bc

DETAK YANG SALAH MENYEBUT NAMAMU

book_age16+
16
FOLLOW
1K
READ
dark
HE
forced
curse
brave
drama
bxg
brilliant
campus
city
office/work place
musclebear
teacher
civilian
like
intro-logo
Blurb

Aku menguburkan orang yang kucintai

lalu bertemu pria lain yang hidup dengan jantungnya.

Ia mencintaiku tanpa tahu alasan.

Ia mengingat hal-hal yang tidak pernah kualami bersamanya.

Dan setiap kali aku mendekat,

aku tidak tahu apakah aku sedang mencintai orang hidup…

atau menghidupkan kembali orang mati.

Jika cinta ini gila, maka kegilaannya adalah memilih untuk bertahan. tahun setelah kecelakaan yang merenggut nyawa Aidan, dunia Maya hancur, sampai seorang pria muncul dengan cara berjalan yang sama, tatapan yang sama, bahkan rasa sakit yang sama.

Namanya Rian.

Ia mengaku tak mengenal Maya.

Tapi jantungnya, jantung yang bukan miliknya—berdegup setiap kali wanita itu menangis.

Maya tahu ia gila.

Rian tahu ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

Namun semakin mereka menjauh, takdir semakin menarik mereka kembali—dengan obsesi, trauma, dan cinta yang tak pernah mati.

Sampai satu kebenaran menghantam mereka:

Jantung Aidan berdetak di tubuh Rian.

Dan kini, Rian mencintainya dengan cara yang bahkan lebih berbahaya.

chap-preview
Free preview
Bab 1. Malam yang Memutus Detak
Aku mencintai pria yang hidup dengan jantung orang yang aku kuburkan. Dan setiap kali ia menyebut namaku, aku tidak tahu— apakah itu suaranya… atau suara orang mati yang belum selesai mencintaiku. Kematian tidak datang dengan teriakan. Ia datang dengan suara detak jantung yang tiba-tiba terdengar terlalu keras—seolah waktu ingin mengingatkan bahwa ia akan berhenti, sekarang. Maya merasakannya sebelum apa pun terjadi. Di dalam mobil yang melaju tenang, di antara percakapan kecil yang tak penting, dadanya terasa sesak. Bukan sakit. Bukan panik. Lebih seperti firasat yang menempel di kulit, dingin dan tak bernama. Tangannya refleks menggenggam jemari Aidan di sampingnya, seolah sentuhan itu satu-satunya jangkar yang menahan dunia tetap di tempatnya. “Kamu dingin?” tanya Aidan tanpa menoleh. Suaranya santai, nyaris ceria, seperti malam ini tidak sedang menyimpan niat buruk. Maya menggeleng pelan. “Nggak. Aku cuma… aneh.” Aidan terkekeh. “Kamu selalu aneh kalau hujan.” Lampu jalan memanjang di kaca mobil, garis-garis cahaya yang tampak seperti bekas luka. Hujan turun tipis, nyaris sopan, membuat dunia terlihat jinak. Terlalu jinak untuk sebuah akhir. Maya menyandarkan kepala ke kursi, berusaha menenangkan napasnya. Tidak ada alasan untuk takut. Mereka hanya pulang. Malam hanya malam. Namun jantungnya berdegup terlalu cepat, seperti ingin melarikan diri lebih dulu. “Aku pengin pulang sekarang,” katanya akhirnya. “Kita sudah hampir sampai,” jawab Aidan sambil tersenyum. Senyum yang selalu membuat Maya merasa aman. Senyum yang sudah ia hafal, bahkan dengan mata tertutup. Maya menatap wajah itu, rahang yang tegas, alis yang selalu berkerut saat fokus, mata yang malam itu tampak lebih gelap dari biasanya. Ada dorongan aneh di dadanya. Keinginan mendadak untuk menyentuhnya. Memastikan ia nyata. Masih ada. “Kenapa?” tanya Aidan ketika Maya menempelkan telapak tangannya ke pipinya. “Nggak kenapa-kenapa,” jawab Maya lirih. “Aku cuma… sayang kamu.” Aidan tertawa kecil. “Kamu kenapa tiba-tiba romantis gini?” Maya ikut tersenyum, meski dadanya makin sesak. “Nggak boleh?” “Boleh. Tapi jangan kayak orang mau kehilangan.” Kalimat itu menggantung di udara, berat dan tidak lucu. Maya ingin menertawakannya. Ingin bilang Aidan lebay. Tapi tenggorokannya terasa terkunci. Beberapa detik kemudian, suara klakson memecah malam. Maya menoleh refleks ke kanan, dan cahaya putih menyilaukan menyapu pandangannya. Segalanya terjadi terlalu cepat untuk dipahami, terlalu lambat untuk dihindari. Benturan menghantam sisi mobil mereka. Tubuh Maya terlempar ke samping, sabuk pengaman menjerat dadanya dengan kasar. Dunia berputar. Suara logam beradu memekakkan telinga. Kepalanya membentur sesuatu—ia tak tahu apa—lalu gelap menelan segalanya. Ketika kesadaran kembali, dunia terasa miring. Bau bensin menusuk hidungnya. Hujan kini turun deras, membasahi wajahnya yang terasa panas dan dingin sekaligus. “Aidan…” Suaranya keluar serak, seperti bukan miliknya. Maya berusaha bergerak. Seluruh tubuhnya nyeri, tapi rasa itu kalah cepat dari panik yang membanjiri dadanya. Dengan tangan gemetar, ia membuka sabuk pengaman dan merangkak keluar dari mobil yang ringsek. Lampu depan masih menyala, meski salah satunya pecah. Kaca berserakan di aspal, berkilau seperti pecahan bintang yang mati terlalu cepat. “Aidan!” teriak Maya. Ia melihat Aidan terjebak di balik kemudi. Kepalanya terkulai ke samping. Darah mengalir dari d**a dan pelipisnya, membasahi kemeja yang tadi masih rapi. Terlalu banyak darah. Terlalu merah untuk sekadar luka kecil. Maya memanjat masuk kembali, lututnya menghantam besi, tapi ia tak peduli. Tangannya meraih wajah Aidan—dingin, basah. “Aidan, lihat aku. Tolong,” katanya sambil mengguncang bahu pria itu. Kelopak mata Aidan bergerak pelan. Napasnya tersengal, tak beraturan. Matanya terbuka dan menatap Maya. Ada kelegaan di sana. Kelegaan yang membuat Maya justru ketakutan. “Hei…” suara Aidan lemah, hampir tenggelam oleh hujan. “Kamu nggak apa-apa?” Pertanyaan itu mematahkan sesuatu di d**a Maya. “Kamu kenapa mikirin aku?” isaknya pecah. “Kamu yang berdarah.” Aidan tersenyum tipis. Senyum yang salah tempat. Senyum orang yang tahu sesuatu yang belum siap diterima orang lain. “Maaf,” katanya lirih. “Jangan minta maaf!” Maya menggeleng keras. “Ambulans pasti datang. Kita bakal baik-baik saja.” Aidan tidak langsung menjawab. Tangannya terangkat perlahan, menggenggam tangan Maya. Cengkeramannya kuat, seolah takut terlepas sebelum waktunya. “Dengerin aku,” katanya terengah. “Kalau nanti aku nggak ada—” “Jangan,” potong Maya, suaranya bergetar hebat. “Jangan ngomong kayak gitu. Kamu bakal selamat.” Aidan menatapnya lama. Terlalu lama untuk seseorang yang kehabisan tenaga. Tatapan itu bukan tatapan orang yang takut mati—melainkan orang yang sedang menyimpan rahasia. “Aku nggak takut mati,” katanya pelan. “Aku cuma takut ninggalin kamu.” Air mata Maya jatuh ke wajah Aidan, bercampur hujan dan darah. “Aku nggak siap sendirian.” Aidan menggenggam tangannya lebih erat. “Kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu kira.” “Jangan bilang aku kuat,” Maya terisak. “Aku cuma kuat karena ada kamu.” Senyum itu muncul lagi. Senyum terakhir yang akan terpatri di ingatan Maya seumur hidupnya. “Kalau aku pergi,” bisiknya, napasnya putus-putus, “jangan berhenti hidup, May.” Maya menggeleng keras. “Aku nggak mau hidup tanpa kamu.” “Aku akan cari kamu lagi,” lanjut Aidan, suaranya nyaris tak terdengar. “Entah bagaimana caranya.” Kalimat itu terasa seperti janji—atau kutukan. Suara sirene terdengar dari kejauhan. Maya menoleh cepat, harapan meledak di dadanya. “Dengar?” katanya panik. “Mereka datang. Kamu dengar, kan?” Aidan tidak menjawab. Matanya masih terbuka, tapi tatapannya mulai kosong. Tangannya melemah di genggaman Maya, perlahan terlepas. “Aidan?” Maya menepuk pipinya pelan. “Jangan tidur. Tolong. Aku di sini.” Nada panjang dari alat medis memecah udara—pendek, lalu memanjang, seperti garis lurus yang menghapus segalanya. Suara itu menancap di telinga Maya, lebih tajam dari jeritan mana pun. “Aidan!” teriaknya, histeris. Maya menangis sejadi-jadinya. Tetapi suara itu tidak keluar. Tangan-tangan asing menariknya menjauh. Maya meronta, menjerit, mencoba kembali ke mobil. Tapi dunia sudah memutuskan lebih dulu.. Tatapan Maya berkunang-kunang. Semua berasa gelap dan hanya bayangan. “Maaf,” kata seseorang. “Kami sudah melakukan yang terbaik.” Kalimat itu kosong. Tidak cukup. Tidak pernah cukup. Maya terduduk di aspal basah, tubuhnya gemetar hebat , tatapannya kosong, dunia seolah runtuh. Hujan turun semakin deras, seolah langit ikut menangis—atau mungkin sedang mencuci darah dari jalanan. Ia menatap tubuh Aidan yang kini tertutup sebagian. Pria yang tadi menggenggam tangannya. Pria yang berjanji akan kembali. Dadanya terasa seperti dihantam dari dalam. Napasnya pendek-pendek. Dunia menyempit, menyisakan satu kata yang terus bergaung: kehilangan. Malam itu, sesuatu di dalam diri Maya ikut mati. Ia tidak tahu bahwa beberapa jam kemudian, di sebuah ruang rumah sakit, sebuah keputusan akan dibuat. Keputusan yang membuat kematian Aidan tidak sepenuhnya menjadi akhir. Dan bahwa detak yang terhenti malam ini suatu hari akan kembali berdetak— menyebut Namanya dengan cara yang salah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
3.7K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.5K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.8K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.6K
bc

After We Met

read
188.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook