Di rumah, Kalvi selalu memikirkan kedekatan Migy dan Andre. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan saat ini, di satu sisi mereka baru menjalani hubungan romantis. Memikirkan hal itu, Kalvi ingin sekali mengatakan kepada Andre bahwa saat ini dia cemburu!
“Ahhh. Kenapa sih sulit sekali mendapatkan seluruh hati Migy?” kata Kalvi bergumam kesal.
Sambil mondar-mandir, Kalvi memikirkan rencana dan liburan romantis untuk Migy. Sekaligus ini adalah tahap pertama untuk mendekatkan perasaan mereka.
Dengan tidak sabar Kalvi menghubungi Peter untuk menanyakan rekomendasi tempat kencan favorit yang cocok untuk dikunjungi.
“Halo,” jawab Peter di seberang telepon.
“Peter, lo di mana?” tanya Kalvi.
“Gue di rumah, kenapa bro?”
Kalvi duduk di samping balkon kamarnya, “Gini, gue mau nanya. Lo punya tempat rekomendasi buat tempat kencan, gak?”
“Wuiih, mau kencan nih?” goda Peter menertawakan.
“Iya, gue pusing mau ajak jalan Migy ke mana.”
“Mmm. Ajak ke tempat rekreasi aja, atau gak main ke puncak juga asik tuh.”
“Mmm, oke. Baiklah, makasih bro,” kata Kalvi sambil menutup telepon.
Sementara itu di rumah Migy, ia baru saja menanti kedatangan Neneknya. Setelah mendapat kabar dari pamannya, Migy bersiap-siap menunggu di ruang keluarga.
Tig tog!
Bunyi bel di depan menandakan ada seseorang yang akan berkunjung. Migy bangkit dan berjalan menuju pintu.
“Nenek!” Migy bersorak senang melihat kedatangan Neneknya.
“Sayang, gimana? Kangen sama Nenek?” kata Nenek sambil memeluk Migy.
“Iya. Nenek jangan pergi lagi, Migy nggak mau ditinggal sendiri,” jelas Migy masih memeluk Neneknya.
“Sudah, sudah. Ayo kita masuk dulu, nenek lumayan lelah seharian di jalan,” kata Nenek sambil menepuk-nepuk punggung Migy.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, namun tiba-tiba mata Migy menangkap seseorang yang berada di belakangnya. Seorang remaja laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya.
“Nek, dia siapa?” tunjuk Migy pada lelaki tersebut.
Nenek menoleh ke samping, lalu tersenyum.
“Migy, dia adalah Nathan. Dia akan tinggal bersama kita di sini mulai sekarang,” jelas Nenek.
Migy menatap bingung pada ucapan Nenek, “Memangnya dia siapa Nek. Kenapa tinggal bersama kita?” tanya Migy lagi.
Nenek diam saja dan terus berjalan masuk, sambil mengajak Nathan masuk.
“Nathan, ayo masuk,” ajak Nenek.
Nathan mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Nenek dari belakang.
Sedangkan Migy, ia terus memperhatikan sosok lelaki gagah itu. Dari pandangan Migy, Nathan adalah sosok lelaki yang ganteng, berwibawa, dan jangan lupakan tatapan matanya yang seperti elang pemangsa, sangat tajam dan seksi.
Tiba-tiba otak Migy kacau, rasanya saat ini ia mulai terpesona pada tatapan Nathan yang sangat keren menurutnya. Bahkan, mendengar suara Nathan pertama kali saja, Migy dibuat berdebar.
“Migy, kok kamu masih berdiri di situ?” suara Nenek mengejutkan Migy, sehingga ia merasa langsung tersadar atas apa yang baru saja dipikirkannya.
“Ehh, iya Nek!” kata Migy bergegas berlari kecil ke tempat Nenek.
Rupanya hal tersebut, disadari oleh Nathan. Ia tahu jika Migy dari awal memusatkan pandangan padanya, namun ia hanya berpura-pura tidak menyadarinya.
“Migy, sekarang Nathan akan menjadi penjagamu di sekolah dan di mana pun.” Nenek menatap Migy dengan serius.
“Kenapa Nek?” tanya Migy bingung.
Dan lagi-lagi tatapannya bersirobok dengan pandangan Nathan. Entah kenapa Migy dibuat salah tingkah tak menentu jika berhadapan dengan lelaki itu.
“Nenek mau membicarakan sesuatu padamu. Sekarang, kamu bantu Nathan untuk menunjukkan kamar yang akan ditempatinya,” kata Nenek.
“Baik Nek.”
“Nathan, ayo aku antar kamu ke kamar kamu,” kata Migy lalu berdiri.
Nathan pun bersiap untuk mengikuti Migy. Ia membawa koper dan tas sandang punggung di tangannya.
Migy menunjukkan sebuah kamar yang berada di lantai atas. Kamar tersebut berada di bagian ujung yang berdekatan dengan kamar Migy.
“Ini kamar buat kamu, ya. Aku ke bawah dulu,” kata Migy membuka pintu kamar untuk Nathan.
“Iya.” Nathan kemudian masuk begitu saja.
Migy lumayan heran melihat gaya Nathan yang lumayan dingin. Tidak menunjukkan kehangatan sama sekali dari caranya berbicara.
Seharusnya Migy mendapat ucapan terima kasih, atau sekedar senyuman basa-basi. Tetapi, ya sudah lah!
Migy kembali berjalan ke ruang keluarga. Ia ingin mendengarkan sesuatu dari Nenek.
“Nenek mau mengatakan apa?” kata Migy mengambil jarak dekat dengan Nenek.
“Migy. Sebenarnya Nenek mau bertanya sesuatu padamu. Apa benar, kamu saat ini berpacaran dengan teman sekolahmu?” kata Nenek dengan serius.
Migy terkejut, dari mana Nenek mengetahui hal tersebut.
“Nenek tahu dari mana?” tanya Migy memastikan.
Nenek menghela napas sambil bersandar pada kursi.
“Sebelum Nenek pergi ke luar negeri, Nenek menempatkan salah satu orang kepercayaan untuk mengikutimu. Dia mengatakan jika kamu sering berangkat dan pergi ke sekolah berdua dengan pacarmu,” jelas Nenek.
Migy tidak bisa berkata-kata lagi. bagaimana pun, ia telah ketahuan berpacaran, dan ia tidak bisa menutupinya karena bukti yang sudah ada.
“Iya, Nek.” Migy berkata sambil menunduk.
Nenek mengelus punggung Migy, lalu memberikan nasihat kepadanya, “Migy, Nenek bukannya mau melarang kamu berteman dengan siapa pun. Namun, untuk berpacaran, Nenek kurang menyukainya,” kata Nenek berusaha tenang.
“Tapi, kenapa Nek?”
“Sayang, Nenek tahu kamu baru mengenal yang namanya jatuh cinta. Tapi, Nenek telah mengetahui latar belakang teman laki-lakimu sebelumnya. Dia itu kurang baik untukmu, nak.Dari laporan yang Nenek terima, dia sering berkencan dengan banyak perempuan, dan bahkan dia sering mempermainkan perasaan mereka.”
“Nenek Cuma tidak ingin kamu terbawa oleh pengaruh buruk. Nenek hanya ingin kamu terus fokus sama cita-cita dan sekolahmu ke depannya,” jelas Nenek dengan tatapan lembut.
Migy hanya diam mendengarkan nasihat Nenek. Ia tidak bisa membantah ucapan Nenek, karena sejatinya Kalvi memang lelaki b******k sebelum terlibat hubungan dengannya.
“Tapi dia sudah berubah Nek. Katanya, dia akan menjadi lelaki baik untuk Migy, dan akan menjaga Migy.”
Nenek menggeleng lemah, “Sayang, jika laki-laki pernah mempermainkan perempuan dan senang berkecan dengan siapa pun, maka dia tidak akan bisa berubah, nak. Yakin dan percayalah sama Nenek, yang dia katakan padamu itu hanya janji manis sementara. “
Migy mulai kembali memikirkan mengenai Kalvi yang pergi bersama Megan saat itu. Bahkan, ia belum sempat bertanya kepada Kalvi mengenai kebohongannya yang mengatakan pergi bersama Peter.
“Baiklah Nek. Migy akan mempertimbangkan lagi,” jelas Migy berusaha tersenyum.
“Migy, mulai sekarang kamu akan selalu bersama Nathan, kapan pun kamu pergi. Nenek telah menugaskan dia untuk menjagamu.”
“Tapi Nathan kan seumuran dengan Migy, Nek?” kata Migy.
Nenek tersenyum lembut, “Sayang, Nathan itu lebih tua dari kamu. Ia sudah berumur dua puluh tahun,” kata Nenek memberi tahu.
Migy mengangguk paham.
Di sisi lain, Nathan telah selesai merapikan pakaiannya dan berbaring sejenak di ranjang. Sambil berbaring, ia mengingat ucapan ayahnya sebelum mengikuti Nenek Umaya ke sini.
“Nathan, ayah harap kamu bisa menjaga amanah ayah. Jangan lakukan kesalahan apa pun, cobalah untuk menjaga cucu perempuan Nenek Umaya. Kita telah banyak dibantu oleh Nenek Umaya, maka dari itu, ayah ingin kamu membantunya untuk saat ini.”
Ucapan ayahnya kembali menghantui kepala Nathan. Dari yang ia lihat, gadis yang bernama Migy itu lumayan baik dan penurut. Dan ia juga berharap, semoga tugasnya kali ini berjalan baik dan lancar.