Part 2. Pulang Ke Rumah.

2303 Words
Sehari setelah pernikahan, Fahri menepati ucapannya. Sebuah mobil sedan Accord berwarna hitam baru saja terparkir di halaman rumah mereka yang tidak berpagar. Khodijah mendengar suara bantingan pintu mobil, ia tahu itu adalah Fahri. Ia sedang memasak di dapur ketika terdengar ketukan di pintu yang di ikuti oleh suara salam. Sejenak, Khodijah mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi suaminya. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan cepat. Ia berpura pura tidak mendengar, meski Fahri sudah lebih dari sepuluh kali mengucap salam. Fahri teringat kunci cadangan yang sering ia bawa. Fahri sering pulang lewat tengah malam karena lembur, supaya tidak menggangu istrinya tidur, ia yang membuka pintu tanpa harus membangunkan Khodijah. Krek ...suara pintu terbuka. "Assalamualaikum. Bunda Yusuf, kamu dimana? Mas pulang nih," ujar Fahri. Fahri berjalan menuju kamar pribadi mereka, di sana hanya terlihat Yusuf putranya masih tertidur lelap. Ia berdiri di depan pintu sambil memandangi wajah tak berdosa itu. Tak lama dia menghampiri putranya, berbaring menyamping menghadap Yusuf. Fahri mengecup kening, kedua pipi, kedua telapak tangan dan kaki Yusuf. Berharap malaikat kecilnya Bagun. Namun, ternyata tidak. Anak itu hanya menggeliat sejenak lalu kembali pulas. Mungkin efek perut yang kenyang, membuat Yusuf terlelap dalam tidur. Baru satu jam lalu bunda memberi ia makan dan dilanjutkan sebotol s**u. Karena Yusuf enggan membuka mata, Fahri beranjak dari ranjang mencari istrinya di dapur. Jam sepuluh pagi, seperti biasa Khodijah sedang memasak. Ia hapal setiap kegiatan yang dilakukan istrinya sehari-hari. Saat tiba di dapur, Khodijah tidak sedang memasak, wanita berhidung bangir itu sedang duduk termenung di kursi makan. "Dijah, di sini kau rupanya? Kenapa tidak membuka pintu untuk mas," tanya Fahri, ia menarik kursi lalu duduk bersisian dengan Khodijah. "Ngapain kamu di sini? Bukankah kalian sedang asik berbulan madu!" sahut Khodijah ketus. "Dijah, aku minta maaf. Aku tahu, aku salah. Tapi ...." "Tapi apa Mas? Bisa- bisanya kamu melakukan semua ini. Aku masih tidak percaya, laki-laki yang kukenal bertahun-tahun tega melakukan ini. Sekarang aku tanya, apa alasanmu menikahi tante gatel itu!" pekik Khodijah. "Dijah. Jaga bicaramu! Dia wanita baik-baik. Gaya bicaranya memang seperti itu, tapi selama kami bersama, dia sangat baik dan penyabar." "Hah, apa telingaku tidak salah dengar? Mas menyebut pelakor itu baik dan penyabar. Aku tidak tahu lagi harus berkata paa padamu, Mas. Ternyata, kamu laki-laki mata duitan, murahan. Baru kali ini aku melihat seorang laki-laki yang dipelihara wanita, dan laki laki itu suamiku sendiri!" bentaknya. "Cukup!" bentak Fahri. "Pergi kamu dari sini. Sana, kembali pada gundikmu!" teriak Khodijah. Khodijah berdiri, ia malas berbicara dengan suaminya. Ia tahu, pembicaraan ini semakin menyakitinya saja. "Aku mencintainya. Meskipun cintaku padamu tetap lebih besar. Tapi, melihat pengorbanan yang ia lakukan untukku, membuatku simpatik dan lama kelamaan berubah cinta," tutur Fahri. Mendengar Fahri mengucap kata cinta untuk wanita lain, sudah pasti membuat hati Khodijah bagai tercabik-cabik. Ia menatap lurus ke depan dengan tangan terkepal. "Berikan aku satu alasan, untuk mempertahankan suami jahat sepertimu?!" Khodijah berkata tanpa menoleh sedikit pun kepada Fahri yang masih duduk di kursi. Fahri berdiri tepat di sisi Khodijah. Ia ingin menjelaskan kronologi, bagaimana ia bisa mengenal istri keduanya tersebut. "Sayang, aku tahu kamu terluka. Aku minta maaf, maaf. Setahun yang lalu, saat kita baru beberapa bulan memiliki Yusuf. Mas kena PHK, tapi mas tak sampai hati memberitahumu. Mas berbohong, setiap hari berpura-pura bekerja, padahal aku nganggur. Aku ke sana ke sini mencari pekerjaan, tapi selalu ditolak dengan alasan tidak ada lowongan. Selama sebulan aku puas mencari pekerjaan, sampai suatu siang aku tidak sengaja bertemu dengannya. Mobilnya mogok, lalu ia dicopet orang. Aku membantu mengambil kembali tasnya, kemudian aku bantu memasang ban mobil." Fahri berjalan mengitari istrinya, ia berhenti tepat di hadapan Khodijah yang masih menatap lurus ke depan. "Setelah selesai, kami berbincang. Di perbincangan itulah ia tahu aku sedang mencari pekerjaan. Mbak Jen menawari mas pekerjaan di kantornya, mas diberi jabatan penting di perusahaan itu. Lalu ...." "Cukup Mas. Jangan diteruskan!" bentak Khodijah ketika Fahri akan menyahut. Khodijah mengangkat tangan, menghentikan pergerakan mulut suaminya. "Apa pun alasanmu, itu bukanlah sebuah pembenaran. Semua itu tidak akan merubah pandanganku kepadamu, serta tidak akan melunturkan rasa sakit hati yang kurasakan saat ini!" "Dijah, bukankah wajar bila suami mempunyai istri lebih dari satu? Di agama kita diperbolehkan, selama bisa berlaku adil. Mas akan berusaha berlaku adil pada kalian berdua." "Wow. Kamu luar biasa. Sungguh, aku tidak menyangka, cerita novel online yang k****a ternyata sekarang kurasakan. Suamiku sendiri berzina dengan perempuan lain!" "Jaga bicaramu. Aku tidak pernah berzina!" "Kalau bukan berzina, lalu apa namanya!" "Andai kami melakukan hubungan suami istri, itu halal. Karena aku melakukannya setelah kami menikah siri!" "Omong kosong! Wanita itu menyebut Mas piaraannya. Mas tak ubah seekor anjing di mata dia. Kasian, sungguh kasian kamu Mas." Khodijah tersenyum getir, usai mengejek Fahri. "Tidak ada satu hadist pun yang menyatakan, suami harus memberitahu istri bila ia menikah lagi. Bila kamu wanita Solehah, harusnya kamu menerima poligami ini. Mas janji, akan berusaha adil untuk kalian berdua. "Adil yang seperti apa? Semalam mas tidur bersamanya, lalu pulang ke sini dan memintaku melayanimu. Iya, begitu mau kamu. Maaf Mas, aku jijik!" "Bukan hanya Masalah ranjang semata Dijah. Tapi ini soal nyaman dan perasaan. Aku nyaman, dan cinta kalian berdua. Aku mohon, terima Mbak Jen sebagai madu-mu." Fahri mencoba meraih tangan istrinya, namun Khodijah menyembunyikan kedua tangan ke belakang. "Kenapa, kamu tidak mau di sentuh oleh suamimu lagi? Kamu tahu, aku masih suamimu. Aku, berhak atas kamu! Dan kamu wajib mematuhi serta melayaniku." "Sana, pulang padanya. Pulang pada gundikmu itu!" "Khodijah. Jaga bicaramu!" Tangan kanan Fahri menggantung di udara. Ia berniat akan menampar Khodijah, namun ia urungkan. "Kenapa tidak jadi. Tampar Mas.Tampar aku!" teriak Khodijah, dia menyodorkan pipi di depan telapak tangan Fahri yang masih menggantung. "Bisa tidak kau mengerti aku sedikit saja. Tolong, terimalah ini sebagai ibadah yang harus kita jalani. Insya Allah kita mampu menjadi sebuah keluarga sakinah, mawadah, warahmah." "Ibadah katamu? Astagfirullah hal azim. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana, Mas. Mungkin sebaiknya kita bercerai saja," ucap Khodijah. Netra keduanya saling tatap, Fahri bisa melihat kekecewaan pada pancaran sepasang manik indah milik Khodijah. Fahri melunak, tubuh tegap itu merosot turun, bersimpuh di kaki sang istri. Khodijah, memundurkan langkah. Ia tidak ingin bersentuhan dengan Fahri yang telah begitu dalam menggoreskan luka. "Aku mohon, bantu aku untuk menjadi suami yang adil. Bertahanlah di sisiku, Sayang. Aku mencintaimu, sejak dulu hingga kini cinta itu masih sama." Fahri berdiri menggunakan lutut, wajahnya mendongak ke atas menatap Khodijah yang memandang lurus ke depan. "Kamu masih ingat kan Mas, bagaimana susahnya aku menyakinkan Abi dan umi? Aku masih ingat kata-kata Abi kala itu, saat Abi bilang bahwa kamu tidak cukup Soleh untuk menjadi imam-ku. Ya, terlepas kamu bukan keturunan Arab juga." "Maka dari itu, ayo kita buktikan bahwa kita mampu menjalani rumah tangga ini sampai Jannah. Mas tidak akan pernah mengucap kata talak untukmu Dijah, karena Mas mencintaimu." "Egois kamu Mas. Kamu juga serakah. Kamu dibutakan oleh harta pelakor itu. Ckckck ... kasihan. Aku pikir, aku menikahi laki-laki terhormat. Tapi, ternyata hanya seorang pecundang miskin. Miskin ilmu, miskin akhlak, dan adab!" teriaknya. "Khodijah Al-Hanafiyah!" bentak Fahri. Ia berdiri, emosinya memuncak mendengar penghinaan yang baru saja terucap. "Apa! Mau tampar. Tampar aku Mas. Ayo tampar. Setelah itu kita cerai!" "Bisa tidak, kau tidak membantahku. Aku mohon, Dijah." Fahri meraih tangan istrinya namun Khodijah menepis berulang kali, sampai akhirnya terdengar bunyi. Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Fahri. Tidak begitu keras, namun ini dilakukan oleh wanita yang ia kenal selama bertahun-tahun mempunyai hati yang lembut dan tutur kata yang lembut. "Kalau dengan menampar wajahku bisa meredakan emosimu, aku rela ditampar berkali-kali. Tapi, setelah itu maafkan aku, dan kita kembali hidup normal sebagai suami istri. "Tidak!" "Tolong kamu pikirkan Yusuf. Pikirkan cinta kita. Jangan hanya emosi sesaat Dijah. Ingat, Allah tidak mengharamkan poligami. Mas pergi dulu, ini uang belanja untuk bulan ini." Fahri meletakkan uang di dalam amplop kuning di meja makan, terlihat cukup tebal. "Bawa pergi uang haram itu. Aku tidak Sudi menerima sepersen pun," sarkas Khodijah "Ini hasil kerjaku, bukan uang Mbak Jen. Terserah, kamu menggunakannya atau tidak. Tapi jangan naif, selama ini aku yang mencukupi kebutuhan kita. Kamu hanya ibu rumah tangga saja." Fahri mendekat, lalu mengecup kening Khodijah yang hanya diam mematung dengan ekspresi datar. "Mas ke kantor dulu. Malam ini, mas menginap di rumah Mbak Jen. Tapi lusa, mas akan berada di sini lagi." "Terserah ...." "Jaga Yusuf ya, tolong pikirkan semua ketika kepala sudah dingin. Ingat, bahwa aku mencintaimu Khodijah. Sampai kapan pun, aku mencintaimu." "Pergi lah Mas. Biarkan aku sendiri dulu." Fahri mencoba memeluk, tapi kedua tangan Khodijah menahan tepat di dadanya. "Jangan sentuh aku dulu Mas, aku mohon." Fahri menghormati permintaan istrinya. Ia pergi meninggalkan rumah mereka, kembali kepada istri keduanya di kantor. Selepas Fahri pergi, tubuh Khodijah menjadi lemas. Tubuh tinggi itu ambruk, karena tak kuasa menahan rasa sakit. Dia menangis, bersimpuh di lantai. Sebegitu terluka, sampai tangisnya pun tidak lagi mengeluarkan suara. Tenggorokan terasa tercekat, dia susah untuk bernapas. Ya Allah ini sakit sekali. Sakit ya Allah. Astaghfirullah hal azim. La illa ha Illa anta subhanaka inni kuntu minaldzolimin. Khodijah menepuk-nepuk dadanya sendiri. Ini terlalu menyesakkan. Ia tidak kuat menerima pernikahan kedua Fahri dengan wanita lain. Meski dia tahu, Allah tidak melarang seorang pria mempunyai istri lebih dari satu. Usai kejadian pagi ini, hari-hari selanjutnya terasa berat untuk dia jalani. Fahri sudah seminggu tidak pulang, padahal katanya lusa ia akan kembali ke rumah. Ternyata pria itu sedang honeymoon ke Paris, bersama istri keduanya. Ia hanya mengabari Khodijah, lewat telepon seluler saja. Khodijah menjadi frustasi, ia tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Ia tidak memasak, mencuci dan menyapu rumah selama berhari-hari. Untuk makan, ia memilih delivery lewat aplikasi. Makanan Yusuf pun ia beli via online. Semua panggilan masuk, wa dan pesan diabaikan. Sahabat yang bernama Sabrina cemas, karena sudah tiga hari pesan yang ia kirim tidak dibaca sama sekali. Sabrina mengecek Khodijah dengan bertandang ke rumah. Rumah itu terlihat kotor di bagian teras. Bunga-bunga yang biasanya segar, mendadak semua layu bahkan ada yang sudah mati. Ia mengetuk pintu rumah Khodijah, memanggil beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Sabrina semakin cemas, tak kala mendengar suara tangis Yusuf. "Lah, itu artinya ada orang di rumah ini. Tapi, kenapa tidak ada yang membukakan pintu untukku?" gumamnya. Tangan Sabrina memegang handle pintu, berharap sang pemilik rumah tidak mengunci pintu itu. Dan benar saja, saat ia menurunkan handle pintu ke bawah, pintu itu terbuka. "Dijah, assalamualaikum. Khodijah, ini aku Sabrina. Aku masuk ya?"ujarnya. Ia masuk ke dalam, berjalan perlahan sembari mencari-cari sosok yang ia cari. Kakinya terus melangkah pelan, lalu berhenti tepat di depan pintu kamar yang terbuka sedikit. Ada suara Yusuf yang sedang menangis, ia mendorong pelan pintu itu supaya terbuka. Saat terbuka, ia kaget melihat Khodijah sedang duduk di lantai sambil menangis. Ia memeluk Yusuf yang sedang menangis, mungkin karena anak itu lapar. "Khodijah ...." Sabrina masuk ke kamar, ia membungkuk menepuk bahu sahabatnya yang tampak kosong. "Khodijah, kamu kenapa?" Khodijah tersadar bahwa di kamar ini ada Sabrina. Ia menoleh, wajah cantik itu terlihat sembab, dengan kantung mata yang hitam tebal, serta rambut yang tidak dia sisir berhari hari. "Sabrina ...hiks." Sabrina berdiri menggunakan lututnya, ia memeluk sahabatnya. Ada banyak pertanyaan yang menggelayut di benaknya. "Kamu kenapa Dijah? Sudah beberapa hari kamu tidak membaca chat yang aku kirim, ada apa?" "Fahri, Sab. Mas Fahri menikah lagi. Hiks...." "Astaghfirullah. Kamu kata siapa, Dijah?" "Aku. Aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku. Ia menikah dengan wanita berusia 40 tahun. Seorang wanita kaya raya Sab, sudah setahun." "Astagfirullah Fahri. Aku tidak menyangka ia tega menghianatimu Sepanjang aku mengenalnya dari SMA, dia laki-laki yang baik dan juga sopan. Tapi, kenapa bisa begini? Ini, sungguh di luar dugaan." "Mas Fahri berubah. Ia tidak seperti dulu lagi. Mata hatinya sudah dibutakan oleh gemerlap duniawi." "Subhanallah. Kurang ajar si Fahri. Aku tidak terima ia memperlakukanmu seperti ini!" Sabrina memeluk Khodijah dan juga Yusuf. Dia kemudian mengambil Yusuf dari pelukan Khodijah. Anak itu sudah terbiasa dengan kehadiran Sabrina, ia senang di gendong oleh wanita yang menyebut dirinya ante. "Yusuf, mandi sama ante ya. Bunda biar istirahat dulu." "Jangan Sab, biar aku saja." "Kamu tiduran saja dulu. Soal Yusuf, biar aku yang urus." Keduanya berdiri. Khodijah berbaring di ranjang sedangkan Sabrina keluar kamar bersama Yusuf. Ia memasak air untuk mandi anak itu. "Nte, yah ana?" tanya Yusuf. "Ayah kerja cari uang. Yusuf jadi anak pintar ya, jagain bunda." "Nda ngis yus," ucapnya. Sabrina tak kuasa melihat wajah polos Yusuf. Apa lagi, saat ia mengatakan itu. Sabrina memeluk anak itu sembari menangis. Ia menciumi anak itu berkali kali. "Jaga bunda ya, Yusuf anak yang kuat. Nanti, kalau sudah besar, jadi anak berbakti. Ya, Nak ya." Yusuf mengangguk. Walau usianya 1,5 tahun. Tapi, ia seakan memahami apa yang Sabrina ucapkan. Sabrina mendudukkan Yusuf di baby Walker, ketika airnya mendidih. Ia menyiapkan air hangat untuk mandi, lalu setelahnya Yusuf pun mandi. Setelah selesai, ia kembali ke kamar untuk memakaikan baju. Di ranjang, Khodijah sedang tertidur lelap. Lelah secara fisik dan pikiran membuat ia tertidur. Mungkin karena merasa ada Sabrina yang menjaga Yusuf, ia bisa tidur tanpa rasa was-was. Sabrina tidak mau mengganggu Khodijah. Ia segera keluar, setelah Yusuf selesai berpakaian. Saat memasuki rumah, ia tidak begitu memperhatikan kondisi rumah Khodijah yang berantakan. Lantainya berdebu, di sofa ada beberapa pakaian kotor, serta cucian piring yang tidak di cuci berhari hari. Ia membuatkan Yusuf s**u formula dan memberikan lewat botol. Yusuf yang haus, langsung menyedot habis isi botol itu setelahnya ia pun tertidur. Sabrina membersikan rumah sahabatnya. Ia menyapu, mengepel, cuci piring dan buang sampah. Ia juga memasukkan pakaian ke mesin cuci dan menekan tombol on. Semua ia kerjakan dengan ikhlas. Saat teringat cerita Dijah soal Fahri, darahnya mendidih. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan suami sahabatnya itu, memborbardir laki laki jahat itu dengan pertanyaan. Sabrina tidak menyangka sama sekali, bahwa rumah tangga Khodijah diguncang badai sedahsyat ini. Sabrina sangat membenci pelakor, karena rumah tangga orang tuanya pun kandas karena pelakor. maka dari itu, ia murka saat mendengar Fahri menghianati Khodijah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD