“Ibu, kenapa Ibu baru pulang?” tanya Gadis kecil yang duduk di ruang tamu dengan pensil warna di tangannya. Nadia tidak menjawab dia malah langsung menghampiri putrinya dan memeluknya dengan sangat erat. “Ibu kenapa?” tanya gadis kecil itu sekalia lagi.
Bi Ima yang melihatnya tampak bingung melihat sikap Nadia yang sepertinya sedang ada masalah, apalagi dia juga melihat kedua mata Nadia yang agak sembab. “Nadia, sebaiknya kamu berganti baju dulu dan bersih-bersih, aku akan di sini sebentar menunggu Nafa,” ucap Bi Ima.
Wanita paruh baya itu sudah bekerja lama dengan Nadia. Bi Ima juga lah yang selama ini membantu Nadia mengurus Nafa. Bi Ima bekerja di rumah Nadia tidak full, beliau akan pulang ke rumah jika Nadia sudah pulang bekerja karena di rumah Bi Ima juga memiliki keluarga dan dua orang putri yang sudah dewasa.
Nadia melepaskan pelukannya pada Nafa. “Ibu menangis? Siapa yang membuat Ibu menangis dan kenapa dia membuat Ibu menangis?”
“Ibu tidak menangis, Sayang.” Nadia mengusap air matanya. “Ibu hanya merasa bersalah karena pulang terlambat dan tidak memberitahu Bi Ima. Maafkan ibu, ya?”
“Tidak apa-apa, aku tidak marah, Ibu tidak perlu menangis.” Tangan kecil itu mengusap pipi ibunya dengan lembut.
“Bi Ima boleh pulang kok, aku sudah bisa menjaga Nafa?”
“Kamu yakin tidak apa-apa bibi tinggal pulang?” tanya wanita paruh baya melihat wajah Nadia yang dia yakin pasti Nadia sedang ada masalah.
“Iya, Bi.” Nadia mengangguk dan wanita paruh baya itu izin pulang dari rumah Nadia.
Nafa menyuruh ibunya untuk berganti baju dan bersih-bersih dan Nafa tidak takut sendirian di ruang tamu. Nadia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan dirinya. Di bawah guyuran air Nadia teringat kembali bagaimana tadi Fabio menciumanya dengan sangat kasar, Nadia sampai membersihkan bibirnya yang sudah dikecup kasar oleh Fabio. “Aku benar-benar membenci kamu, Fabio. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu walaupun kamu bersujud di bawah kakiku.” Nadia kembali menangis dan teringat akan masa lalunya dulu bersama Fabio.
Malam setelah pernikahan mereka, Fabio dengan sangat lembutnya memperlakukan Nadia di malam pertama mereka. Fabio mengecupinya dengan sangat lembut dan Nadia merasakan cinta yang begitu dalam dari pria yang telah menjadi suaminya.
“Aku tidak tau kenapa aku bisa jatuh cinta secepat ini sama kamu, Nadia. Kamu benar-benar berbeda dengan wanita yang pernah dekat denganku,” ucap Fabio yang tepat berada di atas tubuh Nadia.
“Aku juga mencintai kamu, Fabio. Entah mengapa aku juga merasakan hal berbeda sama kamu. Apa kamu berjanji tidak akan menyakitiku, Fabio?” Tangan wanita cantik yang berada dalam satu selimut dengan Fabio mengusap lembut rahang tegas suaminya.
“Aku tidak akan pernah menyakiti kamu. Jika aku menyakiti kamu, biar Tuhan nanti yang akan menghukumku dengan begitu menyakitkan.”
Telunjuk Nadia menempel pada bibir Fabio dan kepala Nadia menggeleng perlahan. “Jangan katakan hal itu. Aku mungkin juga tidak akan bisa melihat kamu menderita.” Kemudian kedua tangan wanita di bawah tubuh Fabio itu menangkup wajah dan mengecup perlahan bibir suaminya.
Kenangan masa lalu itu pun coba Nadia lupakan. Sekarang Nadia menemani putrinya belajar di ruang tamu seperti biasanya. Nafa melihati Ibunya terus dari tadi karena masih melihat mata sembab ibunya. “Ibu benar tidak apa-apa?” tanya gadis kecil itu.
“Ibu tidak apa-apa, Sayang, tadi ibu kan sudah bercerita sama kamu kenapa ibu menangis. Oh ya! Bagaimana tadi prakarya kamu? Apa ibu guru kamu tidak mengatakan apa-apa?”
“Tadi bu guru tanya sama aku, Bu. Kenapa bukan foto ayahku yang di taruh di sana? Aku sudah jelaskan, jika semua foto ayahku sudah tidak di simpan oleh Ibuku karena Ibuku akan merasa bersedih setiap mengingat ayahku dan aku tidak mau melihat ibuku bersedih. Sepertinya Bu guru tau jadi tidak menanyakannya kembali.”
“Nanti biar Ibu yang akan menjelaskan sama guru kamu sayang?” Nadia mengusap perlahan pucuk kepala putrinya.
“Ibu bagaimana tadi sepatu Ibu? Apa tidak ada masalah lagi?”
“Ya Ampun! Ibu sampai lupa. Terima kasih ya anak ibu yang cantik sudah mengingatkan Ibu tentang hal itu, ibu mau memperbaiki sepatu ibu. Kamu tunggu di sini sebentar, teruskan belajar kamu ya sayang.” Nadia beranjak dari tempatnya dan mencari sepatunya, dia juga mencari gergaji kecil untuk memotong satu lagi hak sepatunya. Pada saat memotong, tidak sengaja jari telunjuk Nadia terkena dan mengeluarkan darah, Nadia agak kesakitan karena jarinya berdarah. Dia kembali ke ruang tamu dan mencari plester untuk jarinya.
“Ibu kenapa?”
“Ibu tadi tidak sengaja jarinya terkena gergaji kecil yang ibu gunakan untuk memotong hak sepatu agar patah dan tangan Ibu tidak sengaja terluka.”
“Apa tidak sakit, Bu? Ibu kenapa tidak hati-hati? Nanti beli saja sepatu baru pakai uang tabunganku, Bu. Daripada Ibu kenapa-napa.”
Nadia sekali lagi tersenyum mendengar ucapan manis putri kecilnya. “Kamu jangan khawatir pada ibu, ibu baik-baik saja. Sudah! Kita kembali mengerjakan tugas kamu, mulai besok ibu tidak akan kebingungan dengan sepatu milik ibu karena sudah bisa digunakan.”
“Ibuku memang hebat.” Nafa memberi kecupan pada ibunya dan mereka kembali menyelesaikan pekerjaan rumah Nafa. Nadia juga menyelesaikan tugas kantor yang dibawanya.
Kegiatan berjalan seperti biasanya. Nadia berangkat ke sekolah mengantar Nafa dan dia kali ini sengaja berangkat agak pagi karena ingin bertemu dengan guru kelas Nafa dan ingin menjelaskan tentang prakarya kemarin.
Nadia memberitahu pada guru kelas Nafa kenapa dia tidak memasang foto ayah kandung Nafa karena semua foto-foto dan kenangan tentang ayah Nafa memang sudah tidak ada. Sejak Nafa masih di dalam kandungan dia sudah ditinggal oleh ayahnya. Nadia memilih untuk pergi ke tempat baru di mana tidak ada yang mengenalinya dan dia bisa hidup tenang dengan Nafa. Nadia juga akhirnya berbohong dengan mengatakan jika beberapa bulan yang lalu Nadia mendengar kabar kematian ayah Nafa.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa mengerti dengan apa yang sedang Ibu alami. Nafa gadis yang pintar di sekolah dan saya lihat dia sangat menyayangi Ibu Nadia.”
“Iya, Nafa gadis yang sangat baik dan kuat. Dia harta berharga satu-satunya yang saya miliki di dunia ini. Terima kasih Bu Guru mau mengerti akan hal ini.”
“Iya, Ibu Nadia tidak perlu khawatir."