Arti Cinta

1134 Words
Rupanya, Kalvi tidak langsung mengantar Migy pulang ke rumah. Ia sengaja membawa Migy ke rumahnya, dan tidak berniat mengatakan terlebih dahulu. “Kalvi, ini bukannya jalan ke rumah kamu?” kata Migy menepuk punggung Kalvi dari belakang. “Iya. Kita mampir sebentar, kan nenek kamu juga gak ada di rumah. Ngapain sendirian, mendingan bareng aku.” “Tapi… kan. Ah Kalvi. Tahu gini, aku harus kasih kabar ke rumah dulu.” “Sudah, gak usah dipikirin. Bentar lagi aku anterin pulang, oke?” kata Kalvi sambil memberhentikan motornya di depan rumah. Migy turun perlahan, merasa tidak nyaman. Rasanya saat ini ia akan kembali terjebak dalam kondisi yang sama seperti terakhir kali ke sini. “Ayo, masuk. Kok kamu selalu melamun gini sih?” ajak Kalvi sambil menarik tangan Migy mengikuti langkahnya. Migy hanya mengikuti Kalvi dari belakang, sambil berharap akan cepat kembali pulang. Entah kenapa jika sudah berduaan dengan Kalvi, tingkat kewaspadaan Migy meningkat. Ia takut jika sifat m***m Kalvi akan kambuh jika di hadapkan pada suasana yang menguntungkan. Di dalam rumah, Bibi Ina sedang menyiapkan hidangan makan siang. Ia sekilas menyapa Migy lewat senyuman ramah. “Migy, aku ganti baju sebentar, ya? Kamu mau ikut atau di sini saja?” tanya Kalvi. Migy terdiam canggung. “Aku di sini saja. Kamu sana, ganti baju dulu.” Kalvi pergi ke lantai atas dengan berlari, sedangkan Migy berjalan mendekati Bibi Ina di meja makan. “Bibi masak apa?” tanya Migy sambil berbasa-basi. “Eh, Migy. Ini Bibi masak makan kesukaan Kalvi. Dia biasanya paling suka dimasakin semur ayam sama perkedel kentang,” Bibi Ina mengisi segelas air minum untuk Migy. “Makasih Bi,” kata Migy menerima satu gelas air minum. “Sini, duduk. Migy pasti lapar kan? Bibi juga membuat puding, Migy mau mencobanya?” tawar Bibi Ina. Migy tersenyum sambil mengangguk malu-malu. Dari mana Bibi Ina tahu ia menyukai pudding? Apakah Kalvi mencari tahu apa saja yang menjadi menu kesukaannya? “Migy jangan bingung. Bibi tahu dari Kalvi, jika Migy menyukai pudding,” jelas Bibi Ina menjawab kebingungan di raut wajah Migy. Migy mengangguk paham. Dalam hati, ia berpikir jika Kalvi sangat mengerti apa saja yang menyangkut dirinya. Tetapi, apakah Kalvi memang benar-benar mencintainya seperti yang ia harapkan. Hal itu masih menjadi tanya besar dalam pikiran Migy, mengingat Kalvi yang awalnya selalu menjahilinya. Saat ini yang Migy takutkan adalah, Kalvi hanya sengaja mendapatkan hatinya lalu meninggalkannya begitu saja. Setelah sepuluh menit menunggu, Kalvi turun dari kamarnya. Cowok itu telah segar seperti selesai mandi. Aroma shampoo dan sabun menyeruak di indera penciuman Migy. “Hei, kamu makan apa?” tanya Kalvi menatap mangkuk kosong di tangan Migy. “Ini, aku barusan makan pudding buatan Bibi. Kamu tahu dari mana, jika aku menyukai puding?” Kalvi menggeser kursi untuk didudukinya. Lalu mengambil piring. “Aku tahu dari Lia. Kemarin aku sempat bertanya tentang apa saja yang kamu suka dari dia,” jelas Kalvi menatap Migy tersenyum. Selesai makan siang, Kalvi mengajak Migy main ke taman belakang rumahnya. Di sana ada sebuah ayunan yang terletak di samping kolam renang. Kalvi duduk di atas ayunan sambil mengambil satu komik di bawah meja ayunan. “Sini duduk bareng aku. Biasanya aku kalau sendirian gini, sering habisin waktu membaca komik,” kata Kalvi meraih tangan Migy duduk di sampingnya. Migy pun duduk di samping Kalvi, ia tidak menyangka seorang mantan m***m bisa berdiam diri di rumah. Padahal, Migy mengira jika Kalvi adalah tipe-tipe cowok yang senang memberi gombalan kepada cewek-cewek di luar rumah. “Kamu gak suka main atau ikut ngumpul bareng teman-teman kamu, begitu?” tanya Migy ragu-ragu. “Gak, palingan aku main sesekali ke rumah Peter, atau dia yang main ke sini.” Kalvi terus membaca komik kesukaannya. Sedangkan Migy tidak tahu harus melakukan kegiatan apa lagi. Diam-diam Migy melirik wajah Kalvi yang berjarak tiga jengkal dari sampingnya. Wajah Kalvi sangat ganteng, kulitnya halus dan putih. Jika diperhatikan lagi, sekilas Kalvi mirip dengan pemain After, Hero Fiennes Tiffin. Oh, astaga! Apa yang telah Migy pikirkan. Bisa-bisanya saat ini ia membayangkan wajah Kalvi mirip dengan aktor populer itu. “Kenapa kamu melirik aku terus?” suara Kalvi mengejutkan khayalan Migy, tanpa menoleh kepadanya. Migy berdebar gugup. Ia ketahuan memperhatikan wajah Kalvi sedari tadi. Mendadak wajahnya terasa panas, kegugupan mulai melandanya. “Jangan malu, Migy. Kamu bebas mau memperhatikan aku sebanyak yang kamu mau. Karena, aku ini adalah milikmu,” kata Kalvi lagi. Kali ini Kalvi menutup komik bacaannya. Ia meletakkan komik tersebut ke meja dan mengubah posisi duduknya berhadapan dengan Migy. Sambil menggenggam tangan Migy, Kalvi menatap wajah kekasih cantiknya itu dengan lembut. Rasa sayang dan menagagumi muncul dari pandangan Kalvi terhadap Migy. “Migy, kamu boleh meragukan kesungguhan aku. Tapi, hanya satu yang aku minta dari kamu. Jangan anggap aku mempermainkan hatimu dengan menjadikanmu pacarku saat ini,” kata Kalvi dengan sungguh-sungguh. Migy tersentak. Ia tidak menyangka Kalvi bisa membaca pikirannya selama ini. Apakah raut wajahnya mudah terbaca, sehingga Kalvi dengan mudahnya menebak jalan pikirnya? “Aku hanya belum bisa mempercayai hubungan dadakan ini, Kalvi. Jujur saja aku merasa kamu adalah tipe cowok yang paling digemari remaja seusia kita. Tapi, entah kenapa kamu mau berubah dan meninggalkan semua kebiasaanmu hanya demi aku.” “Maaf, aku masih sedikit keliru,” kata Migy dengan sejujurnya. Kalvi bisa memahami pikiran Migy terhadapnya. Memang selama ini dirinya adalah cowok terburuk selama di sekolah. Dia memang mengencani teman wanita sesuka hatinya. Tetapi, itu hanya sebatas huru-hara yang juga disetujui oleh teman kencannya. “Tidak apa-apa. Aku juga tahu bagaimana diriku yang selama ini. Mungkin kamu melihat cara aku di sekolah, dan teman wanita yang aku kencani.” “Tapi, untuk saat ini dan seterusnya, aku akan pastikan jika aku tidak akan melakukan hal b***t itu lagi. Jika hubungan kita berlanjut, aku pasti akan setia sama kamu,” ujar Kalvi meyakinkan Migy. Migy bisa melihat ada kesungguhan dari ucapan Kalvi kepadanya. Walau masih sedikit rasa ragu mengganjal dalam lubuk hatinya, namun Migy akan berusaha mempercayai ucapan Kalvi. “Hmm, ya sudah. Sekarang sudah jam tiga. Kamu mau pulang sekarang?” tanya Kalvi sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Migy melihat sekeliling, sambil mengangguk. “Oke. Aku juga mau istirahat. Dan kebetulan juga banyak tugas yang harus aku selesaikan,” kata Migy sambil menyandang tasnya ke punggung. Kalvi berjalan ke rumah untuk mengambil jaket dan kunci motornya. Setelah itu ia mengantarkan Migy pulang. Di perjalanan, keduanya hanya diam sambil menikmati laju kendaraan yang tidak begitu kencang. Kalvi sengaja memelankan kecepatan motornya untuk menikmati waktu dengan Migy. Sedangkan Migy, ia hanya memperhatikan jalanan yang tidak terlalu ramai. Namun, udaranya cukup membuat sejuk. Angin yang berhembus, menerpa kulit wajahnya. Perlahan perasaan nyaman mengalir ke dalam hatinya. Seindah inikah rasanya berpacaran. Walau hanya menaiki motor berdua, meluangkan waktu dengan makan bersama, berbagi canda ceria. Hanya sesederhana itu, namun maknanya cukup terasa hingga membuat hati bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD