Bab 10 ( Cara Fabio part 1 )

1015 Words
Nadia masuk setelah dia mengetuk pintu dan Nadia melihat Fabio sedang duduk di kursinya dengan Selena berada di sebelahnya, kelihatannya mereka sedang membahas sesuatu. “Selena, tolong kamu pergi ke perusahaan yang aku maksud dan selesaikan semuanya. Oh ya! Jangan lupa dengan tugas yang tadi aku berikan sama kamu. Kamu paham, kan?” “Iya, Pak, saya akan selesaikan semuanya.” Selena mengambil beberapa berkas dan dan tasnya kemudian dia berjalan melewati Nadia keluar dari ruangannya Fabio. Nadia berjalan perlahan mendekat ke arah meja Fabio dan menyerahkan map yang di bawanya. “Ini laporan yang Bapak minta, saya sudah menyelesaikan semuanya.” Fabio mengambil map itu dan memeriksanya dengan teliti, Nadia masih berdiri di depan meja Fabio. Sesekali mata pria itu melirik ke arah Nadia yang berdiri dengan menundukkan kepalanya.,Mungkin bagi Nadia lebih baik dia menunduk saja daripada harus melihat pria yang ada di depannya. Tidak lama Nadia merasakan jika pria di depannya itu berjalan mendekat ke arahnya dan dengan gerakan cepat Nadia mengangkat kepalanya melihat Fabio sudah ada di dekatnya. “Laporan kamu sudah benar. Nadia, apa benar kamu kurang enak badan? Apa kamu sakit?” “Saya tidak apa-apa, Pak. Kalau sudah tidak ada hal yang lainnya, saya permisi dulu.” “Tunggu!” serunya tegas. Nadia kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Fabio. “Apa ada hal lainnya, Pak?” “Aku tau kamu pasti belum makan siang tadi karena aku memanggil kamu pada saat jam makan siang. Itu ada makan siang milikku yang di belikan oleh Selena, kamu makan saja dulu di sini.” Tangan Fabio menunjuk ke arah meja di ruang tamu mini yang ada di dalam ruangannya. Nadia melihat ke arah meja dan benar di sana ada beberapa lunch box yang bentuknya sangat cantik sepertinya makanan itu pesan dari sebuah restoran. Nadia yang sebenarnya memang kelaparan hanya bisa menelan salivanya pelan. “Tidak perlu, Pak. Terima kasih.” Nadia berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan Fabio. Lagi-lagi pria itu hanya bisa mengelap mukanya kasar melihat sikap keras kepala Nadia. Sarah yang melihat Nadia keluar dengan wajah kesalnya segera menghampiri Nadia. “Nad, kamu dimarahi sama si bos galak itu?” Nadia menggeleng pelan. “Lalu kenapa? Apa laporan kamu ada yang salah?” tanya Sarah sekali lagi. “Palingan kamu di marahi sama Pak Fabio, kamu saja yang tidak mau jujur,” celetuk Tania. “Tidak ada apa-apa, aku hanya kesal saja sama diriku sendiri yang tidak bisa mengerjakan tugasku dengan cepat sehingga masih ada sedikit kekurangan.” Sekali lagi Nadia berbohong. “Wajar saja kalau soal itu, Nadia. Kamu itu hanya manusia biasa, bukan robot, lagian kepindahan pak Danu juga sangat cepat jadi wajar kamu harus bekerja dengan hati-hati dan teliti. Kita tau siapa kamu dan cara kerja kamu yang memang sangat baik. Sudah! Jangan dipikirkan, nanti kamu tambah sakit.” Keadaan kantor mulai sepi karena para karyawan sudah beberapa ada yang pulang. Sama seperti kemarin, Nadia menunggu teman-temannya pulang semua karena dia tidak mau berdesakan di pintu lift, aslinya dia ingin melepas sepatunya dan berjalan tanpa alas seperti kemarin, dan supaya tidak ada yang melihatnya. “Semua sudah pulang, dan beberapa pekerjaan aku aku bawa pulang saja.” Nadia melihat ke arah ruangan pria dari masa lalunya. “Apa dia juga sudah pulang? Aku tidak mau bertemu dengan dia lagi di depan lift.” Nadia melepas kedua sepatunya dan menentengnya dengan susah karena dia juga membawa beberapa map dan tas kerjanya. Nadia berjalan ke dapan pintu lift khusus karyawan dengan cemas karena tidak mau sampai bebarengan dengan Fabio. “Lama sekali, sih!” gerutunya kesal. “Perutku juga berbunyi lagi karena lapar,” tambahnya lagi. Karena kebanyakan gerak akhirnya map dan tas yang di bawa oleh Nadia terjatuh berserahkan di lantai. Nadia berjongkok dan mengambili satu persatu mapnya dan tasnya. Tidak lama gerakan wanita itu berheti saat melihat ada sepasang sepatu tepa di depannya. “Kamu belum pulang Nadia?” suara itu Nadia sangat mengenalinya. Nadia mengangkat kepalanya melihat siapa yang sedang bertanya padanya walaupun dia sudah tau. “Ini mau pulang, Pak, tapi masih menunggu lift.” Pria itu kemudian ikut berjongkok dan membantu Nadia memunguti barang-barang yang terjatuh. “Kenapa tidak memakai lift yang satunya?” Sekarang mereka berdua sudah berdiri. “Maaf, saya tau di mana posisi saya, dan lift satunya itu dikhususkan hanya untuk Pak Fabio dan kepala divisi lainnya, saya tidak mau lancang.” Nadia mengambil map yang di bawa oleh Fabio dan kembali berdiri di depan pintu liftnya. “Terima kasih sudah membantu saya.” Sekali lagi Nadia menunjukkan wajah tegasnya. Fabio hanya berdiri melihati wanita yang masih sangat dia cintai dan ingin sekali mendapatkan maaf darinya. Tidak lama terdengar bunyi aneh dari perut Nadia yang memang sudah sangat keroncongan dari tadi siang. Nadia berusaha menyembunyikannya dengan menutup perutnya dengan map dan tetap fokus tidak melihat ke arah Fabio. “Nadia, kamu ikut saya.” Tiba-tiba tangan pria itu menarik tangan Nadia dan menyeretnya agak kasar menuju ruangannya. “Pak, Anda mau apa?” Nadia tampak gelagapan karena tiba-tiba tangannya diseret seperti itu. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan direktur utama dan terdengar suara pintu di kunci. “Pak Fabio mau apa? Dan kenapa pintunya Pak Fabio kunci?” Kedua mata Nadia membulat sempurna. “Aku ingin kamu duduk dan menghabiskan makanan di meja itu baru kamu bisa pulang.” “Menghabiskan makanan?” Nadia melihat ke arah meja yang ada di sampingnya dan di sana masih ada lunch box yang tadi siang dan terlihat belum di sentuh sama sekali. “Saya tidak mau! Lagian saya bisa makan di rumah.” “Kamu dari siang belum makan, Nadia, dan tadi aku juga mendengar suara perut kamu, kalau kamu menunggu sampai rumah akan lebih lama karena di jalan jam segini masih macet-macetnya arus lalu lintas.” “Itu bukan urusan Anda, Pak. Sekarang tolong bukakan pintu karena saya mau pulang, di rumah ada yang sedang menunggu saya.” Nadia agak terkejut setelah mengatakan hal itu, dia hampir saja keceplosan mengatakan tentang putrinya yang menunggunya. “Ada yang menunggu kamu? Siapa? Kekasih kamu?” Kedua alis tebal Fabio mengkerut menunggu jawaban Nadia.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD