Tiba-tiba, suara tembakan pecah, menghantam lampu parkir hingga gelap menyelimuti mereka. Davin mendorong Lexsa masuk, menginjak pedal gas. Ban mobil berdecit keras, meninggalkan jejak asap di udara.
Dari kaca spion, Lexsa melihat satu hal terakhir sebelum mobil melaju keluar gerbang:
Pemburu tanda itu menurunkan senjatanya, lalu mengangkat tangan kanannya perlahan… dan di telapak tangannya ada goresan darah membentuk angka tiga.
Mobil melaju kencang membelah jalanan kota yang sepi. Lampu-lampu jalan berkelebat seperti garis-garis cahaya, namun Lexsa merasa waktu justru melambat. Jantungnya masih belum mau tenang.
“Davin… angka tiga itu… maksudnya apa?” tanyanya, suaranya bergetar.
Davin tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya tetap fokus ke jalan. “Itu bukan sekadar angka,” katanya akhirnya. “Itu penanda giliran.”
“Giliran… apa?”
“Korban,” jawab Davin pelan tapi tegas.
Lexsa merasakan dingin merayap dari ujung kaki hingga ke tengkuk. “Kau bercanda, kan?”
“Lexsa, dengar aku.” Davin meliriknya sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Setiap korban pemburu tanda diberi nomor. Satu dan dua sudah mati. Kau… nomor tiga.”
Mobil sedikit berguncang saat Davin membelok tajam menuju jalan kecil yang gelap. Di luar, deru motor terdengar mendekat. Lexsa menoleh ke kaca belakang—tiga motor hitam membuntuti, lampunya mati, hanya siluet pengendara yang terlihat.
“Mereka mengejar kita!” seru Lexsa.
“Aku tahu.” Davin menekan pedal gas lebih dalam. “Pegangan yang kuat!”
Tembakan kembali terdengar. Kaca belakang retak, serpihan kecil menghujani kursi. Lexsa menunduk, tubuhnya gemetar.
Davin meraih sesuatu dari bawah jok—sebuah pistol hitam yang terlihat sudah sering dipakai. Sambil tetap mengemudi, ia menurunkan kaca samping dan melepaskan dua tembakan. Salah satu motor oleng, lalu menabrak pagar pembatas.
Tapi dua motor lainnya tetap mengejar, makin dekat.
“Davin, kita mau ke mana?” Lexsa hampir berteriak.
“Tempat yang bahkan mereka pun segan mendekat,” jawabnya singkat.
Lexsa menelan ludah, tidak berani bertanya lagi. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu… tempat yang dimaksud Davin pasti bukan tempat yang aman bagi orang biasa.
Mobil melaju keluar dari pusat kota, meninggalkan deretan lampu dan keramaian. Jalan mulai sempit, gelap, hanya disinari sorot lampu mobil. Pepohonan tinggi menjulang di kanan kiri, membentuk lorong alami yang sunyi.
Lexsa memeluk tubuhnya, masih mencoba memproses semua yang baru saja ia dengar. Nomor tiga… korban berikutnya.
Davin menoleh sekilas. “Kau harus tetap sadar, jangan sampai pingsan lagi. Begitu kita tiba, aku akan jelaskan semuanya.”
“Mengapa aku? Kenapa aku yang diburu?” Lexsa mencoba menahan getar di suaranya.
“Kau akan tahu.”
Suara angin yang menabrak kaca semakin keras saat mobil menuruni jalan berliku. Tiba-tiba Davin mematikan lampu utama mobil.
“Apa yang kau lakukan?!” seru Lexsa panik.
“Kalau lampu tetap menyala, mereka akan menemukan kita. Pegangan.”
Mobil terus melaju di kegelapan, hanya mengandalkan sorot lampu kecil di bumper depan yang hampir tak terlihat. Setelah beberapa menit, Davin membelok tajam ke sebuah gerbang besi yang setengah tersembunyi di balik semak. Gerbang itu terbuka perlahan, seakan tahu siapa yang datang.
Di baliknya, sebuah bangunan tua berdiri, setengah tertutup kabut malam. Bata merahnya kusam, jendela-jendelanya tertutup papan kayu. Namun saat Davin memarkir mobil di depannya, pintu besar bangunan itu terbuka sedikit, mengeluarkan cahaya remang.
“Ayo,” kata Davin sambil keluar dari mobil.
Lexsa ragu, tapi langkahnya mengikuti. Udara di sekitar tempat itu dingin menusuk, dan entah kenapa, heningnya terasa terlalu berat. Begitu mereka masuk, pintu menutup otomatis di belakang mereka.
Di dalam, lorong panjang terbentang. Dindingnya dipenuhi papan dengan foto-foto wajah orang yang ditempeli nomor—1, 2, 4, 5… dan di ujung lorong, sebuah papan kosong dengan angka 3 yang tercetak tebal di tengahnya.
Lexsa berhenti, napasnya tercekat. “Davin… kenapa nomor tiga belum ada fotonya?”
Davin menatapnya, matanya serius. “Karena foto itu… baru akan dipasang kalau kau mati.”
Dan sebelum Lexsa bisa bertanya lagi, suara langkah kaki berat terdengar dari arah lain lorong—semakin lama semakin dekat.
Lexsa mematung. Setiap detik suara langkah itu semakin jelas—berat, teratur, dan terdengar seakan menghantam lantai kayu dengan sengaja, seperti seseorang yang ingin memberi tahu bahwa ia tahu sedang diperhatikan.
Davin bergerak cepat, berdiri di depan Lexsa, tubuhnya setengah membungkangi seolah menjadi tameng. Tangannya meraih sesuatu dari balik jaket—sebuah pisau lipat dengan bilah hitam berkilau.
Cahaya lampu lorong meredup tiba-tiba, seakan ada yang memutus aliran listrik di satu sisi bangunan.
Tap… tap… tap…
Akhirnya, dari ujung lorong, sosok itu muncul—seorang pria tinggi, wajahnya tertutup masker kain lusuh, matanya redup namun tajam. Tangannya memegang bingkai kayu… dan di dalam bingkai itu, ada sebuah foto.
Foto Lexsa
Lexsa mundur selangkah, lututnya terasa lemas. “Itu… bagaimana bisa—”
Pria itu berhenti tepat lima meter di depan mereka. Suaranya serak, namun jelas.
“Nomor tiga… sudah datang sendiri.”
Davin langsung menghunus pisaunya. “Letakkan itu, sekarang.”
Pria itu tidak menurunkan bingkai, malah mengangkatnya sedikit hingga cahaya mengenai foto itu. Dan di bagian bawah foto, ada coretan tinta merah menyerupai tanda tangan… atau mungkin, sebuah simbol yang tak Lexsa kenali.
Tiba-tiba, dari arah langit-langit, terdengar bunyi gesekan logam, diikuti turunnya tirai besi yang menutup ujung lorong. Mereka terjebak.
Pria bermasker itu melangkah maju lagi, perlahan, namun pasti. “Tidak ada yang keluar dari sini… sebelum darahnya tumpah.”
Davin menarik tangan Lexsa, memaksa mundur. “Lari ke ruangan belakang, sekarang!”
Tapi sebelum mereka sempat bergerak, lampu padam total. Yang tersisa hanyalah suara langkah kaki… dan napas berat yang makin dekat.
Gelap.
Begitu pekat hingga Lexsa tidak bisa melihat jemari tangannya sendiri.
Suara langkah itu tetap terdengar—tidak tergesa, tapi juga tidak lambat. Teratur, seperti detak jam kematian yang menghitung mundur.
“Davin…” bisik Lexsa, napasnya memburu.
“Aku di sini. Pegang tanganku,” jawab Davin pelan, lalu jemari mereka bertemu. Hangat dan kuat, tapi ada sedikit getaran di genggamannya—pertanda ia juga sedang menahan cemas.
Mereka bergerak menyusuri dinding, berharap menemukan pintu atau celah untuk keluar. Namun setiap langkah terasa membuat lorong ini semakin panjang, seolah tak berujung.
Lalu, sesuatu menyentuh bahu Lexsa.
Bukan tangan Davin.
Dingin. Licin.
Refleks ia menjerit tertahan, tapi Davin menariknya ke arah lain. “Jangan berhenti!”
Namun… dari arah depan, terdengar suara berderit, seperti pintu yang dibuka perlahan. Lalu aroma menyengat memenuhi udara—campuran besi dan… darah.
Cahaya samar tiba-tiba menyala dari lampu darurat di ujung lorong.
Dan di sana… pria bermasker tadi sudah berdiri, tapi kini ia tidak sendirian.