Judul "Tumbal pesugihan demit panti jompo"
Nama pena : Eka Mutia
Rania gadis berusia 25 tahun saat itu baru tiba di panti jompo A sebagai pekerja baru. Baru sehari bekerja Rania sudah mendapatkan kejadian-kejadian aneh di luar nalar, dimana dia selalu di teror oleh belasan lansia berwajah pucat berbaju serba putih, anehnya hanya Rania yang dapat melihat para lansia itu.
Aturan di panti jompo itupun tak kalah anehnya. Ada 3 aturan panti jompo yang harus selalu di patuhi oleh seluruh penghuni panti jompo termaksud pengurus kecuali Ibu Lidia dan Ibu Selfi. Pertama, semua penghuni panti jompo dilarang keluar kamar diatas jam 10 malam dan mereka semua di wajibkan sudah tidur sebelum jam 10 malam, kedua saat makan malam semua penghuni panti jompo wajib menghabiskan makan malam jika tidak maka akan ada hukuman yang menanti dan yang terakhir yaitu yang ketiga seluruh penghuni panti jompo termaksud pengurus dilarang mendekati bangunan tua di halaman belakang kecuali Bu Lidia pemilik yayasan panti jompo dan Bu Selfi ketua pengurus panti jompo.
Hingga suatu pagi, salah satu lansia yang di urus Rania di umumkan oleh pemilik panti bahwa lansia bernama Kinan itu akan di jemput oleh anak-anaknya, saat itu semua mengangguk penuh sorak sorai dan suka cita. Namun disitulah janggalnya dimana di panti jompo itu setiap minggu para lansia akan hilang satu persatu dengan alasan di jemput oleh keluarganya hingga satu pagi, Rania melihat Bu Kinan berdiri mengenakan baju serba putih dan wajah Bu Kinan sangat pucat, setahu Rania Bu Kinan sudah pergi di jemput oleh keluarganya semalam itu menurut keterangan Ibu Selfi. Namun pagi ini Rania melihat Ibu Kinan hal itu yang membuat Rania penasaran. Saat itu Rania mengejar Bu Kinan hingga dapur. Saat Rania berhasil menyusul Ibu Kinan tiba-tiba Bu Kinan memegang tangan Rania membuat seluruh tubuh Rania gemetar dan Rania seperti terseret arus begitu kencang saat sadar Rania sudah berada di waktu dan tempat berbeda. Rania saat itu melihat bagaimana kejadian Ibu Kinan di tarik paksa oleh Ibu Selfi dan Ibu Lidia kearah gedung tua di halaman samping, setelah tiba di gedung Rania melihat Bu Lidia mendorong Bu Kinan ke dalam gedung lalu menutup pintu gedung itu setelahnya suara jeritan Bu Kinan terdengar, suara meminta ampun dan pertolongan dengan putus asa menggema di seluruh panti jompo namun tidak ada satupun yang terbangun termaksud Rania saat itu.
Tak lama berselang setelah sudah tak mendengar suara Ibu Kinan, Ibu Lidia membuka pintu gedung lalu Ibu Lidia dan Ibu Selfi masuk ke dalam gedung tua itu, karena penasaran Rania ikut masuk dalam gedung itu, dalam gedung Rania melihat tubuh Ibu Kinan sudah tidak berbentuk, bau amis darah serta tulang belulang berserakan di lantai menjadi pemandangan yang dilihat Rania, saat Rania menatap tepat di ujung gedung tubuh Rania menegang dan kaku, wajah Rania sangat ketakutan ketika melihat Demit peliharaan Ibu Lidia. Demit itu pendek sekitar 100 centi meter tingginya, tubunya berwarna hijau bersisik, telinganya runcing, matanya merah dan gigi-gigi tajam mencuat dari balik bibirnya, kepala Demit itu botak dari mulutnya selalu meneteskan lendir dan darah bersamaan.
Disana Rania melihat Ibu Lidia dan Ibu Selfi sangat senang begitu mendapati peti berisikan emas murni dengan berbagai bentuk perhiasan. Ibu Lidia dan Ibu Selfi bergotong royong mengangkat peti itu sebelum pergi Ibu Lidia sempat bertanya pada Demit itu tentang ingin di tumbalkan siapa lagi minggu depan, Demit itu tiba-tiba menunjuk kearah Rania saat itu, bahkan demit itu berjalan mendekati Rania tapi untungnya sosok Ibu Kinan yang saat itu sudah menggunakan baju putih langsung menarik tangan Rania, dan saat Rania tersadar ia sudah mendapati dirinya berada di dapur kembali. Tubuh Rania saat itu seketika lemas ia menatap kearah Ibu Kinan sebelum Ibu Kinan menghilang. Sejak saat itulah Rania mengetahui bahwa ternyata para lansia itu setiap minggu bukan di jemput oleh keluarga mereka tapi para lansia itu akan di tumbalkan oleh Bu Lidia dan Bu Selfi kepada demit pesugihan yang di pelihara Bu Lidia demi kekayaan di bangunan tua di halaman samping panti jompo.
Mengetahui kejahatan Bu Lidia, dan Bu Sefli, Raniapun memberitahukan kejahatan itu pada Caca dan Mila teman sesama petugas panti jomponya dan ternyata Mila sudah lama curiga akan hal itu, dan alhasil Rania bersama Caca dan Mila menyusun rencana menyelamatkan para lansia yang tersisah.
Saat makan malam, Rania dan kedua temanya sudah mencampurkan obat tidur yang diambil Mila di ruangan kesehatan pada makanan Ibu Lidia dan Ibu Selfi, dan begitu obatnya bereaksi misi penyelamatan yang dilakukan Rania dan kedua temannya dimulai.
Rania bersama caca dan Mila keluar dari kamar, mereka berjalan menuju ruangan kerja Ibu Lidia, di dalam ruangan itu sesuai perkiraan Rania obatnya sudah bereaksi terbukti di dalam ruangan itu Rania mendapati Ibu Lidia dan Ibu Selfi sudah tertidur dalam keadaan terbuduk di sofa. Rania mencari kunci gedung tua di saku celana Bu Lidia dan berhasil menemukannya. Rania dibantu oleh Caca dan Mila meletakan Ibu Lidia dan Ibu Selfi diatas kuris roda masing-masing, Caca mendorong kursi roda Ibu Lidia sementara Mila mendorong kursi roda Ibu Selfi.
Tiba di depan gedung tua, Rania dan kedua temannya sempat merasa takut untuk membuka pintu takut demit itu akan keluar menyerang mereka saat pintu terbuka, namun Rania segera memberanikan diri membulatkan tekat untuk membuka pintu gedung, saat pintu terbuka Caca mendorong kursi roda Ibu Lidia kedalan ruangan dengan cepat terlebih dahulu lalu disusul oleh Caca yang mendorong kursi roda Ibu selfi hingga kursi roda itu meluncur memasuki gedung tua. Kemudian dengan cepat Rania mengunci pintu gedung lalu melempar kunci gedung itu secara asal kearea belakang gedung tua agar tidak ada yang menekukan kunci itu.
Paginya Rania menelpon Dinas sosial meminta tolong untuk mengevakuasi dirinya dan penghuni panti yang tersisa, Rania membuat laporan palsu pada dinas sosial bahwa Ibu Selfi dan Ibu Lidia kabur setelah terlibat kasus penipuan. Dinas sosialpun percaya pada laporan palsu Rania, mengingat tidak ada laporan donatur di panti jompo itu jadi dinas sosial percaya bahwa Ibu Lidia mendapatkan sumber uang dari hasil menipu. Petugas Dinas sosialpun datang membawa bis untuk menjemput Rania dan yang lain, panti jompo milik Ibu Lidiapun di tutup. sementara para lansia yang ada akan di tempatkan di panti jompo yang di kelolah oleh dinas sosial.
sementara itu nasib Ibu Lidia dan Ibu Selfi harus pasra di makan oleh Demit peliharaanya.
END