Khodijah masih berismpuh di lantai, meskipun sudah sejam lamanya Fahri dan istri keduanya pergi meninggalkan rumah.
Cairan bening terus menerus keluar dari netra berwarna cokelat itu, terjun deras menggenangi pipinya. Khodijah merasa semua ini sudah cukup. Cukup sampai di sini saja Fahri menginjak harga dirinya.
Apa yang membuat Fahri bisa berubah drastis. Atau, apakah memang sebenarnya Khodijah tidak sepenuhnya mengenal suaminya. Ya, walaupun mereka telah lama bersama, namun itu bukan jaminan bahwa Khodijah mengenal seorang Fahri Hamzah.
Saat tangisnya semakin pecah, suara tangis malaikat kecilnya terdengar dari dalam kamar. Mata Khodijah menatap pintu kamar, lalu terdengar bunyi keras disertai tangisan histeris Yusuf.
Anak itu terjatuh dari ranjang. Kepala depannya mendarat lebih dulu, membuat memar dan benjol. Khodijah berteriak mengucap kata, "Astaghfirullah hal azim. Anakku, Sayang. Maafkan bundan ya, Nak."
Khodijah membuka mukenanya, ia mengusap kepala Yusuf dengan helaian rambutnya. Anak itu masih terus menangis, meronta memegangi kepalanya sendiri.
Khodijah panik, ia menggendong Yusuf dan berjalan mengambil gawai di meja rias. Ia menelepon Fahri, namun teleponnya di reject. Puas ia menelepon Fahri, lalu ia teringat Sabrina.
Sabrina langsung menjawab telepon sahabatnya, tidak menunggu berkali atau mengabaikannya seperti Fahri.
Sabrina terkejut ketika Khodijah memberitahukan Yusuf terjatuh. Ia langsung bergegas pergi dari butiknya menuju rumah sahabatnya, Khodijah.
Sesampainya di sana, Yusuf sudah sedikit lebih tenang. Ia tidak menangis histeris seperti tadi, hanya sesekali merengek mengadu sakit. Khodijah sengaja menunggu Sabrina di teras rumahnya, supaya bila Sabrina tiba, mereka langsung pergi ke dokter.
"Ayo langsung ke dokter saja, Dijah. Aku takut dia kenapa kenapa," ujar Sabrina.
"Iya Sab. Jazakillaahu Khoiron, sudah mau direpotkan."
"Iya, ayolah."
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi, menuju rumah sakit terdekat. Di perjalanan, Khodijah menangis terisak. Ia berkali-kali meminta maaf kepada Yusuf karena telah lalai menjaganya.
"Kenapa lagi kalian berdua, bertengkar?" Tanya Sabrina.
"Ba'da dzuhur tadi, wanita itu datang ke rumah. Mereka berdua keterlaluan, terutama Mas Fahri. Ia lebih mengutamakan wanita itu ketimbang aku yang sudah bersamanya bertahun tahun."
"Aku saja merasa tertipu olehnya, apa lagi kamu. Kalian pacaran selama enam tahun, nikah tiga tahun. Dan selama itu, kamu merasa tidak mengenalnya, bukan."
"Iya. Ternyata, aku tidak mengenalnya sama sekali."
"Kamu masih berharap padanya Dijah?"
"Sulit Sab. Menghilangkan rasa cinta untuknya tidaklah mudah. Aku coba mengerti, coba menerima poligami yang dilakukan Mas Fahri. Tapi, mengapa mereka berdua tidak bisa menjaga perasaanku."
"Dijah, semua keputusan ada di tanganmu. Jangan pikir anak, jangan pikir yang lainnya. Coba tanya hatimu, apakah kamu bisa menjalaninya. Kamu berhak bahagia, Dijah."
"Aku tidak tahu, Sab. Aku masih mempertimbangkan banyak hal. Mungkin ada masanya aku lelah dengan semua ini, atau justru menerimanya."
Kedua wanita itu berhenti berbincang saya mobil yang dikendarai Sabrina memasuki pelataran parkir rumah sakit. Keduanya menuju poliklinik, tempat di mana dokter anak yang biasa menangani Yusuf praktek.
Karena tidak terlalu banyak pasien, Khodijah tidak perlu antri. Ia langsung masuk ke ruang dokter tersebut. Senyum mengembang terukir di bibir sang dokter yang menyambut kedatangan pasiennya.
"Yusuf, sakit apa?" Tanya dokter anak yang bernama Dirga.
"Jatuh Dok. Yusuf terjatuh dari ranjang. Jidatnya memar dan benjol, besar sekali."
"Aya ampun, kamu ini jagoan sekali ya," ucap dokter.
Ia meminta Khodijah membaringkan Yusuf di ranjang pasien, dokter yang awalnya duduk, kini berdiri. Memeriksa kondisi Yusuf menggunakan stetoskop.
" Setelah terjatuh, apa Yusuf muntah?"
"Tidak Dok. Yusuf hanya menangis histeris saja.
"Syukurlah kalau Yusuf tidak muntah. Saya takutnya ia gegar otak."
"Tapi anak saya baik baik saja kan Dok?"
"Insya Allah tidak apa apa. Hanya memar dan benjol saja. Tidak apa apa ya jagoan."
"Alhamdulillah, jagoan bunda baik baik saja." Khodijah menggendong Yusuf setelah selesai diperiksa. Usai dokter memberi resep obat yang harus ditebus di apotek, Khodijah pun pamit keluar dari ruangan dokter.
"Gimana Yusuf? dia baik baik saja kan?" tanya Sabrina sesaat setelah Khodijah keluar.
"Alhamdulillah Ante, Yusuf baik baik saja."
"Kasihan jagoan ante. Sini ante gendong, mau ya?" Sabrina mengambil Yusuf dari gendongan Khodijah. Anak itu tidak menolak karena selama ini ia sangat dekat dengan Sabrina.
"Kita ke mana lagi Dijah?" Tanya Sabrina saat keduanya berjalan menuju apotek.
"Kita tebus obat dulu di apotek depan, setelah itu pulang."
"Iya. Dijah, kamu harus bisa buktikan ke Fahri bahwa kamu bisa tanpa dia. Pokoknya usahamu harus sukses."
"Iya Sab."
Kedua wanita itu pulang ke rumah usai menebus obat untuk Yusuf. Sesampainya di depan rumah, mereka berdua melihat pintu rumah terbuka lebar. Khodijah beranggapan rumahnya kemasukan perampok, namun setelah ia dan Sabrina masuk ke dalam, di sana ada Fahri sedang selonjoran di sofa sembari bermain gawai.
"Mas. Sejak kapan kamu di rumah?" Tanya Khodijah.
"Kamu dari mana sih. Mas pulang, rumah kosong. Kelayapan terus! Protes Fahri.
"Hei Fahri, jaga ya bicaramu. Siapa yang kelayapan!" Bentak Sabrina.
"Lah ini dari mana kalau bukan kelayapan."
"Mas. Ngapain kamu pulang? Bukankah siang tadi dengan mesranya kalian pergi. Kamu bahkan sampai hati mendorongku demi dia!"
"Kamu keterlaluan. Kalau kamu bisa bersikap sopan, mungkin kejadian tadi tidak akan pernah terjadi."
Fahri melihat ada yang aneh dengan Yusuf. Dahinya memar dan juga benjol. Ia segera mendekat dan mengambil paksa Yusuf dari gendongan Sabrina.
"Kenapa anakku? Kamu apakan dia Dijah!" Bentak Fahri.
"Dia terjatuh di ranjang. Tadi aku menelepon Mas berkali- kali namun kamu reject!"
"Kok bisa sampai jatuh. Memangnya kamu ke mana? Jaga anak saja tidak becus!"
"Fahri. Kamu sendiri gak becus jadi suami dan ayah. Tapi masih menyalahkan Khodijah!"
"Pergi kamu dari rumahku Sab. Kamu selalu ikut campur urusan rumah tangga kami. Kamu memprovokasi istriku untuk melawanku!"
"Khodijah bukan anak kecil Fahri. Dia juga bukan perempuan t***l!"
"Sabrina. Keluar dari rumahku!"
"Mas. Kamu kenapa begini sih," sahut Khodijah.
"Ahh ... Kalian berdua sama saja!"
Fahri pergi ke kamar bersama Yusuf. Ia membanting pintu kamarnya usai masuk ke dalam, membuat kedua wanita itu terperanjat dan beristighfar.
"Sab. Aku minta maaf atas kelakuan Mas Fahri. Sekarang kamu pulanglah, jazakillaahu Khoiron atas bantuanmu."
"Dijah. Kalau suamimu melakukan kekerasan, langsung hubungin aku atau Mbak Nisa dan Mbak Maryam."
"Insya Allah Mas Fahri tidak akan sampai hati. Pulanglah Sab, sekali lagi aku minta maaf ya."
"Kalau begitu aku pulang ya, assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Khodijah mengantar Sabrina sampai diambang batas pintu rumah. Ia menyaksikan mobil Sabrina berlalu meninggalkan rumahnya setelah itu barulah ia masuk.
Khodijah berdiam sejenak di balik pintu. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan secara kasar. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Khodijah merasa enggan masuk ke kamar. Ia sedang tidak mood untuk berdebat panjang kali lebar dengan suaminya saat ini.
Khodijah memilih duduk di sofa, ia menyalakan televisi untuk untuk mengusir gundah di hati. Matanya menatap layar televisi, namun tidak dengan pikirannya yang sedang menjelajah jauh di dimensi lain.
Fahri keluar dari kamar seorang diri. Yusuf baru saja berhasil ia tidurkan. Fahri berdiri di depan televisi, menatap istrinya yang sedang melamun. Khodijah bahkan tidak menyadari kehadiran Fahri.
"Khodijah. Kenapa kamu bisa lalai menjaga Yusuf!" Bentak Fahri.
Khodijah menatap suaminya penuh kekesalan. Ia muak melihat suaminya yang saat ini berdiri di hadapannya sembari bertolak pinggang.
"Kenapa kamu pulang. Aku pikir, kamu tidak akan pulang lagi ke rumah!"
"Ini rumahku. Memangnya kenapa? Kalau kamu tidak suka aku ada di sini, kenapa tidak kamu saja yang pergi. Tapi ingat, jangan bawa Yusuf!" Bentak Fahri sembari menunjuk wajah istrinya dengan jari telunjuknya.
"Mas lupa ya, sertifikat rumah atas nama siapa!" jawab Khodijah, penuh penegasan.
Fahri terdiam. Dulu, dua tahun lalu mereka membeli rumah ini seharga 600 juta rupiah. Uang Fahri hanya 100 juta sementara sisanya uang pemberian Ayahnya Khodijah. Karena ayahnya takut suatu saat Fahri berulah, maka beliau mengajukan syarat. Rumah ini harus atas nama putrinya, yaitu Khodijah Al-Hanafiyyah.
Fahri pun setuju, karena pikirnya tidak mungkin mereka berpisah. Saat itu Fahri masih teramat mencintai istrinya, belum ada niatan untuk menduakan Khodijah apa lagi berpoligami.
"Kenapa diam? Benar benar lupa kamu. Ingat ya Mas, kalau kita berpisah kamu yang pergi dari sini!" Khodijah bangkit, ia melangkah meninggalkan Fahri. Namun, sebuah cekalan tangan menahannya.
Fahri menarik lengan istrinya, mencengkram kuat dan merapatkan tubuh keduanya. Hembusan napas memburu terasa di wajah istrinya. Fahri menatap lekat wajah wanita yang menjadi cinta pertamanya ini.
"Siapa yang akan menceraikanmu. Kamu itu milikku, Khodijah. Tidak ada satu laki laki pun di dunia ini yang boleh memilikimu selain aku. Terserah, kamu mau mengatakan aku egois atau apalah itu. Tapi, aku bersumpah tidak akan pernah melepasmu," ujarnya tepat di wajah Khodijah. Netra keduanya saling bertatapan intens.
"Aku semakin yakin ingin berpisah darimu, Fahri."
Fahri tersulut emosi mendengar kalimat yang terlontar dari mulut istrinya. Ia mendorong tubuh Khodijah, menghempaskan tubuh itu ke sofa. Dengan cepat ia melucuti gamis yang di pakai istrinya, ia juga membuka seluruh pakaiannya lalu melakukan penyatuan tubuh tanpa persetujuan Khodijah.
Ia ingin menunjukkan pada istrinya bahwa Khodijah sepenuhnya miliknya. Wanita itu selamanya akan selalu ada di dalam genggamannya.
Khodijah meronta, mengumpat dan memaki Fahri. Wanita itu bahkan mencakar dan menjambak rambut suaminya yang melakukan hubungan suami istri di kala sedang emosi. Ia seperti melihat pria asing sedang mencumbunya.
Fahri tidak bergeming, tubuh bagian bawahnya terus bergerak hingga ia mendapat pelepasan. Setelah ia puas, Fahri memunguti pakaiannya. Memakainnya lalu pergi begitu saja meninggalkan rumah.
Ia meninggalkan istrinya yang tidak tertutupi helaian benang. Dengan terisak, Khodijah memunguti pakaiannya. Ia pergi ke kamar setelah berpakaian. Menangis pilu di sisi Yusuf yang sedang tertidur pulas.
Khodijah seperti habis dilecehkan seorang pria yang tidak ia kenal. Rasanya sakit sekujur badan, terlebih hatinya. Hatinya tersayat sayat. Pedih, sangat pedih hingga ia tak sanggup lagi menangis dan akhirnya tertidur.