Suara adzan magrib berkumandang, Khodijah segera mengambil wudhu. Ada yang aneh, biasanya Fahri akan langsung bergegas ke masjid ketika mendengar suara adzan. Namun, kali ini tidak. Pria itu justru sibuk bermain dengan Yusuf di ranjang.
"Mas. Kamu tidak ke masjid?" tanya Khodijah.
"Aku salat di rumah saja. Aku letih."
"Tumben. Selama tiga tahun hidup seatap, ini kali pertama Mas melewatkan salat berjamaah di masjid. Apa semua ini pengaruh gundikmu?"
"Jangan mulai Dijah!" bentak Fahri.
"Terserah deh!"
Khodijah menggelar sajadah, ia memakai mukena dan duduk di sajadah menunggu adzan selesai. Ia berdoa di penghujung adzan, meminta Allah memberi jalan terbaik untuk rumah tangganya.
Ketika adzan berhenti, ia langsung menunaikan salat magrib, dilanjutkan dengan salatt sunah dua rakaat ba'da magrib.
Khodijah beranjak dari duduknya, ia hendak mengambil Al-Qur'an di lemari, dia melihat suaminya tertidur. Khodijah seperti melihat orang asing. Selama ini Fahri tidak pernah tidur ba'da ashar, apalagi magrib.
Astaghfirullah hal azim. Aku seperti tidak mengenalimu, Mas.
Ia melangkah mendekat, membungkuk dan memegang paha Fahri yang berbalut celana jumping. "Mas ... Mas. Bangun Mas, kenapa malah tidur."
"Hmm ...sebentar saja. Mas ngantuk berat. Lima menit saja, habis ini Mas salat."
Subhanallah, kamu benar-benar berubah. Di mana Mas Fahri yang kukenal dulu. Aku mohon kembali lah, Mas.
Khodijah mengambil Al-Qur'an terjemahan. Ia melantunkan surah Al-Baqarah dari ayat 1- 286. Ada ayat yang sesuai dengan keadaannya saat ini. Juz 2, ayat 155 - 157, arti dari ayat tersebut sesuai dengan apa yang sedang ia alami. Khodijah segera beristighfar , memohon ampunan kepada Allah. Ia akan menerima cobaan ini dengan hati lapang. Semoga ke depannya, ia bisa ikhlas.
Sebelum meneruskan membaca, ia menoleh ke ranjang. Fahri sama sekali tidak mengingat salat. Yusuf duduk di atas kepala ayahnya sembari menjambak rambut, mencium, dan mengusap wajah ayahnya. Namun, tetap saja Fahri tidak membuka mata.
Khodijah kembali menghampiri Fahri. Memanggil dan mengguncang pelan lengan suaminya. Karena tidak juga bangun, Khodijah mencubit lengan itu kuat hingga Fahri merasakan sakit dan berteriak.
"Sakit loh! teriak Fahri.
"Salat Mas. Maghrib sudah mau selesai."
"Ish ...iya!" Fahri dengan terpaksa bangkit dari ranjang. Ia masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Khodijah yang masih duduk di tepian ranjang mencium Yusuf.
"Yusuf sayang. Bunda selesaikan ngaji dulu ya, habis itu baru kita makan."
"Iya, Nda."
Khodijah meneruskan membaca Alquran hingga selesai, sedangkan Fahri melanjutkan tidur usai menunaikan salat. Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Khodijah menuju dapur menyiapkan makan malam untuk Yusuf.
Ia menyuapi Yusuf sampai anak itu menolak makanan karena kenyang. Selepas itu, ia menaruh Yusuf di kereta bayi. Ia sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan untuk jualan besok.
Khodijah malas memasak, dia memesan makanan lewat aplikasi. Sebelum Fahri ketahuan berpoligami, selepas magrib ia langsung antusias ke dapur untuk memasak makan malam.
Apa kurangnya dia memanjakan suami. Dari mulai membuka mata hingga Fahri tidur, semua dilayani Khodijah. Semua dilakukan dengan bahagia, ikhlas lillahi taala. Namun sekarang berbeda, Khodijah tidak menomor satukan Fahri lagi.
Ia hanya akan menjalani biduk rumah tangga hanya karena Yusuf. Khodijah tidak mau anaknya tumbuh tanpa orang tua yang utuh. Ia ingin yusuf seperti anak-anak lainnya, sebisa mungkin ia akan mencoba menerima poligami ini. Namun, menerima poligami bukan ia harus dekat dengan madunya.
Khodijah tidak mau dipertemukan dengan Jennifer. Biarlah ia dan madunya mempunyai privasi masing-masing tanpa harus saling dekat satu sama lain.
Yusuf tertidur di kereta dorong. Melihat wajah anaknya yang tengah tertidur memberi kekuatan pada Khodijah. Ia segera menyelesaikan pekerjaan, menggendong Yusuf dan membawa ke kamar.
Fahri masih tertidur lelap, ia melupakan janji yang akan mengajak istri dan anaknya makan di luar. Melanggar ucapan sendiri menjadi kebiasaan baru bagi Fahri sekarang.
Khodijah hanya bisa menghela napas kesal. Ia keluar kamar dan kembali ke dapur untuk makan malam. Setelah itu ia bergelut dengan bahan masakan untuk jualan besok pagi.
Bau khas rempah-rempah seperti kapulaga, cengkeh, bunga Lawang dan lainnya menguar di indera penciuman. Sekarang, ia sudah lebih percaya diri untuk berjualan besok. Beda dengan pagi tadi, ia merasa malu dan takut.
Saat sedang membuat samosa, Fahri datang menghampiri. Pria itu belum sepenuhnya sadar, masih terasa di awang-awang. Ia duduk di kursi bersebrangan dengan Khodijah.
"Sayang, kenapa tidak membangunkan mas. Aku kan janji akan mengajak kalian berdua makan di luar, sekalian kita jalan-jalan.
Khodijah berdecak kesal mendengar pertanyaan Fahri. Ia hanya menanggapi dengan senyum simpul.
"Dijah, ditanya suami kenapa tidak dijawab!"
"Mau jawab apa, Mas?"
"Kamu tidak suka aku pulang? Oh, iya, di depan ada gerobak. Siapa yang berjualan di depan rumah kita?"
"Aku."
"Apa. Kamu jualan apa? Memangnya uang belanja yang mas kasih kurang?"
"Aku hanya berjaga-jaga, Mas."
"Jaga-jaga apa?"
"Jaga-jaga jadi janda!"
Brakk!
Fahri menggebrak meja. " Kenapa kamu selalu menyulut pertikaian Dijah. Aku masih suamimu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikanmu, Dijah!"
"Iya. Taruhlah Mas tidak akan menceraikanku. Tapi, bagaimana bila gundikmu meminta kita bercerai, apa Mas masih tetap mempertahankan rumah tangga kita atau sebaliknya? Secara gundikmu itu yang menghidupi, Mas!"
"Jaga bicaramu Dijah. Atau aku tampar mulutmu itu!" bentak Fahri.
"Silahkan!"
Ditantang Khodijah membuat Fahri melunak. Ia menuangkan air dari ceret ke dalam gelas lalu meminumnya, supaya emosi mereda.
"Kenapa sulit sekali berkomunikasi denganmu Dijah. Setiap kata yang aku ucapkan selalu kamu sanggah. Tidak bisakah kau hanya mengiyakan apa yang mas katakan. Masa harus selalu bertikai terus, Dijah."
"Mas mau aku kembali seperti dulu?"
"Iya ...."
"Ceraikan gundikmu sekarang juga. Maka detik itu aku akan kembali seperti dulu. Aku akan melupakan penghianatan yang Mas lakukan. Tidak akan mengungkit secuil pun. Bisa?"
"Pembicaraan ini memang tidak ada titik temunya. Lebih baik aku tidur!"
Fahri berdiri dengan gerakan kasar, mengakibatkan kursi yang ia duduki terjungkal ke belakang. Selepas Fahri pergi, Khodijah menghentikan kegiatannya. Sejak mereka berdebat, Sekuat tenaga ia menahan supaya cairan bening tidak keluar, tapi saat Fahri pergi ia tak bisa menahannya lagi.
Cairan bening itu menetes membahasi permukaan wajahnya yang cantik. Sakit, itu sudah pasti. Wanita yang diam diam dimadu pasti akan terluka, apa lagi saat suami yang dicintai mengatakan bahwa dia mencintai wanita lain.
Rasanya seperti hancur seluruh badan. Rasa sakit ketika melahirkan Yusuf, dirasa Khodijah lebih ringan ketimbang sakit dimadu.
Ingin rasanya ia menyudahi rumah tangga ini, namun bayangan Yusuf melintas. Bayangan anak itu akan tumbuh tanpa sosok ayah, membuat Khodijah harus mengalah.
Semoga aku kuat ya Allah, tapi ...bila seandainya aku menyerah, aku mohon, ridho-Mu ya Rabb ....