Bab 1 - Pertunangan
Pertemuan keluarga sudah ditentukan Melisa atau lebih sering disapa Lisa, terpaksa menghadiri acara yang menurutnya tidak penting, justru sangat tidak penting.
Hari ini pertunangan Lisa dengan Diko sahabatnya sendiri, dengan muka pasrah, dia merelakan jari manis kiri terpasang sebuah cincin putih dengan mata berlian.
Mungkin kebanyakan wanita mengingin hal ini, bertunangan, menikah, dan punya anak.. namun, tidak untuk Lisa, kisah cintanya tidak seindah itu.
Entah bagaimana Lisa sanggup menjalani ini semua. Tidak ada raut kebahagiaan diraut wajah cantik Lisa. Ia terus menatap cincin yang sudah melingkar di jari manisnya.
"Selamat untuk kalian berdua ya," ucap Mario saudara kandung Lisa.
Melisa anak yatim piatu, dari kecil ia hidup bersama kedua saudara laki-lakinya, kedua kakaknya itu sangat posesif apalagi semenjak tragedi menimpa Lisa, mereka semakin posesif membuat Lisa merasa hidup dalam penjara.
"Iya," jawab Lisa singkat.
Diko hanya menatap Lisa, ia tahu saat ini tidak dapat berbuat apapun, apalagi pernikahan akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Selama ini Diko hanya menjaga Lisa, tidak berharap lebih dari wanita itu, ia tahu Lisa tidak bisa mencintainya, terlebih masa lalu Lisa sudah tergembok mati.
"Hore, akhirnya Ecel punya Papa." Anak laki-laki memeluk Lisa, ia tampak bahagia, tidak pernah Ecel sebahagia itu dalam hidupnya. Ya, Ecel yang bernama lengkap Marcel Dirga Pratama, anak ini sisa masa lalu yang melekat dalam hidup Lisa, itu kenapa Lisa begitu sulit melupakan pria yang sempat menanam benih di rahimnya, hingga membuatnya hamil tanpa seorang suami, penderitaan Lisa sudah banyak selama ini. "Mama, apa boleh sekarang Ecel panggil Om Diko Papa." Lisa menghela napas panjang.
"Hemmm... Mama kan baru tunangan sayang, bukan menikah, nanti setelah Mama nikah, Ecel baru boleh panggil Papa sama Om Diko," ucap Lisa sambil menggendong Ecel di pangkuannya.
"Kenapa tidak sekarang? Ecel gak sabar cerita dengan teman-teman, kalau Ecel punya Papa loh." Ecel begitu antusias membuat Lisa tidak karuan.
"Ecel, senang Om Diko menikah dengan Mama?" tanya Marvel, saudara kedua dari Lisa.
"Iya dong. Sekarang gak ada yang bisa ngejek Ecel gak punya Papa lagi. Ecel sudah punya Papa." Lisa menghembuskan napas kasar, anak kecil ini semakin membuatnya bersalah.
Selama ini Lisa sudah berusaha menjadi sosok ayah maupun ibu untuk Ecel, namun tak bisa mengubah segalanya, jika Ecel membutuhkan sosok ayah sesungguhnya, bukan hanya sekedar fiktif.
"Sayang, tapi Mama belum menikah, jadi Ecel panggil Om Diko." Ecel mengangguk setuju.
"Pernikahan dua minggu lagi, aku gak mau ada drama lagi, cukup drama kamu selama ini," ucap Mario tegas, selain menyebalkan laki-laki ini juga galak, kadang Lisa merasa pantas sampai detik saja kakak laki-lakinya itu sampai detik ini belum juga menikah, lihat aja searogan apa pria satu ini. Lisa mengdengus kesal.
"Iya Kak Mario. Apa ada lagi yang ingin Kak Mario sampaikan?" Marvel justru tertawa kecil mendengar ucapan ledekan Lisa. Berbeda dengan Mario, Marvel lebih bersikap tenang, meskipun pria ini juga posesif, tapi ia enggan membuat Lisa merasa tidak nyaman, karena tidak ingin adiknya merasa tidak memiliki tempat untuk pulang bercerita.
Ya, memang benar Lisa lebih nyaman bercerita dengan Marvel daripada Mario, padahal Marvel sendiri sudah berkeluarga, bahkan saat ini istrinya sedang melakukan program hamil.
"Ngapain lo ketawa? Senang lo?" ucap Mario pada Marvel.
"Eh, lo sensitif banget Yo, makanya nikah biar gak marah terus," balas Marvel membuat Mario semakin kesal.
Bukan tanpa alasan Mario meminta Diko menikahi adiknya Lisa, selama ini hanya Diko yang terus menerus menemani Melisa, saat terpuruk pria itu selalu ada untuk adiknya, dari Lisa masih hamil hinggal Ecel sudah berumur 6 tahun, masih saja Diko selalu menjaga Lisa. Apalagi Ecel sangat dekat dengan Diko, sampai detik ini dirinya tidak pernah mengetahui siapa ayah kandung Ecel, menekan Lisa untuk memberitahunya, tetap saja adiknya itu diam. Entah seperti apa sosok ayah dari Ecel itu.
Menurut Mario Diko pilihan paling tepat, walau bagaimana pun Ecel membutuhkan figure seorang ayah. Terkadang dirinya ada Marvel selalu ada untuk keponakan, namun tetap saja yang dibutuhkan Ecel ayah sesungguhnya. Mario sendiri sibuk dengan urusan di kantor, bahkan pulang ke rumah ia juga masih sibuk dengan kerjaan yang dirinya bawa pulang. Sedangkan Marvel setelah siang hari berada di perusahaan bersama dirinya, malam hari ia meluangkan waktu dengan sang istri, maklum si Marvel sangat bucin sekali kalau urusan cinta. Berbeda dengan Diko, dia bekerja di perusahaan mereka, terkadang tetap meluangkan waktu bermain dengan Ecel. Dan saat acara sekolah Ecel, ia mewakili menjadi ayah Ecel, agar keponakannya tidak diejek temannya.
"Masalah gue nikah atau gak, itu akan jadi urusan gue."
"Maaf Pak, ehmm... Apa tidak terlalu cepat? Saya juga harus ngabari orang tua saya di Bandung," ucap Diko. Ia sebenarnya sama sekali tidak siap pernikahan ini.
"Tidak! Kalian berdua sudah bertunangan, gak perlu ditunda lagi." Percuma saja bicara dengan Mario, dia kan sangat keras kepala.
"Kak Mario, kata Diko benar, ini terlalu cepat. Banyak yang harus diurus, belum gedung, pakaian pengantin, dan banyak lagi. Dua minggu itu terlalu cepat." Lisa hanya dapat menunda, entah bagaimana cara dia membatalkan pernikahan ini.
"Aku akan mencari W.O terbaik. Kamu jangan khawatir soal itu, apalagi gedung, kita bisa gunakan salah satu hotel untuk pernikahan kalian." Lisa mendengus. Lagi-lagi si Mario ini keras kepala. "Dan masalah orang tua kamu, saya sudah meminta orang menjemputnya," lanjut Mario. Lisa hanya dapat melirik saudaranya dengan kekesalan yang dia miliki. Mentang-mentang punya uang bisa seenaknya, ia pikir dengan uang semua beres.
"Sepertinya dua minggu terlalu cepat, bagaimana jika dua bulan dari sekarang? Kesannya kita terlalu buru-buru." Meski pun Marvel lebih muda, namun ia bisa lebih bijak dari Mario.
"Keputusan aku tetap sama, pernikahan dua minggu lagi. Kalian gak perlu khawatir semuanya akan aku urus."
Tapi Ka..."
"Melisa! Kamu gak perlu pusing mikirin ini semua. Orang-orang Kak Mario akan urus semua." Terdengar sama sekali tidak ingin dibantah. Keputusan Mario tetap sama.
"Iya Kak," jawab Melisa pasrah.
Ingin sekali Lisa memberontak, keadaan seperti ini membuatnya gila. Lisa selalu saja dianggap anak kecil oleh Mario, padahal Lisa sudah cukup dewasa, umurnya saja sudah 28 tahun dan tidak lupa ia sudah memiliki anak berumur enam tahun, apa Lisa tidak bisa memilih kehidupannya sendiri, menentukan apa yang dia mau. Kenapa semua harus menunggu keputusan Mario. Mungkin iya, Lisa pernah melakukan kebodohan dalam hidupnya, tapi dia tidak mungkin melakukan hingga terulang lagi. Lisa lelah seperti ini, dirinya pun pergi dari ruangan tersebut. Lisa memutuskan mengajak Ecel mencari angin malam hari itu.
***
"Ma, kenapa melamun?" Ecel memperhatikan Lisa yang terus saja dia, padahal Mamanya itu yang mengajak dia keluar. Lisa menggeleng pelan. "Terus kenapa Mama dari tadi diam?" Lisa kembali menatap anak berumur enam tahun itu.
"Ecel, benaran ingin Mama nikah dengan Om Diko?" Ecel tersenyum lebar.
"Tentu saja Ma. Mama, tau setiap di sekolah Ecel terus saja diledekin gak punya Papa. Mama juga Ecel tanya tentang Papa, pasti marah." d**a Lisa mendadak sakit, baginya itu masa lalu, namun hingga detik ini Lisa masih saja menutup hatinya.
"Maafin Mama Ecel, Mama gak tau jika Ecel selalu diledekin."
"Ada yang bilang Papa Ecel penjaha. Ecel sedih, gak mungkin kan Ecel punya Papa penjahat," ucap anak itu semakin membuat Lisa kecewa pada dirinya sendiri.
"Papa Ecel orang baik kok, sayang. Mungkin belum waktunya Ecel ketemu Papa." Lisa kadang bosan berbohong dengan Ecel.
"Mama pasti bohong lagi." Lisa lupa, jika Ecel mungkin sudah sedikit demi sedikit mulai mengerti.
"Gak kok. Kenapa Ecel berpikir seperti itu?" Ecel tampak murung sembari kepalanya bersandari di pundak mungil Lisa.
"Ecel pernah mendengar Om Mario dan Om Marvel bertengkar." Lisa mengernyit. Kapan anak ini melihat kedua orang itu berantem, iya sih mereka selalu beramtem. "Om Mario selalu bilang Ecel harus punya Papa seperti Om Diko. Karena Papa Ecel tidak bertanggung jawab, kata Om Mario Papa pergi meninggalkan Mama dan Ecel. Ecel sedih, apa benar Papa meninggalkan kita Ma?"
Pertanyaan Ecel kembali menusuk ulu hati Lisa, ia hanya bisa menahan air matanya. Seandainya semua berjalan seperti apa yang Lisa mau, mungkin Ecel dan dirinya tidak seperti sekarang.
"Ecel tidak mendengar pembicaraan orang dewasa, Ecel itu masih kecil, itu tidak baik ya sayang. Papa Ecel orang baik, bukan orang jahat."
"Kalau bukan orang jahat, dimana Papa Ecel? Kenapa tidak bersama kita sekarang?" Entah bagaimana Lisa harus menjawab semua ini. Ia sendiri tidak tahu keberadaan laki-laki b******n itu.
Bajingan ... Iya mungkin itu yang pantas untuknya. Lisa menderita selama ini gara-gara pria itu, Lisa bermimpi akan menjadi seorang desainer perhiasan, namun mimpinya punah selama ini. Dia hanya menjadi seorang ibu untuk Ecel, mengantar jemput Ecel, mengajarkan Ecel tentang hidup, menemani Ecel mengerjakan tugas sekolah.
Bahkan Lisa sama sekali tidak diizinkan membantu mengelola perusahaan warisan orang tua mereka. Ia hanya berada di rumah setiap hari, terkadang Lisa hanya dapat merancang desainnya, dan menawarkan ke perusahaan kecil, akan tetapi belum melihatnya mereka sudah merendahkan sketsa yang Lisa buat sendiri.
Lisa hanya bisa menopang hidup bersama Marvel dan Mario, ia tidak bisa berdiri tegak sendiri, tanpa bayangan mereka berdua.
"Om Diko?"