Part. 3 Memulai Usaha.

1905 Words
Sabrina membangunkan Khodijah, setelah ia selesai dengan pekerjaan. Sabrina ingin mengajaknya makan siang bersama. Ia sudah memesan beberapa makanan, melalui aplikasi di smartphone. Khodijah awalnya menolak ketika Sabrina mengajak makan. Namun, setelah dibujuk dia pun luluh. Kedua wanita itu duduk di kursi makan, saling berhadapan hanya terhalang meja. Khodijah mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah, tampak bersih dan rapi. Tidak tampak cucian piring di wastafel dan baju tercecer di sofa atau lantai. "Sab, apa kamu yang membersihkan rumahku?" tanya Khodijah. "Iya. Aku tidak betah melihat rumah yang berantakan. Kamu kan tahu, aku paling anti rumah kotor." "Aku minta maaf sudah merepotkanmu. Seharusnya ini semua tidak perlu kamu lakukan Sab, aku bisa bersih-bersih saat hatiku sudah tertata kembali." "Dijah, sekarang langkah apa yang akan kamu ambil. Apa kamu tetap akan bertahan di pernikahan ini?" ujarnya. "Aku tidak tahu. Aku masih sangat mencintai Mas Fahri, tapi aku juga kecewa dengannya. Aku bingung Sab, aku belum bisa memutuskan." "Seandainya, kamu ingin mempertahankan rumah tangga ini, aku akan selalu mendukungmu. Tapi, jangan menyiksa diri. Kalau memang tidak kuat, lebih baik lepaskan." "Aku memikirkan Yusuf. Sekecil itu, apa harus tumbuh di keluarga tidak lengkap. Rasanya aku menjadi ibu yang jahat, Sab. Hiks ...." Cairan bening itu meluncurkan deras bak air terjun. Sabrina meraih tangan Khodijah menggenggam erat, berusaha menenangkan melalui sentuhan. "Dijah, sebaiknya kamu mempunyai penghasilan sendiri. Dulu sewaktu kamu memutuskan berhenti kerja, aku mati-matian menentang. Aku ingin kamu tidak bergantung pada Fahri. Tapi, kamu tetap kekeh ingin resign dengan alasan supaya bisa lebih fokus ke keluarga. Sekarang setelah Fahri berpoligami, apa kamu masih mengharapkan nafkah dari dia?" "Aku menyesal, kenapa waktu itu tidak mendengarkan mu. Maaf...." "Sudahlah, jangan diingat lagi. Aku mau kamu menjadi mandiri. Tidak masalah bila kamu tetap ingin bertahan, tapi jangan menadah pada Fahri lagi." "Aku harus apa ya? Kalau bekerja, siapa yang menjaga Yusuf." "Gimana kalau jualan makanan?" "Makanan apa, Sab? Aku bingung." "Hmm ...nasi kebuli, samosa, dan kebab. Bukankah kamu pandai membuat itu," ucap Sabrina. "Apa ada yang beli Sab? Aku tidak percaya diri." "Dicoba dulu Dijah. Nanti aku coba tawarkan pada pengunjung butik. Kamu bisa buka kedai kecil-kecilan di depan rumahmu, di sini kan ramai lalu lalang kendaraan dan orang pejalan kaki." "Tapi aku malu ...." "Malu. Memangnya kamu tidak pakai baju. Ayolah Dijah, semangat." "Aku pikir-pikir dulu ya." "Kelamaan. Lusa mulai buka di depan rumah. Nanti aku yang pesan gerobak, dan segala macamnya, kamu fokus pada menu saja." "Ta-tapi, Sab." "Sudah jangan banyak tapi. Sekarang kita makan. Kamu harus makan yang banyak, supaya stamina kuat." "Aku tidak berselera. Rasanya seperti menelan duri." "Jangan pikirin badan sendiri, pikirin Yusuf. Kalau kamu sakit, anakmu dengan siapa!" Khodijah memaksakan diri, ia menyendok nasi dan memasukan ke mulutnya. Sambil berurai air mata ia mengunyah, terasa susah menelan namun tetap ia dipaksakan hingga makanan di piring hampir habis. *** Dua hari berlalu, Khodijah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Semua berkat dukungan dari sahabat yang selalu ada untuknya. Hari ini, merupakan hari perdana ia berjualan. Tetangga sekitar berdatangan untuk membeli. Mungkin mereka penasaran ingin mencicipi makanan khas timur tengah. Kakak kandung Khodijah yang bernama Khairunisa mengunjungi adiknya. Ia diberitahu oleh Khodijah, bahwa hari ini perdana pembukaan kedai nasi kebuli miliknya. Sebenarnya kakak kandung Khodijah ada dua orang, semua perempuan. Namun, karena kesibukan sebagai dokter, kakak nomor satu yang bernama Maryam tidak bisa datang. Kedua orang tua yang berada di luar kota tidak bisa hadir. Hanya terselip doa, semoga usaha putri mereka berjalan lancar. Ayahnya sedikit heran mengapa tiba-tiba sang putri ingin membuka usaha, karena setahunya, Khodijah hanya ingin menjadi ibu rumah tangga saja. Namun, Khodijah beralasan ingin membantu suaminya mencari rejeki, di samping itu ia juga bosan hanya berdiam diri di rumah. Ayah dan ibunya percaya, mereka merestui kegiatan baru Khodijah selama itu positif. Khodijah lulusan S1 Akuntansi. Ia pernah bekerja di perusahaan ternama, sebagai staf accounting selama dua tahun. Ia berhenti bekerja karena merasa tidak punya waktu untuk Fahri. Kesibukan di kantor, mengharuskan ia pulang malam hampir setiap hari. Ketika melahirkan Yusuf, ia memutuskan untuk resign. Keputusan itu disambut hangat oleh Fahri, dia berjanji akan mencukupi semua kebutuhan. Fahri merasa mampu membahagiakan Khodijah dan buah hati mereka, dengan jerih payahnya. Namun, janji tinggal janji. Belum juga mencapai kesuksesan, ia sudah berulah. Bermain Api dengan wanita lain bahkan menikah secara diam-diam di belakang Khodijah. Pukul dua siang, kedai milik Khodijah tutup. Alhamdulilah nasi kebuli dan samosa habis terjual. Rencananya besok ia akan menambah makanan lain, yaitu kebab. Sabrina dan Nisa membantu memasukan peralatan ke dalam rumah sementara Khodijah menyapu halaman yang kotor. Ketiganya duduk santai sembari menikmati secangkir teh setelah pekerjaan selesai. Saat tiba waktu ashar, semua bergegas salat berjamaah. selepas salat, ketiga wanita itu kembali mengobrol di sofa depan. Khodijah menggendong Yusuf yang sedang minum s**u formula menggunakan botol. "Hana, tumben Fahri pergi lama ke luar kota? Apa jangan-jangan dia punya istri lagi?" ledek Nisa. Ia dan seluruh keluarga memanggil Khodijah dengan nama tengahnya. Khodijah dan juga Sabrina terkejut. Mereka saling melirik satu sama lain. Dalam hati Khodijah bertanya, dari mana kakaknya bisa tahu perihal itu. "Mbak Nisa bicara apa?" Raut wajah Khodijah terlihat tegang, ia takut kakak perempuannya mengadu kepada Abi dan umi bila tahu Fahri berpoligami. "Hahaha ...mbak hanya bercanda saja. Mana mungkin Fahri melakukan itu? Dia kan sangat mencintaimu Hana, benarkan?" "I-iya. Itu Mbak Nisa tahu," sahut Khodijah. Lagi-lagi netra bulat itu melirik Sabrina yang duduk bersisian dengan Nisa. "Mbak bersyukur rumah tangga kalian baik-baik saja. Dalam biduk rumah tangga, tidak selalu mulus. Kerikil-kerikil tajam, pasti akan bermunculan, tapi kalau kamu dan Fahri membentengi diri, insya Allah semua akan terlalui." "Iya, Mbak Nisa." "Kalau nanti usahamu berjalan lancar dan sukses, jangan menomorduakan suami. Selalu utamakan melayaninya. Jangan karena alasan sibuk, atau banyak pembeli kamu jadi abai. Ingat, pelakor di luar banyak." Uhuk! Uhuk! Sabrina yang sedang menyeruput teh ter batuk-batuk mendengar Nisa menyebut kata pelakor. Andai ia tahu bahwa Khodijah dipoligami. Mbak Nisa, gimana kabar Bang Fatah? Lama Sabrina tidak pernah bertemu. Sepertinya Bang Fatah sibuk terus ya?"tanya Sabrina, mengalihkan pembicaraan. "Kabar abang, Alhamdulillah baik Sab. Iya, abang beberapa bulan ini sibuk. Selain mengajar di kampus ia juga mulai bisnis baru dengan teman sesama dosen," jawab Nisa. "Alhamdulillah. Semoga samawa terus ya Mbak." "Aamiin ya rabbal Al-Amin. Eh, mbak pulang dulu ya, sudah sore. Jam segini anak-anak sudah wajahnya pulang les." "Loh kok pulang Mbak? Nanti saja sih. Anak-anak kan sudah pada besar. Lagi pula ada pembantu di rumah, kita di sini dulu, Hana masih rindu." "Besok mbak ke sini lagi. Mbak janji, akan tiba lebih awal besok." "Ya udah deh kalau begitu. Jazakillaahu Khoiron, Mbak Nisa sudah mau menyempatkan datang." "Wajazakillahu khoiron, adik mbak yang tersayang." Nisa bangkit, ia memeluk Khodijah yang masih menggendong Yusuf. Ia juga mengecup kedua pipi adiknya dan juga Yusuf. Tak lupa Nisa pun memeluk Sabrina dan menjabat tangan. "Sab, Mbak Nisa pulang dulu ya. Kamu kapan ke pelaminan? Mumpung belum tiga puluh," ucapnya sambil mencubit hidung gadis itu. "Insya Allah, pangeran Arab sedang on the way kemari. Nanti kalau doi sudah melamar, Sabrina calling Mbak Nisa. "Aamiin ...." Nisa tersenyum lebar menanggapi candaan Sabrina. Usai berpamitan, ia meninggalkan rumah adiknya. Nisa mengendarai mobil Honda Brio berwarna merah, mobil itu merupakan kado istimewa dari sang suami beberapa bulan lalu saat ia berulang tahun. Di rumah menyisakan Sabrina dan Khodijah. Netra keduanya saling tatap tak sengaja, membuat kedua wanita itu tertawa bersamaan. "Dijah, sumpah tadi aku kaget banget. Aku pikir Mbak Nisa tahu soal Pernikahan si Fahri," ucap Sabrina. "Jantungku rasanya mau copot, Sab. Mati aku kalau sampai Mbak Nisa tahu. Kalau Mbak Nisa tahu, Abi dan Umi pasti akan tahu." "Tapi, lambat laun semua akan tahu Dijah. Serapat rapatnya kamu sembunyikan, pasti ada celah." "Aku tahu ...." Suara klakson mobil terdengar nyaring memasuki halaman depan rumah Khodijah. Mereka berdua saling tatap lalu Sabrina berbisik, "siapa?" "Sepertinya Mas Fahri. Semingguan lalu dia datang dengan mengendarai mobil sedan mewah berwarna hitam. Kita tunggu saja sampai ia mengucap salam." Benar dugaan Dijah, selang beberapa menit suara salam terdengar dari balik pintu rumahnya. "Assalamualaikum, Yusuf, Bunda. Ayah pulang nih!" Suara Fahri memanggil anak dan istrinya. Ia menenteng banyak paper bag di tangan kanan dan kiri, oleh-oleh dari Paris saat ia dan istri keduanya honeymoon. "Waalaikumsalam , " sahut Khodijah. Fahri mendorong pintu dengan lengan, karena terlihat tidak terlalu rapat tertutup usai Nisa keluar. Senyum mengambang terlihat jelas di wajah Fahri yang menghilang delapan hari lamannya. "Yusuf ...anak ayah," ujarnya ketika melihat Yusuf dalam gendongan Khodijah. Ia segera menghampiri, meletakkan paper bag di atas meja dan mengambil Yusuf dari gendongan. "Bun, kamu sehat?" tanya Fahri sambil mengecup pucuk kepala Khodijah. Ia tidak memperhatikan Sabrina yang sedang duduk di sofa. Saat ia berbalik badan, barulah ia menyadari bahwa ada orang lain selain istrinya. "Sabrina, apa kabar?" tanya Fahri sembari melayangkan senyuman hangat. "Alhamdulillah baik. Kamu kemana saja? Tiap aku ke sini gak pernah ada. Sibuk ya?" "Aku rasa kamu pasti sudah tahu soal pernikahanku dari Dijah. Aku baru pulang dari bulan madu. Aku sudah meminta izin kok sama Dijah, dan ia mengizinkan." "Izin di telepon?" sarkas Sabrina. "Aku baru saja tiba. Aku rindu anak dan istriku. Jadi aku mohon, jangan membahas itu dulu!" "Huft ... baiklah kalau begitu. Dijah, aku pulang ya. Besok aku ke sini lagi. Semangat Dijah, ingat jangan nadah." "Iya Sab, terima kasih banyak ya," ucapnya. "Maksud kamu apa ya Sab? Jangan coba-coba mempengaruhi istriku." "Tenang Fahri. Jangan panik. Aku bukan teman yang jahat. Assalamualaikum." Sabrina pamit pulang, meninggalkan pasangan suami istri itu berdua. Sambil menggendong Yusuf, Fahri bertanya kepada istrinya. "Kenapa kamu ceritakan masalah rumah tangga kita kepada orang lain. Meskipun Sabrina orang terdekat kita, bukan berarti ia bebas mengetahui semua privasi kita!" "Rencana berapa lama Mas di rumah? Gundikmu memberi izin berapa hari?" Khodijah menjawab pertanyaan Fahri dengan balas bertanya. "Khodijah. Kenapa sih, kamu selalu menyulut pertikaian. Apa salah mas pulang ke rumahku sendiri? Salah, bila mas berduaan dengan istri sahku!" "Tanyakan itu pada hatimu. Aku lelah, aku mau mandi. Titip Yusuf!" Khodijah berlalu meninggalkan Fahri dengan Yusuf. Ia ingin mandi dan beristirahat sejenak di kamar. Sepeninggal Khodijah, Fahri mengajak Yusuf bermain. Mendudukkan anaknya di sofa lalu membuka paper bag besar yang berisi mainan untuk anak itu. Sejam lamanya Fahri bermain dengan Yusuf di ruang depan, Khodijah belum juga keluar dari kamar. Fahri menggendong Yusuf, menyusul Khodijah ke kamar. Ia melihat istrinya sedang terbaring di ranjang sambil berurai air mata. Ia mendekat perlahan, menaruh Yusuf di kasur. Anak itu langsung mendekat, mencium wajah bunda yang sedang menangis. "Yah, nda ngis," ucap anak itu polos. Yusuf membelai rambut bunda dengan tangan mungilnya, ia juga berulang kali menciumi wajah Khodijah. "Kamu kenapa lagi, Sayang? Suami pulang bukannya disambut, malah begini. Aku harus gimana supaya kamu bisa bersikap seperti biasa?" "Semua tidak akan sama Mas. Tidak akan pernah sama selama Mas masih bersama pelakor itu," lirih Khodijah. "Mau sampaikan kapan kamu meributkan hal ini? Cobalah untuk menerima takdir yang sudah ditetapkan Allah." "Takdir katamu, Mas!" Khodijah duduk menghadap Fahri. Ia tersenyum getir setelahnya. "Semua ini ketetapan Allah, Dijah. Aku, kamu dan Mbak Jen ditakdirkan untuk bersama. Cobalah lebih mengenalnya, nanti Mas ajak dia kemari." "Jangan pernah melakukan itu. Jangan coba-coba membawa gundikmu ke rumah kita!" "Dijah!" Bentak Fahri. Yusuf langsung memeluk Khodijah ketika mendengar Fahri berteriak. "Sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku mohon, jangan bahas itu ya. Mas pulang karena merindukan kalian berdua. Mas mandi dulu, selepas magrib kita jalan-jalan dan makan di luar. Fahri beranjak dari ranjang, ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD