Bab 11 ( Cara Fabio part 2 )

1028 Words
“Tentu saja kekasih saya, saya ada janji makan malam dengannya.” Nadia terpaksa berbohong, mungkin dengan begitu Fabio tidak akan mencari masalah lagi dengan dirinya. “Apa? Kekasih?” Fabio dengan cepat mencegkeram lengan tangan Nadia dan menatapnya dengan tatapan tajam, jarak merekapun sangat dekat. “Lepaskan tangan saya, Pak. Pak Fabio menyakiti lengan tangan saya.” Nadia mencoba melepaskan tangannya dari Fabio. “Apa kamu lupa jika kamu masih menjadi seorang istri? Kenapa kamu malah memiliki seorang kekasih?” tanyanya dengan nada tegas. Nadia malah memberikan senyum devilnya pada Fabio. “Istir? Saya bukan istri dari siapapun, saya wanita single yang berhak memilki hubungan dengan siapapun.” “Cukup, Nadia! Kamu jangan menyangkal lagi siapa diri kamu. Aku menikahi kamu beberapa tahun yang lalu dan sampai sekarang kamu masih menjadi istriku,” tekan Fabio. “Pak Fabio pasti menikah dengan orang lain, tapi bukan dengan saya.” Nadia menghentakkan tangannya dan akhirnya terlepas walaupun beberap map di tangannya kembali terjatuh.  Nadia kembali berjongkok untuk mengambil barang-barangnya. Nadia mencoba menahan air matanya yang ingin sekali keluar. “Pak, tolong bukakan pintunya karena saya mau pulang.” Fabio tidak memperdulikan ucapan Nadia. Pria itu malah berjalan dan duduk dengan santai di atas sofa di mana ada lunch box yang akhirnya dibuka oleh Fabio. “Makan dulu makanan ini bersama denganku, baru aku akan membukakan pintu untuk kamu,” titahnya santai. Nadia benar-benar dibuat kesal dan marah sekarang oleh ulah Fabio yang seolah main perintah seenaknya. Nadia tetap berdiri di tempatnya dan Fabio juga duduk santai melihat ke arah Nadia. Beberapa menit kemudian Nadia melihat ke arah jam di dinding ruangan Fabio. Dia belum di rumah jam segini, dan bi Ima yang ditugaskan menjaga Nafa sudah waktunya pulang, biasanya kalau Nadia pulang terlambat dia akan memberitahu bi Ima. “Makan, lalu aku biarkan kamu pulang,” sekali lagi ucao Fabio santai. Nadia akhirnya mengalah dan dia duduk di sofa kecil beda sofa dengan Fabio. Tampak terlukis senyum kemenangan dari sudut bibir Fabio.  Nadia mengambil sedikit makanan itu dan mulai memakannya dengan terpaksa. Fabio masih fokus melihat wanita cantik yang ada di depannya. “Makan yang banyak, aku tidak kebertan kamu menghabiskan semuanya.” “Tidak. Terima kasih,” ucapnya ketus. Nadia kembali melihat jam di tangannya dan dia tampak gelisah. Fabio yang melihat hal itu agak kesal. Apa benar wanita yang masih istrinya ini sedang ada janji dengan kekasihnya? “Saya sudah selesai, Pak. Sekarang tolong bukakan pintunya karena saya mau pulang.” “Kenapa tidak dihabiskan?” “Huft! Saya sudah menuruti perintah Pak Fabio, jadi tolong tepati janji Pak Fabio.” Nadia berdiri dari tempatnya dan membawa beberapa barang-barangnya menunggu Fabio membukakan pintu. Pria itu beranjak dari tempatnya dan segera membukakan pintu untuk Nadia. Nadia dengan cepat berjalan keluar dan berlari kecil menuju pintu lift. Nadia menekan tombol turun. Saat pintu lift terbuka Nadia berlari masuk dan ... si pria yang Nadia benci sekarang juga ikut masuk ke dalam lift. “Pak, kenapa Anda juga masuk ke lift ini?” Fabio menatap Nadia yang melihnya keheranan. “Memangnya aku tidak boleh masuk ke dalam lift ini? Perusahaan ini milikku, Nadia, jadi aku berhak berada ruangan mana yang aku inginkan di sini.” Nadia langsung terdiam mendengar penjelasan Fabio. Nadia lagi-lagi melihat ke arah jam tangannya dengan gelisah. Pun dengan Fabio, dia juga sekali lagi melihat kegelisahan Nadia yang dari tadi melihat ke arah jam tanganya. “Kenapa terasa lama sekali lift ini?” gerutunya pelan. “Apa kamu takut kekasih kamu akan marah karena kamu datang terlambat? Kalau dia tidak sabaran, lebih baik kamu putuskan saja dia,” celetuk Fabio dan Nadia tidak memperdulikan ucapan Fabio. Nadia masih tampak gelisah saja. Fabio merasa teramat kesal melihat sikap Nadia. Tidak lama pintu lift terbuka dan terdengar suara ponsel Nadia berdering, Nadia segera merogok saku blazernya dan melihat nama bi Ima pada layar ponselnya. “Halo, iya, aku sebebtar lagi sampai rumah, maaf tidak memberitahu jika hari ini ada pekerjaan tambahan,” ucapnya lirih karena dia tidak mau Fabio yang juga keluar bersamanya mendengar ucapan Nadia. Nadia berjalan menuju tempat parkir dan Fabio yang mendengar percakapan Nadia tadi seolah darahnya mendidih dia dengan segera menarik sekali lagi tangan Nadia sehingga tubuh Nadia menabrak tubuh Fabio dengan agak keras. “Aku sudah ingatkan kamu tentang siapa diri kamu, Nadia! Kamu masih menjadi istriku dan tidak seharusnya kamu berkencan dengan pria lain,” nada bicara Fabio benar-benar terdengar marah dan ditekankan. “Lepaskan! Pak Fabio tidak ada hak atas diri saya!” Tatap Nadia tajam. Fabio yang sudah diliputi rasa cemburu dengan cepat memeluk pinggang Nadia dan tangan satunya memegang tengkuk Nadia. Ciuman kasar itupun akhirnya terjadi. Fabio mencium bibir Nadia dengan agak kasar dan memaksa. “Le-pas-kan!” Nadia berusaha berontak sampai map dan tas yang di bawanya sekali lagi terjatuh berserahkan. Kebetulan juga di area parkir itu sedang sepi dan penjaga yang bejaga sedang keluar.  Fabio yang sudah puas meluapkan emosinya dengan melepaskan ciumannya pada Nadia. Wanita cantik itu mendorong tubuh Fabio dengan kasar dan mencoba mengatur napasnya. “Itu untuk mengingatkan kamu akan siapa diri kamu, Nadia. Kamu masih menjadi milikku, bahkan sampai saat ini,” tekan Fabio. “Aku membenci kamu, Fabio, bahkan sekarang aku lebih membenci kamu! Kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku, dan aku bukan milik kamu!” seru Nadia dengan air mata menetes pada pipinya. Fabio tau jika perbuataannya kali ini malah akan membuat wanita yang ingin dia dapatkan lagi akan tambah sulit, tapi hatinya merasa sangat lega, dia ingin membuktikan jika dirinya masih berhak atas wanita yang masih menjadi istrinya itu. Fabio pergi dari sana dengan wajah antara puas dan kesal. Nadia memunguti barang-barangnya dan segera masuk ke dalam mobilnya, dia terlihat begitu kesal, Nadia menangis sejadi-jadinya di dalam mobilnya dengan menyandarkan kepalanya pada stir mobilnya. “Kenapa dia melakukan hal ini padaku? Aku bukan miliknya lagi dan aku tidak akan mau menjadi miliknya lagi.” Setelah beberapa menit Nadia menangis di salam mobil dia kembali teringat akan Nafa di rumah, Nadia segera menghapus air matanya dan menjalankan mobilnya keluar dari area parkir gedung kantornya. Tidak lama Nadia sampai di teras rumahnya dan segera memasukkan mobilnya dan turun dengan cepat ingin bertemu dengan putrinya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD