Hati yang Bimbang

1080 Words
Di dalam kelas, Migy langsung ditarik oleh Lia ke temat duduknya. “Migy, sini sebentar deh. Aku mau bertanya sesuatu,” kata Lia sambil menduduki kursi di samping. “Tanya apa?” Lia melihat ke sekeliling, lalu berbicara pelan pada Migy. “Jadi gini, kemarin aku keluar sama Adik aku. Gak sengaja, lihat Kalvi sama seorang cewek.” Lia memandang Migy dengan serius. “Terus?” kata Migy yang sempat heran. Sebenarnya, Lia tidak ingin mengatakan ini kepada Migy, tetapi ia juga tidak bisa menutupi apa yang dilihatnya kemarin bersama adiknya di Mall. “Aku lihat Kalvi barengan sama seorang cewek di Mall. Terus, pas aku mencoba untuk mengikuti dari belakang, dia pergi ke sebuah toko perhiasan.” “Kamu, tahu gak? Dia memilihkan sepasang gelang pasangan sama cewek itu,” jelas Lia antusias. Migy yang mendengar penjelasan Lia hanya tersenyum. Walau sempat merasa curiga dengan Kalvi, namun ia tahu jika gelang yang di maksud oleh Lia adalah gelang yang diberikan Kalvi kepadanya, yang sebagai hadiah untuknya. “Kamu tahu siapa cewek itu?” tanya Migy. Lia tampak berpikir, berusaha untuk mengingat wajah cewek yang jalan bersama Kalvi kemarin. Setelah ingat, rupanya cewek itu adalah siswi kelas 11 di jurusan IPS. “Aku pernah lihat dia di kelas sebelas IPS. Coba aja nanti kita cari tahu.” “Tapi, apa kamu gak salah lihat mereka hanya jalan berdua? Atau ada seseorang lagi yang bersama mereka, gitu?” kata Migy penasaran. “Gak, aku Cuma lihat mereka berdua saja.” Migy mulai berpikir. Padahal sebelumnya Kalvi mengatakan jika kemarin ia jalan berdua dengan Peter ke Mall, tapi Lia malah melihat Kalvi jalan sama seorang cewek. Migy tak tahu mana yang benar dari cerita Kalvi dan Lia. Tetapi, Migy tidak terlalu mengkhawatirkan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hati, ia hanya menganggap hubungannya bersama Kalvi hanya sebatas hubungan teman dekat saja. Rasanya, saat ini Migy tidak bisa langsung mempercayakan hatinya untuk mencintai Kalvi. Mengingat, Kalvi yang sebelumnya adalah tipe cowok yang mudah dan senang kencan. Jadi, ia tidak bisa percaya begitu saja pada kata-kata manis Kalvi. “Ya sudah, aku sih gak masalah. Yang penting sekarang kita harus memikirkan ujian kelulusan aja. Aku udah gak sabar mau melanjutkan pendidikan aku, Lia.” Migy kembali semangat untuk memulai pelajaran. Di sisi lain, Kalvi yang berada di parkiran terlihat sangat gelisah. Di mana, baru saja ia mendapat pesan dari Megan, bahwa ia meminta Kalvi untuk menemaninya ke Mall lagi. Sebelumnya, Kalvi telah berbohong kepada Migy, mengatakan jika ia pergi ke Mall bersama Peter kemarin. Namun, kenyataanya dia diminta oleh Peter menemani adiknya. Karena kemarin Peter tiba-tiba mendapat pekerjaan dari ayahnya untuk pergi menemani sang ayah ke luar kota. Sedangkan saat itu, Megan sedang memerlukan bantuan Peter untuk membeli peralatan praktek untuk sekolahnya. Dan kebetulan Kalvi sedang berada di rumah Peter saat itu. Jadilah ia yang pergi mengantarkan. Di satu sisi, Kalvi ingin menolak permintaan Megan kepadanya. Namun, mengingat Megan adalah adik dari sahabatnya, Kalvi merasa berat hati untuk menolak. Tetapi, mengingat saat ini ia baru menjalani hubungan baik dengan Migy, Kalvi jadi enggan untuk pergi berdua saja dengan Megan. Ia takut jika Migy akan mengetahui hal itu, dan menuduh dirinya berselingkuh. “Hei, kenapa loh? Kusut amat tuh muka,” kata Andre yang tiba-tiba datang memarkirkan motornya. “Eh, gak. Dari mana, bro?” kata Kalvi berusaha ramah. Maklum, selama ini ia jarang berteman dekat, kecuali hanya bersama Peter saja. Sedangkan Andre ini adalah teman satu kelasnya, tapi sekaligus saingan cintanya. Andre adalah wakil ketua osis di sekolahnya. Posisinya berada di bawah Migy. Namun, dari yang Kalvi ketahui, Andre memang menyukai Migy dari kelas 10 hingga sekarang. “Mm. Ini, tadi gue beli keperluan untuk praktek kimia. Belum masuk ke kelas?” kata Andre mencoba untuk akrab. “Belum, ini baru mau masuk.” Kalvi meletakkan ponselnya ke dalam jok motor. “Ya sudah, gue duluan ya, bro.” Andre meninggalkan Kalvi di parkiran. Kemudian Kalvi pun pergi ke kelasnya. Ia mengabaikan pesan yang dikirim oleh Megan kepadanya. Percuma untuk menolak dengan alasan apa pun, nyatanya Megan akan tetap memaksa. Saat jam istirahat berbunyi, semua murid mulai meninggalkan kelas masing-masing. Mereka menikmati waktu bersantap makan di kantin sekolah. Sebagian ada yang pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas atau sekedar membaca buku. Tetapi, bagi Migy yang selama ini selalu menikmati waktu istirahat di perpustakaan, mendadak ia berganti pilihan. Saat ini Migy lebih memilih untuk berdiam di dalam kelas bersama Lia dan Lois. Ia tidak ingin melakukan kegiatan apa pun untuk saat ini. Pikirannya masih teringat pada ucapan Lia tadi pagi. Namun sekuat Migy melupakannya, rasa curiga dan penasaran terus mengacaukan pikirannya. “Migy, kamu kenapa gak ke perpus?” kata Lois yang duduk di atas meja di hadapan Migy. Migy memperbaiki posisi duduknya, “Aku lagi pengen di kelas dulu,” jelas Migy tak bersemangat. Sedangkan Lia memberikan kode kedipan mata kepada Lois, berharap Lois untuk tidak banyak bertanya. Namun, Lois malah tidak mengerti kode mata yang diberikan oleh Lia. Ia semakin gencar bertanya kepada Migy. “Migy, kamu beneran mau jadian sama Kalvi? Apa kamu percaya sama dia begitu saja, kan kamu tahu dia itu gimana,” kata Lois tanpa bersalah. Migy yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya menghela napas. Ia juga merasa terlalu cepat menganggap Kalvi benar-benar serius bersamanya. Jika dipikir ulang, masih banyak yang menyayangkan Migy menerima Kalvi sebagai pacarnya. “Aku gak tahu, Lois. Entahlah, mungkin aku lagi mabuk kali.” Migy merebahkan kepalanya ke punggung Kalvi. Dari dulu, Lia dan Lois selalu ada untuknya. Mereka selalu menceritakan apa pun secara terbuka. “Apa kamu benar-benar yakin mau bersama dia?” tanya Lia menambahkan. Tiba-tiba Migy menatap Lia dan Lois bersamaan. Ia merasa kedua sahabatnya kurang menyetujui hubungannya dengan Kalvi berjalan. “Kalian kenapa sih? Aku kok mikirnya, kalian kurang setuju,” kata Migy menuding Lia dan Lois. “Kita sih Cuma kasih saran aja, Migy. Takutnya nanti kamu menyesal, kita kan semua sudah tahu jika kamu baru pertama kali berpacaran.” “Dan kita juga gak ingin kamu mengalami pengalaman cinta yang buruk untuk pertama kali,” jelas Lois dengan wajah serius. Perlahan perasaan Migy menghangat mendengar rasa khawatir dari kedua sahabatnya. “Ya, aku tahu apa yang kalian takutkan. Tapi tenang saja, aku gak bakal kenapa-napa, oke?” kata Miy meyakinkan. Sedangkan Lia dan Lois saling berpandangan. Mereka berdua kurang yakin dengan ucapan Migy, sedangkan selama ini Migy adalah tipe cewek pemilih dalam menempatkan hatinya. Walau ini terlalu cepat untuk Migy memutuskan menerima Kalvi, tapi mereka juga takut Migy dipermainkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD