mulai nyaman

1172 Words
Dua hari kemudian, Kalvi telah diperbolehkan untuk kembali ke sekolah. Ia sudah terlihat agak lebih segar dari biasanya. Jangan lupakan potongan rambut terbarunya, yang sangat cool banget. Saat di sekolah, Migy menemui Kalvi yang sedang duduk bersama dengan Peter di koridor sekolah. Dengan berjalan pelan, Migy mencoba untuk tampil senatural mungkin di hadapan sang kekasih. Belum mencapai tempat duduk Kalvi, Migy sudah berdebar-debar tak karuan. “Hei, itu bukannya cewek lo, Kalv?” tunjuk Peter dengan arahan matanya. Kalvi menoleh. “Wah, gue kangen berat sama doi. Dua hari ini gue nggak bisa ketemu sama dia.” Kalvi mencoba untuk tersenyum menyambut Migy. Ketika Migy telah berada di depannya. Kalvi menarik tangan Migy untuk duduk di sampingnya. “Migy, kamu dari mana?” tanya Kalvi. “Hai,aku baru tiba. Aku tadi diantar sama supir. Nenek kebetulan lagi Malaysia, jadi aku diminta untuk diantar sama supir,” kata Migy menjelaskan. Kalvi memperhatikan Migy dengan tersenyum. Semakin hari, Migy terlihat semakin cantik dan bersinar di mata Kalvi. Senyumannya mampu mengobati lara di hati Kalvi yang sudah kangen berat kepada Migy. “Hmm. Nanti kamu juga dijemput?” tanya Kalvi. Migy mengangguk. “Iya. Aku akan diantar jemput hingga nenek pulang. Jadi, maaf ya Kalvi, aku tidak bisa menjemputmu dulu untuk sekarang.” “Oke. Tidak masalah. Aku juga sudah bisa bawa motor lagi. gimana kalau aku yang antar kamu pulang nanti, kamu hubungi dulu supirnya, bilang pulang sama teman,” kata Kalvi. Mendengar hal tersebut, Migy mencoba untuk memikirkan sejenak. Ia tidak ingin jika nanti nenek akan salah paham setelah diberitahu kalau ia melanggar perintah. Tapi, melihat tawaran Kalvi tidak mungkin ia menolak. Lagian saat ini mereka baru merasakan dunia pacaran. “Hmm. Ya sudah. Nanti aku coba hubungi orang rumah. Kalau sudah dapat izin, aku akan kasih tahu kamu. Oke” kata Migy tersenyum. “Oke. Ya sudah, kalau gitu aku sama Peter mau ke kelas dulu, ya? Soalnya masih ada tugas yang belum aku kerjakan ketika libur.” “Oke.” Mereka kembali ke kelas masing-masing. Kebetulan waktu sudah menunjukkan pertukaran jam pelajaran kedua, jadi Migy juga akan mulai belajar lagi. Sepulang sekolah, Migy akhirnya mendapat izin untuk pulang bersama Kalvi, setelah meminta izin kepada bibi Ina. “Hai, kita pulang sekarang, ya?” kata Kalvi yang telah menunggu di parkiran motor. Migy tampak tersenyum malu-malu menjawab ucapan kalvi. Entah kenapa melihat Kalvi tersenyum kepadanya, mendadak jantungnya jumpalitan tak tentu arah. Ada apa ini? Ia bertanya kepada dirinya sendiri. Kalvi yang melihat pacarnya yang salah tingkah, mulai mendekati. Ia memasangkan helm kepada Migy yang masih terdiam malu-malu menatapnya. Sedangkan Migy, dalam hatinya ia merasa sangat canggung. Rasanya ia ingin terbang terbawa suasana melihat perhatian kecil yang diberikan oleh Kalvi kepadanya. Selama ini ia memang kurang perhatian dan kasih sayang dari sosok ayah, jadi sekecil apapun perhatian yang diberikan kalvi kepadanya, itu akan membuatnya bahagia. “Ayo, kita pulang. Kamu kok bengong gitu sih?” kata Kalvi mencubit dagu Migy gemas. Migy terkejut. “Eh. Iya, iya. Aku jadi melamun. Maaf,” Migy tergagap menjawab ajakan Kalvi segera pulang. “Lagian kamu itu kenapa harus bengong begitu,” kata Kalvi sambil memegang tangan Migy dan membimbingnya ke motor. Migy hanya diam, tanpa mau berusaha menjawab alasan ia bengong. Karena itu tidak mungkin ia katakan karena dirinya terpesona akan perhatian dari Kalvi terhadapnya. Di perjalanan, Migy tidak tahu harus membicarakan apa dengan Kalvi, jadi ia mencoba untuk mengingat kenangan beberapa minggu yang lalu waktu mereka di puncak. Saat itu ia terpukau akan puisi yang dibacakan oleh Kalvi, dan kebetulan makna puisi tersebut menyentuh hatinya. “Kalvi,” kata Migy memanggil. Kalvi menoleh ke samping. “Iya, kenapa?” “Aku mau tanya, kamu suka berpuisi?” tanya Migy di sela-sela perjalanan pulang mereka. “Kalau suka sih, enggak. Tapi kalau membacakan aku bisa, kenapa?” kata Kalvi menoleh ke kaca spion untuk melihat Migy. “Aku suka, gimana kalau kamu buatkan satu puisi untuk aku lagi. Kamu mau, nggak?” tanya Migy berusaha tersenyum lembut. Kalvi tersenyum melihat wajah Migy yang tampak imut di matanya. Wajah putih berseri diterpa matahari akan sedikit membayang merah merona. Kadar cinta kalvi menjadi bertambah berkali-kali lipat untuk selalu bersama Migy. “Aku sih bisa. Tapi, apa kamu sanggup memberikan imbalannya?” goda Kalvi. Migy mulai bingung. “Imbalan apa? Masa harus pakai imbalan segala,” kata Migy sambil mencubit pinggang Kalvi. “Aduuuh! Apaan tuh? Sakit loh, Migy.” Kalvi menggosok pinggangnya yang lumayan perih akibat cubitan Migy. “Kamu sih, makanya jangan pelit.” Kalvi hanya tertawa melihat wajah Migy yang berubah masam. Ia sengaja membuat Migy kesal, karena dengan begitu Migy akan memperlihatkan sisi dirinya yang sebenarnya. Bukan sebagai cewek pemalu yang mudah termakan rayuan saja. “Migy, kita berhenti sebentar yuk? Aku mau membeli minuman, haus nih.” Kalvi mengarahkan motornya ke kafe di seberang jalan. “Ya sudah. Aku juga haus,” kata Migy menyetujui. Saat mereka memesan minuman, mendadak Kalvi bertingkah memalukan. Ia berjalan ke hadapan Migy sambil memutar soundtrack film Aladin. Kemudian ia memegang tangan Migy sambil mengatakan. “Migy, aku mau bernyanyi satu lagu buat kamu. Jadi, izinkan aku menyanyikannya, oke?” kata Kalvi. “Hah! Kamu mau nyanyi? Di sini?” Migy kaget luar bisa karena posisi mereka berada di meja kasir yang dikelilingi oleh banyak tamu toko. “Iya. Aku nyanyi sekarang. Kamu diam saja.” Sontak hal tersebut membuat Migy malu luar biasa. Apalagi saat para pengunjung kafe tersebut menatap ke arah mereka dengan senyum menggoda. Mungkin mereka berpikir jika saat ini mereka sedang menunjukkan keromantisan pasangan muda. Tetapi, ketika suara nyanyian Kalvi terdengar, perasaan Migy terharu. Suara Kalvi yang luar biasa indah membuatnya tidak bisa menahan kebahagiaanya. Apakah ini adalah trik playboy yang sering digunakannya untuk menaklukkan hati cewek-cewek yang disukainya dulu? Sedangkan Kalvi, ia memang berniat membuat Migy tersentuh akan kehadirannya. Bahkan, ia bertekad akan memperlihatkan masa-masa indah saat berpacaran kepada Migy. Karena dengan begitu, Migy akan membuka diri kepadanya. Prok! Prok! Suara tepukan tangan dari para pengunjung membuat lamunan Migy tersadar kembali. Semua orang menatap penuh kagum kepada Kalvi, ia telah berhasil menyelesaikan lagunya dengan baik dan sempurna. Bahkan, nada tarikan tinggi ia nyanyikan dengan baik sekali. Sedangkan Migy tidak sadar jika tangannya masih digenggam oleh Kalvi saat bernyanyi. Karena saking menikmati suara Kalvi, ia melupakan rasa malunya. Tetapi, ketika semua mata menatap padanya. Mendadak kepala Migy terasa berat untuk sekedar menoleh saja. Ia benar-benar malu hingga ingin sekali rasanya ia melarikan diri saat itu juga. “Sayang, kamu jangan malu dong.” Kalvi menangkap rasa malu dari tatapan mata Migy. “Ya sudah. Terima kasih semuanya, kami berdua pamit dulu,” kata Kalvi menarik pelan tangan Migy sambil merapatkan kepala Migy ke bahunya. “Terima kasih.” Migy bersuara. Kalvi berhenti. Ia menatap wajah Migy, tetapi setelah itu matanya membulat. Ada sesuatu yang telah ia lupakan. “Kenapa?” tanya Migy. “Aduh, aku melupakan pesanan minum kita. Sebentar, aku ambil dulu.” Migy menggelengkan kepala melihat kecerobohan pacarnya. Tetapi, dalam hatinya yang terdalam ia merasakan kebahagian dan kesenangan yang teramat luar biasa baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD