Sepulang sekolah, Migy diminta oleh kepala sekolah untuk mengumpulkan seluruh anggota osis. Rencananya, mereka akan mengadakan perlombaan akhir tahun ajaran di sekolah.
Sementara itu, Kalvi yang sedang menunggu Migy di depan kelas diberitahu Migy untuk pulang lebih duhu.
“Kalvi, aku ada rapat osis dulu. Kamu pulang saja duluan,” kata Migy memberi tahu.
“Kamu nanti pulang bareng siapa? Apa aku tunggu di sini aja, sampai kamu selesai rapat?” kata Kalvi memastikan.
Migy merasa tidak enak hati membiarkan Kalvi harus menunggu dirinya sendirian. Sementara, rapat osis biasanya akan berlangsung satu hingga dua jam.
“Mmm. Kamu pulang aja duluan. Nanti aku bisa pulang sendiri kok.”
“Kamu gak apa-apa? benaran?” tanya Kalvi sambil meyakinkan Migy.
Migy mengangguk yakin. “Iya, sudah sana pulang. Aku mau kumpulin anggota osis yang lain,” kata Migy tersenyum.
Kalvi pun membiarkan Migy pergi, dan ia berjalan ke parkiran motor. Di parkiran, rupanya Megan telah menunggunya duduk di motor.
“Megan?” kata Kalvi heran.
Megan yang dipanggil menoleh ke arah Kalvi, “Hai, kak.” Megan tersenyum malu-malu.
“Kamu ngapain di motor aku?” tanya Kalvi sambil melihat ke sekeliling.
“Kan.... Kakak lupa? Tadi siang aku sudah kirim pesan, kalau aku minta Kakak anterin aku ke Mall,” kata Megan berpura-pura merajuk.
Kalvi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya Kalvi ingin menolak permintaan Megan, namun ia tidak enak juga kepada Peter.
Sementara Peter masih izin sekolah karena pergi menemani ayahnya ke luar kota. Sambil berpikir sejenak, Kalvi mengatakan, “Kakak anterin saja, tapi setelah itu kamu pulang sendiri.” Kalvi tidak ingin berduaan dengan Megan, ia takut jika ada yang melihat.
Tetapi Megan terlihat tidak terima jika Kalvi hanya mengantarkan saja. Ia ingin menikmati jalan-jalan bersama Kalvi, dan sekalian ingin menunjukkan ke teman-temannya bahwa ia bisa mendekati Kalvi, si cowok keren di sekolah itu.
“Tapi, aku sudah minta izin sama Kakak Peter jika kita pergi bersama. Apa Kakak tega membiarkan aku jalan sendirian di Mall? Kan aku gak punya teman,” kata Megan dengan raut sedih.
Kalvi tidak tega melihat wajah Megan berubah sedih. Terpaksa Kalvi mengalah demi membuat adik sahabatnya senang kembali.
“Ya sudah, tapi aku gak bisa lama-lama. Kamu beli apa saja keperluanmu, dan setelah itu aku antar pulang.” Kalvi mengambil helm dan memberikan kepada Megan.
Namun, Megan tetap diam menunggu Kalvi memperhatikannya lagi.
“Apa lagi?” tanya Kalvi yang telah selesai memasang helmnya.
Megan menyodorkan helm di tangannya ke Kalvi, “Kakak pasangin,” kata Megan manja.
Kalvi menghela napas jengah, dan segera memasangkan helm itu ke kepala Megan.
Rupanya interaksi keduanya tidak sengaja dilihat oleh Lois. dimana saat itu, Lois ingin ke parkiran untuk mengambil motornya, dan tidak sengaja mendengar percakapan Megan dan Kalvi.
Diam-diam, Lois memperhatikan mereka dari jarak jauh. Ia sengaja menguping di balik pagar pembatas parkiran.
Setelah melihat motor Kalvi pergi menjauh, Lois pun bergegas mengambil motornya dan mengejar laju motor Kalvi dari belakang.
Dalam hati, Lois tidak ingin menyiakan kesempatan untuk mencari tahu apa yang terjadi antara Kalvi dan Megan sebenarnya.
Di sisi lain, Migy yang sedang menunggu kehadiran anggota osis yang lain, tidak sengaja duduk bersama Andre di ruangan. Di ruangan osis itu, hanya ada mereka berdua sembari menunggu kedatangan teman osis yang lain.
Andre yang melihat situasi yang lumayan menguntungkan, mulai mendekati Migy.
“Migy,” sapa Andre ramah.
Migy menoleh, “Iya, Andre.”
Andre mendekati tempat duduk Migy, “Kita mau mengadakan perlombaan apa untuk menyambut akhir tahun ini?” kata Andre mencoba mencairkan suasana.
“Aku juga bingung. Kamu punya usulan gak, Andre?” tanya Migy.
Andre berpikir sejenak, “Mm, gimana kalau kita mengadakan dua perlombaan. Di bidang sastra dan olahraga,” kata Andre mengusulkan.
“Ide bagus, tapi apa saja?”
“Kalau di bidang sastra, kita adakan lomba puisi dan pantun. Di bidang olahraga, kita ambil pertandingan basket sama voli.”
“Oke, aku juga setuju. Nanti kita kasih tahu sama anggota osis yang lain,” jelas Migy senang.
Tak lama kemudian, satu per satu anggota osis telah memasuki ruangan. Setelah itu mereka membahas masalah perlombaan yang akan diadakan untuk akhir tahun ini.
“Migy, kamu pulang sama siapa?” tanya Andre setelah rapat usai.
“Aku pulang sendiri, mungkin pesan ojek online,” kata Migy sambil membereskan peralatan sekolahnya.
Andre senang mendengarkan Migy akan pulang sendiri. Ia berpikir ini adalah kesempatan bagus untuk mendekati Migy.
“Mmm. Migy, gimana kalau kamu pulang bareng aku saja. Kita kan satu arah,” ajak Andre.
“Oke, asalkan kamu gak keberatan boncengin aku, “ goda Migy dengan sengaja.
Andre tertawa mendengar candaan Migy.
“Engak dong. Kan aku sendiri yang menawarkan,” kata Andre.
“Ya, sudah. Ayo kita siap-siap.”
Mereka pun pulang bersama. Di perjalanan, Andre sengaja memelankan kecepatan motornya. Ia ingin menikmati waktu sambil bercerita dengan Migy sebelum mereka tiba di rumah Migy.
“Migy, kamu tidur?” teriak Andre dari depan.
Migy terkejut mendengar suara Andre yang lumayan keras.
“Apa sih, Andre. Aku gak tidur!” kata Migy balas berteriak.
“Aku kira kamu tidur? Habisnya gak bersuara sama sekali dari tadi.”
“Enggak. Kenapa sih?” tanya Migy.
Tiba-tiba Andre mengarahkan laju motornya ke sebuah tempat makan di pinggi jalan. Tempat makan yang lumayan ramai, dan kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Migy.
“Kita berhenti sebentar ya, Migy? Aku lumayan lapar karena gak makan siang tadi di sekolah,” kata Andre memberhentikan motornya.
“Kamu jarang makan siang, ya? Kalau aku selalu bawa bekal makan siang dari rumah.”
Andre turun dari motornya dan melepaskan helm.
“Iya, maklumlah. Aku ini hanya sendirian di rumah. Orang tua juga pada sibuk kerja di luar negeri,” kata Andre sambil mengajak Migy masuk ke tempat makan.
Setelah masuk ke dalam, Migy dan Andre memesan meja yang berada di lantai atas. Di sana mereka bisa melihat pemandangan luar yang cukup indah untuk dinikmati.
Entah mengapa, Migy mulai terbiasa berdekatan dengan Andre. Mungkin karena mereka selalu terlibat hubungan sebagai rekan osis di sekolah, sehingga Migy tidak terlalu canggung jika bersama.
“Migy, kamu mau makan apa?” tanya Andre sambil membuka buku daftar menu di meja.
Migy melihat daftar menu, dan pilihannya jatuh pada capcay dan udang saus tiram.
“Aku yang ini saja, dan minumannya es jeruk,” kata Migy menunjuk daftar menu.
Setelah itu Andre memesankan makanan untuk mereka berdua. Sambil menunggu makanan tiba, Andre menyempatkan untuk menggoda Migy.
Bahkan, candaan Andre bisa membuat Migy tertawa mendengar godaan Andre yang dianggap lucu baginya.
Andre sengaja mengakrabkan diri dengan berbagai cerita lucu, agar Migy nyaman bersamanya.
Mungkin karena sifat humoris Andre, Migy seperti tidak memiliki batasan untuk tertawa dan menjahili Andre dengan canda tawanya.