Selama sebulan pasca kejadian itu Fahri menghilang. Khodijah menjalani rutinitasnya, sejak pagi ia berjualan di depan rumah hingga pukul 2 siang.
Hatinya sudah mengikhlaskan kepergian Fahri. Andai suaminya tidak kembali lagi ke rumah, ia sudah bisa menerima itu semua. Mungkin, jodoh keduanya hanya sampai di sini saja. Khodijah ingin membuktikan bahwa tanpa Fahri, ia bisa menghidupi Yusuf seorang diri.
Bohong, bila sudah tidak ada cinta di hati Khodijah untuk suaminya. Karena sejatinya cinta itu masih ada, namun kadarnya yang semakin berkurang banyak.
Perbuatan terakhir yang dilakukan Fahri membuat Khodijah merenungi semuanya. Apakah ia yakin bisa menjalani hidup seperti ini hingga akhir hayat. Hati dan logikanya seolah berseberangan, logikanya ingin menyudahi namun hatinya meminta ia memikirkan kembali demi Yusuf.
Tapi, dalam perdebatan itu, Khodijah lebih memilih logikanya. Sudah tidak ada yang harus dipertahankan lagi dalam pernikahannya. Fahri lebih memilih istri barunya ketimbang ia dan Yusuf.
Sore ini, awan yang awalnya putih bersinar mendadak berubah hitam. Suara gemuruh petir menandakan sebentar lagi akan turun hujan lebat. Khodijah segera mengangkat jemuran di belakang rumahnya, ia tak mau pakaiannya terlebih dulu tertimpa hujan.
Tak berselang lama, hujan lebat mengguyur kota ini. Kota di mana Khodijah dilahirkan, di kota ini juga ia bernaung bersama suaminya selama tiga tahun. Khodijah duduk santai di sofa, ia sedang membaca novel online ditemani secangkir teh dan pisang goreng hangat yang ia goreng sendiri.
Novel yang ia baca menceritakan tentang istri yang dipoligami. Entah sudah berapa novel serupa yang ia baca, semuanya selalu berakhir dengan perceraian. Khodijah semakin mantap untuk menggugat cerai Fahri setelah membaca novel-novel tersebut.
Apa nasibku akan serupa seperti tokoh perempuan yang ada di novel ya? Ditinggal, lalu diceraikan setelah bertahun-tahun mengabdi kepada suami. Tapi, kalau di novel kebanyakan wanitanya tidak punya anak, sedangkan aku kan punya. Ini sungguh memalukan, di real life suami menikah lagi bukan karena istri mandul, tapi kepincut tante gatel.
Khodijah memijat kepalanya lalu ia menyeruput teh yang masih panas itu. Meminumnya secara perlahan-lahan, menikmati sensasi bibir bersentuhan dengan panasnya teh.
Yusuf masih tidur siang. Sudah hampir 1.5 jam yusuf tidur, anak itu belum menunjukkan tanda tanda akan bangun. Suara mesin mobil terdengar di tengah derasnya hujan, Khodijah tahu mobil siapa itu.
Ia menoleh ke arah jendela depan, benar saja seorang pria tengah berlari mengitari mobil menuju pintu rumah. Tak lama setelahnya Fahri mengucap salam disertai suara ketukan di pintu.
Dengan malas Khodijah beranjak dari duduknya menuju pintu rumahnya. Ia membalas salam yang diucapkan Fahri, lalu membukakan pintu.
Melihat sosok itu lagi, berdiri di depannya setelah sebulan lamanya menghilang. Fahri memberikan senyuman hangat kepada istrinya, seolah olah tidak terjadi apa apa sebelumnya. Berbeda dengan Khodijah, ia langsung memutar tubuhnya dan kembali duduk di sofa.
"Sayang, suami pulang kok tidak disambut? Apa kamu tidak rindu padaku," kata Fahri yang mengekor ke mana Khodijah pergi, lalu duduk bersisian dengannya.
"Huft ... rinduku padamu sudah hilang Mas. Tersisa kekecewaan dan rasa benci yang membuncah."
"Kamu bicara apa sih, Dijah. Apa semudah itu membenciku? Kita itu bukan setahun dua tahun kenal, memangnya semudah itu membenciku. Kalau ngomong asal jeplak."
"Bodo ah, Ngapain kamu pulang? Sebulan tanpamu hidupku bahagia. Ngapain coba pulang lagi ke sini. Bukannya di sana ada istri yang bisa memberimu segalanya."
"Aku masih sangat mencintaimu Khodijah, aku minta maaf sudah membuatmu terluka. Tolong, tolong jangan pernah punya niatan untuk berpisah denganku. Aku janji, mulai saat ini dan seterusnya akan bersikap adil. Aku akan membagi waktu untuk kalian berdua, 4 hari di sini dan 3 hari di rumah Mbak Jen," ujar Fahri.
"Wow, keren ya." Khodijah berdiri seketika usai mengucap kata itu.
"Sayang, kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara!" Teriak Fahri saat melihat istrinya pergi menjauh.
Fahri tak hilang akal, saat istrinya kembali, ia langsung memeluknya kemudian bersimpuh di kaki Khodijah.
"Ngapain kamu, Mas. Drama apa yang sedang kamu mainkan?" Tanya Khodijah sembari menepis kedua tangan yang sedang memeluk lututnya.
"Mas mohon, maafkan aku. Mas janji demi Allah, akan berlaku adil pada kalian berdua." Khodijah iba saat melihat bola mata suaminya yang berkaca kaca. Ia mulai goyah, apalagi suaminya bersumpah atas nama Allah.
"Jangan pernah bersumpah bila Mas tidak bersungguh-sungguh, apa lagi bawa bawa nama Allah."
"Mas bersungguh-sungguh, Sayang. Kamu bisa melihatnya dari tatapan mataku."
Mereka berdua saling memandang, Fahri mencoba menyakinkan istrinya lewat sorot matanya sedangkan Khodijah mencari kebenaran di mata Fahri.
***
Fahri menepati ucapannya, sudah dua hari ini dia diam di rumah. Ia membantu istrinya membuka kedai nasi kebuli, sebelum ia berangkat kerja. Perubahan sikap Fahri yang secara tiba tiba justru membuat Khodijah bertanya tanya, apakah semua ini tulus atau hanya kepura-puraan semata.
Selama dua hari ini suaminya itu kembali seperti dulu. Ia menunaikan sholat di masjid, pulang kerja tepat waktu dan bersikap mesra. Hati Khodijah menjadi bimbang, ia merasa ingin memberikan kesempatan sekali lagi kepada Fahri.
Bukankah semua manusia itu pernah berbuat khilaf. Apa salahnya ia memberikan kesempatan kedua kepada suaminya. Siapa tahu dengan sikap mengalah dan menerima poligami, Fahri akan berpikir ulang dan akhirnya menceraikan istri keduanya.
Khodijah menjalankan kewajibannya sebagai istri Fahri, ia memasak makanan kesukaan suaminya, berbincang dengan nada lembut seperti dulu. Khodijah pun dengan senang hati melayani suaminya di ranjang ketika Fahri meminta haknya.
Selama empat hari Fahri di rumah, ia pamit untuk kembali ke rumah Jennifer sampai hari senin nanti. Khodijah mengizinkan suaminya kembali ke rumah madunya. Biarlah seperti ini, asalkan suaminya mampu bersikap adil.
Khodijah sama sekali tidak menaruh curiga apa pun. Ia mengucap syukur, atas perubahan Fahri. Kedepannya, Khodijah berharap rumah tangganya bisa harmonis seperti dulu, meski tidak sepenuhnya kembali utuh. Ia harus merelakan berbagi suami dengan wanita lain. Berbagi suami bukan berarti mereka harus saling bertegur sapa, atau mengenal madunya.
Khodijah berbesar hati, mungkin sudah takdir Allah bila suaminya punya dua rumah untuk ia pulang. Usaha kuliner yang dijalani Khodijah berkembang pesat, ia mulai mendapat orderan untuk acara pengajian atau arisan. Ia dibantu Sabrina atau Fahri ketika suaminya itu berada di rumah.
Semua berjalan normal seperti dulu, Khodijah kembali bahagia. Senyum mengembang selalu menghiasi wajah cantik khas timur tengah itu. Ia tak hentinya mengucap syukur kepada Allah bahwa mampu melewati ujian ini dengan tetap tabah dan berlapang d**a.
Khodijah juga mengucap syukur, bahwa ia tidak gegabah mengambil sikap dan keputusan. Ia tetap memilih bertahan meski dipoligami, menerima rasa sakit itu dan mencoba berdamai dengan keadaan.
Fahri Hamzah, pria itu sekarang pandai berakting di depan istrinya. Ia mampu memanipulasi Khodijah hingga terperdaya seratus persen kepadanya. Fahri memang mencintai Khodijah, namun gemerlap dunia membutakan mata batinnya hingga ia tega menorehkan luka di hati istrinya.
Ia lupa bagaimana perjuangan keduanya menyakinkan orang tua Khodijah, disaat mertuanya mati matian tidak menyetujui pinangannya waktu itu.
Melihat perubahan sikap istrinya yang sudah bisa menerimanya, membuat ia melayangkan aksinya. Khodijah tidak tahu bahwa suaminya diam diam mempunyai rencana yang akan membuat ia dan keluarga besarnya murka.