mendengar. Apalagi sampai membayangkan. "Loh, kamu Mita ‘kan?" Sebuah suara mengagetkan Mita. Seorang laki-laki tiba-tiba saja menarik kursi dan duduk di dekat Mita. Samping kanan gadis itu ada Eka, sementara samping kiri ada Pras. "Iya." Mita masih mengingat wajah laki-laki yang duduk di sampingnya. Meski waktu mengurai kenangan masa silam. "Apa kabar? Kamu jualan es sekarang?" Mita hanya tersenyum, tak mengangguk atau menggeleng. "Baik. Kamu sendiri? Katanya kuliah di Jogja ya?" "Iya. Aku lagi pulang beberapa hari. Semester akhir gini kan nggak banyak mata kuliah. Kamu jadi lanjutin kuliah kan?" Mita mengangguk. "Iya. Aku kuliah kok. Di sini aja." "Salut sama kamu, Mit. Jual es, kuliah juga. Sekarang, kamu masih terima orderan lagi nggak kayak dulu? Oh ya, aku sama temen-temen mau bilang makasih. Aku terutama. Kamu emang rekan bisnis yang nggak pernah ngecewain. Selalu bisa muasin aku sama temen-temen. Kalau ada kesempatan, ayo kumpul. Kita ulang insiden di kamar Gery waktu itu." Mita hanya mengangguk. Ia mau saja menanggapi nostalgia Pras, namun tatapan tajam mengarah padanya sejak kedatangan teman masa SMA-nya itu. Siapa lagi jika bukan dari mata Eka. Bahkan hidung manusia dengan mulut kurang faedah itu hampir mengeluarkan asap. "Aku balik dulu, Mit. Kapan-kapan kita ngobrol lagi." Pras segera pamit karena buru-buru. Melihat punggung Pras menjauh, tatapan Mita masih saja mengikuti hingga sosok itu benar-benar hilang. "Dia siapa? Lo sama dia ada hubungan apa?" Aura mengerikan terpancar nyata dari wajah Eka. Mendengar saja Mita sudah bergidik ngeri. Apalagi melihat wajah Eka yang lebih mirip banteng melihat selendang merah. "Dia ... mantan pacarnya Novi." *Nggak. Yang seperti serbuk itu loh. Banyak kok yang jual minuman coklat aneka rasa. Teh saja sudah macam-macam rasanya. Kita jangan sampai kalah. Kita buat yang seperti itu juga. Aku sudah tahu tempat untuk membeli serbuk. Tinggal cari tempat saja. Sewa tempat di depan rumah orang. Yang penting ada gerobak. Gimana ideku ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD